
Kalea merasa kelimpungan karena hampir dua hari ini Javas tidak ada kabar. Saat Kalea mencoba menghubungi, nomornya tidak aktif. Begitu juga saat dia mencoba mengirim pesan, hanya berakhir centang satu.
Bahu Kalea yang saat ini sedang bersandar di sofa, merosot lemas. Hal itu tidak luput dari pandangan Kimi yang saat ini sedang membuat jus di dapur. "Kamu kenapa, Kal? Kusut sekali wajahnya?" tanya Kimi sambil masih fokus pada blender di depannya.
"Tidak tahu. Apakah kamu pernah merasakan galau, gelisah, dan merana ketika seseorang yang sudah menjadi bagian dari hidupmu tidak ada kabar?" tanya Kalea demi memecahkan rasa yang saat ini sedang dideranya.
Kimi tertawa. Sangat paham dengan maksud Kalea dan keadaanya. "Kamu sedang galau ya?" tanyanya sedikit meledek.
Helaan napas kasar keluar dari bibir Kalea. "Aku tidak tahu. Mungkin ini terdengar berlebihan. Namun, itulah yang sedang aku rasakan. Seperti ... Tidak bersemangat menjalani hidup."
Kimi mendengarkan dengan baik curhatan Kalea. Memang wajar bagi orang yang sedang jatuh cinta. "Tidak apa-apa. Aku mengerti," ucap Kimi yang membuat Kalea seketika menoleh dengan tatapan memicing.
"Benarkah kamu mengerti? Berarti, kamu pernah jatuh cinta dong. Siapa orangnya? Kenapa tidak bercerita kepadaku?" cecar Kalea dan Kimi hanya menghela napas kasar. Dia menyesal sudah keceplosan bicara.
"Ada. Aku belum bisa bercerita padamu. Nanti, saat perasaanku berbalas, aku akan menceritakannya padamu," jawab Kimi pada akhirnya.
Kalea cukup kecewa dengan pernyataan Kimi. Namun, dia tidak ingin memaksa karena hubungan asmara menyangkut hal pribadi. "Baiklah. Aku akan siap menunggu hingga waktu itu tiba."
Waktu bergulir dan pagi kembali menjelang. Hari Minggu harusnya bisa menjadi hari tenang bagi Kalea. Namun, suara dering ponselnya seperti tidak peduli jika sang Tuan masih terlelap.
"Kalea. Ada telepon," gumam Kimi yang juga terganggu dengan dering panjang tersebut.
Kalea memaksa matanya untuk terbuka dan mencari keberadaan ponsel. Tangannya menggapai-gapai nakas di sampingnya. Tanpa melihat siapa sang Penelepon, Kalea langsung menempelkan benda pipih itu di telinga.
"Hallo? Who is this?" ucap Kalea berbahasa Inggris. Dia mengira, jika yang menelepon berhubungan dengan pekerjaan.
Seseorang di seberang sana terbahak. "Kamu sudah pandai berbahasa Inggris sekarang. Aku bangga padamu, Sayang."
Mendengar itu, alis Kalea mengernyit. Seperti tidak asing lagi dengan suara seseorang di seberang sana. Karena nyawanya belum terkumpul, Kalea masih mencoba mengingat.
Ketika sudah ingat, mata yang awalnya terbuka sedikit Kini membelalak lebar. "Mas Javas? Apakah itu kau?" tanya Kalea terkejut.
"Iya, ini aku. Lekaslah bersiap. Aku sudah menunggumu di kafe bawah."
__ADS_1
Mata Kalea semakin membelalak lebar. Terlalu terkejut dengan kejadian pagi ini yang di luar ekspektasinya. Tanpa menunggu lama, Kalea turun dari ranjang lalu mencuci muka terlebih dahulu.
"Kimi! Aku turun sebentar. Ini sangat darurat!" pekik Kalea sambil berlari keluar dari unit apartemen.
Tanpa menunggu jawaban, Kalea menuruni lantai menggunakan lift agar segera tiba di lantai dasar. Dia tidak ingin membuat Javas menunggu terlalu lama. Sampai-sampai, Kalea mengabaikan penampilannya sekarang yang hanya mengenakan baju tidur tipis berbahan satin.
Dari kejauhan, mata Kalea terus mengedar, menelisik, dan mencari keberadaan Javas. Tidak sulit menemukan pria itu karena Kalea masih sangat hapal dengan postur tubuh kekarnya.
Kalea tersenyum bahagia dan menghampiri meja dimana Javas tengah menikmati sarapannya. "Mas?" panggil Kalea lembut.
Merasa namanya di panggil, Javas mendongak dan tersenyum bahagia ketika melihat sang Pujaan Hati dalam keadaan baik. Tanpa menunggu lebih lama, Javas berdiri dan memeluk Kalea erat.
Menguar sudah semua kata yang sudah Kalea susun untuk mengomeli Javas karena hampir tiga hari ini menghilang. Yang ada, hanya rasa nyaman dan aman yang melingkupi rongga dadanya.
Tangannya bergerak untuk membalas pelukan yang masih sehangat dulu. Sudah hampir lima bulan keduanya tidak bertemu dan rasanya, hari ini Kalea seperti sedang bermimpi bertemu sang Pangeran.
"Aku sangat merindukanmu. Kemana saja tiga hari ini? Aku sempat berpikir jika Mas lelah dengan keadaan yang sekarang," racau Kalea mendadak sedih.
Javas mengusap punggung Kalea lembut. Mencoba menenangkan perempuan yan dicintainya. "Aku sengaja melakukannya agar kedatanganku kesini yang bisa menyembuhkan semua kecemasanmu," jawabnya santai.
Javas sontak tertawa kencang. Ketika matanya menatap pakaian yang dikenakan Kalea, dia melotot tajam. "Kalea! Apa tidak ada baju lain selain pakaian kurang bahan seperti ini?" omelnya penuh intimidasi.
Kalea meringis malu. "Aku belum mandi dan baru bangun tidur. Aku begitu terkejut ketika mendapati telepon darimu. Aku tidak menyangka, kini Mas ada di hadapanku dan sangat nyata." Lagi-lagi Kalea memeluk Javas cukup erat.
Setelah sarapan, Kalea mengajak Javas untuk naik ke unit apartemen milik Kimi. Tentunya, Kalea sudah meminta izin terlebih dahulu pada tuan rumah. Bagaimanapun, Kalea masih hidup menumpang.
Saat ini, Kalea dan Javas sedang duduk berdempetan di double sofa apartemen. Kimi sudah pamit beberapa menit yang lalu dan mengatakan jika perempuan itu memiliki janji temu dengan salah satu temannya.
Kalea tidak percaya sepenuhnya. Tidak biasanya Kimi keluar di hari Minggu. Biasanya, perempuan itu akan menghabiskan hari Minggu-nya dengan tidur seharian.
Namun, Kalea bersyukur memiliki sahabat pengertian seperti Kimi. Dia tahu saat-saat tertentu dan mampu memposisikan diri dengan baik.
Kalea kembali memeluk Javas dari samping. Mencoba menyalurkan rasa rindu yang sudah menggebu-gebu. "Mas, aku bahagia sekali karena hari ini bisa seperti ini denganmu," ucapnya memejamkan mata dan menenggelamkan wajah di dada bidang Javas.
__ADS_1
Kalea bisa merasakan kecupan- kecupan di puncak kepalanya. "Karena sudah disini, apa kamu tidak ingin mencium ku? Sudah lama sekali aku tidak merasakan manisnyammph—"
Belum sempat Javas menyelesaikan kalimatnya, Kalea sudah menutup mulutnya dengan telapak tangan. Bisa dilihat, pipi Kalea yang kini sudah memerah karena malu.
Dengan lembut, Javas menyingkirkan telapak tangan Kalea dan menggenggamnya. Matanya menatap Kalea lekat-lekat.
Mendapat tatapan dalam seperti itu, membuat Kalea menunduk malu. "Bukankah aku sudah mengatakannya berulang kali? Jangan menunduk terus atau mahkotamu akan jatuh," ucap Javas sambil mengangkat dagu Kalea dengan tangannya.
Kalea bisa melihat jakun Javas yang naik dan turun membuat dirinya juga menelan saliva. "Mau menyentuhnya?" tanya Javas yang memang tahu kemana mata Kalea memandang.
"Memangnya boleh?" Dengan polosnya Kalea bertanya hal tersebut.
Javas tersenyum manis dan membawa jemari Kalea untuk menyentuh jakunnya. "Sentuh disitu," titahnya yang anehnya, langsung dilakukan oleh Kalea.
Ada rasa yang membuncah ketika jemari Kalea menyentuh jakun milik Javas. Jantungnya berdebar-debar tak karuan saat merasakan hembusan napas Javas yang terasa begitu dekat.
"Cium disitu, Kalea," pinta Javas mendesis nikmat.
Setelah itu, Javas bisa merasakan kelembutan dari bibir Kalea yang menyentuh lehernya. Dia sampai memejamkan mata saat rasa geli dan menyenangkan itu menguasai dirinya.
Napas keduanya sama-sama sudah tak beraturan. Sama-sama saling menginginkan dan mendamba. Setelah Kalea menjauhkan wajah, mata keduanya kembali beradu. Ada tatapan sayu yang ditunjukkan Javas disana.
"Aku merindukan ini," ucap Javas sambil menyentuh bibir kenyal Kalea dengan ibu jari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ssssst.....🤣🤣🤣...
...mampir juga kesini yuk 👇...
...
__ADS_1
...