
Kalea mengantar Kimi sampai di bandara. Hari ini Kimi akan berangkat lagi ke Singapura karena pekerjaannya tidak bisa ditinggal terlalu lama. Dia pulang karena mengambil beberapa surat penting yang ada di Indonesia.
"Kenapa cepat sekali kembali ke luar negeri sih? Menghabiskan uang saja," omel Kalea tidak habis pikir.
Kini tertawa. "Setidaknya dalam waktu satu hari disini, aku bisa bersamamu. Salam untuk Lintang ya? Lama juga tidak bertemu dia," ucap Kimi sebelum benar-benar pergi karena pesawatnya akan segera berangkat.
"Nanti aku akan katakan padanya. Jaga kesehatan mu Kimy!" pekik Kalea sambil melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.
Waktu satu hari terasa kurang bagi Kalea. Dia butuh waktu yang banyak agar bisa bercerita tentang kehidupannya selama ini. Namun, Kalea tidak ingin membebani sahabatnya itu karena pekerjaannya saja sudah berat.
Setelah Kimi tidak lagi terlihat, Kalea menghela napas kasar dan berbalik menuju motornya terparkir. Ya. Mereka pergi ke bandara dengan mengendarai motor. Selain karena sejuk, Kimi mengatakan jika dia ingin menikmati udara sore hari di ibu kota.
Hari ini Kalea harus pulang ke rumah. Dia juga sudah meminta izin pada Javas untuk kembali libur bekerja hari ini. Besok baru Kalea akan masuk lagi.
Zoni meminta dirinya untuk pulang. Sebenarnya, Kalea sudah tidak berminat tetapi entah mengapa Kalea tidak bisa menolak. Dia merasa masih memiliki kewajiban untuk mematuhi perintah Zoni, sang Suami.
Setelah peralatan berkendara lengkap, Kalea memutar setir dan menjalankan kuda besinya menuju rumah.
Tidak berapa lama, Kalea sampai dan langsung memarkirkan motor di garasi. Zoni telah menunggunya di depan pintu dengan raut yang tidak terbaca. Kalea kesal jika mendapati raut wajah Zoni yang seperti itu karena dia menjadi sulit menebak.
"Maaf Mas—" Ucapan Kalea terhenti karena tiba-tiba, Zoni memeluk tubuhnya dengan erat. Tentu saja hal itu membuat Kalea terkejut.
"Maafkan aku karena sudah kasar padamu. Tolong jangan meminta cerai dariku. Hanya kamu yang bisa mengerti keadaanku. Tolong, jangan tinggalkan aku," ucap Zoni memohon.
Hal itu sontak membuat bahu Kalea merosot. Sadar atau tidak, Kalea sudah meninggalkan Zoni sejak lama. Mungkin, raganya masih bersama Zoni. Namun hati Kalea telah dimiliki oleh Javas.
__ADS_1
Zoni melepas pelukan dan Kalea bisa melihat wajah suaminya itu dari jarak yang begitu dekat. Belum lagi, Kalea merasakan sentuhan lembut di pipinya karena Zoni tengah mengelus pipinya.
"Maafkan aku. Tolong jangan marah dengan sikapku selama ini," mohon Zoni lagi dan Kalea berdecih pelan.
"Kamu pikir aku bisa lupa begitu saja, Mas? Setelah semua perlakuan buruk yang kamu lakukan, aku merasa bahwa kamu itu sudah tidak lagi mencintaiku. Karena cinta tidak seperti itu, Mas." Kalea berucap datar dan dingin.
"Aku tahu, mungkin aku salah dalam mengekspresikan perasaanku. Namun, aku tidak bermaksud untuk melukaimu. Semua itu spontan dan aku selalu menyesal," jelas Zoni yang tidak bisa lagi Kalea terima.
Sudah tidak ada rasa yang tersisa sedikitpun. Semua sudah mati dan Kalea telah berpaling. Dia sadar semua yang dilakukan salah. Namun, Kalea sudah terlanjur jatuh terlalu dalam pada cinta Javas.
Hanya Javas yang mengerti dan memahami hatinya.
"Beri aku waktu, Mas. Aku tidak bisa melupakan semua yang sudah kamu lakukan padaku. Hal itu sangat menyakiti aku dan kamu tidak pernah mau tahu tentang itu. Kamu selalu mengabaikan ku, menghina ku jelek, jerawatan, dan kusam. Sekarang, saat aku sudah berubah, kamu pun berubah pikiran. Kamu bukan mencintai fisikku saja kan, Mas?" tanya Kalea yang seketika membuat Zoni tertohok.
Ucapan Kalea bagai busur panah yang tepat mengenai dada Zoni. Sangat tepat sasaran. "Itu tidak benar. Aku mohon, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua. Mari, kita ulang semua kenangan indah yang pernah kita lewati bersama. Aku rindu dengan masa itu." Zoni masih saja memohon belas kasihan Kalea.
'Sampai rasa itu padam dengan sendirinya dan tidak pernah lagi ada,' sambung Kalea dalam hati.
"Baiklah. Kita bahas lagi nanti. Kamu harus istirahat karena seharian bekerja," ucap Zoni pengertian. Namun, Kalea sangat menyayangkan hal tersebut dan timbul pertanyaan, mengapa baru sekarang? Selama ini dia kemana saja?
Saat Kalea menangis setiap malam karena merasakan sesak yang menghimpit dadanya. Saat Kalea dihina habis-habisan oleh ibu dan adiknya, dan saat Kalea sangat membutuhkan bahu juga telinga Zoni, suaminya itu tidak pernah ada.
Akhirnya, Kalea memilih masuk dan berniat untuk membersihkan diri. "Aku mandi dulu, Mas," ucap Kalea sambil berlalu meninggalkan Zoni yang juga ikut masuk.
Waktu bergulir. Kalea telah selesai membersihkan diri ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. "Masuk!" ucap Kalea karena tahu siapa pelakunya.
__ADS_1
Benar saja, Zoni muncul di ambang pintu dengan pakaian yang sudah berganti. "Boleh aku masuk?" ucapnya meminta izin. Kalea mengangguk dan mempersilahkan suaminya. "Silahkan, Mas."
Setelah Zoni duduk di sebelah Kalea yang sedang duduk di pinggiran ranjang, keadaan mendadak canggung. Keduanya seperti kehilangan topik pembicaraan karena sudah terlalu lama tidak saling bertukar cerita.
"Bagaimana hari ini? Apakah baik-baik saja?" tanya Zoni yang membuat batin Kalea seketika merana. Matanya berkaca-kaca mengingat sudah lama sekali Zoni tidak pernah menanyakan hal tersebut.
Namun, Kalea sadar bahwa semua sudah terlambat. Cintanya pada sang Suami sudah tidak sama lagi.
"Kenapa menangis? Apakah harimu sangat berat?" tanya Zoni lagi yang membuat air mata Kalea tumpah seketika.
Mengapa Kalea harus merasakan sesak saat pertanyaan itu muncul dari mulut Zoni? Seperti ada jutaan rasa bersalah yang menyerang bagian dadanya.
Zoni yang panik, langsung membawa tubuh Kalea dalam pelukan. "Maafkan aku jika selama ini selalu menyakitimu. Mulai hari ini, kita akan kembali berbagi cerita tentang hari yang telah kita lalui. Aku ingin kita seperti dulu lagi, Kalea," ucap Zoni yang lagi-lagi menghujam relung kalbu Kalea.
Mengapa sesusah itu memutuskan hubungan dengan Zoni? Di saat seperti itu, Kalea juga teringat pada cinta Javas yang begitu besar padanya. Laki-laki itu tidak pernah memandang Kalea dari segi fisik maupun harta.
Dengan Javas, Kalea merasakan ketulusan sebuah cinta.
Namun, ketika di hadapkan pada dua pilihan, Kalea masih belum bisa memutuskan. Apalagi, sikap Zoni yang berubah membuat Kalea seperti Dejavu. Dulu, dulu sekali, dirinya dan Zoni sedekat itu.
Sedangkan Zoni, dia menganggap jika tangis Kalea saat ini adalah sebuah ungkapan rasa rindu karena sudah lama sekali mereka tidak pernah duduk bersama.
"Mulai hari ini, aku akan mengganti waktu kita yang telah terbuang sia-sia. Aku juga ingin, ada kehidupan disini sebagai pererat hubungan kita. Aku tidak ingin kita berpisah," ucap Zoni sambil mengelus perut rata Kalea.
Hal itu membuat Kalea berhenti menangis. Tubuhnya terasa kaku dan susah digerakkan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...terima kasih untuk setiap dukungan yang selalu kalian berikan ya🌹🌹🥰...