
Satu tahun berlalu. Ini adalah hari yang begitu mendebarkan bagi Kalea. Bahkan, menunggu hasil ujian kursusnya tidak se-berdebar ini.
Untuk pertama kalinya, setelah satu tahun berlalu, kakinya kembali menginjak tanah air. Setelah urusan surat-menyurat selesai, Kalea keluar dari bandara menuju area parkir dimana banyak taksi yang singgah.
Ya. Kalea sengaja tidak memberitahukan Javas soal kepulangannya ke Indonesia. Dia akan mampir ke rumah terlebih dahulu. Karena bagaimanapun, Bu Yuni dan Pak Tono tetap orang tuanya.
Ketika sudah masuk dan mengatakan alamat yang akan dituju, mobil taksi tersebut melaju membelah jalanan ibu kota di siang hari. Sengaja Kalea memilih penerbangan pagi agar sampai saat siang hari. Karena sore harinya, akan Kalea gunakan untuk bertemu Javas.
Belum banyak perubahan dari kotanya itu. Karena dirinya pergi hanya satu tahun lamanya. Jalan aspal yang Kalea lewati masih tampak basah. Mungkin, hujan baru saja mengguyur bumi.
Kalea begitu merindukan suasana di ibu kota yang sangat ramai dan seakan tidak pernah tidur. Terlalu larut dengan lamunan, tidak terasa mobil yang ditumpanginya telah sampai di depan gang menuju rumah orangtuanya.
Setelah sopir taksi menurunkan koper miliknya, Kalea membayar tagihan dan membiarkan taksi itu berlalu terlebih dahulu. Lalu, dia berbalik menatap gang setapak yang dulu menjadi saksi bisu perjuangan Kalea kecil.
Kalea menghembuskan napas kasar. Mencoba menghilangkan ingatan tentang perlakuan buruk orang tua. Bagaimana pun, ayah dan ibunya sudah merawat dan membesarkannya.
Sambil menyeret koper, kakinya melangkah pelan menapaki gang setapak di depannya. Rasanya, Kalea tidak ingin cepat sampai di rumah yang saat ini akan dituju. Namun, rasa rindu pada orang tuanya sudah tak terbendung lagi.
Kalea sangat menyayangi keduanya.
Kakinya berhenti di depan pagar besi yang sudah berkarat. Tidak perlu mengetuk pintu, Kalea memaksa kakinya untuk semakin masuk ke area rumah.
Rasanya, waktu berjalan sangat lambat sampai Kalea merasa tak kunjung sampai pda pintu kayu berwarna coklat di depannya.
Saat ingin mengetuk pintu, tiba-tiba pintu dibuka dari dalam hingga membuat Kalea terkejut bukan main.
Ceklek.
Kalea dan orang yang membuka pintu pun mematung di tempat. Sama-sama terkejut dengan kejutan yang sedang berlangsung.
"K-Kalea?" ucap suara pria paruh baya di depannya yang tidak lain adalah sang Ayah.
Kalea mengangguk dan tersenyum kaku. "Apa kabar, Ayah?" tanya Kalea untuk pertama kalinya. Mencoba menghilangkan canggung dan masalah yang terjadi di antara dirinya dan orang tua.
Mata pak Tono tampak berkaca-kaca. Dalam benaknya berkata, apakah putrinya itu tidak memiliki dendam padanya?
__ADS_1
"Ayah sehat. Bagaimana kabarmu, Nak?" Kini giliran Pak Tono yang bertanya.
Belum sempat Kalea menjawab, suara dari dalam membuat tubuh Kalea menegang. "Ada siapa, Pak?"
Suara itu, sudah tidak asing lagi di telinga. Seseorang yang telah melukai jiwa dan raganya tanpa perasaan. Kalea hanya berharap, semoga kali ini semua sudah berubah.
"Pak! Ada siap—" Ucapan Bu Yuni terpotong ketika menyadari siapa yang datang. Putrinya, yang sudah satu tahun ini berada di luar negeri pulang.
Kalea hanya berharap, semoga tidak ada drama pengusiran seperti waktu yang telah berlalu. "I-ibu?" ucap Kalea mengulas senyumnya.
"K-Kalea?" lirih Bu Yuni dengan mata yang berkaca-kaca.
"Boleh ibu peluk kamu?" tanyanya lirih.
Tentu saja Kalea mengangguk dan berhambur ke pelukan sang Ibu. Pelukan yang sudah lama Kalea rindukan akhirnya terjadi lagi.
"Bu, maafkan Kalea yang sudah menjadi anak yang tidak berguna," ucap Kalea setelah pelukan terlepas.
Bu Yuni menggeleng kencang. "Bukan kamu yang tidak berguna. Tetapi, kami yang tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Tidak bisa menyayangimu dengan semestinya," jawab Bu Yuni yang pipinya sudah basah karena air mata.
Kalea menghela napas. Masih terasa sesak ketika kejadian masa lalu diungkit kembali. "Bagaimana keadaanmu? Sehat?" tanya Bu Yuni tersenyum sendu.
Sebelum Kalea menjawab, Bu Yuni sudah bersuara lagi. "Masuk dulu, Lea. Kita bicara di dalam," pintanya dan Kalea membenarkan.
...----------------...
Sore harinya, Kalea sudah tiba di depan unit apartemen Javas. Dia hanya berharap semoga saja Javas sudah pulang dari kantor. Bukannya langsung masuk, Kalea justru berdiri di depan pintu.
Pikirannya begitu penuh akan ucapan Ayah dan Ibunya beberapa jam yang lalu. Kalea tidak terlalu menyimak karena ada satu kalimat yang sudah meruntuhkan dunia Kalea.
"Sebenarnya, kamu bukanlah anak kandung kami," ucap Pak Tono bagai petir yang menyambar tubuh Kalea.
Yang Kalea dengar, dia hanya anak dari kakak sang Ayah yang sengaja dirawat karena pesan ayah kandung Kalea yang meninggal karena kecelakaan.
Mereka mengatakan sangat membenci ayah dan ibu kandung Kalea karena pak Tono dan Bu Yuni merasa dibeda-bedakan oleh orang tuanya.
__ADS_1
Hal itulah yang mendorong mereka untuk membalas dendam pada sang Anak yang tidak lain adalah Kalea. Ada kecewa yang hadir ketika mengetahui fakta yang sebenarnya.
Lalu, dimana tempat persemayaman terakhir orang tua kandung Kalea?
Lamunan Kalea tersentak kala mendengar pintu kokoh di depannya terbuka. Kalea mengerjapkan mata ketika yang keluar dari unit milik Javas adalah seorang wanita paruh baya.
Kalea mengangguk hormat dan mengulas senyum tipis sebagai sapaan. Bukannya segera berlalu, wanita tersebut justru menelisik penampilan Kalea dari ujung kaki hingga rambut. Kalea sampai risih karena ditatap seperti itu.
"Kamu siapa?" tanyanya dengan dahi mengkerut.
"Saya—"
"Siapa, Ma?" seru suara yang memotong ucapan Kalea. Kemudian, pemilik suara itu muncul di belakang seseorang yang dipanggil 'mama'.
Keadaan seketika hening. Kalea dan seseorang yang baru saja muncul saling melempar pandang. Hingga seseorang tersebut kembali. berseru hingga membuat Kalea sampai menutup telinganya.
"Bang Javas! Pacarnya datang nih!" pekik seseorang orang tersebut yang tidak lain adalah Kesha. Bu Belinda yang mendengar itu, menatap tidak percaya pada sosok perempuan di hadapannya.
"Oh, jadi ini yang namanya Kalea," ucapnya terkesan mengintimidasi.
Kalea menelan saliva susah payah. Bisa dia duga jika dua wanita di hadapannya adalah ibu dan adik dari Javas.
Tidak berapa lama, Javas muncul dengan raut wajah kesal. Namun, ekspresi itu tidak bertahan lama ketika melihat siapa yang datang.
"Kalea!" seru Javas penuh binar di matanya. Senyumnya terkembang sempurna berharap jika kali ini bukanlah halusinasi.
"Ini benar kamu kan? Aku tidak sedang berhalusinasi?" tanya Javas sambil menyentuh tangan Kalea untuk membuktikan jika perempuan yang dicintainya itu nyata.
"Ini aku, Mas. Aku pulang," jawab Kalea sambil mengulas senyum.
Bagai dunia milik berdua, Javas langsung membawa tubuh Kalea dalam dekapan. Keduanya saling berpelukan, mengabaikan jika masih ada Bu Belinda dan Kesha yang saat ini melongo menatap keduanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...mampir juga kesini yuk 👇...
__ADS_1