
Zoni sudah berada di depan rumah orang tuanya. Setelah hampir satu tahun menggantung hubungannya dengan Sonia, hari ini dia sudah memutuskan. Setiap hari dia harus merasa kesepian karena tak lagi ada sosok istri dalam rumah.
Setelah menarik dan menghembuskan napasnya, Zoni turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah. Saat membuka pintu, dia bisa melihat sang Ibu yang sedang duduk di ruang tengah bersama ... Sonia.
Sebelum menyapa, Bu Rosi sudah menyadari kedatangannya. "Zoni? Sejak kapan berada di sana? Sini, duduk bersama kami," ucap beliau ramah.
Bisa dilihat, ada beberapa perhiasan yang tergelak di atas meja. Tanpa bertanya, Zoni sudah paham darimana asalnya. "Baru saja?" tanya Zoni pada Sonia yang saat ini sedang menatapnya.
"Belum lama sih. Aku mau menunjukkan ini pada Tante Rosi," jawab Sonia lalu menunjukkan cincin emas bermatakan berlian kecil di tengahnya.
"Kamu membelinya?" tanya Zoni tidak enak hati.
Senyum manis Sonia berikan pada Zoni. "Iya. Papa memintaku untuk membawakannya pada Tante Rosi. Katanya, spesial untuk calon besan," jawabnya menunduk malu.
Merasa namanya disebut, Bu Rosi tersenyum menanggapi. "Ini baru besan yang luar biasa. Papa Sonia begitu memperhatikan keluarga kita. Tidak seperti orang tua dari mantan istrimu dulu," sahut Bu Rosi menanggapi pembicaraan Sonia dan Zoni.
Zoni mengangguk saja. Ada banyak perdebatan di kepala. Namun, semua itu hanya berakhir dalam benak saja. Zoni malas bila sudah menyangkut harta benda.
"Bu? Aku sudah membuat keputusan," ucap Zoni langsung pada intinya. Dia tidak ingin berbelit-belit dalam mengatakan tujuannya datang ke rumah.
Tubuh Sonia mendadak beku. Dia takut bila Zoni menolak menikah dengannya. Sedangkan Bu Rosi, beliau berdehem untuk membasahi tenggorokan. "Katakan! Ibu harap, kamu menentukan pilihan yang tepat. Ingat! Selama satu tahun ini Sonia yang sudah menemani kamu." Bu Rosi berucap gugup.
"Aku bersedia menikah dengan Sonia, Bu," ucap Zoni pada akhirnya. Tatapan matanya tertuju pada Sonia yang sudah menundukkan kepala. Tetapi, setelah mendengar penuturan Zoni, dia mengangkat kepala tidak percaya.
"Mas? Kamu tidak sedang bercanda kan?" tanya Sonia penuh binar di matanya.
Zoni menggeleng. "Aku bersungguh-sungguh ingin menikah denganmu. Secepatnya aku dan keluargaku akan datang ke rumah. Apakah kamu sudah berubah pikiran?" tanya Zoni memastikan.
__ADS_1
Tentu saja Sonia menggeleng kuat. "Aku tidak pernah berubah pikiran. Rasa cintaku masih sama seperti dulu," jawabnya yang membuat Zoni tersenyum tipis.
Setelah ditinggal Kalea, banyak pelajaran hidup yang Zoni dapatkan. Dia menyesal sudah menyakiti perempuan yang sudah menjadi mantan istrinya itu. Seandainya waktu kembali mempertemukan dirinya dengan Kalea, Zoni tidak akan menyia-nyiakan waktu dan ingin meminta maaf.
Walau mungkin, maafnya tidak bisa mengembalikan semuanya seperti semula. Setidaknya, Zoni bisa memastikan jika saat ini Kalea baik-baik saja. Sikap kasarnya juga sedikit berubah. Sudah tak seburuk dulu saat bersama Kalea.
Bu Rosi tersenyum tipis menanggapi. Hal itu tertangkap oleh indera penglihatan Zoni. "Ibu kenapa terlihat tidak senang? Harusnya, Ibu adalah orang yang paling bahagia disini," tanya Zoni dengan alis bertaut heran.
"Kata siapa? Ibu justru sangat bahagia. Akhirnya kamu memberikan keputusan yang tepat. Selamat ya, Sayang. Sebentar lagi kamu akan resmi menjadi istri dari putra Tante," jawab beliau lalu memeluk Sonia yang duduk di sebelahnya.
"Kita harus segera membeli keperluan yang dibutuhkan untuk datang ke rumah Sonia. Ibu ingin semuanya sempurna," sambung Bu Rosi lagi yang langsung mendapat anggukan dari Zoni.
Sonia tak mampu lagi menyembunyikan rasa bahagianya. Dia sampai memeluk lengan Zoni, bersyukur karena penantiannya membuahkan hasil. Zoni bersedia menikahi dirinya.
Tentu saja mendapat sentuhan seperti itu membuat Zoni terkejut. Sudah hampir satu tahun dia tidak mendapatkan sentuhan fisik oleh manusia bernama perempuan. Untuk menghargai, Zoni balas menyentuh lengan Sonia dengan satu tangannya.
"Aku ingin pernikahan kita nanti diadakan di sebuah hotel mewah. Masalah biaya, kalian tidak perlu merasa khawatir. Papa akan mengatur semuanya," ucap Sonia tersenyum lebar.
...----------------...
Kalea tersenyum lega mengingat perkataan mamanya Javas tentang dirinya. Beliau sama sekali tidak keberatan seandainya Kalea menjadi menantunya. Hal itu juga yang membuat Kalea tidak berhenti tersenyum membayangkan.
"Aku pikir, Tante Belinda akan mempermasalahkan keadaan ku. Bagaimana pun, zaman sekarang banyak orang yang menikahkan anak karena memiliki kasta yang sama. Sedangkan kita, bagaikan langit dan bumi, sangat jauh berbeda," racau Kalea sambil tangannya bergerak memotong bawang. Dia akan memasak mi instan sebagai menu makan malam.
Javas terkekeh. "Keluargaku berbeda. Kasta tidak penting. Untuk apa kaya raya tetapi tidak menghargai Mama? Menjadi istriku juga harus menjadi anak dari mamaku. Dia harus menghormati mama layaknya anak kandung. Kamu bersedia bukan?" tanya Javas memastikan.
Kalea menghentikan gerakan tangannya. Tubuhnya berbalik untuk menatap Javas yang sedang duduk di meja bar. "Kalau bisa, aku ingin menjadi anak kandung Tante Belinda. Beliau sangat perhatian dan penyayang. Bahkan, kepadaku juga. Aku sudah terbiasa hidup bersama ibu yang ... jauh dari kata ibu sempurna. Memang, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Namun, ketika melihat Tante Belinda, aku melihat sosok kriteria ibu sempurna," jawabnya panjang lebar.
__ADS_1
"Aku akan sangat bersyukur jika seandainya benar-benar menjadi istrimu, Mas. Bukan hanya kamu yang aku dapatkan, tetapi aku juga mendapatkan keluarga yang sangat harmonis. Sesuatu yang sejak dulu aku inginkan," sambung Kalea dengan mata berkaca-kaca dan bibir yang senantiasa mengulas senyum.
Terkadang, cara terampuh mengatasi kesedihan adalah menunjukkan senyum terbaik. Walau Kalea sudah memaafkan perbuatan Bu Yuni dan Pak Tono, bukan berarti Kalea telah melupakan semua.
Tidak. Kalea tidak pernah akan lupa. Hanya saja, dia sedang berusaha berdamai dengan keadaan. Bukan untuk orang lain, tetapi untuk ketenangan batinnya sendiri.
"Maka menikahlah denganku. Maka kamu akan mendapatkan semuanya," ucap Javas jumawa sambil merenggangkan kedua tangan layaknya drama India. Kalea mendengkus kencang. Javas memang pandai mengalihkan rasa sedihnya.
"Sombong!" gerutu Kalea lalu mulai melanjutkan kegiatannya lagi. Daripada pipinya itu tertangkap sedang bersemu merah.
Gelak tawa renyah dari Javas pun terdengar. Senang bisa membuat Kalea tersenyum malu-malu seperti saat ini. "Berdamai lah dengan masa lalu mu. Memang tidak mudah. Tetapi aku akan bantu menyembuhkan. Akan aku tunjukkan jika keluarga harmonis itu ada. Mari, kita bangun keluarga tersebut. Kita akan menciptakan anak-anak yang lucu, menyayangi, mendidik, dan merawatnya dengan baik. Segeralah memintaku untuk melamar mu."
Kalea hampir saja tersedak ludahnya sendiri mendengar penuturan Javas baru saja. Matanya melotot ke arah Javas dan berkata. "Memangnya, membuat anak itu seperti membuat adonan roti?" tanyanya tidak habis pikir.
"Tetapi, prosesnya nikmat bukan?" tanya Javas yang membuat Kalea membelalakkan mata tak percaya.
"Kata siapa? Selama ini aku merasakan sakit," ungkap Kalea kembali mengingat masa lalu.
Javas berjalan mendekat. Merasa telah kelepasan berbicara. "Berarti kamu melakukannya dengan orang yang salah. Cobalah bersamaku," bisik Javas yang membuat seluruh bulu kuduk Kalea merinding.
"Mas!" peringat Kalea kesal.
Bukannya takut, Javas terbahak renyah dan menghindar ketika Kalea akan memukulnya. "Tidak kena," ledeknya yang membuat Kalea semakin kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa dukungannya ya 😘...
__ADS_1
...mampir juga kesini yuk 👇...