Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 58. KUA tutup


__ADS_3

Hari ini, ibu kota begitu panas. Entah karena penggunaan rumah dan gedung kaca atau memang sedang musimnya. Yang pasti, cuaca di kota itu tidak lagi bisa diprediksi bahkan oleh BMKG sendiri. Perkiraan mereka tidak selalu benar.


Walau demikian, hal tersebut tidak membuat Kalea beranjak dari tempatnya berpijak. Dia sedang melihat dari luar toko perhiasan yang tinggal proses finishing.


Ada senyum bangga yang ditunjukkan untuk dirinya sendiri. Ya. Kalea merasa berterima kasih kepada diri sendiri yang telah bertahan hingga sejauh ini. Namun, hal itu tidak mengurangi rasa berterima kasih Kalea pada orang-orang yang telah mengambil andil banyak dalam perjuangannya.


"Mbak, minum dulu," ucap Lintang yang baru saja kembali untuk membeli minuman dingin. Tangannya mengulurkan satu botol minuman dingin isotonik pada kakaknya.


"Terima kasih, Tang," jawab Kalea sambil menerima botol minum tersebut. Setelah membuka tutup bersegel, Kalea menengguk air tersebut sampai habis setengahnya.


"Haus sekali ya, Mbak?" tanya Lintang yang juga sedang melakukan hal yang sama.


"Kenapa memangnya?" Sambil menatap Lintang yang berada di sebelahnya. Matanya memicing akibat sinar matahari yang menyilaukan pandangan. "Sekali teguk, langsung habis," ledek Lintang yang membuat Kalea tertawa renyah.


"Soalnya, cuacanya pas, saat panas dsn butuh cairan banyak." Setelah menjawab hal tersebut, Kalea berjalan meninggalkan Lintang masuk ke ruko yang sedang direnovasi.


"Tunggu aku, Mbak!" teriak Lintang ketika sadar ditinggal begitu saja. Dia berusaha mengejar langkah kecil kakaknya masuk ke ruangan.


Kalea duduk di bangku panjang yang digunakan para pekerja untuk beristirahat. Satu kakinya terangkat dsn bertumpu pada kakinya yang lain. Kedua lengannya terlipat di depan dada dengan pandangan mengedar melihat setiap sudut ruangan.


Ketika merasakan pergerakan di samping bangkunya, Kalea menoleh dan mendapati Lintang yang sedang menatapnya. "Kenapa?" tanyanya heran.


"Tidak. Aku hanya ingin melihat Mbak dari jarak dekat. Aku seperti melihat Mbak Kalea yang baru. Yang sudah tidak selemah dulu. Mbak Kalea yang saat ini begitu luar biasa," jawab Lintang dengan tatapan takjub.

__ADS_1


Kalea terkekeh. Adiknya itu pandai sekali membuat perasaanya melayang-layang. "Jangan berlebihan. Mbak masih sama seperti yang dulu kok."


"Tidak. Mbak Kalea sudah berubah menjadi lebih baik lagi. Oh iya, aku sudah kirim CV lamaran kerja ke perusahaan Kanagara Investama, Mbak. Kata Bang Javas, harus menunggu paling lama lima belas hari kerja. Namun, baru tiga hari yang lalu lamaranku sudah diterima. Lusa aku diminta datang untuk interview," beritahu Lintang dengan wajah yang ragu.


Hal itu tentu tertangkap jelas di indera penglihatan Kalea. "Kenapa wajahmu seperti tidak merasa senang? Apakah ada masalah?" tanya Kalea mencari tahu.


Terdengar helaan napas kasar dari laki-laki yang kini sudah beranjak dewasa di samping Kalea. "Aku hanya sedang tidak percaya mengapa secepat itu. Aku harap, ini tidak ada campur tangan dari Bang Javas," gumam Lintang dengan suara merendah.


Kalea tahu maksud ucapan Lintang. Mungkin, adiknya itu berpikir jika Javas-lah yang telah membuat dirinya diterima di perusahaan sebesar itu. "Tidak mungkin. Javas tidak pernah berlaku seperti itu. Dulu saja, waktu Kesha akan meneruskan bisnis keluarga, Javas membuat adiknya bersusah payah terlebih dahulu. Kesha bekerja layaknya karyawan biasa. Padahal, Javas tahu jika saat itu Kesha masih kuliah," jelas Kalea agar Lintang tidak salah paham.


"Aku yakin, Javas juga tidak tahu-menahu soal ini. Itu bukan urusan dia dan sudah ada yang berkewajiban mengurusnya. Kalau pun kamu diterima, Mbak yakin semua itu karena prestasi dan kamu itu berkompeten," sambung Kalea mencoba memberi semangat pada sang adik.


Jujur saja, mendengar penjelasan tersebut membuat perasaan Lintang menjadi lebih baik. Dia bisa masuk ke perusahaan besar itu tanpa harus lewat jalur orang dalam. Semua murni karena usahanya sendiri.


"Terima kasih, Mbak. Sudah meyakinkan aku. Aku berjanji untuk tidak mengecewakan Bang Javas maupun Mbak. Aku akan tunjukkan jika aku bisa bekerja dengan baik."


Sore harinya, Javas datang menjemput Kalea yang masih bertahan di toko. Karena cuaca sedang hujan, saat melihat mobil Javas berhenti di area parkir, Kalea buru-buru mengambil payung dan keluar dari ruangan tersebut. Tentunya setelah mengunci ruko tersebut dengan baik.


Dia mengetuk kaca mobil ketika menyadari jika Javas masih bertahan di dalam. Setelah kaca itu terbuka, Kalea bisa melihat senyum merekah milik pria yang dicintainya. "Maaf karena aku lupa bawa payung. Masuklah," pinta Javas lembut.


Setelah Kalea masuk, dia mengibaskan pakaian yang sedikit terkena percikan air. Sedangkan payungnya yang sudah terlanjur basah, Kalea lempar pada bagian mobil paling belakang.


"Baru saja pulang, Mas?" tanya Kalea sambil menoleh menatap Javas.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Javas justru mendekap pinggang Kalea hingga tubuh keduanya saling menempel tanpa sekat. Pekikan tertahan pun terdengar dari Kalea. Namun, reaksi yang ditunjukkan Javas membuat Kalea melotot. Laki-laki itu justru menyengir tanpa dosa.


"Sudah lama sekali aku tidak merasakan manisnya bibirmu. Boleh aku merasainya sedikit saja?" goda Javas dengan satu tangannya memainkan rambut Kalea yang saat itu tergerai.


Kalea menelan saliva. Mengapa harus ditanya sih? Kalau mau cium tinggal cium saja. Sekarang, Kalea justru yang terdiam dan terlalu malu untuk mengangguk. Untuk menggeleng pun rasanya sayang. Dia juga merindukan sentuhan itu. Yang memang sudah lama sekali tidak dirasakan.


"Katakan," pinta Javas lembut laksana sebuah perintah dan Kalea pun mengangguk lemah.


Javas tersenyum manis dan tanpa menunggu lebih lama, segera menyambar bibir penuh Kalea. Menunjukkan rasa cintanya yang besar. Ada rasa yang menggelitik dan desiran aneh ketika ciumannya disambut dengan baik oleh Kalea.


Merasa telah kehabisan oksigen, keduanya saling menjauhkan wajah dan menatap satu sama lain. Kalea bisa melihat tatapan mata Javas begitu sayu. "Manis," gumam Javas sambil ibu jarinya bergerak mengusap sisa saliva di bibir Kalea.


"Bagaimana jika kita menikah sekarang?" Pertanyaan Javas yang tiba-tiba itu membuat Kalea terdiam. Paham kemana arah pembicaraan tersebut.


"Yakin mau sekarang?" tanya Kalea menggoda.


"Yakinlah. Semoga saja KUA belum tutup. Menikah saja dulu. Supaya kita sah di depan agama maupun negara. Aku sepertinya, sudah tidak kuat untuk menahan," rengek Javas frustasi.


Bukannya kasihan, Kalea justru tertawa terbahak-bahak melihat wajah Javas yang nelangsa. "Tahan dulu, Mas. Sore hari KUA sudah tutup. Mana besok hari Sabtu dan Minggu. Jadi, bertahanlah sampai hari Senin tiba," gurau Kalea yang justru ditanggapi serius oleh Javas.


"Baiklah. Kita akan menikah Senin besok. Menikah saja di KUA. Nanti malam kita harus mengurus semuanya. Termasuk meminta izin pada ayah dan ibumu. Masalah resepsi, kita bisa melakukannya setelah menikah beberapa hari. Yang terpenting, kita harus pergi berbulan madu," racau Javas panjang lebar.


Kalea hanya bisa membuka mulutnya, merasa terperangah tidak percaya. Apakah Javas serius dengan perkataannya?

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



__ADS_2