Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 50. Mengangsur


__ADS_3

"Aku pikir, memiliki toko perhiasan juga harus memiliki kantor produksi, Mas. Bagaimana pun, aku ingin produk toko ku itu mempunyai ciri khas sendiri. Aku sudah memiliki beberapa rancangan kalung, cincin, gelang, dan anting-anting." Kalea menjelaskan strategi usahanya pada Javas.


Pria itu dengan pengertiannya sedang membuatkan susu untuk Kalea. "Terserah kamu. Berapapun uang yang kamu butuhkan, aku siap memberikan modal. Tetapi, jangan lupa bagi hasil," goda Javas sambil terkekeh sendiri.


Kalea mengangguk menyetujui. Ibaratnya, Javas tanam modal di usahanya yang akan rilis. "Tidak masalah. Semoga bisnis ini akan menjadi pengantar kesuksesanku," jawabnya sambil mengulas senyum.


"Jangan dipikirkan. Aku hanya bercanda. Jika kamu merasa keberatan dengan jumlah uang yang aku beri —"


"Tunggu." Kalea memotong ucapan Javas.


"Beri? Aku tidak ingin diberi uang secara cuma-cuma. Bagaimana pun, aku akan menganggap hutang modal usaha. Nanti, setiap bulan, setelah ada penghasilan, baru aku akan mengangsurnya. Ini tidak akan baik seandainya nanti kita berpisah," ucap Kalea tidak setuju.


Mendengar itu, Javas menatap Kalea tajam. "Berpisah? Kita tidak akan berpisah sampai maut itu sendiri yang datang. Kenapa kamu berpikir seperti itu? Jahat sekali," gerutu Javas tidak terima.


Dia berjalan menghampiri Kalea yang sudah duduk di tools bar. Setelah meletakkan susu permintaan Kalea dia duduk berhadapan dengan perempuan yang dicintainya.


"Dengarkan aku. Jangan pernah mencoba pergi dariku. Aku tidak akan melepaskan mu," peringat Javas sungguh-sungguh.


Kalea menghela napas. "Aku hanya mengatakan seandainya, Mas," jelas Kalea mengatakan kemungkinan yang terjadi.


"Aku tidak setuju. Bagaimanapun keadaannya nanti, kita akan tetap bersama dan saling melengkapi." Kemudian, Javas menyentuh jemari Kalea dan menggenggamnya.


"Apapun yang terjadi, jangan tinggalkan aku," sambungnya lagi lengkap dengan tatapan sendu.


Perempuan mana yang tidak luluh ditatap penuh cinta seperti itu? Tentu saja Kalea mengangguk menyetujui. Dia juga ingin bersama Javas selamanya. Namun, bila menengok ke masa lalu, dimana dulu Kalea pernah dicampakkan karena penampilan yang sudah berubah, dia memiliki trauma tersendiri.


"Bagaimana jika di masa depan aku menjadi jelek?" tanya Kalea.


Javas tersenyum. "Aku akan bawa kamu ke dokter kecantikan agar kamu tidak perlu merasa rendah diri lagi. Bagiku, fisik hanya penunjang. Yang paling utama adalah ini," tunjuk Javas di dada Kalea.


Setelah mendengar itu, sudah tak ada lagi rasa ragu yang menyergapnya. Patah dan tumbuh memang sudah biasa dalam hal cinta. Harusnya, Kalea sudah mempersiapkan semua.


"Minum susunya dulu," titah Javas lembut. Tanpa menunggu lama, Kalea mengambil alih cangkir yang Javas sodorkan. Dia menenggak isinya secara perlahan.


"Terima kasih, Mas," ucap Kalea sambil meletakkan cangkir yang sudah kosong.

__ADS_1


"Untuk?"


"Untuk semuanya. Kamu selalu ada saat susah maupun senang ku. Aku berharap, kamu tetap seperti ini sampai kapanpun." Kalea menatap lekat wajah Javas yang di pahat begitu sempurna.


"Kamu akan tinggal disini kan?" tanya Javas memastikan.


Raut wajah Kalea berubah murung. Dia menunduk agar perubahan wajahnya tidak diketahui Javas. Namun, sekuat apapun Kalea mencoba menutupi, Javas akan selalu menyadarinya.


"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Javas lembut.


Kalea mengangguk ragu. Tidak ingin menyembunyikan asal-usul keluarganya. Bagaimana pun, jika hubungan ingin berjalan lancar, setiap pasangan harus saling terbuka.


"Tadi pagi aku ke rumah. Disana, aku mengetahui sebuah fakta yang tidak pernah aku sangka," beritahu Kalea.


"Apa? Fakta apa yang membuat wajahmu menjadi mendung?" tanya Javas lagi.


Tidak ingin langsung menjawab, Kalea menatap wajah Javas terlebih dahulu. Dia ingin melihat bagaimana pria itu berekspresi setelah mengetahui jika keluarganya begitu berantakan.


Setelah menarik dan menghembuskan napas, Kalea mulai berbicara. "Aku bukan anak kandung ayah dan ibu."


"Orang tua kandungku telah meninggal," sambung Kalea lagi tidak tahan mendapatkan tatapan datar terlalu lama.


"Kalau begitu, kita akan cari makamnya," jawab Javas.


Kalea mengernyit heran. Apakah ini sebuah tanda jika Javas tidak masalah? "Kamu ... Tidak keberatan, Mas?" tanya Kalea ragu.


"Kenapa harus ragu. Yang akan aku nikahi nanti adalah kamu. Tidak peduli siapa kamu. Bahkan, jika kamu adalah anak dari narapidana, aku tidak peduli. Cinta tidak pernah memandang status," jelas Javas panjang lebar.


Sontak hal itu membuat Kalea mengulum senyumnya. Merasa salah tingkah karena ucapan Javas sangatlah manis. "Ih, gombal." Kalea berucap sambil menutup wajahnya sendiri.


Melihat itu, Javas tertawa renyah. Senang sekali bisa menggoda Kalea.


............


Hari berganti dan pagi kembali menyapa. Javas dan Kalea sedang dalam perjalanan menuju rumah pak Tono dan Bu Yuni. Lintang sedang menjalani PKL di Bandung. Jadi, Kalea belum bisa bertemu dengan adiknya.

__ADS_1


Tidak berapa lama, mobil sampai di pinggir jalan dimana di depannya ada gang sebagai jalan masuk ke rumah orang tua Kalea.


"Mau turun sekarang atau nanti?" tanya Javas memastikan.


Kalea menghela napas kasar. Rasanya begitu berat setelah mengetahui kenyataan tentang identitas dirinya.


"Apa tidak sebaiknya Mas menunggu disini?" tanya Kalea ragu-ragu.


Javas terdiam. Berpikir jika Kalea tidak siap memperkenalkan dirinya pada kedua orang tuanya. "Apa kamu belum siap? Atau kamu takut mereka akan kembali melakukan hal yang tidak baik padamu?"


Helaan napas berat lolos begitu saja. Siap tidak siap, Kalea harus memperkenalkan Javas pada pak Tono dan Bu Yuni. Apapun yang akan terjadi nanti, Kalea akan terima. Dia juga percaya jika Javas akan melindunginya.


"Kita turun sekarang. Sebaiknya, Mas ikut saja untuk berjaga-jaga," ucap Kalea gugup.


Javas terkekeh. "Sepertinya, aku sedang cosplay menjadi pengawal. Baiklah, Tuan Putri. Aku akan mengantar Anda sampai tujuan," goda Javas yang langsung mendapat pukulan di lengannya.


Kalea tertawa mendapat candaan dari Javas. "Ayo, segeralah turun. Bukankah pukul dua belas nanti, kita harus ke rumah—"


"Mama. Panggil ibuku dengan Mama. Jangan Tante. Aku ingin kamu terbiasa, Sayang." Lagi-lagi Javas menggoda Kalea.


Tidak ingin membuat pipinya semakin merah, Kalea turun lebih dulu. Mengabaikan teriakan Javas yang memanggil namanya.


Tidak berapa lama, Javas menyusul. Keduanya, berdiri di depan pintu dengan tangan yang saling menggenggam. Javas ingin meyakinkan Kalea jika semuanya akan baik-baik saja.


Setelah siap, Kalea mengetuk pintu berwarna putih di depannya. Tidak membutuhkan waktu lama, pintu itu terbuka. Kalea terpaku di tempat. Sekuat tenaga Kalea mempersiapkan diri, nyatanya selalu lemah ketika di hadapkan langsung oleh orang tuanya.


"K-Kalea? Masuklah, Nak," ucap Pak Tono yang kebetulan membukakan pintu. Tatapan matanya melirik tangan Javas dan Kalea yang saling bertaut.


"Pagi, Om," sapa Javas sambil mengulas senyum. Kalea meneguk ludahnya kasar. Sadar akan tatapan sang Ayah yang tampak terkejut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa dukungannya ya 😘...


...mampir juga kesini yuk 👇👇...

__ADS_1



__ADS_2