Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 67. Orang mencurigakan


__ADS_3

Udara malam yaang berhembus kencang membuat kulit Kalea terasa meremang. Siluet pepohonan di sekitar hotel tampak bersinar keemasan karena cahaya lampu jalan yang menyala temaram.


Kalea sampai harus membenarkan posisi rambutnya yang berantakan akibat tertiup angin. Javas yang merasa gemas, langsung menghentikan langkah dan meminta Kalea melakukan hal yang sama.


"Kenapa, Mas?" tanya Kalea memprotes.


"Kamu bawa ikat rambut tidak?" tanya Javas sambil membenarkan rambut Kalea yang berantakan.


"Aku lupa," jawab Kalea meringis tanpa beban. Tidak ingin mempermasalahkan, Javas segera mengumpulkan rambut Kalea. Setelah itu, Javas menarik tali jaketnya untuk digunakan sebagai ikat rambut.


"Seperti ini kan, enak," ucap Javas setelah berhasil mengikat rambut Kalea asal. Kekehan geli pun terdengar. Javas selalu memiliki jalan keluar untuk setiap masalah.


"Kita mau kemana sih? Ini sudah berjalan cukup jauh," tanya Javas tidak habis pikir.


Kalea tersenyum lalu menunjuk pada taman yang hanya berjarak sepuluh meter dari tempatnya berdiri. "Kesana yuk? Sambil melihat bintang, Mas. Biar suasananya romantis begitu," jawab Kalea yang membuat Javas tertawa.


Tanpa basa-basi, Javas menggandeng jemari Kalea dan membawanya menuju taman yang Kalea maksud. Dia membawanya duduk di salah satu bangku panjang yang letaknya persis di bawah pohon.


"Tuh kan, ada bintangnya," ucap Kalea antusias dengan kepala mendongak menatap langit. Javas mengikuti arah pandang Kalea dan mendapati banyak sekali bintang yang bertaburan di dinding langit.


"Kamu suka melihat bintang?" tanya Javas ikut larut dalam suasana malam.


Kalea mengangguk. "Melihat bintang membuat perasaanku membaik. Apalagi, kini ada Mas yang menemani. Terima kasih ya, Mas," ucapnya lembut sambil menatap profil samping Javas.


Cahaya lampu yang temaram tidak bisa menampakkan seluruh wajah Javas. Namun, dari siluetnya saja Kalea menyadari bila laki-laki yang kini telah menjadi suaminya itu sangatlah tampan.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Javas lalu kembali mendekap tubuh Kalea, memasukkan dalam jaket yang saat ini dikenakan, layaknya anak bayi.


Kalea membalas pelukan itu dengan tangannya yang masuk dari balik jaket suaminya. Dia mendongak dan bisa melihat wajah Javas dari bawah. "Terima kasih untuk semuanya. Bersama kamu, aku menjadi lebih berarti." Tatapan matanya tampak sendu.

__ADS_1


Namun di dalamnya, sarat akan cinta dan sayang yang sulit sekali dijabarkan. Javas menunduk dan mencuri kecupan di puncak kepala Kalea. "Aku tanpamu, butiran debu," jawab Javas yang menggunakan sebuah lagu.


Kalea terkekeh lalu menyandarkan kepala di dada bidang milik suaminya. Sangat nyaman dan hangat sampai Kalea enggan untuk melepaskan.


"Kamu percaya dengan bintang jatuh?" celetuk Javas setelah keheningan terjadi.


Kalea menggeleng. "Aku kurang percaya. Aku lebih suka berdoa dan menengadahkan tangan daripada berdoa ketika bintang sedang jatuh," jawabnya yang membuat Javas mencebikkan bibir.


"Oke, ganti. Aku tidak jadi menggombal mu lewat bintang jatuh."


Mendengar hal itu, Kalea tertawa renyah. "Maksudnya? Memangnya mau menggombal apa? Katakan sekarang," tanya Kalea sedikit merasa bersalah.


Bibir Javas tampak cemberut. "Tidak jadi. Kata-kataku sudah tertarik kembali," kesalnya yang membuat Kalea dirundung rasa bersalah yang besar.


"Maaf. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu, Mas. Tetapi, ayolah katakan gombalan mautmu," pinta Kalea sambil merengek.


Javas menatap Kalea cukup lama dan perempuan itu membalasnya. "Cium dulu," titah Javas sambil menyentuh pipi dengan telunjuk.


"Ya sudah. Kalau begitu kita marahan," jawab Javas sambil melipat lengan di depan dada dan berpaling muka Kalea menghela napas. Tidak ingin berdebat terlalu panjang lagi.


Akhirnya, Kalea mendekat dan berniat mengecup pipi suaminya. Namun, bersamaan dengan itu, Javas menoleh hingga ciuman itu mendarat di bibir suaminya. Javas tersenyum puas sedangkan Kalea, dia sudah melotot tajam.


Terlanjur kesal, Kalea menggigit pipi Javas cukup kencang hingga membuat suaminya itu mengaduh kesakitan. "Aw! Sakit, Sayang," rengek Javas sambil mengelus pipinya sendiri.


"Mana sini? Salahnya sih. Ini kan tempat umum, Mas. Kalau ada satpol PP lewat, kita bisa dikira pasangan mesyum," ucap Kalea mengungkapkan keresahannya.


Javas merasakan sentuhan lembut di pipinya yang bersumber dari telapak tangan sang Istri. "Kamu lupa? Kita masih berada di area hotel, Istriku Tercintah. Ini juga hotel milik kita. Mana ada satpol PP sih," jelas Javas kesal.


Kalea tertawa. "Maaf, Mas Sayang."

__ADS_1


"Eh. Ngomong-ngomong, hotel ini milik kita? Bukan milik keluarga, Mas? Aku salfok loh dengan ucapan Mas barusan. Bisa dijelaskan?" tanya Kalea sambil menaik-turunkan alisnya.


Merasa gemas, Javas menangkup kedua pipi Kalea hingga membuat bibir perempuan di depannya mengerucut lucu. "Apa yang aku miliki, sudah menjadi milikmu juga." Setelah itu, Javas kembali mengecup bibir Kalea. Menyesapnya dengan lembut, bergantian atas dan bawah.


Dinginnya malam serta suasana yang sangat romantis itu, membuat Kalea terhanyut oleh sentuhan suaminya yang selalu berhasil menyentuh titik terdalam tubuhnya.


Kalea membalas ciuman tersebut tak kalah lembut. Keduanya saling bertukar saliva di bawah bintang-bintang yang bertaburan di langit.


"Tuan, maaf bila saya mengganggu," ucap suara yang menyadarkan keduanya hingga saling melepas pertautan.


Javas berdecak sebal dan menatap pria yang kini berdiri tidak jauh darinya dengan tatapan tajam, bagai ingin menelannya hidup-hidup.


"Kenapa sih, ganggu saja!" ketusnya sambil merapikan penampilan sang Isteri yang sedikit berantakan. Kalea tidak berani mendongak karena terlalu malu. Satpol PP itu benar-benar ada dan nyata. Walau satpol PP itu adalah Reza yang bagai sudah menangkap basah dirinya dan Javas


"Maaf sekali lagi. Namun, ada seseorang yang sejak tadi mengamati Tuan dan Nona Kalea dari kejauhan. Saya hanya takut jika dia akan berbuat hal yang tidak baik," jelas Reza yang membuat Javas seketika menatap sekeliling penuh was-was.


"Siapa?" tanya Javas dingin.


"Saya kurang tahu. Dia masih berdiri di sana, Tuan," tunjuk Reza ke arah samping kanan tempat mereka berada.


Semua mengikuti ke arah tunjuk Reza dan memang melihat siluet seorang pria di bawah pohon yang seperti sedang mengawasinya.


"Siapa disana! Jangan mencari mati dengan mengurusi urusan ku!" pekik Javas yang membuat siluet itu seketika lari dan menghilang dibalik pepohonan.


Kalea yang terlalu terkejut, terdiam dengan pikiran yang sudah tidak karuan. Dia berharap jika apa yang ada dalam pikirannya tidaklah benar. Siluet itu bukanlah milik seseorang yang Kalea kenal.


"Kita kembali ke kamar saja, Mas. Aku sedikit takut," ucap Kalea bergetar. Javas mengangguk menyetujui.


"Kejar dia, Za. Jangan sampai lolos!" titahnya tegas lalu mendekap sang Istri untuk berjalan menuju kamar hotel.

__ADS_1


Tidak mungkin seseorang mengamati dirinya tanpa ada niatan buruk. Javas harus waspada apalagi rival bisnisnya cukup banyak. Dia hanya khawatir orang mencurigakan tersebut akan melukai Kalea.


Jika sampai hal itu terjadi, Javas tidak akan membiarkan seseorang tersebut kembali hidup-hidup.


__ADS_2