
Tiga hari pasca kejadian teror, luka yang Kalea telah mengering. Ada juga yang mulai mengelupas hingga membuat Kalea kurang nyaman. Bagian tubuhnya yang terluka ada di sekitar siku, lengan bawah, dan lutut bagian kiri.
Sudah selama itu juga Kalea berada di rumah. Ayah, ibu, dan Lintang juga sering menjenguk walau sebentar. Tujuannya untuk melihat keadaan Kalea.
Dengan adanya sakit, Kalea pun bisa merasakan bagaimana ayah dan ibunya khawatir. Mereka sudah benar-benar berubah. Seperti saat ini. Ibunya bercerita panjang lebar tentang warung kue yang dibangun dari uang hasil penjualan emas. Tentu saja Kalea yang memberikan.
"Terima kasih ya, Sayang. Sekarang, ibu bisa membuat warung kecil-kecilan untuk menjual kue buatan ibu. Itu semua modal dari penjualan emas yang kamu berikan," ucap Bu Yuni yang kini tengah duduk di sisi ranjang, menemani Kalea yang masih istirahat total.
"Jangan katakan itulah, Bu. Semua itu berhak untuk, Ibu," jawab Kalea tersenyum haru. Akhirnya, sang Ibu bisa menjalankan usaha kuenya.
"Mbak Kalea adalah pembawa berkah. Mbak pembawa kebahagiaan untuk keluarga. Aku pun merasakan dampak positifnya. Aku diterima bekerja di PT Kanagara Investama," beritahu Lintang penuh binar di matanya.
Kalea tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Bersyukur karena kehidupan keluarganya mulai ada perkembangan. "Syukurlah. Aku turut bahagia jika kalian mulai menjalani hidup dengan baik," jawab Kalea tulus.
Dalam hati, Kalea banyak berterima kasih pada sang Suami. Laki-laki itu telah banyak membawa perubahan dalam hidup Kalea. "Oh iya. Kapan kamu mulai bekerja, Tang?" tanya Kalea antusias.
Senyum lebar pun tampak nyata Lintang tunjukkan. "Senin depan aku sudah masuk kerja. Aku juga sudah menandatangani kontrak sebagai pegawai magang. Aku harus dilatih dulu. Walau begitu, aku tetap dibayar. Perusahaan Kak Javas sangat mengutamakan kesejahteraan karyawan," jelas Lintang tanpa menghilangkan senyum di bibirnya.
Senyum Kalea semakin lebar. Javas memang pantas berada di posisi tertinggi dalam sebuah perusahaan. Dia bijaksana dan memahami orang-orang kecil. Bukan hanya orang-orang besar yang laki-laki itu perhatikan dengan baik.
"Tunjukkan yang terbaik ya, Tang. Kamu harus buat ayah dan ibu bangga." Kalea berpesan penuh kelembutan. Lintang mengangguk patuh. Dia akan berusaha semaksimal mungkin. Dia akan tunjukkan kemampuan yang dimiliki.
"Ya sudah. Kalau begitu, kita pamit dulu ya. Istirahat dulu. Tidak perlu banyak berjalan untuk sementara waktu tidak akan membuatmu lupa caranya. Patuhi suami kamu," pinta Bu Yuni berpesan penuh makna.
__ADS_1
"Pasti, Bu. Hati-hati di jalan ya. Hubungi aku kalau kalian sudah sampai," jawab Kalea.
Setelah Lintang dan sang Ibu berlalu, kini giliran Bu Belinda yang masuk. "Kamu belum istirahat lagi? Boleh mama masuk?" ucap beliau meminta izin sebelum benar-benar masuk ke kamar sang Anak.
"Boleh dong, Ma. Mama punya akses masuk tanpa syarat," gurau Kalea yang membuat Bu Belinda terkekeh pelan.
"Badannya gimana? Sudah tidak sakit lagi kan?" tanya Bu Belinda lalu duduk di sisi ranjang.
Kalea menggeleng. "Badan sudah terasa ringan, Ma. Paling, hanya lecet yang mulai mengelupas hingga membuatku kurang nyaman ketika mengenakan baju," jawab Kalea sambil meringis malu.
"Tidak apa-apa. Lima atau tujuh hari sudah mengelupas itu. Kamu mau mama buatkan susu?" tawar Bu Belinda perhatian. Jelas saja Kalea langsung menggeleng. Hampir tiga hari ini dia tidak membantu di dapur, kini dia menyetujui ibu mertuanya membuatkan susu? Apakah Kalea terkesan menjadi menantu durhaka?
"Tidak perlu, Ma. Aku masih kenyang. Nanti bila aku ingin, aku akan turun sendiri. Aku juga harus terbiasa dengan luka ini. Walau rasanya suka kaku begitu lah," jelas Kalea mencoba meyakinkan.
Kalea tersenyum penuh haru. Pagi ini, dia banyak mendapat kabar yang mengharuskan matanya terdapat genangan air mata. "Terima kasih, Ma. Aku tidak tahu harus mencari ibu mertua seperti mama dimana lagi. Rasanya, hanya sepuluh banding satu yang seperti Mama," ucapnya sambil menyunggingkan senyum.
Sedangkan di tempat lain, Javas sudah berada di depan lapas untuk menemui seseorang. Siapa lagi jika bukan Yudi Abyasa. Pria paruh baya itu baru bisa ditahan kemarin karena Javas harus mengumpulkan banyak bukti tentang kasus kejahatannya.
Reza yang ikut serta, mengatakan kepada kepala polisi ingin bertemu dengan bapak bernama Yudi. Setelah kepala polisi mengizinkan, beliau berlalu masuk. Mungkin menuju tempat Pak Yudi dikurung.
Javas sudah duduk dengan gagah di ruang tunggu. Dia sudah tidak sabar untuk melihat bagaimana sengsaranya wajah pria yang telah melukai istrinya.
Lima menit menunggu, sosok pak Yudi pun muncul dengan tangan yang diborgol. Javas menyeringai. "Pakaian itu sangat cocok melekat di tubuh Anda," ejek Javas merasa puas.
__ADS_1
Bukannya marah, Pak Yudi justru tersenyum sangat misterius. "Jangan senang dulu karena aku berada di penjara. Aku masih memiliki seorang putra yang bisa diandalkan dan diajak kerjasama," jawabnya penuh teka-teki yang membuat amarah Javas naik.
Namun, Javas mencoba menahannya. Dia tidak ingin berakhir di penjara hanya karena memukul pak Yudi di depan mata kepala anggota kepolisian.
"Sepertinya, kalian telah menyusun rencana. Rencana seperti apakah kira-kira?" tantang Javas menatap tajam pria paruh baya di depannya.
Kini giliran pak Yudi yang menyeringai sinis. "Apakah kamu menunggunya? Tenang saja, hal itu tidak akan lama. Tunggu beberapa menit lagi dan kamu akan tahu apa Zoni lakukan. Aku harap, setelah itu kamu tidak menangis." Beliau membalas ejekan Javas dengan tenang. Seakan yakin jika rencananya akan berjalan dengan lancar.
"Mengapa Anda terlalu percaya diri sekali? Apakah sudah yakin jika rencana bisa berjalan lancar?" tanya Javas tersenyum sinis.
"Tentu saja. Semoga kamu tidak menyesal karena telah berurusan denganku. Lalu, perempuan buruk rupa itu jangan kamu pikir dia bisa hidup dengan damai. Balas dendam orang yang tersakiti akan lebih parah dari perkiraan," ungkap Pak Yudi lagi yang membuat Javas hampir meledakkan tawa.
"Kita lihat saja. Siapa yang sebenarnya menyakiti siapa. Balas dendam itu akan terasa nyata setelah berita itu di unggah. Oh, sepertinya aku sudah keceplosan." Javas berakting tentang keadaannya yang sekarang. Seakan tidak tahu rencana yang telah disusun anak dan ayah laknat itu.
Pak Yudi tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Raut wajahnya tampak pias menunjukkan sebuah kekalahan yang nyata. Javas tersenyum jumawa bersama Reza yang sejak tadi berdiri tegap di samping kursi sang Atasan.
Saat pak Yudi ingin marah, petugas kepolisian mengatakan waktu jenguk telah selesai. Javas melambaikan tangan sombong ketika petugas itu menyeret pak Yudi untuk masuk ke penjara.
"Pak! Beri saya waktu sebentar untuk berbicara dengannya!" pekik Pak Yudi memberontak.
"Sudah habis waktu jenguk! Jangan membantah!" bentak polisi tersebut yang membuat nyali pak Yudi menciut. Javas tersenyum miring. Tidak semudah itu menjatuhkan nama baik dan martabat seorang Javas Kanagara.
"Lima menit lagi, dengan kekuatan netizen Indonesia, berita itu akan meluas sampai ke pelosok Nusantara," ucap Javas tersenyum puas.
__ADS_1