Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 47. Kembali berpisah


__ADS_3

"Boleh aku buka semua?"


Ting tong.


Suara bel apartemen Javas berbunyi dan berhasil mengalihkan perhatian keduanya. Kalea bergerak gelisah untuk membuat Javas segera beranjak dari posisinya yang sekarang.


"Mas? Ada tamu," ucap Kalea barangkali Javas tidak mendengar.


Hembusan napas kasar terdengar dari mulut laki-laki di hadapannya. Javas menyingkir dan turun dari ranjang untuk mengecek siapa yang telah mengganggu kegiatan menyenangkannya.


Sedangkan Kalea, dia mengembuskan napas lega dan segera merapikan penampilan. Dia merasa beruntung dan berterima kasih pada seseorang di depan sana yang telah menghentikan aksi gilanya.


Jangan sampai hal yang tidak-tidak terjadi sebelum waktunya tiba. Kalea pun menyusul Javas yang kini sudah berada di luar kamar. Saat baru saja keluar, ternyata Kimi yang datang.


"Kimi?" ucap Kalea tersenyum senang.


Kimi hanya memutar bola matanya jengah. Sangat paham mengapa dua manusia itu keluar dari kamar.


"Kenapa jutek gitu sih?" kesal Kalea sambil memukul lengan Kimi pelan.


Bukannya menjawab, Kimi memicingkan pandangan. "Kamu habis melakukan apa di kamar?" tanya Kimi penuh selidik.


Sebelum Kalea menjawab, beruntung Javas sudah memotongnya terlebih dahulu. "Silahkan duduk dulu. Aku izin ke kamar sebentar," pamit Javas pada dua perempuan tersebut.


Kalea mengangguk, membiarkan Javas berlalu. Kini, Kalea mengajak Kimi untuk duduk di sofa. Namun sebelum itu, Kalea mengambil alih tas yang Kimi bawakan untuknya. Ya. Tadi Kalea yang meminta Kimi datang untuk membawakan pakaian miliknya.


"Jangan bilang—"


"Apaan sih. Aku belum melakukannya, Kim," sergah Kalea tidak terima. Bibirnya sudah mencebik kesal karena sahabatnya itu menuduhkan hal yang tidak-tidak.


Kimi mendekatkan wajah dan menyentuh leher Kalea dengan telunjuk. "Ini apa? Walau aku belum pernah melakukannya, aku tidak bodoh untuk mengenali sumbernya," tanya Kimi lagi penuh selidik. Dia layaknya detektif saja.


Kalea meringis malu. "Aku digigit nyamuk," elaknya sambil mengusap wajah kasar.


Dengkusan kesal pun tak terelakkan. "Siapa yang kamu maksud nyamuk itu? Nyamuk Javas?" cecarnya tak kenal lelah.

__ADS_1


"Iya. Aku mengakuinya," jawab Kalea penuh penekanan. Dia mengembuskan napas kasar. Percuma rasanya bila berbohong pada Kimi. Dia adalah orang pandai berjiwa detektif.


Kimi berdecak. Jika bukan karena dicecar, bisa saja Kalea berbohong. "Ck. Jangan sampai kebablasan loh. Walau aku tahu milikmu sudah tidak bersegel lagi," ucapnya memberikan pesan.


Kalea terbahak renyah. "Memangnya air mineral? Bersegel."


Kimi mengibaskan tangan di depan Kalea. "Jangan bercanda, Lea. Aku bersungguh-sungguh. Walau kamu seorang janda, jadilah janda yang berkualitas."


Kalea cukup tersinggung dengan ucapan Kimi baru saja. Apa selama ini dirinya terlalu murahan? Bukankah berciuman itu masih dalam taraf wajar?


"Kamu boleh berciuman dengannya. Tetapi satu hal yang harus kamu ingat, jangan sampai melewati batas," ucap Kimi seakan tahu isi kepala Kalea saat ini.


"Baiklah ibu suri," jawab Kalea mengangguk hormat.


Kini giliran Kimi yang terbahak renyah. "Kok tegang begini ya?" Lalu, Kimi kembali tertawa diikuti Kalea. Ketegangan yang sempat tercipta menguar seketika.


...----------------...


Setelah seminggu berada di Singapura, Javas akhirnya pulang ke tanah air. Kalea bisa melihat bila Javas begitu berat untuk berpisah darinya.


Sejujurnya, Kalea juga merasa berat hati. Namun, dia harus ikhlas menjalani semuanya hingga suatu saat waktu itu tiba. Ini bukan hanya tentang cintanya dengan Javas. Tetapi juga tentang harga diri dan martabat Kalea. Dia tidak ingin membuat Javas malu suatu hari nanti.


Beberapa menit kemudian, terdengar suara pengumuman jika pesawat yang ditumpangi Javas akan segera take off. Terdengar helaan napas berat dari laki-laki yang kini sedang memeluknya erat.


"Mengapa waktu satu Minggu rasanya cepat sekali berlalu? Padahal, aku merasa baru saja tiba kemarin," gumam Javas terdengar tidak rela.


Kalea tersenyum sendu dan meraih jemari Javas yang berada di atas pahanya. "Mas harus segera pulang. Mama Mas pasti sudah menunggu. Beliau butuh bantuan Mas untuk mengurus perusahaan. Tolong, jangan kecewakan beliau," ucap Kalea menenangkan.


Javas mengangguk membenarkan. Mamanya pasti akan kelelahan jika setiap hari bekerja siang dan malam. Ya. Selama satu Minggu ini, Bu Belinda yang menggantikan posisi Javas. Walau tetap di dampingi Reza, tetap saja Javas tidak ingin membuat kesehatan sang Mama menurun.


Membicarakan tentang sang Mama, Javas pun mulai teringat pada nasehat beliau tempo hari. Dimana mamanya seakan menunjukkan ketidaksetujuan terhadap hubungannya dengan Kalea.


Namun, Javas sengaja menutupi dari Kalea agar perempuan itu tidak ambil pusing terlebih dahulu. Biarlah saat ini Kalea berjuang untuk masa depannya sendiri. Kalea berharga dan berhak mewujudkan cita-citanya yang ingin menjadi orang sukses.


"Terima kasih karena sudah peduli pada mamaku," jawab Javas sambil membawa tubuh Kalea dalam dekapan.

__ADS_1


"Tolong, matanya jangan jelalatan saat melihat bule tampan. Ingat, masih ada aku yang setia menunggu." Javas justru berpesan hal tersebut yang membuat Kalea akhirnya tertawa.


"Apakah Mas tidak percaya padaku?" tanya Kalea menggoda.


Javas menggeleng. "Aku percaya jika kamu tidak akan meninggalkan aku," jawabnya lalu mengecup kening Kalea cukup lama.


Hal itu langsung membuat mata Kalea terpejam merasakan sapuan lembut di keningnya. Hari-hari ke depan, akan Kalea habiskan untuk merindukan Javas.


Saat sedang terdiam meresapi perpisahan, suara pengumuman kembali terdengar hingga menyadarkan keduanya jika waktunya sudah tiba. Kalea pun berdiri dari duduknya. Dia tidak ingin membuat Javas sampai terlambat.


"Hati-hati dan harus selamat sampai tujuan." Kalea berucap lembut dengan mata yang tidak beralih menatap Javas.


"Pasti. Jaga dirimu baik-baik disini. Jaga hati, jaga mata, dan—"


"Jaga kesehatan," potong Kalea hapal dengan kalimat yang sudah menjadi bagian dari isi kepalanya.


Javas terkekeh dan membingkai kedua pipi Kalea. Ibu jarinya mengelus pipi mulus itu lembut. "Selesaikan kursusmu dan segeralah pulang. Aku akan setia menanti hari itu."


Setelah itu, Javas kembali melabuhkan kecupan di kening Kalea cukup lama dan dalam.


Di sore hari itu, keduanya kembali terpisah jarak dan waktu. Kalea tersenyum dan melambaikan tangan ketika Javas masuk ke gate penerbangan. Setelah Javas tak terlihat, baru air mata yang sejak tadi ditahan, tumpah seketika.


Nyatanya, perpisahan dalam bentuk apapun akan selalu menyakitkan. Waktu satu Minggu bagai mimpi indah bagi Kalea. Semua harus kembali seperti awal. Berangkat ke kursus sendiri dan pulang sendiri.


Mengapa waktu satu Minggu rasanya sangat berkesan dalam hidup Kalea?


"Semoga selamat sampai tujuan, Mas," gumam Kalea sambil menghapus air matanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa dukungannya ya 😘...


...mampir juga kesini yuk 👇...


__ADS_1


__ADS_2