
Dua Minggu lagi, acara pernikahan Zoni dan Sonia akan diadakan. Pesta akan digelar meriah di sebuah hotel mewah. Semua itu atas usul dari papa Sonia. Tentunya juga, beliau yang membiayai dari acara pertunangan hingga resepsi pernikahan.
Waktu dua bulan mereka manfaatkan untuk mempersiapkan semuanya. Karena Sonia hanya anak tunggal dan tinggal sang Ayah saja sebagai orang tua, Pak Broto selaku ayah Sonia ingin yang terbaik untuk pernikahan sang Putri.
"Ini memang rancangan yang sangat indah," ucap Bu Rosi mengagumi rancangan gaun pernikahan milik desainer terkenal.
Anabella yang juga ikut dalam fitting baju, merasa takjub. Dia juga menginginkan rancangan gaun Bridesmaid yang tak kalah indah dari milik pengantin.
"Bu? Aku juga ingin gaun indah seperti itu. Bukankah aku juga akan menjadi Bridesmaid?" tanya Anabel antusias.
Sonia yang mendengar itu pun tersenyum lebar. "Tenang. Papa sudah mempersiapkan semuanya termasuk milik Bridesmaid dan para orang tua. Mbak? Tolong ambilkan milik Bridesmaid ya?" pinta Sonia sopan, pada pramuniaga yang berjaga.
"Baik. Akan segera saya ambilkan." Setelah sang Pramuniaga berlalu, tidak berapa dia kembali dengan membawa tiga gaun yang khusus akan dicoba Anabella.
"Bel, coba salah satunya ya. Aku pikir, bentuk tubuh kita hampir sama. Jadi, pakai ukuran ku saja," pinta Sonia dengan kelembutan. Anabella justru memutar bola matanya tidak sopan.
"Kenapa tidak mengukur ukuran tubuhku saja sih? Mengapa harus ambil ukuran sama dengan Kakak?" protesnya yang tidak lain sebagai bentuk ketidaksetujuan.
Zoni yang mendengar itu, mendekat untuk menangkan kaum hawa. "Sudah lah, Bel. Sudah untung kamu dipesankan gaun. Tidak perlu bayar dan tinggal pakai. Masih saja belum puas. Heran aku," gerutu Zoni yang seketika membuat Anabel terpaksa mencoba salah satu gaun tersebut.
Sonia sedikit merasa tidak enak hati karena telah menciptakan perselisihan antara kakak beradik di depannya. "Maaf ya, Mas. Gara-gara aku, kalian harus—"
"Ini semua bukan salah kamu. Memang Anabel saja yang terlalu cerewet dan tidak bersyukur," potong Zoni sebelum Sonia menyelesaikan kalimatnya.
Pengalaman mengajarkan Zoni untuk mengutamakan perasaan calon maupun istrinya. Kegagalan dalam rumah tangannya bersama Kalea meninggalkan banyak sekali pelajaran dalam kehidupannya.
Sambil menggerutu, Anabel masuk ke ruang ganti dengan kaki yang menghentakkan. Zoni sungguh malu melihat tingkah laku adiknya itu. Belum lagi, semua perlengkapan maupun persiapan pernikahan, Pak Broto lah yang membiayai.
__ADS_1
Harga dirinya sebagai seorang laki-laki merasa rendah dan tiada arti. Dulu, saat bersama Kalea, Zoni merasa menjadi laki-laki yang paling dihargai sedunia oleh keluarga dari Kalea.
Zoni menghela napas dsn segera menghilangkan pikiran tentang Kalea. Dia tidak ingin mengharapkan wanita itu lagi yang mungkin sudah hidup bahagia. Itu pantas untuk perempuan baik dan sempurna seperti Kalea.
Kini, Zoni seperti sedang menuai apa yang dahulu dia tanam. Merasa tidak dihargai dan direndahkan oleh keluarga calon istri.
"Bagaimana, Sonia? Gaunnya sudah jadi? Indah bukan? Itu Papa pesankan khusus dengan edisi terbatas, hanya ada satu di dunia," ucap suara dari arah pintu masuk yang tidak lain adalah milik pak Broto, ayah dari Sonia.
"Papa! Akhirnya Papa datang juga. Ini indah sekali, Pa. Papa memang yang terbaik," jawab Sonia dengan mata berbinar-binar.
Bu Rosi dan Zoni hanya bisa menjadi pendengar di tengah pembicaraan tersebut. Mereka tidak andil dalam pemesanan tersebut. "Kamu tahu berapa harga gaun untuk putriku?" tanya Pak Broto pada Zoni.
Jelas saja Zoni menggelengkan kepala polos. "Berapa memangnya, Om?" tanya Zoni basa-basi.
"Dua milyar. Harga yang sangat fantastis dan pantas dipakai oleh anakku yang seorang Tuan Putri," ucap pak Broto lalu terkekeh renyah, seakan ucapannya adalah sebuah candaan yang baik.
Zoni juga diperintahkan untuk mengurus perusahaan besar milik Pak Broto yang sudah dialihkan menjadi atas nama Sonia. Semua kekayaan yang dimiliki pak Broto akan dilimpahkan kepada Sonia dan keluarganya.
Dari sana, Zoni merasa mendapatkan keuntungan walau harga dirinya bagai diinjak-injak. Namun, itu setara dengan apa yang akan dia dapat. Zoni akan menjadi orang dengan kekayaan lebih dan lebih lagi dari milik keluarganya.
"Tentu saja sangat cocok untuk Sonia yang bagai putri bangsawan," puji Bu Rosi melebih-lebihkan. Tentunya ada maksud terselubung seperti beberapa bulan yang lalu, pak Broto membelikannya perhiasan mewah hanya karena memuji putri semata wayangnya, yaitu Sonia.
Dimana pun Bu Rosi melangkah, uang adalah pusat perhatiannya. Tidak berapa lama, Anabel keluar dari ruang ganti lengkap dengan wajah bersungut.
"Mas Zoni, aku kurang suka dengan model gaun ini. Rasanya kurang cocok dengan tubuhku," keluhnya yang mendapat perhatian dari semuanya.
Bu Rosi hanya bisa meringis malu. Putrinya itu tidak melihat-lihat kondisi terlebih dahulu sebelum mengomel. Sekarang, mau ditaruh dimana muka dirinya?
__ADS_1
"Maaf ya, Pak. Putriku itu hari ini sedang kedatangan tamu bulanannya. Jadi, perasaannya sedang kurang baik," belanya.
"Tidak masalah. Namun, menurut saya gaun itu sudah indah dan elegan. Cocok untuk kalangan kelas atas seperti kami. Wajar sih jika dipakai olehmu kurang bagus. Karena ya itu, bukan dari kalangan atas," jawab pak Broto dengan ucapan pedas.
Memang begitu sosoknya. Walau seorang pria, mulutnya lebih pedas dari milik ibu-ibu kompleks.
"Papa ish!" tegur Sonia tetapi diikuti menahan tawa, seperti sedang mengejek secara halus.
Anabel yang semula merasa berkuasa, nyalinya menciut seketika. Berbicara dengan orang-orang besar membuat reputasinya menurun.
Sebenarnya, bukan karena berbicara dengan orang-orang besar yang membuat reputasi turun. Melainkan karena adab yang ditunjukkan kurang baik. Sehingga, citra dirinya tidak baik.
"Maaf ya, Om. Adik saya memang suka begitu, kurang bersyukur." Zoni meminta maaf terlebih dahulu sebelum urusan semakin panjang. Dia juga tidak ingin membuat pak Broto dan adiknya sampai bersitegang. Dia merasa tidak enak ada posisi tengah-tengah seperti sekarang.
Bukannya marah, pak Broto justru tersenyum lebar. "Tidak masalah. Lain kali, kamu beri nasehat adikmu itu agar tidak sembarangan berbicara. Gaun yang putriku pilih adalah gaun terbaik khusus Bridesmaid. Tentu saja putriku ingin yang terbaik untuk pernikahannya."
Zoni dan Bu Rosi menghembuskan napas lega hampir bersamaan. Anabella memang harus diberi pelajaran agar tak lagi menghina pemberian keluarga Sonia. Bisa-bisa, Bu Rosi gagal kaya raya hanya karena ulah anak bodohnya.
Sedangkan Sonia, dia tersenyum maklum menanggapi. Perempuan itu memang sangat elegan dan anggun dalam tindak tanduknya. Namun, sikap tenangnya itu cenderung mampu menyakiti lawan bicara bila sedang berbicara.
Ibarat kata, halus tetapi nyelekit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa dukungannya ya 😘...
...mampir juga kesini yuk 👇👇...
__ADS_1