SATRIO YANG TERPINGIT ALAM

SATRIO YANG TERPINGIT ALAM
AWAL PETUALANGAN


__ADS_3

Ada sebuah peribahasa bila ingin menangkap anak singa harus masuk kedalam sarang singa bila kita hanya di luar hutan mana lah bisa kita dapat, itu suatu peribahasa kuno yang sangat terkenal dalam sebuah dunia peperangan atau bisa di bilang sebuah strategi perang.


Meski terkadang sebuah peribahasa itu bila kita praktek kan di kenyataan sangat lah mengerikan dan beresiko sangat fatal dan hanya orang - orang yang berjiwa kesatria yang mampu melakukan, seperti apa kah jiwa kesatria sebenar nya ??? jiwa kesatria adalah jiwa yang pantang menyerah, pantang mundur, pantang putus asa, siap berkorban dan berani menerima kritikan, menganggap kritikan itu sebuah hal yang membangun menjadi kan lebih baik lagi.


Semua orang pasti memiliki jiwa tersebut hanya saja ada yang di pupuk ada juga yang di abaikan hingga menjadi karakter lain hingga sering tidak mengenali diri kita sendiri, bila kita sudah tidak mengenali diri kita sendiri maka jadi lah jiwa - jiwa yang kosong, jiwa - jiwa yang hampa dan berakhir lah jauh dari Allah lalu tergelincir lah ke dalam sebuah dosa.


............................


Saat ini Satrio sungguh terkejut saat membuka mata nya sebab mendengar gemericik aliran air dan suara burung - burung yang ber saut - saut an, seingat Satrio saat itu diri nya sedang di ke royok beberapa preman di sebuah pasar lalu dari mana asal nya suara gemericik air, suara burung - burung yang berkicau serta hembusan angin yang segar.


Ternyata saat Satrio membuka mata nya saat ini Satrio sedang duduk di sebuah batu yang sangat besar di sebuah sungai yang bagi Satrio tidak asing bukan lain sungai ini yang pernah Satrio kunjungi beberapa tahun yang lalu dan letak nya di gunung salak.


Subhanaallah............laillahaillallah..........kenapa aku bisa sampai sini lalu siapa yang membawa ku kemari sedang kan waktu itu saja perjalanan aku tempuh selama 1 hari 1 malam tapi saat ini hanya sekejab mata........dan mengapa suasana nya masih seperti sore hari ??? atau kah aku sudah mati sebab di ke royok oleh para preman itu......???


Gumam Satrio dalam hati sambil melihat lengan nya, baju nya lalu kaki nya yang tidak ada bekas luka sama sekali bahkan baju nya pun tidak kotor sedikit pun, padahal Satrio ingat betul saat itu baju nya kotor karena terkena air yang menggenang di lubang jalan parkir an pasar dan di lengan baju nya ada yang sobek namun saat ini baju Satrio kembali bersih bahkan seperti baru.


Lalu Satrio melihat ke tepian sungai dan memang benar jalan itu lah yang pernah ia lalui bersama Syeh Qori' beberapa tahun yang lalu, segera lah Satrio menuruni batu besar tersebut dan berniat akan berjalan menuju di mana ke 3 Syeh tersebut tinggal namun ternyata ekspektasi jauh dari kenyataan di situ Satrio menemui seorang laki - laki yang asing bagi nya namun laki - laki itu seperti nya sudah mengenal Satrio sejak lama, laki - laki itu adalah Syeh Malaya yang terkenal juga dengan sebutan sunan kalijaga.


" Assalamualaikum...........Pak, maaf Pak saya sedang berada di mana ya lalu ini tahun berapa kenapa udara nya pun berbeda.......?? "


Kata Satrio dengan pandangan bingung melihat sekitar nya yang bagi nya tidak mengikuti rotasi bumi.......


" Wa'allaikumusallam nak............perkenalkan aku adalah Syeh Malaya dan aku sudah mengenal mu sejak dahulu, kalau diri mu bertanya kamu sedang berada di mana maka saat ini kamu sedang berada di inti bumi......"


Jawab Syeh Malaya sambil tersenyum ramah kepada Satrio yang masih terlihat bingung........


" Bagaimana saya bisa sampai di sini Pak sedang kan saya hanya lah seorang hamba Allah ??? atau kah saya sudah mati Pak maka saya bisa sampai di sini ??? "


Tanya Satrio lagi sambil berjalan di belakang Syeh Malaya........


" Yang membawa mu kemari adalah keteguhan iman mu, ketulusan mu serta ke ikhlasan mu nak......"

__ADS_1


Jawab Syeh Malaya sambil senyum dan terus melangkah ke depan dan sesekali menoleh ke arah Satrio.......


" Ketulusan dan ke ikhlasan yang mana Pak........?? "


Tanya Satrio sambil pandangan yang penuh tanda tanya.........


" Keikhlasan mu dalam menjalani hidup dan di hati mu jauh dari kata kesombongan, keangkuhan dan amarah maka dari itu diri mu lah yang lolos dari seleksi alam dan diri mu lah yang terpilih untuk menjaga bumi ini hingga waktu yang di tentu kan oleh Allah........."


Jawab Syeh Malaya sambil berhenti di sebuah gubuk kecil di mana Satrio dulu pernah duduk di situ.........


" Bagaimana bisa seperti itu sedang kan saya sering terpancing emosi saya saat melihat kezaliman terjadi di depan saya Pak...........apakah itu saya tidak termasuk kedalam orang yang pemarah ??? "


Kata Satrio sambil berdiri di samping Syeh Malaya yang sedang duduk di sebuah bangku yang terbuat dari bambu...........


" Amarah itu terbagi menjadi dua nak........amarah karena ke egoisan dan amarah untuk membela kebenaran sedang kan yang kamu laku kan adalah amarah yang membela kebenaran dan memang seperti itu yang harus di laku kan.........keadilan harus di tegakkan nak........."


Jawab Syeh Malaya sambil melihat ke arah Satrio.........


Kata Satrio sambil menunduk merasa sedih mengingat semua yang terjadi pada diri nya..........


" Jangan menggunakan alat timbangan harta dan kerabat nak.........bila kedua hal itu yang kamu buat menjadi alat timbangan dalam memutuskan langkah mu maka sesat lah langkah mu........."


Jawab Syeh Malaya sambil tersenyum.........


" Lalu dengan alat apa saya harus menimbang sebuah keadilan agar saya tidak tersesat dan tidak salah langkah Pak........"


Tanya Satrio sambil melihat ke arah Syeh Malaya.........


" Gunakan lah Al Quran dan hadits sebagai alat timbangan sebab itu adalah alat timbang yang akan di gunakan di alam barzah nanti nak........bila benar kata kan lah benar dan bila salah maka kata kan lah salah nak..........jangan pernah diri mu tertipu dengan apa yang kamu lihat, kamu rasa dan kamu dengar sebab semua itu menipu........."


Jawab Syeh Malaya.........

__ADS_1


" Siapa yang harus saya percaya bila seperti itu ada nya Pak.........??? "


Tanya Satrio lagi dengan pandangan bingung..........


" Percayalah hanya kepada Allah.........dekat kan lah hati mu, pikiran mu dan pandangan mu hanya kepada Allah sebab Allah tidak pernah meninggal kan mu meski hanya sedetik nak........."


Jawab Syeh Malaya............


" Bagaimana mungkin saya bisa melihat Allah sedang kan saya hanya manusia biasa Pak........."


Tanya Satrio sambil duduk bersila di dekat kaki Syeh Malaya...........


" Kamu bisa melihat Allah dari semua ciptaan nya nak......dan saat ini usia mu sudah genap 20 tahun saat ini lah awal petualangan hidup mu mencari jati diri mu, kamu akan bisa melihat siapa yang tulus, siapa yang dusta dan siapa yang munafik.........maka aku akan titip kan amanah ini pada mu agar kamu mampu menegakkan kebenaran di muka bumi ini dengan seadil - adil nya dengan cara welas asih........"


Kata Syeh Malaya ke pada Satrio yang sedang melihat nya dengan penuh tanda tanya.......


Kemudian Syeh Malaya meletakkan sebuah batu berwarna merah pada kening Satrio dan entah kemana hilang nya batu itu dan pasti nya batu itu telah masuk kedalam kepala Satrio.


" Nak jagalah amanah itu..........semoga dengan batu itu kamu mampu melihat kebenaran dan kamu juga bisa membawa kembali orang - orang yang sudah tersesat kembali ke jalan Allah........perjalanan mu masih panjang nak........lanjut kan perjalanan mu ke barat dan jangan pernah gentar selama kamu berjalan di jalan Allah......"


Kata Syeh Malaya saat itu...........


Saat Satrio membuka mata nya Syeh Malaya sudah hilang dari hadapan nya dan Satrio pun segera berdiri dari duduk nya mencoba mencari Syeh Malaya namun tidak di temukan lalu Satrio mengelus kening nya apakah ada benjolan atau kah ada luka namun tidak ada luka di kening nya.


Satrio pun melanjutkan perjalanan nya sambil memikirkan semua kata - kata Syeh Malaya dan sudah lumayan jauh perjalanan Satrio namun mengapa tidak datang juga malam hari, waktu seperti berhenti tidak berjalan hingga Satrio merasa lelah dan duduk di sebuah gubuk kecil dan tanpa terasa Satrio tertidur sangat lelap saat itu, Satrio tertidur tanpa ia sadari saat itu dari kening nya memancar sebuah cahaya yang sangat terang hingga menembus langit.


.........................


Begitulah Allah bisa melakukan apa pun dan Allah selalu melindungi orang - orang yang terzalimi setiap masa Allah akan memerintah kan utusan nya berbentuk apa pun dengan sebutan apa pun demi menyelamatkan umat manusia, begitu sayang nya Allah pada umat nya namun umat nya sering kali mendustakan nikmat yang sudah Allah berikan hingga sering kali umat nya mengatakan bahwa Allah tidak adil padahal Allah yang paling adil.


Bagaimanakah perjalan petualangan Satrio selanjutnya kira - kira Satrio akan berjumpa siapa lagi dan mendapat amanah apa di pertemuan selanjutnya ??? ikuti terus petualangan Satrio agar raedar tau apa yang di maksud Satrio yang dipingit oleh alam serta mengapa alam memingit Satrio ada kejadian apa sebenar nya.

__ADS_1


Raeder yang setia jangan pernah lupa selalu dukung author dengan like, komen, raet dan favorit agar author makin rajin update nya 😊🙏


__ADS_2