
Kalea keluar dari rumah milik keluarga Javas tepat pukul tujuh malam. Keluarga Javas sudah sepakat untuk datang pukul sembilan pagi ke rumah Pak Tono dan Bu Yuni.
"Semoga, acara besok berjalan lancar," ucap Javas penuh harap yang segera diaminkan oleh Kalea. Dia juga mengharapkan hal yang sama.
"Mas? Mampir dulu ke supermarket ya? Aku harus membeli bahan makanan untuk besok. Sepertinya, ide memasak sendiri tidaklah buruk. Lagi pula, Mas tidak perlu mengajak semua kerabat kan? Atau mau diajak semua?" tanya Kalea memastikan agar makanan yang akan dimasak cukup untuk semua orang.
"Tidak. Paling, hanya Om dan Tante dari Mama. Lagi pula, Mama hanya memiliki satu saudara. Hitung-hitung sebagai saksi," jawab Javas sambil matanya fokus menatap jalanan.
Kalea mengangguk paham. Dia mulai akan mengira-ngira seberapa banyak makanan yang harus dibuat. Dia juga sudah menelepon Lintang untuk pulang ke rumah besok.
"Oh iya. Aku lupa belum mengabari ibu jika akan menginap di sana," gumam Kalea menepuk jidatnya sendiri. Dia segera mengambil ponsel yang ditaruh dalam tas dan mencari nama ibunya di sana.
"Hallo, Bu. Ini Kalea. Malam ini aku akan tidur di rumah. Besok keluarga Mas Javas akan datang. Jangan kunci pintu dulu ya, Bu," ucap Kalea ketika panggilan suara telah terhubung.
Terdengar banyak sekali pertanyaan dari seberang sana. Tentu saja Bu Yuni penasaran dengan maksud kedatangan keluarga Javas untuk apa. Namun, Kalea justru tergelak dan mengatakan akan menceritakannya setelah berada di rumah.
Dia juga mengatakan akan mampir ke supermarket terlebih dahulu sambil bertanya bahan dapur apa yang sudah habis. Setelah telepon terputus, Kalea kembali menyimpan ponsel dalam tas.
Matanya menatap Javas yang sesekali mencuri pandang ke arahnya. "You have a great heart, Dear," puji Javas menggunakan bahasa asing.
"Itu semua tidak seperti yang Mas duga. Hatiku belum terlalu lapang. Tetapi, aku mencoba berdamai dan mengingat kebaikan mereka. Bukan keburukannya. Dengan begitu, aku akan lebih mudah kembali menyayangi mereka," jawab Kalea bijak.
Javas menoleh sebentar lalu tersenyum manis. Satu tangannya yang tidak digunakan untuk menyetir, menggenggam telapak tangan Kalea. "Aku tidak sabar menunggu hari Senin tiba," ucap Javas lembut.
"Kenapa memangnya?" tanya Kalea tak kalah lembut.
"Apa lagi jika bukan menantikan hari dimana kamu akan menjadi milikku yang sah secara negara dan agama. Aku akan diakui sebagai pemilik satu-satunya perempuan bernama Kalea Annasya. Seorang Jewelry Designer yang terkenal di seluruh negeri," jawab Javas melebih-lebihkan.
Padahal, Kalea belum ada apa-apanya dibandingkan pria yang sedang memujanya. Namun, Kalea mengaminkan ucapan Javas tentang dirinya yang terkenal di seluruh negeri. Berharap, doa itu akan menjadi kenyataan suatu hari nanti.
__ADS_1
"Amin. Semoga ucapan dari calon suami terdengar sampai langit dan sedang dalam antrian pengabulan," jawab Kalea diselingi sedikit candaan.
"Pasti. Sekarang ini, doa itu sedang mengantri di depan pintu. Oleh karena itu, bersabarlah dan tetap menunggu. Berdoa terus hingga pintu itu terbuka dan giliranmu. Aku percaya, kamu itu memiliki kemampuan menjadi orang sukses." Javas kembali berucap angan-angan di masa depan.
Kalea tentu saja tidak sanggup menahan senyum. Perkataan Javas laksana bahan bakar semangatnya. "Doakan ya, Mas."
"Tentu saja, Nyonya Kanagara," jawab Javas yang nyatanya berhasil membuat pipi Kalea bersemu. Nyonya Kanagara? Apakah setelah menikah, marga itu akan tersemat di belakang namanya? Sepertinya, itu hal yang pasti.
"Mas! Jangan goda aku dulu. Pipi rasanya panas," protes Kalea tersenyum malu-malu. Javas hanya tertawa karena kini, tangannya bergerak memutar setir memasuki area parkir supermarket.
Dia harus fokus terlebih dahulu karena sedang berada di tempat parkir umum dan banyak mobil yang berjajar. Setelah terparkir dengan rapi, barulah Javas kembali membuka suara.
"Panas? Butuh angin buatan tidak?" tawar Javas dengan alis yang naik dan turun. Kalea yang mengerti ada maksud terselubung, memilih keluar lebih dulu meninggalkan Javas yang berteriak memanggil namanya.
"Kalea! Tunggu aku, Sayang!" pekik Javas yang semakin membuat Kalea malu. Bukan karena merasa dipermalukan. Melainkan, ada beberapa orang yang mungkin mendengar karena suara Javas sangat menggelegar.
Dia tidak terbiasa untuk bermesraan di depan umum. "Mas ... Jangan kencang-kencang. Malu ih, dilihat orang," kesalnya dengan bibir yang manyun.
Merasa tidak tahan, Kalea langsung melayangkan pukulan di lengan Javas. "Mas! tegurnya tetapi dengan bibir yang bergetar menahan senyum.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk masuk dan memilih bahan makanan yang dibutuhkan. Cukup banyak yang Kalea beli karena dia berniat untuk membuat kudapan ala rumahan. Seperti kue khas ibunya misal.
"Aku butuh gula pasir deh, Mas. Aku ingin membuat kue besok," ucap Kalea sambil berjalan mencari-cari keberadaan gula pasir yang entah berada di rak berapa. Karena di supermarket tersebut, banyak sekali rak tinggi.
Bukannya mendengarkan ocehan Kalea, Javas justru terpesona pada perempuan yang berjalan di depannya. Mereka layaknya suami istri yang sedang berbelanja bulanan, dan Javas bahagia karena hal tersebut.
"Mas? Kamu tadi lihat tidak dimana letak gula pasir?" tanya Kalea lagi dengan mata yang fokus mengedar.
Tidak ada jawaban dari lalu di belakangnya yang mengharuskan Kalea untuk menghentikan langkah dan menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Kenapa berhenti?" tanya Javas tanpa beban.
Kalea mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menjawab. "Aku pikir, kamu tertinggal karena saat aku bertanya, kamu tidak menjawab."
"Hah? Memangnya kamu bertanya tentang apa?" Javas bertanya karena memang tidak mendengar ucapan Kalea.
Helaan napas terdengar dari Kalea. "Lupakan," ketusnya lalu kembali berjalan. Baginya, tidak ada lagi kata ulang. Javas hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Kalea yang sedang marah.
"Itu, gula pasir ada di sana, Sayang," tunjuk Javas pada rak yang kebetulan bisa Javas lihat dari tempatnya berdiri sekarang. Tentunya, Javas menggunakan cermin yang terletak di langit-langit gedung yang memang sangat jelas.
Kalea ikut mendongak lalu terkekeh sendiri. "Mengapa aku lupa untuk melakukan hal yang Mas lakukan ya?" gelak Kalea lalu berjalan menuju rak tersebut.
Namun, saat langkah Kalea hampir tiba, matanya menangkap keberadaan sosok yang sudah tidak asing lagi baginya. Dari sini, sekitar berjarak lima meter, Zoni sedang berdiri sambil memilih produk gula dengan merek yang beragam.
Namun, yang menjadi pusat perhatian Kalea saat ini adalah, ada seorang perempuan yang menemani laki-laki tersebut. Kalea segera tersadar ketika merasakan sentuhan lembut di pinggangnya.
Siapa lagi jika bukan tangan Javas yang memeluk pinggangnya posesif. "Jangan berpaling. Kamu sudah menjadi milikku," ucap Javas lembut tetapi terdengar mengintimidasi.
Kalea tergelak. Mana bisa dia berpaling dari pria setampan dan sekaya Javas. Apalagi, Javas memperlakukan dirinya dengan baik. Bagi Kalea, Javas adalah suatu anugerah yang luar biasa untuk kehidupannya.
"Aku tidak mungkin berpaling darimu, Mas. Aku hanya sedang terkejut saja. Selebihnya, aku tidak peduli," jawab Kalea lalu menepuk-nepuk pipi Javas lembut.
Pada saat itu juga, Zoni mengetahui keberadaan Kalea yang sedang berdiri tidak jauh darinya. Entah mengapa, ada rasa sesal sekaligus rindu ketika melihat sosok perempuan yang sudah dia sakiti di masa lalu.
"Kalea," gumamnya lirih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...mampir juga kesini yuk 👇👇...
__ADS_1