Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 69. Cemburu?


__ADS_3

Dua hari berlalu dan dalam masa itu, seseorang yang mengawasi di hotel tak pernah lagi menampakkan diri. Javas mungkin bisa bernapas terlebih dahulu. Mungkin saja, orang tersebut tidak sengaja berada di sana. Walau demikian, Javas tetap memasang penjagaan ketat terhadap keluarganya.


Setelah sarapan bersama selesai, Kalea dan Javas berpamitan untuk berangkat bekerja. Dalam perjalanan, Kalea hanya diam mengamati sang Suami yang sedang fokus menatap tabletnya. Tidak ingin mengganggu, Kalea memilih untuk melihat pemandangan pinggir jalan.


Ketika melihat ada penjual siomay, Kalea merasa ingin membelinya. Sudah lama sekali dia tidak memakan makanan jenis tersebut. "Mas? Boleh tidak aku membeli siomay?" tanya Kalea meminta izin.


"Reza! Belikan siomay untuk istriku. Kita berhenti dulu di pinggir jalan," titah Javas tanpa mengalihkan perhatian dari tablet di tangannya.


"Baik, Tuan." Reza menjawab patuh dan menepikan mobil.


"Aku ikut turun ya, Mas. Biar bisa memilih sendiri. Takutnya, Reza malah kasih pare di siomay-nya," pinta Kalea dan Javas mengangguk menyetujui.


"Lihat jalanan ya," pesan Javas yang diangguki patuh oleh Kalea.


Setelah menyeberang jalan dan sampai pada penjual, Reza mempersilahkan Kalea untuk memesan makanannya sendiri. Dia hanya menunggu di belakang sambil berjaga-jaga tentang keselamatan sang Nona.


"Bang, siomai sebungkus ya. Tidak pakai pare." Kalea mengucapakan pesanannya pada Abang siomai.


"Saya buatkan dulu ya, Mbak."


Tidak perlu menunggu lama, satu Styrofoam siomai pun telah selesai di bungkus. Setelah membayar tagihan, Kalea dan Reza kembali ke mobil dengan Reza yang setia berjalan di belakang Kalea.


Kalea menoleh ke kanan dimana kendaraan yang melaju masih jauh. Karena jalan itu searah, Kalea tidak perlu repot menoleh ke kiri. Setelah memastikan aman, Reza meminta Nonanya untuk menyeberang.


Saat baru saja kakinya melangkah, ada sebuah motor yang melaju kencang yang entah darimana asalnya. Reza yang sudah siap siaga, mendorong Kalea untuk segera menepi hingga tubuh Kalea terbentur ke trotoar.


Siomai yang berada di tangannya, tumpah ruah dan berceceran di jalanan paving. Kalea menoleh dan melihat Reza yang juga terjatuh di sampingnya.


Orang-orang mulai mengerumuni Kalea dan Reza yang sama-sama terjatuh di pinggir jalan. Ada yang berusaha membantu, ada yang hanya melihat, dan ada yang membicarakan pemotor tadi.


"Nona tidak apa-apa?" tanya Reza segera bangkit.


Javas yang mendengar keributan, segera keluar dan melihat istrinya yang sedang berusaha bangkit. "Kalea!" paniknya segera menolong sang Istri.

__ADS_1


Javas mengucapakan terima kasih pada orang-orang yang membantu. "Kamu tidak apa-apa, Za?" tanya Javas pada sang Asisten, khawatir.


Reza menggeleng. "Tidak apa-apa, Tuan. Nona tidak apa-apa kan?" Kini giliran Reza yang menanyakan keadaan Kalea. Karena istri atasannya itu adalah tanggung jawab yang harus Reza jaga.


Setelah itu, ketiganya kembali masuk ke mobil. Siomai yang harusnya menjadi santapan, kini hanya tinggal kenangan. Kalea terdiam karena masih terlalu terkejut dengan kejadian yang menimpanya.


"Reza? Bukankah tadi tidak ada motor yang melaju? Kenapa tiba-tiba ada?" tanya Kalea mengatakan kebingungannya.


"Yang pasti, motor itu seperti sengaja muncul di persimpangan. Dari arah kanan, hanya ada mobil yang melaju dan itu pun masih jauh. Saat saya ingin melihat nomor kendaraannya, plat motornya ditutup entah menggunakan apa. Sepertinya, kejadian ini telah direncanakan," beritahu Reza mengungkapkan kemungkinan fakta.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kalian tidak apa-apa kan?" tanya Javas masih dengan raut paniknya.


"Aku tidak apa-apa, Mas. Paling lecet sedikit ini," tunjuk Kalea pada telapak tangannya yang sudah lecet akibat menahan bebannya sendiri.


Javas menjadi semakin panik. "Kalau begitu, kita ke dokter sebentar, Za," putus Javas yang tidak disetujui oleh Kalea.


"Tidak perlu, Mas. Ini hanya diberi obat sedikit, sembuh kok."


"Jangan membantah. Kamu juga, Za. Pasti ada yang lecet kan? Sekalian kamu diobati." Kalimat pamungkas itu tak dapat lagi ditolak. Reza segera melajukan mobil menuju rumah sakit terdekat.


Pagi ini, Javas harus dikejutkan dengan kejadian yang hampir saja mencelakai istrinya. "Kerahkan semua mata-mata kita. Jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi," titahnya tegas.


Reza mengangguk patuh. Hal seperti ini harus segera diusut secara tuntas. Tidak berapa lama, mobil sampai di lobi rumah sakit. Ketiganya turun dan tanpa perlu ikut mengantre, Javas mengajak keduanya menuju ruangan salah satu dokter kenalannya.


"Kita tidak mengambil antrean dulu, Mas?" tanya Kalea heran.


Javas terkekeh. "Tidak perlu. Aku sudah reservasi pada dokternya langsung." Sambil menarik pinggang Kalea agar merapat padanya. Reza yang berjalan di belakang sang Atasan, pura-pura tidak melihat saja. Nasibnya akan kurang beruntung bila ada di antara Tuan dan Nona-nya.


Setelah membuka pintu salah satu ruangan, ketiganya langsung disambut oleh suster yang menjadi asisten dari dokter yang mereka kunjungi.


"Hai, Vas. Siapa yang sakit? Duduklah," sambut seorang dokter paruh baya ramah.


"Hai, Tante. Ini, istri dan asisten saya mengalami musibah kecil. Tolong obati lukanya ya, Tan," jawab Javas sambil memapah Kalea untuk duduk di brankar. Reza yang melihat itu, membuang tatapan ke segala arah. Yang terpenting, tidak menoleh ke arah pasangan baru menikah itu.

__ADS_1


Dokter yang dipanggil Tante oleh Javas itu tampak terkejut juga bingung. "Istri? Kapan kamu menikah? Mengapa tidak mengundang Tante?" cecar dokter tersebut kesal.


Javas tersenyum. "Nanti saya jelaskan. Sekarang, tolong obati istri saya dulu, Tan. Lalu, itu asisten saya juga mengalami hal serupa. Tolong obati juga," tunjuk Javas pada Reza yang masih berdiri di samping pintu masuk.


'Masih ingat aku, kamu, Bos?' batin Reza kesal.


"Baik. Suster! Tolong obati luka pria itu ya," pinta dokter tersebut yang segera diangguki oleh suster, asisten dokter.


Dokter tersebut bernama Indiyana, atau bisa disapa dokter Indi. Beliau merupakan teman akrab Bu Belinda sejak beberapa tahun silam. Pertemanan antara dua wanita itu masih terjalin dengan sampai saat ini.


"Ada luka serius tidak, Tan," tanya Javas ketika dokter Indi mulai membersihkan luka.


"Tidak. Hanya lecet biasa. Memangnya, apa yang terjadi sebelumnya?" tanya dokter Indi mencari tahu.


"Hanya kecelakaan kecil. Untunglah kalau begitu," jawab Javas tidak ingin menceritakan secara detail.


Kalea sejak tadi hanya diam mengamati bagaimana Javas membangun interaksi dengan dokter paruh baya yang saat sedang mengobati lukanya. Interaksi yang terbilang cukup dekat bagi Kalea.


Setelah beberapa lama, luka di telapak tangan Kalea telah selesai diobati dan diperban. "Sudah selesai. Tante akan kasih resep obat nyeri agar nanti malam tidak pegal ya. Ini juga berlaku untuk asisten kamu," ucap dokter Indi yang kini sudah kembali menuju meja kebesarannya.


"Terima kasih, Tante," jawab Javas sambil memapah Kalea kembali menuju kursi. Bersamaan dengan itu, Reza juga telah selesai diobati dan diperban.


"Oh iya, kapan kamu menikah? Kenapa tidak mengundang Tante? Alika baru balik dari luar negeri loh. Kamu tidak merindukan dia?"


Pertanyaan itu sontak membuat Javas menegang di tempat. Dia sadar jika saat ini istrinya itu sedang menatapnya, meminta penjelasan. Walau Javas tidak melihat secara langsung, tetapi aura yang dirasakannya tampak mencekam.


Reza yang memang sudah paham pernah terjadi sesuatu antara Bosnya dengan perempuan bernama Alika, menyaksikan dengan seksama bagaimana Tuannya itu akan menjawab.


"Kalau begitu, kami pamit dulu ya, Tan. Masih banyak pekerjaan yang harus kami urus," pamit Javas setelah mengambil resep obat yang ditulis oleh dokter Indi.


Tanpa menunggu jawaban sang Dokter, Javas menggandeng lengan Kalea keluar dari ruangan. Setelah berada di apotek rumah sakit, Kalea menarik paksa tangannya dari genggaman sang Suami.


Dia kesal mengapa suaminya itu tidak menjawab kata rindu yang dokter tadi katakan. "Mas tidak merindukan Alika?" tanya Kalea sengaja mengulang kalimat dokter Indi.

__ADS_1


Javas menghela napas kasar. Apakah Kalea sedang merasa cemburu?


__ADS_2