
Pernikahannya sudah di depan mata. Namun, ketika melihat Kalea di supermarket kemarin, cukup menganggu pikiran Zoni. Penampilan Kalea sudah sangat berubah dan lebih baik daripada saat bersamanya.
Berulangkali Zoni menghela napas kasar. Mencoba meyakinkan jika dalam lubuk hatinya tak lagi menyimpan nama mantan istrinya. Zoni tidak ingin merusak kepercayaan Sonia padanya.
Setelah melihat Kalea sedang bersama laki-laki yang menjadi selingkuhannya, seketika muncul pikiran buruk di kepala. Mengapa Kalea bisa bahagia setelah terlepas darinya? Sedangkan dirinya, membutuhkan waktu untuk bisa menerima pernikahan dengan Sonia.
Zoni ingin membenci. Namun, ketika melihat senyum bahagia yang tidak sekalipun ditunjukkan saat bersamanya, dia pun segera pergi dari tempatnya berdiri kemarin. Beruntung, urusannya memilih merek gula telah selesai. Sehingga, tidak menimbulkan kecurigaan di hati Sonia.
Kalea sudah bahagia dengan hidupnya. Adalah satu kata yang terlintas di kepala. "Akhirnya kamu menemukan kebahagiaan mu, Kalea," gumam Zoni berusaha mengulas senyum.
Walau dalam hati, ada sedikit nyeri yang menusuk-nusuknya. Ya. Mungkin hanya sedikit. Dia sadar jika dahulu, Kalea tidak pernah bahagia ketika hidup bersamanya. Apalagi, ibu dan adiknya memang suka mengganggunya.
"Baiklah. Aku akan mencoba jalani hidupku saat ini. Walau aku harus berada di bawah tekanan Om Broto, bagiku tidak masalah," gumamnya lagi lalu keluar dari dalam kamar.
Hari ini, dia akan pergi ke katering untuk memilih makanan apa saja yang akan ada di acara pernikahannya. Tentu saja bersama pak Broto dan Sonia. Dua orang itu yang memegang kendali untuk pernikahannya.
Kehadirannya hanya untuk pelengkap dimana pun berada. Karena walau ikut memilih makanan, saran dari Zoni selalu tidak didengar dan dipakai. Hanya dianggap sebagai angin berlalu. Seperti beberapa hari yang lalu ketika Sonia meminta saran tentang warna bunga di acara pernikahannya.
"Menurut kamu, warna apa yang cocok, Mas?" tanya Sonia tempo hari.
"Warna putih menurutku cocok," jawabnya yang langsung mendapat senyuman meringis dari Sonia.
"Warna itu terlalu polos. Ya sudah. Aku akan pilih warna merah muda saja."
Mengingat itu, Zoni tersenyum miris dan segera menjalankan mobilnya menuju rumah Sonia. Dia harus segera tiba sebelum Om Broto marah padanya hanya karena terlambat.
Sekarang, Zoni merasa dunia sedang membalas dendam padanya. Perlakuan yang dulu Kalea rasakan, kini sedang menimpanya. Mungkin, inilah yang disebut dengan menuai apa yang dia tanam.
__ADS_1
....................
Acara pertunangan Kalea dan Javas telah selesai dan berjalan lancar. Keluarga Javas sudah pulang terlebih dahulu sedangkan Javas, dia memilih tinggal sedikit lama untuk memastikan jika saat ini dia tidak sedang bermimpi.
"Kenapa sih melihatnya kok seperti itu, Mas?" tanya Kalea tak sambil menelisik penampilannya. Saat ini, keduanya tengah duduk di teras sambil menikmati udara pagi menjelang siang.
"Andai KUA buka di hari Sabtu. Mungkin, aku sudah bawa kamu kesana," jawab Javas yang membuat Kalea membuka matanya lebar.
"Mas! Sabar. Tidak lama menunggu hari Senin," protes Kalea.
Javas terkekeh sambil mengusap wajahnya kasar. "Kebaya itu sangat pas di tubuh kamu. Untuk hari senin, jangan lupa pakai kebaya yang tadi mama bawa untukmu ya? Aku tidak sabar untuk menunggu hari itu tiba."
Kalea tersenyum manis. Javas memang pandai membuat hatinya berbunga-bunga. "Pulang gih. Nanti Tante Belinda marah loh. Harusnya kan, kita dipingit hari ini," usir Kalea halus.
Wajah Javas berubah masam. Bibirnya sudah mengerucut kesal. "Kenapa mengusirku? Aku belum siap untuk tidak bertemu dua hari ke depan. Jadi, biarkan aku melihat mu sepuasnya hari ini," mohon Javas dengan wajah memelas.
"Aku belum ingin pulang. Lagi pula, aku juga sedang menunggu Lintang. Ada hal yang harus aku bicarakan," jawab Javas beralasan. Mendengar hal tersebut, Kalea menatap Javas dengan pandangan memicing.
Seketika Javas tertawa melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan Kalea. "Ayolah. Untuk apa kita dipingit. Tujuannya apa sih?" tanya Javas mencoba mencari obrolan lain. Berharap hal tersebut bisa membuat Kalea lupa untuk mengusirnya.
Kalea melihat ke arah Javas dengan tatapan dalamnya. "Banyak hal yang bisa kita dapat dari tradisi pingitan, Mas. Termasuk mencegah hal yang tidak-tidak, pingitan bisa mempererat ikatan batin kita karena dalam waktu tersebut, kita akan merasakan yang namanya rindu," jelas Kalea lembut dengan bibirnya yang tersenyum manis.
Javas menganggukkan kepala tanda paham. Tradisi orang zaman dahulu memang demi kebaikan. Javas pun membenarkan aturan tersebut. "Baiklah. Aku akan pulang dan menikmati rindu yang akan menghujam jantungku." Javas berucap dramatis.
"Jangan berlebihan. Nanti Mas tidak kuat. Memangnya, Mas mau berbicara hal apa dengan Lintang?" tanya Kalea mencari tahu. Bisa saja ini tentang masalah pekerjaan adiknya itu.
Dia cukup takut bila Lintang akan ditolak di perusahaan milik Javas. Namun, rasanya tidak mungkin karena Kalea mengetahui bakat Lintang seperti apa. Adiknya itu selalu masuk dalam kategori mahasiswa berprestasi. Hal itulah yang membuat pihak kampus memberikan beasiswa sebesar setengah dari biaya yang harus Lintang gelontorkan.
__ADS_1
Ibarat kata, Lintang mendapatkan beasiswa 50%. Jadi, hal itu bisa meringankan biaya yang harus Lintang keluarkan.
Baru saja namanya dibicarakan, sosok Lintang kini tampak memasuki halaman rumah dengan motornya. "Itu, Lintang sudah pulang," ucap Kalea dengan menunjuk menggunakan dagunya.
Dia baru saja mengantar makanan ke rumah Pak RW yang berada di ujung kompleks. "Aku masuk dulu ya, Mas. Barangkali kalian ingin berbicara hal yang privasi," pamit Kalea. Javas mengangguk saja. Tidak ingin mencegah karena ini menyangkut pekerjaan kantor.
Setelah meninggalkan Javas dan Lintang di teras, Kalea memilih ke dapur untuk membantu sang Ibu yang masih sibuk merapikan dapur. "Aku harus bantu apa, Bu?" tanya Kalea.
Bu Yuni menoleh kaget. Suara Kalea sangat tiba-tiba dan tanpa aba-aba. "Kamu memang pandai membuat ibu terkejut," gerutu beliau yang ditanggapi gelak tawa dari Kalea.
"Maaf, Bu. Hari ini aku terlalu bersemangat," jawab Kalea dramatis sambil menepuk-nepuk dadanya pelan.
Bu Yuni tersenyum sendu. Kalea sudah menemukan kebahagiaannya. Buktinya, sang Putri yang sudah dirawat sejak kecil itu, tak lagi menampakkan raut murung seperti dulu, ketika masih menjadi istri dari Zoni.
Yang ada, putrinya itu memiliki aura yang semakin memancar hingga membuatnya terlihat cantik dan lebih muda. Tidak ada puluhan jerawat lagi di wajahnya. Bahkan, bekasnya pun hilang.
"Apakah kamu merasa bahagia?" tanya Bu Yuni tersenyum manis menatap putrinya.
Tentu saja Kalea mengangguk membenarkan. Dia sangat bahagia dengan kehidupannya yang sekarang. Kesusahan yang pernah dialami, kini berbuah manis.
"Aku sangat bahagia, Bu. Javas yang telah menciptakan kebahagiaan ini."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...mampir juga kesini yuk 👇...
__ADS_1