Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 64. Belum siap


__ADS_3

...WARNING🔥🔥...


...BACALAH BAB INI SAAT MALAM HARI AGAR SELAMAT🙈🙈...


"Aku harus membersihkan diri terlebih dahulu, Mas," ucap Kalea gugup dan buru-buru masuk ke kamar mandi. Padahal, keduanya baru saja tiba dalam kamar hotel.


Namun, ketika melihat ranjang yang kini sudah dihias dengan banyaknya kelopak bunga mewah, membuat perasaan Kalea menjadi gugup. Padahal, dulu dia sering ke kamar tersebut ketika awal-awal mengenal Javas.


Javas yang mendengar itu, mengizinkan saja. Mungkin, Kalea butuh waktu untuk mempersiapkan diri.


Setelah berada di kamar mandi, bukannya melepas pakaian lalu mandi, Kalea justru bergerak kesana-kemari dengan gelisah. Dia merasa takut karena harus melakukan hubungan suami istri kembali.


Takut jika rasa sakit itu akan kembali dirasakan seperti dulu. Jujur. Kalea masih trauma dengan rasa sakit yang sulit sekali dijabarkan. Bahkan, inti tubuhnya terkadang mengeluarkan darah akibat kurang pemanasan.


Kalea mengusap wajahnya frustasi. "Bagaimana ini? Aku sangat takut. Tetapi, aku harus menjalankan kewajiban sebagai seorang istri dengan baik," gumam Kalea berada di persimpangan dilema.


Ingin menolak pun, rasanya Kalea tidak sanggup. Dia takut dosa dan dilaknat Tuhan karena tidak patuh terhadap suami. Daripada pusing, Kalea memilih untuk berendam terlebih dahulu. Mungkin dengan begitu, pikirannya bisa sedikit mendapatkan pencerahan.


Sekitar dua puluh menit menenggelamkan diri dalam air dan busa, Kalea memilih menyelesaikan acara mandinya. Dia tidak ingin membuat Javas menunggu terlalu lama.


Ya. Sudah Kalea putuskan untuk menghadapi hari ini.


Kalea memakai bathrobe untuk membungkus tubuhnya. Sedangkan rambutnya yang basah dibalut menggunakan handuk kecil. Kalea keluar dan melihat laki-laki yang kini sudah resmi menjadi suaminya itu sedang berdiri membelakangi dirinya.


Jangan lupakan jika tubuh bagian atas milik Javas sudah terbuka dan kemeja yang tadi dikenakan telah teronggok tak berdaya di lantai. Kalea menelan saliva. Baru melihat punggung Javas saja Kalea sudah meremang.


Ehem.


Dia berdehem agar Javas menyadari jika dirinya sudah selesai mandi. Benar saja, Javas menoleh dengan bibirnya yang menyunggingkan senyum.


"Aku sudah selesai, Mas," beritahu Kalea dengan gestur gugupnya. Yaitu, mengusap-usap rambut dengan handuk kecil sebagai pengalihan.


"Memangnya, kalau sudah selesai kita akan melakukan apa?" goda Javas sambil menaikkan-turunkan alisnya.


Bukannya menjawab, Kalea justru bergerak membuka koper dimana seluruh pakaiannya diletakkan. Namun, ketika koper telah terbuka, betapa terkejutnya Kalea saat melihat isi kopernya telah diganti semua isinya.

__ADS_1


"Ya Tuhan! Ini pasti kerjaan Kesha dan Mama," gumam Kalea tidak percaya dengan penglihatannya. Pasalnya, semua pakaian di dalam koper telah diganti dengan pakaian minim bahan atau sering disebut lingerie.


Kalea menutup wajahnya malu. "Mas ... Bagaimana ini? Aku tidak mungkin menggunakan pakaian seperti ini," ucap Kalea meminta saran.


Javas pun mendekat dengan kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Dia menatap isi koper Kalea yang terdapat banyak sekali pakaian belum jadi. Namun, dia tersenyum ketika melihat secarik kertas yang ditinggalkan di atasnya.


"Coba kamu baca kertas itu," pinta Javas dan Kalea menurut.


"Pakailah ini sebagai baju tempur. Jangan lupa berganti sesuai tema pertempuran. Dari Kesha dan Mama Belinda tersayang, muah," ucap Kalea membaca tulisan di kertas tersebut.


Dia meringis ketika membaca kalimat muah layaknya ciuman. Mendengar itu, Javas justru tertawa dan berlalu menuju kamar mandi. Mengabaikan Kalea yang berteriak meminta pertolongan saat itu.


"Mas! Jangan ditinggal dulu! Bagaimana ini!" pekik Kalea kesal.


Terdengar pintu kamar mandi tertutup dan Kalea hanya bisa pasrah dengan takdirnya hari itu. Namun, ketika mendengar pintu kamar mandi kembali dibuka, Kalea menoleh cepat dan berharap Javas akan memberikan solusi.


Kepala Javas muncul dari celah pintu dan berkata. "Pakailah salah satunya. Toh setelah ini, mau kamu mengenakan kain atau tidak, aku akan tetap melihatnya." Lalu Javas mengerlingkan salah satu matanya yang seketika membuat Kalea bergidik.


Ingin sekali Kalea berteriak frustasi. Akhirnya, Kalea menuruti saran dari Javas. Dia memakai salah satunya yang masih terbilang waras. Namun, tetap saja tidak bisa menutupi banyak bagian tubuhnya.


Buru-buru Kalea naik ke ranjang dan menyembunyikan diri di bawah selimut. Dia tidak ingin terlihat konyol karena mengenakan pakaian kurang bahan di hari pertamanya menikah.


Namun, tetap saja matanya itu enggan untuk terlelap. Apalagi, Kalea bisa mendengar pintu kamar mandi kembali terbuka dan disusul suara langkah kaki mendekati ranjang.


"Kalea? Kamu tidur?" tanya Javas lembut yang kini juga bergerak menutupi tubuh dalam satu selimut yang sama dengan Kalea. Posisi Kalea yang miring memudahkannya untuk memeluk sang Istri dari belakang. Menelusupkan wajahnya di tengkuk putih dan harum itu.


"Geli, Mas," gumam Kalea sambil terkikik.


"Nah kan. Ternyata kamu hanya pura-pura tidur," ucap Javas mengungkap kebohongan Kalea.


Merasa tak ada gunanya lagi, Kalea membalikkan tubuh hingga berhadapan dengan pemilik wajah tampan berhidung mancung di hadapannya. "Mas?" panggil Kalea lembut.


"Iya, Sayang," jawab Javas selalu antusias.


"A-aku b-b-belum siap," cicit Kalea sambil memejamkan matanya, merasa bersalah.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu datang bulan?" tanya Javas tetap lembut walau perasaanya mendadak kecewa. Bukannya menjawab, Kalea justru menatap Javas lekat dengan menggigit bibir bagian bawahnya.


Damn it! Javas mengumpat. Bisa-bisanya Kalea mengatakan belum siap tetapi gestur tubuhnya terlihat menggoda. "Jangan gigit bibirmu seperti itu," peringat Javas sambil menyentuh bibir ranum milik Kalea.


Bukannya menolak, Kalea justru memejamkan mata ketika merasakan sentuhan lembut di bibirnya. Javas mengusapnya dengan ibu jari. Melihat itu, Javas tersenyum puas.


"Lidah bisa berkata, namun hati tak sejalan. Kamu menginginkannya, Sayang," lirih Javas terdengar serak.


Kalea membuka kelopak matanya. Ya. Apa yang dikatakan Javas benar. Ketakutan yang tadi dia rasakan entah mengapa kini hilang dan menguar. Yang ada, Kalea justru merasa nyaman ketika di dekap erat oleh sang Suami.


"Apa yang membuatmu ragu? Katakan," pintanya lembut.


"A-aku takut dengan rasa sakit." Kalea menjawab jujur dan tidak ingin menutup-nutupi. Javas yang memang sudah tahu dengan masa lalu buruk Kalea, mengangguk paham.


"Kalau begitu, kita tunda dulu," ucap Javas yang anehnya membuat Kalea merasa kecewa.


"Kenapa?" Kalea benar-benar menjadi orang yang paling bodoh sedunia. Mengapa pertanyaan seperti itu meluncur begitu saja? Bukankah dia yang mengatakan belum siap? Lalu, mengapa harus merasa kecewa ketika Javas memutuskan untuk menunda.


"Ma-maksudku, bukankah mama meminta kita untuk melakukannya segera," alibinya membawa-bawa nama Bu Belinda.


Javas tersenyum puas. "Kamu menginginkannya. Katakan saja seperti itu," tebak Javas yang seketika membuat Kalea bersemu merah.


Javas mendekatkan wajah di samping wajah Kalea. "Aku berjanji untuk melakukannya dengan lembut. Percayalah padaku," bisiknya yang menimbulkan gelenyar aneh di tubuh Kalea.


Setelah itu, Javas mulai melabuhkan kecupan di rahang Kalea dan sekitar telinga. "Nikmati, Sayang." Dan Javas mulai menindih tubuh Kalea.


Memulai semuanya dari sebuah ciuman pasti akan berakhir baik. Perlahan, Javas menelusuri leher Kalea. Memberikan kecupan- kecupan ringan di sana. Ketika ciuman semakin turun, suara laknat Kalea terdengar sangat menggoda.


Javas mendongak untuk melihat bagaimana wajah Kalea saat ini.


"Mash ... Aku ..."


"Kamu menginginkannya, Sayang." Setelah itu, Javas langsung membungkam bibir Kalea dengan ciuman.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...lanjut nggak nih??🙈...


...lanjut! nanggung amat, Thor. wkwkwk🤣...


__ADS_2