
Di sebuah hotel milik keluarga Kanagara, ada sebuah resepsi pernikahan yang digelar begitu megah. Tamu undangan yang hadir juga sudah tak terhitung lagi. Kebanyakan, di dominasi oleh kolega bisnis dan teman sekolah.
Sedangkan untuk tamu undangan dari Kalea, mungkin hanya sekitar tiga puluh persen dari banyaknya yang hadir. Karena Kalea masih baru di dunia bisnis. Yang diundang paling keluarga dekat, tetangga Bu Yuni, dan teman sekolah Kalea semasa SMP.
Dan Kalea kedatangan tamu spesial dari negeri seberang. Siapa lagi jika bukan Kimi yang kini sudah memilih untuk menetap di negara perantauannya. Gadis itu tengah duduk di antara banyaknya tamu. Hanya saja, dia duduk di barisan paling depan bersama keluarga Kalea dan Javas.
Dari atas panggung, Kalea bisa melihat semua tamu undangan yang dia kenal.
"Akhirnya dunia tahu jika kamu itu istriku," bisik Javas sambil memeluk pinggang sang Istri.
Kalea mencebikkan bibirnya. "Yang berhak mengatakan hal tersebut tuh aku, Mas. Akhirnya dunia tahu jika Mas itu suami aku. Lihat tuh ...." tunjuk Kalea pada sekumpulan perempuan yang mengaku sebagai pengagum Javas ketika SMA.
"Mereka kebanyakan adalah pengagum seorang Javas Kanagara. Mana cantik-cantik lagi," sambung Kalea yang membuat Javas tersenyum lebar. Tatapannya tertuju pada bibir sang Istri yang bergerak komat-kamit tak menentu. Lucu. Pikirnya.
"Di mataku, kamu yang paling cantik. Karena cantik itu relatif. Tergantung si pemilik mata." Bukan Javas sekedar ingin menenangkan Kalea. Namun, apa yang dikatakannya adalah sebuah fakta. Seorang perempuan memiliki standar kecantikannya masing-masing.
Javas menganggap, semua perempuan cantik jika bersama laki-laki yang tepat.
Saat sedang asik bercanda dan tertawa, bibir yang semula melengkung ke atas, kini berada dalam satu garis lurus. Kalea mendadak kehilangan senyumnya ketika melihat kehadiran tamu yang tidak diharapkan.
Saat Kalea melirik sang Suami, laki-laki itu justru memasang senyum manis, yang membuat Kalea memutar bola mata jengah. 'Kenapa harus se ramah itu sih? Mentang-mentang sudah pernah dijodohkan,' batin Kalea menggerutu.
Setelah dokter Indi bersama perempuan bernama Alika naik ke atas panggung, Kalea memasang senyum palsunya. Dia akan menunjukkan betapa bahagianya hari ini bisa menjadi pemenang hati Javas.
__ADS_1
"Selamat untuk pernikahan mu, Javas. Akhirnya kamu menemukan seseorang yang tepat. Tante turut bahagia," ucap dokter Indi tulus. Dia memeluk Javas yang sudah dianggap bagai anaknya sendiri.
Kalea tersenyum ketika melihat ketulusan dalam ucapan tersebut. Namun, ketika tiba giliran perempuan bernama Alika, riak wajah Kalea berubah masam. Suaminya itu terlalu banyak senyum yang ditunjukkan.
Dan Kalea ingin sekali mencekik leher sang Suami ketika mendapati Alika memeluk Javas dan berucap. "Selamat atas pernikahan mu. Harusnya aku yang ada di sini. Namun, takdir berkata lain," ucap Alika dan Kalea ingin sekali menelan suaminya hidup-hidup.
Bisa-bisanya, Javas pasrah dan tenang ketika dipeluk oleh Alika. Padahal, ada Kalea tepat di sampingnya. Entah mengapa, rasa sesak seperti sedang menggerogoti hati Kalea saat ini.
Tidak bisakah suaminya itu menghargai sedikit saja perasaannya?
Ketika dua perempuan berbeda generasi itu telah berlalu, Kalea kembali duduk dan terdiam. Tatapannya enggan menatap sang Suami. Perasaan hatinya kesal sekali hingga ingin melampiaskan lewat tangisan.
Hingga pesta berakhir, Kalea masih setia menutup mulutnya. Dan yang semakin membuat Kalea kesal adalah, suaminya itu tidak peka sedikit pun. Tidak menanyakan apa yang membuat bibirnya bungkam.
"Akhirnya kamu datang juga. Aku sangat merindukanmu, Kim," ucap Kalea lalu berhamburan memeluk sang Sahabat. Air matanya tumpah seketika. Mungkin, air mata itu tidak sepenuhnya karena Kimi. Melainkan, karena hatinya yang terlalu sensitif.
"Loh, pengantin baru kok nangis? Senyum dong," pinta Kimi tak urung membalas pelukan sang Sahabat.
Kimi lalu mendekatkan wajah di ke dekat telinga Kalea. "Aku tahu jika saat ini kamu sedang cemburu. Lebih jaga suami kamu dengan baik. Aku takut, dia akan menjadi ular," bisiknya pelan.
Kalea sontak melepas pelukan dan menatap sang Sahabat tidak percaya. Kimi saja tahu apa yang sedang dirinya rasakan hanya lewat raut wajah. Namun, kenapa suaminya itu tak peka sedikitpun.
"Kok kamu tahu?" tanya Kalea bersamaan dengan itu, dia merasakan tangan kokoh yang melingkar di pinggangnya. Kalea mendengkus kencang. Merasa masih kesal dengan sikap suaminya yang tidak tegas.
__ADS_1
"Aku ingin bersama Kimi dulu, Mas. kamu bisa ke kamar lebih dulu," pinta Kalea tanpa repot-repot menoleh. Kalea sadar jika suaminya itu tampak kecewa. Namun, Kalea masih ingin mempertahankan egonya.
"Nanti, biar aku yang antar Kalea ke atas. Bapak tenang saja," ucap Reza menengahi. Dia bisa memahami jika ada aura kurang bersahabat yang ditujukkan Nona-nya pada sang Tuan. Baru setelah itu, Javas bisa lebih tenang.
Sepeninggalan sang Suami, Kalea mengajak Kimi untuk singgah pada kamar dimana nanti sahabatnya itu akan tidur. "Kamu tidur disini saja, Kim. Mas Javas sudah menyiapkan fasilitas gratis untukmu," ucap Kalea sesaat setelah berada dalam kamar.
Kimi mengangguk dan tersenyum bahagia. "Terima kasih ya. Aku jadi merepotkan kamu," ucap Kimi merasa tidak enak hati.
"Kenapa harus berterima kasih? Justru aku yang begitu berterima kasih padamu. Dulu, kamu pernah memberiku tumpangan tempat tinggal yang tidak ada apa-apanya dari yang suamiku berikan. Jasamu sangat besar dalam keberhasilan ku, Kim. Terima kasih karena telah membantu banyak." Kalea kembali memeluk Kimi untuk menyalurkan rasa rindu karena sudah lama tidak bertemu.
"Sama-sama. Semoga pernikahan kamu kali ini membawa kebahagiaan dan ketentraman," jawab Kimi lalu membalas pelukan Kalea.
"Oh iya. Sebaiknya kamu kembali sekarang. Aku tidak mau menganggu waktu malam mu yang harusnya dihabiskan bersama Javas. Apapun yang sedang kamu rasakan, cobalah katakan. Terkadang, laki-laki tidak akan paham jika kita tidak mengatakannya. Mereka manusia biasa yang tidak bisa membaca kata hati," jelas Kimi memberikan saran.
Kalea menunduk sambil memilin jemarinya. Dia menghela napas lelah lalu kembali mendongak. "Aku sakit hati, Kim. Bisa-bisanya, Mas Javas bersikap biasa saja saat dipeluk oleh perempuan lain. Coba jika aku yang ada di posisi tersebut. Sudah dipastikan, hukuman sudah menanti ku," kesal Kalea menggebu-gebu.
Kimi terkekeh. "Begitulah seorang perempuan. Dia bisa menyembunyikan rasa cintanya selama seribu tahun. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan rasa cemburu walau hanya sedetik," gumam Kimi yang membuat riak wajah Kalea semakin masam saja.
"Pergilah! Kali ini aku mengusir mu! Jangan datang malam ini karena waktunya tidak tepat. Javas juga pasti sudah menunggu. Jangan kecewakan dia hanya karena satu kesalahan pahaman," pinta Kimi lagi dan Kalea tak kuasa menolak. Ucapan sang Sahabat memang benar. Akhirnya, Kalea memutuskan untuk menyusul sang Suami.
Dia baru tersadar jika sejak tadi Reza setia mengikuti. Laki-laki itu memilih menunggu di depan kamar layaknya pengawal pada umumnya. "Kamu menungguku, Za? Aku kira sudah pergi." Kalea cukup terkejut hingga memegangi dadanya yang sedang berdetak tak karuan.
"Iya, Nona. Saya sudah berjanji untuk menunggu dan mengantar Nona sampai berada di kamar pengantin," jawab Reza sambil menunduk hormat.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan ke kamar sekarang. Tolong antarkan ya."