
Berada dalam satu ruangan yang sama dengan calon ayah mertua dan Sonia, membuat Zoni merasa bosan. Dia diajak untuk datang tetapi tidak diajak untuk berdiskusi. Rasanya, sia-sia saja kehadirannya di sana.
Di saat seperti itu, pikiran Zoni justru melayang pada kejadian kemarin saa di supermarket. Kalea terlihat berbeda dan lebih cantik. Wajah itulah yang kini sedang mengganggu pikirannya.
Seperti senyum yang manis dan sikap manja perempuan yang pernah menjadi istrinya itu, membuat Zoni teringat masa lalu. Masa dimana dulu kisah cintanya bersama Kalea dimulai.
Namun, semua hanya tinggal kenangan. Melihat anak dan ayah di hadapannya yang sedang sibuk berbicara pada orang-orang hotel, Zoni meminta izin untuk ke toilet. Padahal, tujuan sebenarnya adalah sebuah taman kecil di samping gedung.
Setelah selesai mengurus katering, pak Broto dan Sonia mengajaknya ke hotel dimana acara pernikahan akan diselenggarakan. Tentu saja untuk melihat lokasi dan menyusun rancangan yang diinginkan Tuan Putri Sonia.
Dia memilih duduk di bangku panjang sambil menikmati udara malam yang terasa dingin menembus kulit. Mungkin, karena di taman tersebut banyak sekali tumbuhan yang ditanam, membuat rasa dingin itu seakan menusuk.
Isi kepala Zoni bukannya tenang justru semakin menjadi-jadi. Wajah Kalea seperti terlihat dimana-mana. Ini tidak bisa dibiarkan. Zoni tidak bermaksud mengharap Kalea kembali. Dia hanya rindu dengan sosok yang dulu selalu sabar menghadapinya.
Pada akhirnya, Zoni berinisiatif untuk menghubungi Kalea dengan mengirim pesan misalnya. Hanya ingin tahu kabar terkini tentang perempuan yang dulu pernah menghuni hatinya.
'Kalea apa kabar?'
Kalimat itu Zoni kirimkan pada nomor Kalea dulu, yang entah mengapa Zoni masih menyimpannya. Ternyata, hal itu berguna untuknya di masa sekarang.
Beruntungnya lagi, nomor itu masih aktif dan tertanda centang dua. Lima menit menunggu, pesannya dibaca oleh pemilik nomor tersebut. Zoni hanya berharap jika nomor tersebut masih milik Kalea.
"Kenapa hanya dibaca? Apakah Kalea tidak berniat untuk membalasnya?" gumam Zoni kesal sendiri.
Dia memutuskan untuk kembali mengirimkan pesan. Namun sayang seribu sayang, nomornya diblokir saat itu juga. Zoni menghela napas kasar dan menyimpan ponselnya kembali.
__ADS_1
"Apa sih yang aku harapkan? Bukankah saat ini aku sudah memiliki Sonia? Aku harus setia kepada satu wanita agar tidak menyakiti Kalea-Kalea lainnya," gumam Zoni seperti orang gila karena berbicara dengan diri sendiri.
Walau perpisahan terjadi bukan karena Zoni yang tidak setia, setidaknya hanya itu yang Zoni punya.
Dia lupa jika setia saja tidak cukup. Butuh perhatian dan pengertian di dalamnya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan berujung menyakiti satu sama lain.
...............
Kata-kata 'main' yang tadi sempat dipermainkan oleh Kalea dan Javas, nyatanya tidak sesuai kenyataan. Main yang Kalea maksud adalah keluar dari kamar hotel demi menikmati udara malam hari di sekitaran gedung tinggi tersebut.
Awalnya Javas menolak karena mereka tidak membawa baju hangat. Namun, bisa sudah berkeinginan Kalea selalu menemukan jalan keluar. "Telepon Reza lah, Mas. Bukankah itu jalan pintas? Lagi pula, bukankah Reza juga menginap disini?" tanya Kalea dengan alis yang naik turun.
Dia paham dengan jalan pikiran Javas ingin mengelabuhi dirinya. Kini, keadaan seperti sedang berbalik arah. Javas tampak nelangsa dengan keputusan Kalea.
Javas menurut. Walau terpaksa, dia tetap menelepon Reza dan mengatakan keinginannya yaitu membawakan pakaian hangat. Tidak membutuhkan waktu lama, pintu kamarnya berdenting.
"Ya Tuhan! Semoga Engkau turunkan hujan malam ini," pekik Javas berdoa seraya menengadahkan tangan.
Kalea tergelak tak terkecuali Reza yang mendengar doa atasannya yang tidak masuk akal. Karena kebetulan, pintu telah terbuka dan Kalea sedang memindai pakaian hangat yang Reza bawa.
"Dapat darimana, Za? Pintar juga kamu," puji Kalea yang membuat Javas mencebikkan bibirnya kesal. Tidak rela jika istrinya memuji laki-laki lain.
"Paling hanya mencari pakaian hangat itu hal kecil. Aku bisa mendapatkannya lebih banyak jika aku mau. Tetapi, hari ini sangat malas keluar," sahut Javas tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.
Kalea tersenyum maklum dan geleng-geleng kepala. "Makasih ya, Za. Silahkan kalau mau istirahat."
__ADS_1
"Baik. Terima kasih, Nona. Mari Tuan, saya permisi dulu," pamit Reza pada Javas dan Kalea penuh hormat. Setelah keduanya mengangguk, Reza pergi dari sana.
"Ayo, Mas. Pakai jaketnya. Kita main," goda Kalea sengaja mengayunkan suaranya manja.
Bukannya marah, Javas justru menahan tawa. Kata main versi dirinya sangat berbeda dengan versi istri cantiknya itu. "Baiklah. Kita akan main," ucap Javas pada akhirnya. Walau saat mengucapkannya, dia menekankan kata main yang membuat Kalea tersenyum jumawa. Merasa telah menang berdebat dari suaminya.
Aura pengantin baru memang sedang bahagia-bahagianya. Setelah keluar dari kamarnya, Javas memeluk pinggang Kalea posesif menuju lift sebagai alat untuk turun ke lantai bawah dengan cepat.
Tidak ada hal lain yang bisa Kalea lakukan selain pasrah. Dia justru senang karena suaminya itu sangat mencintai dirinya terlihat dari bahasa tubuh.
Sepanjang berada di dalam benda kotak persegi panjang itu, sudah tak terhitung lagi berapa banyak Javas mengecupi wajah Kalea. Namun, Kalea merasa bahagia. Sambil menatap sang Suami, Kalea pun berbisik dalam hati.
'Kali ini, Tuhan membiarkan aku jatuh cinta kepada laki-laki yang memilki cinta begitu sederhana. Membiarkan aku menjadi diri sendiri, membiarkan aku marah-marah seakan itu lumrah, dan tentunya dia menyikapi dengan tenang, memberikan aku rasa sayang yang cukup.
Aku pernah berpikir, mengapa ini terlalu mudah? Jatuh cinta yang aku alami dulu begitu rumit. Namun, kali bahkan begitu tenang. Ternyata, laki-laki yang kini bersamaku tidak ingin membuatku bingung, tidak ingin aku takut dan khawatir. Dia ingin aku hidup dengan kemauanku, menjadi diri sendiri. Dia ingin aku senang dan ingin aku berjalan bersamanya dengan tenang tanpa tekanan.
Dia menghadapi ku dengan rasa sabar tiada batas. Dia sudah menjadi salah satu proses pendewasaan ku. Dia juga satu-satunya yang memahami luka batin, trauma, trust issue, insecure, mood swings, dan labilnya emosiku.
Karena dia, aku juga tahu bahwa rumah tidak selalu berbentuk bangunan. Namun, sosok dia bisa menjadi rumah ternyaman untuk aku pulang.
Aku bersyukur memiliki dan mengenalmu dalam hidupku. Tuhan terlalu bersuka cita dalam menciptakanmu. Hingga aku pun turut serta merasakan bahagianya memiliki kamu.'
"Sayang? Kita sudah di lantai bawah. Apa kamu mengurungkan niat untuk main di sekitar hotel?" tanya Javas membuyarkan kekaguman Kalea pada sosok pria di sampingnya.
Bukannya menjawab, Kalea justru tersenyum manis hingga membuat Javas terheran-heran. "Kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Javas dengan dahi mengkerut dalam.
__ADS_1
"Karena aku mencintaimu," jawab Kalea sambil tersenyum lebar.