
Pesawat yang ditumpangi Kalea mendarat dengan selamat. Awalnya, Kalea merasa takut karena ini baru pertama kalinya dia pergi menggunakan pesawat.
Ada rasa berdebar-debar karena tubuhnya berada di ketinggian. Namun beruntung, ketakutan itu hilang saat Kalea berhasil sampai di negara dimana sahabatnya tinggal.
Walau belum berpengalaman, Kalea mempelajari semua lewat ponsel tentang perjalanan ke luar negeri, termasuk visa dan paspor. Hal itu tidak sesulit yang Kalea bayangkan. Jangan lupakan Lintang yang sudah menemani dan mengarahkan dengan baik.
Kaki Kalea melangkah keluar dari area bandara. Dari kejauhan, dia bisa melihat Kimi yang melambaikan tangan dengan papan nama besar yang dikalungkan di lehernya. Kalea terkekeh melihatnya.
"Sepertinya bukan hanya Kimi yang melakukan hal tersebut. Banyak orang yang melakukannya," gumam Kalea ketika melihat tidak sedikit yang memakai papan nama.
"Kalea!" pekik Kimi senang. Kalea langsung dibawa dalam pelukan.
"Aku sudah tidak sabar untuk mendengarkan semu ceritamu. Ternyata, selama ini kamu menyimpan banyak rahasia dan tidak menceritakan padaku," kesal Kimi merajuk.
Kalea melepas pelukan dan menatap sahabatnya itu. "Semua demi kebaikan kamu. Aku tidak ingin kamu terbebani dengan masalah ku. Ngomong-ngomong, kapan kita akan sampai ke apartemen? Aku sangat lelah dan telingaku rasanya tidak mendengar dengan baik," keluh Kalea sambil menjewer daun telinganya sendiri.
Raut wajah Kimi tampak bersalah. "Maaf. Ayo, kamu harus beristirahat terlebih dahulu karena mengalami gangguan setelah naik pesawat," ucapnya panik lalu segera mengambil alih koper yang Kalea bawa.
Karena sudah tak memiliki waktu untuk memprotes, Kalea menurut saja dan mengikuti langkah Kimi menuju taksi yang sudah dipesan.
"Maaf ya, Kim. Sudah membuatmu bangun malam hanya untuk menjemput ku," ucap Kalea tak enak.
Kimi yang sudah duduk di kursi taksi, menatap Kalea dengan bibir yang mencebik. "Kenapa kamu selalu merasa tidak enak hati sih? Padahal, kodratnya manusia memang direpotkan dan merepotkan. Kita memang ditakdirkan untuk saling bantu-membantu. Lagi pula, ini baru jam sebelas waktu Singapura. Belum terlalu malam kok," ucapnya panjang lebar. Tidak ada rasa keberatan sedikitpun.
"Thank you, Kimi." Lalu Kalea memeluk tubuh sang Sahabat.
...----------------...
Kalea terbangun dari tidurnya tepat saat matahari hampir menunjukkan wajahnya. Beruntung, dia tidak mengalami jet lag dan bisa tidur di sisa waktu sebelum menjelang pagi.
Ya. Banyak waktu yang Kalea habiskan bersama Kimi untuk bercerita tentang masalah yang Kalea hadapi. Mulai dari sikap Zoni yang kasar sampai perselingkuhannya dengan Javas. Tidak ada yang ditutup-tutupi.
__ADS_1
Kalea juga bercerita jika orang tuanya dan Zoni sudah mengetahui perselingkuhan yang dilakukannya. Oleh sebab itu, Kalea ada di Singapura untuk membuktikan pada dunia jika Kalea bisa.
Kimi tentu mendukung semua yang dilakukan Kalea. Hanya saja, dia sangat menyayangkan mengapa harus lewat jalur selingkuh. Mengapa Kalea tidak mengakhiri hubungannya dengan Zoni terlebih dahulu lalu pergi bersama Javas.
Namun, Kalea menjawabnya dengan jujur. "Aku tidak berani untuk sekedar meminta cerai. Tetapi, itu dulu sekali. Belum lagi, rumah yang saat ini ditempati mas Zoni, ada hakku juga."
Lamunan Kalea tersentak saat pintu kamar mandi terbuka dan Kimi muncul dari sana. "Kamu sudah bangun? Kalau masih lelah, tidur lagi tidak apa-apa," pinta Kimi sambil berjalan menuju lemari penyimpanan pakaian.
"Aku sudah tidak mengantuk lagi. Bukankah hari ini kamu akan menemaniku ke tempat kursus? Bagaimana jika aku terlambat?" jawab Kalea.
Kimi terkekeh. "Benar juga. Kalau begitu, bersiaplah. Kita akan pergi sarapan terlebih dahulu," pinta Kimi lagi membenarkan.
Tidak ingin membuat Kimi menunggu lama, Kalea bergegas masuk ke kamar mandi. Tidak berapa lama, Kalea kembali dan memakai baju miliknya.
Saat akan memakai krim wajah, ponsel Kalea yang sedang di berikan pengisian, berdering panjang. Kalea segera mencabutnya dan melihat nama Javas tertera sebagai penelepon.
"Ya Tuhan!" pekik Kalea gaduh.
"Aku lupa mengabari Javas semalam. Dia pasti akan sangat khawatir." Setelah berucap demikian, Kalea segera menerima panggilan tersebut. Suara omelan Javas terdengar seketika.
Untuk pertama kalinya, Kalea mendengar suara Javas yang sedang memarahi dirinya. Bukannya takut, Kalea justru tersenyum sendiri sampai membuat Kimi menyengir heran melihat tingkah dirinya.
"Kenapa tidak memberitahuku? Kenapa tidak menelepon jika sudah sampai? Aku khawatir, Kalea," omel Javas diseberang sana.
"Maaf. Semalam, baterai ponselku habis. Maaf karena sudah membuat Mas khawatir. Jangan marah lagi ya," jawab Kalea memelas.
Terdengar helaan napas berat dari seberang sana. Kalea menatap ponselnya yang kembali berdering. Javas telah mengubah panggilan suara menjadi panggilan telepon.
Setelah menerima panggilan, Wajah Javas yang kuyu memenuhi layar ponsel. Kalea tentu terkejut melihat wajah Javas yang kurang tidur lagi. "Mas? Mengapa wajahmu lelah sekali? Apa semalaman kamu tidak tidur?" tanya Kalea khawatir.
"Kamu yang membuat aku tidak bisa tidur. Lain kali jangan lakukan lagi dengan tidak mengabari ku saat berpergian. Hal itu membuatku khawatir," gumam Javas yang membuat Kalea seketika merasa bersalah.
__ADS_1
"Maaf ya, Mas." Kalea tidak lelah untuk meminta maaf pada Javas.
"Lupakan. Hari ini, kamu jadi ke tempat kursus kan? Ingat. Matanya tolong dijaga dan jangan jelalatan," peringat Javas yang membuat Kalea mengulum senyum. Sedangkan Kimi yang mendengar, ingin sekali tertawa melihat sahabatnya menjadi Budak Cinta alias BuCin.
Waktu satu jam untuk saling bertukar sapa via virtual tidak akan pernah cukup untuk menggantikan kebersamaan mereka yang harus dikorbankan. Namun, Kalea terpaksa mengakhiri panggilan. Dia harus datang tepat waktu ke tempat kursus Kalea.
Setelah mengabari Lintang jika dirinya sampai dengan selamat, Kalea berangkat menggunakan MRT di negara tersebut. Ini juga pengalaman pertama Kalea menggunakan transportasi kereta.
"Aku tidak menyangka. Ternyata lepas dari orang yang salah bisa sebahagia ini," ucap Kalea sambil menatap ke samping dimana bangunan kota terlihat dari dalam kereta.
Kimi tersenyum menanggapi. "Kamu saja yang bodoh. Sudah tahu sifatnya seperti itu masih saja dipertahankan. Masalah hak dari rumah itu, kamu tinggal sewa pengacara untuk mengurusnya. Syukur-syukur, kamu sumbangan saja ke mantan suami kamu. Hitung-hitung sedekah," ucap Kimi santai dan tanpa beban.
Kalea berdecak sebal. Kimi memang tidak salah. Namun, mengikhlaskan uang yang sudah dikumpulkan bertahun-tahun, tidak semudah itu.
"Apa tidak ada saran lain? Pasalnya, uang itu bisa aku gunakan untuk modal usaha nanti, Kim. Bagaimana pun, sifat perhitungan ku akan muncul ketika dipertemukan dengan orang pelit. Beruntung, aku bekerja bersama Javas dan masih ada gaji yang tersisa."
"Terserah kamu sih. Itu hakmu dan jumlahnya memang banyak. Lagipula, ketika Zoni menikah lagi, sudah pasti itu rumah akan dihuni bersama istri barunya. Enak saja tuh istri baru." Kini Kimi tampak kesal ketika harus membahas kemungkinan yang bisa terjadi.
Kalea hanya tertawa menanggapi. Dia tidak ingin memusingkan uang tersebut terlebih dahulu. Ada yang harus Kalea perjuangan, yaitu harga diri dan kualitas hidup.
Nanti, setelah semua keinginan Kalea tercapai dan menjadi orang sukses, jangankan ucapan, kentut Kalea pun akan didengar dengan baik. Begitulah fakta dunia tentang kebanyakan manusia.
Biarlah hari ini Kalea bersusah payah merajut asa. Mengabaikan umurnya yang sudah tak lagi muda. Bukankah setiap manusia masih memiliki kesempatan selama raga masih bernyawa?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa dukungannya ya 😘...
...mampir juga kesini yuk 👇👇...
__ADS_1