Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 23. Ikatan batin


__ADS_3

Kalea telah berada di rumah orangtuanya yang memiliki jarak lumayan jauh dari rumahnya dan Zoni. Dia berjalan tanpa perlu mengetuk pintu karena rumah itu adalah rumahnya juga. Kalea tumbuh dan besar di sana.


"Assalamualaikum," ucap Kalea sambil membuka pintu tetapi tidak mendapati ayah maupun ibunya berada di ruang tengah.


Rumah itu bukanlah tipikal rumah besar. Hanya rumah berukuran 6×9 meter. Sedangkan di bagian depan rumah, masih tersisa ruang untuk tempat parkir.


Kalea semakin masuk dan ternyata, ayah dan ibunya tengah mengobrol di ruang makan. "Ayah dan ibu disini? Pantas saja aku tidak mendengar jawaban kalian," ucap Kalea sambil tersenyum lebar.


"Iya. Kami sedang berbincang disini," jawab pak Tono, ayah Kalea disertai senyum hangatnya.


Bu Yuni, selaku ibu Kalea juga ikut tersenyum dan menyambut uluran tangan sang anak untuk disalami. "Kamu apa kabar?" tanya pak Tono, ayah Kalea.


Kalea mengangguk sambil mengulas senyum setulus mungkin. "Kalea baik, Yah. Kalian sehat kan?" Kini giliran Kalea yang menanyakan kabar tentang dua orang tuanya.


Bu Yuni menghela napas kasar hingga membuat Kalea mengalihkan perhatian sepenuhnya pada sang Ibu.


"Kami itu sudah semakin tua. Sudah ingin tahu bagaimana rasanya menimang cucu. Namun, kamu saja tak kunjung hamil," jawab bu Yuni murung.


Kalea tersenyum kecut. Bagaimana mungkin dia ingin memiliki anak sedangkan kondisi rumah tangganya sedang tidak baik-baik saja.


"Zoni kemana? Apakah kamu datang sendirian?" tanya Pak Tono mengalihkan topik pembicaraan.


"Mas Zoni harus bekerja. Banyak sekali masalah di kantornya," jawab Kalea tidak sepenuhnya berbohong.


"Ya sudah. Makanlah dulu. Ibu masak ayam kremes hari ini. Namun, ibu mohon jangan makan yang bagian paha ya? Itu untuk adik kamu," ucap bu Yuni yang membuat Kalea tersenyum nanar.


Mata Kalea melirik ke arah meja makan tepatnya pada piring yang terdapat ayam goreng. Hanya tersisa dua potong ayam dan yang satunya adalah bagian leher.


Walau bibirnya mengulas senyum, dada Kalea merasa sesak. Bagian leher biasanya lebih sedikit dagingnya. Walau kulitnya lumayan enak, hal itu tidak akan cukup untuk porsi makan Kalea. Belum lagi, potongannya terbilang kecil.


Kalea menghela napas pelan untuk menghilangkan sesak yang menghimpit rongga dada. "Iya, Bu. Biar adek pintar kan?" tanya Kalea layaknya sindiran karena setiap Kalea bertanya alasannya, sang Ibu selalu menjawab agar adiknya pintar, agar adiknya bisa lulus sekolah dengan nilai terbaik, dan masih banyak alasan lainnya demi kesejahteraan sang Adik.

__ADS_1


Namun, ada rasa bahagia kala melihat adiknya kini sudah tumbuh dewasa dan sangat tampan. Apalagi, adik laki-lakinya itu kini tengah menjalani studi Strata Satu (S1).


"Makanlah. Kalau kurang, kamu bisa makan tahu dan tempenya," ucap paa Tono sambil beranjak dari kursi.


Kalea mengangguk dengan dada yang berdenyut nyeri. Harusnya, Kalea tidak boleh memiliki rasa seperti itu. Bukankah melihat sang Adik sukses adalah doa Kalea setiap hari? Jadi, Kalea harus rela makan seadanya demi masa depan adiknya.


"Kalau mau makan tahu dan tempe, ambil satu saja. Sisanya untuk adikmu. Porsi makan adikmu kan banyak. Itu, sayurnya masih ada. Kamu makan sayur yang banyak agar subur dan cepat punya momongan," ucap bu Yuni lagi seakan tanpa beban.


Kalea mendadak kehilangan selera makan walau saat ini perutnya terasa lapar. "Ya sudah. Kalea tidak usah makan. Semua itu untuk Lintang saja, Bu," jawab Kalea berbesar hati.


"Ya sudah. Kalau begitu bantu ibu cuci piring ya? Banyak sekali yang kotor," pinta bu Yuni yang tidak bisa Kalea bantah.


"Baik, Bu."


Waktu bergulir. Matahari tampak ingin pulang ke peraduan hingga menghasilkan sinar keorenan yang sangat memanjakan mata.


Pintu rumah kediaman orang tua Kalea terbuka dan Lintang muncul dari sana. Saat melihat Kalea, Lintang tersenyum bahagia dengan mata berbinar.


Kalea tentu membalas pelukan hangat adiknya tak kalah erat. Dia sangat merindukan sosok adiknya yang sejak dulu telah tumbuh bersamanya sewaktu kecil.


"Kamu apa kabar? Beberapa bulan tidak bertemu, Mbak baru sadar kalau kamu mulai tumbuh kumis," goda Kalea sambil mendongakkan kepala, mengelus area bawah hidung Lintang.


Lintang tertawa. "Aku sudah mulai tua sepertinya," jawab Lintang sama sekali tidak tersinggung.


"Masa kamu mendoakan adikmu sendiri menjadi tua. Tidak baiklah," sahut suara yang tidak lain adalah milik bu Yuni.


Kalea menghela napas. "Aku hanya sedang melempar candaan, Bu." Merasa bahwa ibunya mulai bertindak kurang adil.


"Iya, Bu. Mbak Kalea biasa bercanda denganku. Lagian, aku suka saat Mbak Kalea bisa melempar candaan. Biasanya kan, datang dengan wajah tertekuk," ucap Lintang berniat ingin menggoda balik.


Kalea terkekeh. "Memangnya, Mbak suka seperti itu ya, Tang?" tanya Kalea merasa lucu dan Lintang mengangguk antusias.

__ADS_1


"Tentu saja. Saranku, jangan terlalu banyak pikiran, Mbak. Biar Mbak tidak menyakiti diri sendiri," ucap Lintang sendu yang sayangnya telah membuat mata Kalea berkaca-kaca setelah mendengarnya.


Kalea tersenyum. Adiknya seakan paling tahu masalah yang sedang Kalea hadapi tanpa harus bercerita panjang kali lebar.


"Kalea! Adikmu biarkan berganti pakaian dulu. Jangan menahannya disitu. Lagian, ini kan sudah sore. Apa kamu tidak pulang? Ibu tidak mau kamu sampai lalai dengan tugas seorang istri." Bu Yuni berucap tak suka.


"Ibu! Mbak Kalea itu kesini niatnya ingin bertemu Ayah dan Ibu. Mbak Kalea merindukan kalian. Kok malah disuruh pulang?" jawab Lintang membela sang Kakak.


"Iya, Ibu tahu. Cuma, bagaimana nasib suaminya? Belum lagi mertuanya? Memangnya kamu siap menghadapi mereka?" tanya bu Yuni lagi kemudian segera berlalu meninggalkan dua anaknya yang masih terdiam dengan pikirannya masing-masing.


Niat hati ingin menginap, apalah daya hanya pengusiran yang Kalea dapat. Terpaksa, Kalea mengurungkan niat untuk menginap. Mungkin, pulang bukan jalan yang tepat. Kalea bisa mencari hotel low budget yang pas di kantong.


"Sepertinya, Mbak harus segera pulang. Apa yang dikatakan ibu ada benarnya. Kamu sekolah yang rajin. Jangan sia-siakan biaya yang Ayah dan Ibu keluarkan untukmu," ucap Kalea berpesan sambil tangannya bergerak mengelus lengan Lintang.


Lintang balas menatap Kakaknya sendu. "Mbak?" panggil Lintang lembut.


"Kenapa?" tanya Kalea mengerjap bingung.


"Apa Mbak tidak memiliki keinginan untuk sekolah lagi? Kejar paket? Atau, Mbak ingin ikut kursus sesuatu? Bukankah Mbak dulu sangat ingin menjadi perancangan baju? Lalu, kemana semua mimpi itu, Mbak?" Lintang berucap pelan dan lembut hingga tepat mengenai sasaran hati Kalea.


"Tolong, Mbak. Jangan berkorban terlalu banyak untukku. Karena itu akan berat untukku di masa mendatang. Aku juga ingin melihat Mbak menjadi perempuan sukses dan tidak mudah ditindas. Mbak jangan menumbalkan diri sendiri dengan lagi setelah ini. Aku mohon, semoga Mbak masih memiliki secercah harapan untuk mengambil kursus atau kejar paket. Ayo, kita sukses bersama, Mbak." Lintang berucap panjang lebar dan sangat dewasa.


Kalea sampai meneteskan air mata karena tak kuasa mendengar perkataan adiknya. "Mbak akan berusaha setelah ada modal untuk kursus. Mbak sedang bekerja agar bisa memenuhi keinginan Mbak termasuk mengejar cita-cita setinggi langit itu. Ayo, kita sukses bersama."


Kalea berhamburan memeluk sang Adik yang sangat mengerti isi hatinya. Adik yang mungkin memiliki ikatan batin sangat kuat dengannya. Karena memang sejak kecil, Lintang lebih banyak menghabiskan waktu bersama Kalea daripada bersama orangtuanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa kasih dukungannya. ...


...Maaf updatenya terlalu malam karena sejak tadi mati lampu😅...

__ADS_1


__ADS_2