
"Benar jika kamu yang bernama Kalea?" tanya Bu Belinda menginterogasi. Dia datang di waktu yang tepat untuk mengunjungi sang Putra yang sudah dua hari ini sakit. Dengan begitu, hari ini dia bertemu dengan sosok perempuan yang telah membuat hati Javas luluh. Ternyata, sosok Kalea tidak seburuk yang ada dalam pandangannya.
"Ma!" protes Javas tidak suka dengan tingkah sang Mama. Saat ini, mereka sudah duduk di ruang tamu. Sedangkan Kesha, dia hanya diam dan bertindak sebagai penonton.
"Diam kamu!" Bu Belinda mengangkat tangan, tidak membiarkan Javas menyelanya.
Setelah menarik dan menghembuskan napas, Kalea mengangguk membenarkan. "Benar, Bu. Saya Kalea," jawabnya pada akhirnya.
Bu Belinda tersenyum. Wajahnya sudah tidak sesangar tadi. "Pantesan Javas tergila-gila padamu. Ternyata secantik ini," ucapnya lagi yang membuat Kalea mengangkat kepala tidak percaya.
Begitu juga Javas yang sama bingungnya. Dia pikir, mamanya itu akan tidak suka pada Kalea. Tetapi, lihatlah! Mamanya itu seakan memberi sambutan yang baik.
"Iya. Terima kasih karena sudah membuat Javas jatuh cinta. Dulu, Tante pikir jika Javas adalah seorang homo. Setelah melihat kamu, ternyata Javas adalah pria yang normal," ucap Bu Belinda tanpa beban.
Melupakan jika baru saja dirinya membuat jantung Kalea hampir lepas dari tempatnya.
Kalea tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Lalu, Bu Belinda memeluk Kalea penuh sayang. Merasa berterima kasih karena sudah membuktikan jika anaknya normal.
"Terima kasih ya, Sayang." Bu Belinda berucap sambil mengelus punggung Kalea.
Saat tatapan Kalea bertemu dengan mata Javas, ada bahagia bercampur rindu dari sorot matanya. Kalea akhirnya membalas pelukan Bu Belinda tak kalah erat.
Setelah pelukan terlepas, Bu Belinda menatap Kalea sambil menyentuh pipinya. "Tolong jaga anak Tante ya. Kamu adalah cinta keduanya setelah Tante," ucap Bu Belinda berpesan.
Tentu saja Kalea menganggukkan kepala. Tidak merasa keberatan dengan pesan dari seorang ibu. "Oh ya. Karena kalian sudah sama-sama dewasa, kapan kalian menikah?" Bu Belinda lagi-lagi membuat jantung Kalea mencelos.
Hampir saja Kalea terbatuk karena tersedak air liurnya sendiri. Belum sempat Kalea menjawab, Bu Belinda kembali bersuara. "Kalau bisa secepatnya ya. Tante sudah tidak sabar untuk memiliki cucu."
Kalea meringis dan menatap Javas yang berlaku masa bodoh. Seakan tidak mendengar pertanyaan sang Mama.
"Ma. Jangan agresif begitu lah. Calon kakak iparku tegang loh," goda Kesha sambil menarik turunkan alisnya.
Kalea semakin meringis malu. Mengapa takdir seakan mempertemukannya dengan keluarga Javas di waktu yang kurang tepat. Dia belum siap.
Melihat Kalea tak berkutik, Javas merasa tidak tega. Dia beranjak dan duduk di samping perempuan yang dicintainya. Lalu, Javas memeluk pinggang Kalea dan menumpukan dagu di bahunya.
"Mama lebih baik pulang terlebih dahulu. Besok aku akan bawa Kalea ke rumah. Jangan lupa masak yang banyak ya, Ma," ucap Javas tanpa dosa, mengabaikan Kalea yang bergerak tak nyaman karena harus bermesraan di depan ibunya Javas.
__ADS_1
Bu Belinda mendengkus kencang. Walau demikian, beliau setuju saja dengan keinginan sang Putra.
"Baiklah, Kalea. Pokoknya, Tante tidak mau tahu ya. Besok, kamu harus ke rumah Tante tanpa alasan apapun. Harus datang, titik!" ucap Bu Belinda tak terbantahkan.
Bukannya mengangguk, Kalea justru meneteskan air mata. Merasa terharu masih ada sosok ibu yang peduli padanya.
"Loh, kenapa menangis? Apa ucapan Tante menyakitimu?" Bu Belinda seketika merasa bersalah.
Kalea menggeleng. "Tidak ada, Tante. Aku hanya merasa senang karena Tante mau menerima aku. Padahal, aku hanya seorang janda," jawab Kalea merendahkan.
"Sst. Jangan katakan itu. Dulu, Tante memang sempat ragu. Sekarang, Tante yakin jika Javas tidak akan salah pilih. Tante tunggu kedatangan kamu besok ya." Setelah berucap demikian, Bu Belinda dan Kesha pamit.
Mereka harus pulang karena ada acara kondangan yang harus dihadiri. Mereka juga harus pergi ke salon terlebih dahulu. Hal itu pasti membutuhkan waktu yang cukup lama.
Tinggallah Kalea dan Javas yang berada di ruangan tersebut. Javas menatap Kalea dengan wajah tertekuk. "Kenapa pulang tidak mengabari aku?" tanyanya merajuk.
Kalea tergelak renyah. Merasa lega karena hanya ada dirinya dan Javas saja. "Niat hati ingin membuat Mas terkejut, justru aku yang diberi kejutan," jawabnya sambil menggelengkan kepala.
Javas memicing. "Itulah sebabnya. Sekarang, kamu kena batunya karena pulang setelah sekian lama dan tidak memberitahukan aku." Kini, dia merasa di atas awan.
"Iya, Maaf. Jadi, apakah sekarang aku boleh memelukmu, Mas?" tanya Kalea dengan alis naik turun.
"Aku sangat merindukanmu, Mas." Kalea bergumam tetapi masih bisa didengar dengan baik.
"Aku lebih rindu. Dengan siapa kamu pulang?" tanya Javas merenggangkan jarak agar bisa menatap sang Pujaan Hati.
"Sendiri dong."
Mendengar hal tersebut, Javas menelisik penampilan Kalea. "Dengan pakaian seperti ini?" tanyanya tidak percaya. Kalea pun mengangguk membenarkan. Tidak ada yang salah dari penampilannya bukan?
"Kenapa memangnya?" tanya Kalea heran.
"Kalea ... Kenapa memakai dress ini sih? Aku tidak suka kamu terlihat semakin cantik tetapi bukan untukku. Harusnya, kamu pakai baju sederhana saja."
Kalea terperangah tidak percaya. Mulutnya terbuka lalu tertutup lagi, merasa heran. "Bukankah aku harus berpenampilan dengan baik? Hal ini akan menunjang ku ketika melamar pekerjaan," tanya Kalea.
Javas menghela napas lelah. Jika boleh, dia tidak ingin mengizinkan Kalea bekerja. Bisa-bisa, akan semakin banyak saingan yang lebih tampan darinya. "Kalau langsung menikah saja bagaimana? Kamu tidak perlu bekerja. Atau, aku akan kasih kamu modal untuk membuka toko perhiasan disini," pinta Javas yang membuat Kalea seketika paham.
__ADS_1
"Kok posesif sih? Mas tidak percaya padaku?" tanya Kalea sengaja merubah raut wajahnya sesedih mungkin.
"Bukan begitu. Ah, Entahlah." Javas langsung berdiri dari duduknya dan meninggalkan Kalea sendirian di ruang tamu. Kalea mencoba merenungi keinginan Javas barusan.
Kalea paham mengapa Javas seperti itu. Laki-laki itu tidak ingin dirinya terlalu banyak berinteraksi dengan seorang pria. Lagipula, Kalea belum mengirimkan surat lamaran kerja.
Dia saja baru pulang. Huh. Kalea menghembuskan napasnya kasar dan memilih menyusul Javas ke kamar. Tanpa mengetuk pintu, Kalea langsung membuka benda persegi panjang di depannya.
Pemandangan yang pertama Kalea lihat adalah Javas yang sedang meminum obat. "Mas, kamu sakit?" ucap Kalea panik. Dia langsung mendekat dan menatap wajah Javas lekat.
Sedangkan yang ditatap, justru membuang muka dengan bibirnya yang mengerucut. "Mas? Kamu sakit apa? Kenapa tidak mengatakannya padaku?" tanya Kalea masih bertahan dengan posisi berdiri di depan Javas yang duduk di sisi ranjang.
"Kamu saja susah dihubungi dua hari ini," jawab Javas ketus dan dingin.
Lagi-lagi Kalea menghela napas. Ini bukan pertama kalinya Javas merajuk bagai anak kecil yang tidak dibelikan mainan. Semenjak menjalani hubungan jarak jauh, sikap Javas berubah posesif. Namun, Kalea sadar jika semua itu karena rasa cintanya yang besar.
Setelahnya melirik jenis obat di nakas, Kalea mengetahui sesuatu jika Javas mungkin demam atau pusing. Spontan, Kalea menaruh punggung tangan di dahi Javas untuk mengecek suhu badannya.
"Masih hangat. Kamu demam, Mas? Mau aku bantu menyembuhkan tidak?" tawar Kalea tersenyum manis.
Sialnya, Javas terpesona dan mengangguk begitu saja. Kalea mengulum senyum dan duduk di sebelah Javas. Tangan Kalea bergerak menyentuh pelipis Javas. "Pusing tidak?" tanyanya lembut.
Javas justru menatap Kalea kesal. "Ini namanya bukan obat. Tapi pijat. Aku butuh obat yang mujarab," ketusnya yang membuat Kalea terbahak renyah.
Dia paham kemana arah pembicaraan Javas. "Baiklah. Seakan, tutup matamu dulu, Mas," pinta Kalea dan Javas menurut.
Perlahan, Kalea mendekatkan wajah. Menatap dengan intens pria tampan di hadapannya. Kalea baru sadar jika wajah Javas tampak pucat dari biasanya.
Tidak ingin berlama-lama, Kalea segera menyentuh dua sisi wajah Javas. Perlahan tapi pasti, Kalea mulai mengecupi seluruh wajah Javas di mulai dari dahi, pipi, hidung, dagu, dan berakhir di bibir.
"Jangan marah lagi. Aku akan coba pikirkan penawaran Mas soal toko perhiasan," ucap Kalea yang menerbitkan senyum di bibir Javas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa like, komen, vote, dan kasih hadiahnya ya 🔥...
...mampir juga kesini yuk 👇👇...
__ADS_1