
Flexing atau biasa di sebut dengan pamer hal itu sudah sejak dahulu kala di lakukan manusia dengan membanggakan status sosial yang di rasa diri nya lebih dari orang lain namun sejati nya tidak ada satu pun mahkluk di dunia ini yang lebih dan kurang melainkan semua saling melengkapi satu dengan lain nya.
Lalu bagaimana kah kisah selanjutnya pengantin baru antara Satrio dan Ani yang secara status sosial berbanding terbalik Satrio terlahir di keluarga priyayi bergelimang harta sejak lahir dan di tambah lagi dengan Satrio manusia pilihan Allah sedangkan Ani hanya manusia pada umum nya dan pasti nya pola pikir mereka pun berbeda apakah mereka bisa saling melengkapi kekurangan masing - masing?
...................
Bagi umum nya orang baru saja menikah itu adalah masa - masa bahagia sebab bisa menghabiskan waktu bersama dengan orang yang kita sayang dan cinta bersama tanpa ada batasan apa pun meski sebenar nya masih harus saling belajar satu dengan lain nya sebab sesungguhnya masa pacaran tidak menjamin kita bisa mengerti dan memahami seutuhnya seperti apa pasangan kita sesungguhnya sedang kan di saat menikah kita akan tau semua nya sampai hal yang sangat kecil sekali pun.
Pagi ini pasti nya kedua keluarga masih berkumpul di rumah orang tua Ani sedangkan Satrio dan Ani tinggal di rumah yang berbeda dan tidak jauh dari rumah orang tua nya saat ini Satrio sudah menjadi seorang Ayah baru bagi kedua putri Ani yang memang selama ini mereka berdua sudah menganggap Satrio lah Ayah mereka.
" Assalamualaikum Dedek sayang Abi yang cantik sudah bangun ya?"
Tanya Satrio sambil menggendong Aisyah.
" Wa'allaikumusalam Bi."
Jawab Aisyah sambil pandangan penuh tanya kepada Satrio.
" Dedek lihat apa kok serius gitu sayang?"
Tanya Satrio sambil berjalan menuju ruang makan.
" Semalam banyak nyamuk ya Bi kok leher Abi merah semua pasti Abi tidur nya tidak pakai kelambu."
Kata Aisyah dengan polos nya sambil menyentuh leher Satrio.
" Oh iya Abi lupa tidak pakai kelambu ya sudah Abi mandi sebentar ya nanti Dedek beri obat ok sayang."
Kata Satrio sambil senyum dan mencium kening Aisyah dengan lembut.
Saat itu Ani hanya tersenyum melihat ulah suami dan anak nya yang masih polos sambil melanjutkan mencuci piring dan menyiapkan kopi untuk Satrio yang sudah menjadi tradisi nya setiap pagi harus ada kopi tersaji untuk nya sebelum melakukan aktifitas dan saat Satrio mandi datang lah Leni adik Satrio.
" Pagi Kak sedang apa Kak?"
Tanya Leni dengan senyum khas nya yang muncul dari pintu dapur.
" Hai Len masuk sini aku sedang menyiapkan kopi dan sarapan buat Abi nya anak - anak Len ayo sarapan sama - sama Len."
Jawab Ani sambil menuangkan air ke dalam cangkir yang berisi kopi.
" Iya Kak terimakasih aku sudah sarapan tadi di rumah nya sana oh iya Mas Satrio kemana Kak apa belum bangun dia?"
Tanya Leni sambil duduk di kursi meja makan.
" Itu sedang mandi Len maaf ya Len kami tidak bisa menjamu kalian semua seperti di kota ya maklum lah di sini masih pedesaan."
Jawab Ani sambil senyum lalu duduk di samping Leni.
" Tidak apa - apa Kak aku malah senang di sini masih alami dan udara nya pun segar belum banyak polusi seperti di kota."
Kata Leni sambil menikmati gorengan ubi yang di sajikan Ani.
" Iya Len begini lah kehidupan pedesaan beda dengan di kota besar yang setiap hari di hadap kan dengan macet."
Kata Ani sambil tersenyum.
" Oh iya Kak bagaimana nanti apakah Kakak akan ikut Mas Satrio ke kota secara kalian kan sudah menikah saat ini bukan pacaran lagi masak harus LDR juga?"
Tanya Leni sambil melirik ke arah Ani.
" Aku si mau nya seperti itu Len kemana pun suami berada ya aku ikut tapi tidak tau dengan Mas Satrio bagaimana Len kan kamu tau pola pikir dia beda dengan orang umum nya."
Jawab Ani sambil mengelus kepala Aisyah putri nya.
" Iya juga si Kak bagaimana pun juga Mas Satrio kepala rumah tangga yang berhak memutuskan bagaimana baik nya, ya sudah aku pamit dulu Kak mau mandi juga sudah merasa gerah aku."
Kata Leni lalu bangkit dari duduk nya dan berlalu dari hadapan Ani.
__ADS_1
Saat itu kemudian Ani pun bangkit dari duduk nya dan melangkah kan kaki nya menuju kamar nya untuk menyiapkan baju untuk suami nya sambil berpikir tentang apa yang di katakan Leni baru saja.
Benar juga dengan apa yang di katakan Leni tidak mungkin aku LDR lagi kan saat ini aku sudah menikah dengan Mas Satrio jadi mau tidak mau aku harus keluar dari pekerjaan ku dan ikut dengan Mas Satrio ke kota lalu bagaimana dengan keluarga Mas Satrio apakah mereka bisa menerima aku dan kedua putri ku sedangkan selama ini Mas Satrio sering menceritakan masalah keluarga nya yang tamak ya Allah berikan kami kesabaran menghadapi semua ini.
Bergumam lah dalam hati Ani sambil berdiri di depan lemari untuk mengambil baju koko dan sarung untuk suami nya sedang kan Satrio baru saja selesai mandi dan berniat akan melaksanakan sholat dhuha.
" Mi sedang apa kamu berdiri di situ apakah sudah sholat dhuha?"
Tanya Satrio menegur Ani yang berdiri di sisi jendela.
" Belum Bi kan itu tadi kamu sedang mandi lalu aku ambil wudhu nya bagaimana?"
Kata Ani kemudian memalingkan tubuh nya ke arah Satrio.
" Oh ya sudah sana ambil wudhu dulu setelah itu sholat dhuha Mi."
Jawab Satrio sambil merapikan sarung dan baju koko yang di kenakan.
Kemudian Ani pun melangkah keluar dari kamar nya hendak menuju kamar mandi meski masih berkutat pikiran nya tentang kata - kata Leni di sisi lain di rumah orang tua Ani ada keluarga Satrio yang sedang menyusun rencana agar Satrio mau membawa Ani ke kota tinggal bersama mereka agar mempermudah niatan mereka selama ini.
" El bagaimana kamu sudah berbicara dengan istri nya Satrio?"
Tanya Aini sambil duduk di depan meja rias.
" Kenapa harus aku si kenapa tidak Mbak Arik saja kan kalau Mbak Arik jelas mertua nya jadi lebih enak bicara nya?"
Jawab Elli dengan nada sebal.
" El kamu tau sendiri seperti apa watak Arik yang ada semua nya akan hancur rencana kita dan ingat saat ini kita di mana posisi kita jadi jangan sampai semua nya gagal hanya karena masalah sepele."
Kata Aini sambil sedikit memberi penekanan.
" Iya sudah biar aku dan Mas Gun nanti yang bicara kepada Satrio dan istri nya lalu Mbak Aini dan Mbak Arik hanya tau beres begitu?"
Tanya Elli dengan tatapan penuh tanya.
Jawab Aini dengan pandangan sebal.
" Bagus jadi dengan begitu Satrio tidak bisa mengelak lagi untuk tidak membawa istri nya ke rumah."
Kata Elli dengan senyum licik.
" Ya sudah ayo jangan buang waktu lagi sudah tidak betah aku tinggal di kaki gunung ini."
Kata Aini sambil bangkit dari tempat duduk nya.
Kemudian mereka berdua pun keluar dari kamar melaksanakan tugas masing - masing di sisi lain ada Ani dan Satrio yang baru saja selesai melaksanakan sholat dhuha lalu duduk di sofa ruang tamu membicarakan hal kedepan nya bagaimana berdua sambil menikmati secangkir kopi.
" Sayang kita kan sudah menikah sekarang lalu apakah kamu akan tetap bekerja atau bagaimana Mi?"
Tanya Satrio sambil memegang telapak tangan istri nya.
" Tidak lah Bi aku mau fokus ngurus suami dan anak - anak sudah capek aku harus bekerja belum lagi harus membagi waktu untuk keluarga juga."
Jawab Ani sambil menyandarkan kepala nya di pundak Satrio.
" Ya sudah kalau begitu mau mu Mi aku akan selalu dukung apa pun keputusan mu selama tidak keluar dari jalur rel Allah."
Kata Satrio sambil senyum.
" Lalu apakah kita tetap akan LDR seperti dulu Bi secara kamu kerja di Jakarta sedangkan aku di sini dengan anak - anak bila seperti itu pernikahan seperti apa yang kita jalani Bi?"
Tanya Ani dengan tatapan kosong.
" Mi apakah kamu sudah siap menghadapi keluarga ku yang licik dan tamak itu bila aku membawa kalian ke rumah ku?"
Tanya Satrio dengan nada khawatir.
__ADS_1
" Siap tidak siap saat ini aku sudah jadi istri mu Bi apa pun harus kita hadapi dan sudah menjadi kewajiban ku sebagai istri merawat dan menjaga mu jadi kemana pun kamu pergi aku akan ikut Bi."
Jawab Ani dengan penuh keyakinan.
" Baik lah bila itu keputusan mu Mi aku juga tidak bisa melarang namun satu yang harus kamu ingat jangan sampai kamu terprovokasi dengan sikap mereka yang hanya akan memicu pertengkaran antara kita Mi."
Kata Satrio sambil memandang ke wajah istri nya.
Saat itu Ani hanya mengangguk dan tersenyum sebab mau tidak mau sebentar lagi Ani akan menghadapi sekelompok manusia licik, munafik, tamak dan serakah pasti nya sangat menguras kesabaran dan pikiran dengan segala macam acara yang mereka buat tidak lama kemudian datang lah Elli dan Gunawan ke rumah Satrio dan Ani untuk melancarkan niat nya.
" Hallo selamat pagi wah pengantin baru aura nya beda ya pagi - pagi wajah nya lebih berseri - seri."
Kata Gunawan yang penuh basa basi yang sudah berdiri di depan pintu rumah Ani.
" Ah Om Gun bisa saja mari masuk Om dan tante."
Jawab Ani sambil bangkit dari duduk nya.
" Mas Gun kalau sudah bercanda suka kelewatan ya mari duduk Mas Gun dan Mbak Elli."
Kata Satrio dengan senyum khas nya.
" Benar Tio seperti dia tidak pernah jadi pengantin baru saja dulu."
Kata Elli sambil senyum dan melirik kearah Gunawan.
" Ya sudah silahkan ngobrol dulu saya buat kan minum sebentar Om dan Tante."
Kata Ani sambil tersenyum dan bangkit berdiri.
" An aku ikut ke belakang ya ini para Bapak - Bapak biar ngobrol masalah Bapak - Bapak kita Ibu - Ibu di belakang saja."
Kata Elli sambil bangkit dari duduk nya dan berjalan mendekati Ani.
" Bisa saja Tante ya sudah mari Tante."
Jawab Ani sambil tersenyum ke arah Elli.
" An apa kamu sudah bicara dengan Satrio masalah bagaimana nanti kalian berdua masak Satrio di Jakarta kamu di sini?"
Tanya Elli sambil melangkah kan kaki nya menuju dapur.
" Sudah Tante baru saja itu tadi kita bicarakan masalah itu dengan Abi nya anak - anak."
Jawab Ani sambil tersenyum tanpa ada pikiran yang tidak - tidak.
" Lalu bagaimana pendapat suami mu apa dia akan membawa mu ke Jakarta An?"
Tanya Elli dengan nada menggebu - gebu ingin mengetahui jawaban nya.
" Kata Abi nya anak - anak dia mengikuti semua keputusan saya tante dan sudah saya putus kan untuk berhenti kerja dan fokus mengurus suami dan anak - anak."
Jawab Ani sambil menyalakan kompor.
" Bagus keputusan yang tepat An untuk apa kamu bertahan di kampung seperti ini enak di kota semua tersedia bisa ke mall banyak barang - barang branded dan kehidupan mu akan berubah sesampai nya di kota nanti Ani."
Kata Elli dengan memamerkan tas nya yang branded kepada Ani.
Saat itu Ani hanya senyum melihat ulah dari Tante nya Satrio dalam hati Ani hanya mampu ber istighfar melihat kelakuan Elli di sisi lain Ani harus mempersiapkan dan memagari hati dan pikiran nya agar tidak terkontaminasi dengan sikap dan perilaku keluarga Satrio yang gila harta.
.................
Begitulah sikap manusia bila sudah menyangkut kenikmatan dunia serasa ingin hidup seribu tahun lama nya namun di saat berhadapan dengan kemalangan satu hari saja sudah berteriak mengatakan hidup nya tidak pernah bahagia padahal kemewahan sudah di rasakan nya lebih dari setengah usia nya tetapi yang di katakan kemalangan nya yang lebih lama tipe manusia tidak pernah bersyukur.
Lalu bagaimana nanti setiba nya Ani di rumah Satrio yang hampir setiap detik bertemu dengan keluarga Satrio yang tamak dan apakah Ani masih mampu mengontrol emosi nya menghadapi semua tekanan yang di lakukan keluarga Satrio kepada nya dan akan menggunakan jurus apa Ani untuk menghadapi mereka semua?
Untuk memecahkan teka teki ini ikuti terus kisah perjalanan mereka hanya di SATRIO YANG TERPINGIT ALAM dan jangan pernah lupa selalu dukung author agar semakin rajin update nya.
__ADS_1