Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 75. Kencan


__ADS_3

Pagi kembali menjelang. Semua keluarga telah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Sudah lima hari pasca kejadian mengerikan itu, Kalea sudah lebih bugar. Berhubung hari ini adalah hari Minggu, dia menyambutnya dengan bahagia. Javas akan mengajaknya pergi berkencan.


Katakanlah Kalea seperti anak remaja yang baru jatuh cinta. Namun, bukankah berkencan itu tidak melulu tentang mereka yang berpacaran? Yang sudah menikah pun boleh-boleh saja.


"Ma? Hari ini aku dan Kalea akan pergi jalan-jalan. Boleh kan, Ma?" tanya Javas meminta izin. Sebagai seorang anak yang kini kembali tinggal bersama orang tua, nasehat sang Mama tetap harus di pertimbangkan.


Kalea juga setuju dengan sikap Javas yang menghargai keberadaan mamanya. Dengan begitu, suaminya itu sudah dipastikan akan menghargai dirinya dan Kesha. Suaminya itu sangat menjunjung tinggi nilai moral menghargai seorang wanita.


"Boleh dong. Pergilah! Jangan sampai kalian stress dan tertekan karena setiap hari mendengar omelan Mama. Kalian butuh menghabiskan waktu hanya berdua," jawab Bu Belinda tidak masalah.


Kesha pun ikut tersenyum menyaksikan kebahagiaan sang Kakak tercinta. Dia telah menemukan kebahagiaannya.


Pukul delapan, Javas melajukan mobil menuju sebuah pusat perbelanjaan. Dia akan mengajak istrinya untuk menonton film di bioskop. "Kamu mau menonton apa?" tanya Javas langsung. Mereka sudah sepakat untuk menonton film genre romantis.


"Nanti lihat saja list filmnya, Mas. Aku belum bisa memutuskan," jawab Kalea tersenyum lebar.


"Baiklah."


Sekitar perjalanan tiga puluh menit, mereka telah tiba di sebuah mall. Setelah memberikan kunci mobil pada petugas valet, Javas menggandeng tangan Kalea memasuki gedung.

__ADS_1


"Aku ada spoiler film yang sedang tayang di bioskop. Genrenya romantis-action. Menurutku itu bagus," ucap Javas kembali membahas per film,an.


"Boleh tuh, Mas." Kalea menjawab sambil matanya fokus menaiki eskalator. Setelah tiba di gedung bioskop, Javas mengajak Kalea untuk memilih film yang akan mereka tonton terlebih dahulu.


"Bagaimana?" tanya Javas setelah memberikan waktu beberapa menit untuk berpikir.


"Yang ini saja, Mas. Sepertinya bagus. Lagi pula, Mas juga sudah menonton thriller-nya."


Hari Minggu pagi itu pun, mereka lalui bersama dengan penuh suka cita. Kalea merasa, dirinya adalah wanita paling bahagia di dunia karena memiliki suami seperti Javas. Benar kata pepatah yang mengatakan, seorang wanita akan menjadi ratu jika bersama laki-laki yang tepat.


Saat menjelang sore, keduanya memutuskan untuk pulang. Saat melewati sebuah toko bunga, Javas menepikan mobil hingga membuat Kalea keheranan. "Mau beli bunga untuk siapa, Mas?" tanya Kalea bingung.


Kalea meringis mengingat kejadian tersebut. "Maaf karena tidak berani membawa bunga itu pulang. Justru, aku malah meninggalkannya di jalan," sesalnya diliputi rasa bersalah.


"Lupakan. Yang terpenting sekarang, kamu benar-benar aku miliki. Dan itu adalah janjiku satu tahun silam. Aku telah berhasil merebut mu dari pria yang tidak bertanggung jawab," ucap Javas menggebu-gebu.


Kalea mengangguk penuh syukur karena ada Javas yang telah menyelamatkan hidupnya. "Terima kasih karena sudah memperjuangkan aku, Mas."


Javas tersenyum lalu menggenggam jemari Kalea. "Tidak perlu berterima kasih. Kamu layak untuk diperjuangkan. Sekarang, aku akan membelikan kamu bunga lagi. Berapapun yang kamu mau, akan aku berikan."

__ADS_1


Sontak hal itu membuat Javas mendapatkan pukulan pelan di lengan. "Beli bunga tuh secukupnya saja, Mas. Lain kali kita bisa beli lagi." Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Kalea memutuskan untuk turun lebih dulu.


Suaminya itu tentu langsung menyusul dan memeluk pinggangnya posesif. Selalu seperti itu setiap kali berada di tempat umum. Saat si bioskop pun sama. Laki-laki itu tidak ingin melepas Kalea barang sedetik pun.


Karena sudah terbiasa, Kalea pasrah saja. Saat telah berada di dalam toko, Javas membawa Kalea menuju rak bunga mawar. "Mau pilih yang mana? Merah lagi? Atau yang mana?" tanya Javas sambil mengecupi pelipis Kalea romantis.


"Warna merah sedikit ke hitam-hitaman sepertinya bagus. Aku akan taruh di kamar agar aku melihatnya setiap hari," ucap Kalea menunjuk bunga yang dimaksud.


Saat Javas akan membuka mulut, Kalea sudah menyela lebih dahulu. "Tidak perlu berlebihan. Beli beberapa tangkai saja. Nanti, kita bisa beli lagi. Dengan begitu, aku akan ada alasan untuk selalu bersamamu, Mas." Kalea berucap dengan senyuman manis yang membuat Javas kembali bungkam.


Kalea telah menggetarkan hatinya hanya dengan ucapan sederhana. "Baiklah. Kita akan memiliki waktu bersama lebih banyak lagi nanti," ucap Javas lalu segera meminta petugas bunga yang berjaga untuk membuatkan buket.


Satu buket mawar merah kini telah berada dalam genggaman. Kalea menghirupnya dalam-dalam aroma yang membuat tubuhnya tenang. Kalea suka akan wangi dari bunga mawar.


"Kamu suka?" tanya Javas sesaat setelah mereka kembali dalam mobil.


"Suka sekali. Terima kasih ya, Mas," ucap Kalea lalu mencuri kecupan di pipi Javas kilat. Hal itu membuat Javas salah tingkah hingga memegangi pipinya dimana tadi bibir Kalea mendarat di sana.


"Cium lagi dong," ucapnya diberi hati justru meminta jantung.

__ADS_1


__ADS_2