
Di dalam dunia ini hampir semua hal menggunakan rumus siapa yang menabur dia lah yang menuai atau biasa di sebut dengan hukum karma namun kita juga harus memperhatikan juga di mana kita menabur di sebuah tanah yang tandus kah, di bebatuan kah atau di tanah yang subur untuk apa semua itu kita perhatikan juga bukan lain untuk mengetahui sebuah hasil, sebab hasil lah yang akan menunjuk kan identitas kita bukan kah begitu?
Setiap tanah yang kita taburi bibit sebuah hal yang akan tanam akan sangat bergantung pada tanah nya bila tanah nya gersang dan tandus maka bibit itu tidak akan tumbuh namun bibit itu akan habis di makan burung, bila bibit itu kita tabur di tanah bebatuan maka bibit itu akan tumbuh namun tidak akan lama sebab terhimpit bebatuan dan bila bibit itu kita tabur di tanah yang subur maka kita akan memanen nya berlipat ganda.
Demikian juga dengan hati manusia sama dengan tanah dan sebuah ilmu bagaikan bibit sebuah tanaman, maka dari itu sebelum memberi kan sesuatu ilmu atau sebuah pemahaman kepada seseorang tilik terlebih dahulu seperti apa hati orang tersebut tandus kah, berbatu kah atau subur agar diri mu pun akan tau porsi hasil yang akan diri mu dapat kan.
............
Saat ini Widhi bukan lagi anak jalanan yang sebatang kara, bukan lagi seorang remaja yang hanya terkenal playboy namun seperti nya Allah memberi jalan kepada Widhi yang raja gombal untuk menyempurnakan gelar nya sebagai playboy tulen yang hidup nya di keliling oleh harta, tahta dan wanita, mungkin kemarin Widhi hanya mampu tebar pesona di dunia maya namun dengan ada nya dukungan harta dan kedudukan di genggaman nya maka di dunia nya ini diri nya bisa saja menyempurnakan gelar tersebut.
Semua orang pasti pernah di uji dengan ke tiga hal tersebut bahkan Satrio sendiri pun juga di uji dengan ke tiga hal tersebut dan Satrio telah lolos dari ujian tersebut lalu bagaimana dengan Widhi yang juga mahkluk pilihan Allah yang bertugas sebagai panglima besar Allah apakah mampu melalui ujian tersebut?
Setelah acara pembacaan surat wasiat dari Nenek nya Satrio kini Widhi harus tinggal di sebuah rumah yang megah dan fasilitas yang bagaikan raja semua tinggal tunjuk dan tinggal perintah namun Widhi sudah terbiasa hidup sendiri maka apa pun di lakukan nya sendiri mulai dari membersihkan kamar, memasak hingga mencuci baju sehingga para pembantu di rumah mewah itu merasa tidak enak dengan ulah Widhi seperti yang di laku kan pagi ini.
Hadeh susah bener ya jadi orang kaya ini tidur aja tempat nya empuk bener mana aku kalau tidur kan lompat - lompat jadi nya semalam saja aku sudah jatuh 5 kali dari ranjang, aduh perut ku mules kamar mandi di mana kamar mandi ... kenapa harus bentuk nya begini sih closed nya aduh kan aku biasa di wc umum nangkring tersiksa bener hidup ku jadi orang kaya ini.
Gumam Widhi sambil berjalan keluar kamar nya lalu bertanya kepada siapa pun yang di temui di mana letak wc umum terdekat agar diri nya bisa menyembuhkan perut nya yang sudah berteriak dan pasti nya para pembantu di rumah tersebut merasa aneh mengapa Widhi mencari wc umum sedang kan di kamar nya sudah kamar mandi pribadi yang lux ukuran orang dunia.
" Mang di mana wc umum buruan mules ni!"
Kata Widhi sambil memegang perut nya.
" Di kamar nya Tuan kan sudah ada kamar mandi kenapa malah keluar mencari wc umum?"
Jawab Dedy yang bekerja sebagai cleaning di rumah yang bak istana itu.
" Closed gak ada gimana aku harus buang hajat aneh buruan Mang di mana sudah di ujung tau."
Kata Widhi sambil memegangi pantatnya dengan wajah yang semakin aneh.
Kemudian cleaning servis itu pun menunjuk kan kamar mandi yang di diri nya ketahui untuk para pekerja dan memang bila untuk para pekerja closed nya yang biasa bukan lah closed duduk maka di situlah Widhi menyelesaikan semua tekanan yang berada di dalam perut nya dan saat Widhi berada di dalam kamar mandi cleaning servis tersebut berbicara dengan seorang satpam yang sedang berjaga di pintu depan rumah tersebut.
" Kang memang kamar mandi di kamar nya Tuan muda Satrio tidak ada wc nya ya? sedangkan setahu saya di rumah ini setiap kamar pasti ada kamar mandi yang lengkap?"
Kata Dedy sambil meletakkan segelas kopi dan sepiring gorengan di meja.
" Husss ... jangan ngawur kalau bicara nanti kedengaran bos bisa di pecat kamu, jaman sekarang susah cari kerjaan sebab gak ada yang buang pekerjaan."
Jawab Ilham sambil mendekati kopi yang baru di letak kan di meja.
Namun belum sampai tangan Ilham sampai memegang gelas kopi sudah didahului dengan Widhi yang baru saja keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
" Wah pengertian banget Mang sudah nyiapin kopi sama gorengan?"
Kata Widhi sambil mengangkat gelas berisi kopi sambil duduk di kursi tempat satpam.
Reflek kedua orang tersebut melihat ke arah Widhi yang mereka anggab seorang bos besar dan pasti nya sikap nya akan sama dengan kebanyakan orang kaya pada umum nya namun tidak dengan Widhi yang sangat merakyat dengan kaum jelatah.
" Kang mau minum kopi juga ya? ini beli kopi di warung depan aku tadi bawa uang rencana nya buat bayar wc umum tapi ya sudah lah buat beli kopi akang saja."
Kata Widhi sambil menyerahkan uang 5000 kepada Ilham.
" Tidak usah Tuan saya ada kok nanti saya akan buat ... Tuan nikmati saja kopi dan gorengan nya saya kembapu ke pos dulu."
Jawab Ilham sambil tersenyum sambil berfikir.
" Lo malah kabur ke pos kapling sini dulu temani aku ngopi biar tau kehidupan itu pait kalah pait nya pare."
Kata Widhi sambil mengambil gorengan di hadapan nya.
Saat itu Ilham memilih kabur dari pada mendapat masalah baru dengan Arik yang lumayan sombong di keluarga itu lalu Widhi pun berjalan masuk sambil membawa segelas kopi dan pisang goreng di tangan nya, saat akan menuju kamar nya Widhi berpapasan dengan Arik dan Gustavito yang berjalan menuju meja makan untuk sarapan.
" Hay orang kampung dari mana kok bawa kopi sama pisang goreng?"
Kata Gustavito dengan senyum meledek.
Jawab Widhi dengan cuek nya dan melanjutkan langkah kaki nya.
" Benar juga apa kata mu tapi jangan kampungan juga sikap mu."
Kata Gustavito yang berjalan di belakang Widhi.
" Kalau aku kampungan wajar sebab aku orang kampung kalau kamu orang kota anak Bunda yang manja sikap nya kampungan itu yang kurang wajar dan perlu di hajar."
Jawab Widhi sambil mendekat kan wajah nya ke Gustavito.
" Sudah buat apa kamu meladeni orang jalanan ini Vito merusak mood kita saja ayo kita segera sarapan."
Kata Arik sambil menarik lengan Vito menuju meja makan.
Saat itu Widhi hanya tersenyum sinis melihat ke arah Vito kemudian melanjutkan langkah nya menuju kamar nya dan ternyata di kamar Widhi sudah ada Gunawan dan Elli yang sedang mencari Widhi untuk di ajak sarapan pagi bersama.
" Teteh dari tadi di kamar ku sama Aa mau numpang kamar mandi juga?"
__ADS_1
Kata Widhi dengan senyum nya yang khas.
" Tio kamu dari mana kok tidak ada di kamar lalu itu kopi dari mana kamu ambil nya kok pakai gelas itu?"
Tanya Elli yang bingung melihat ulah Widhi yang aneh di mata nya.
" Dhek Tio jangan panggil Teteh dan Aa ya kepada kami panggil saja Om dan Tante?"
Kata Gunawan sambil senyum mendekati Widhi yang masih berdiri di depan pintu.
" Yang pasti aku dari bawah cari kamar mandi umum sebab perut ku mules masuk angin itu ac nya dingin sekali apa tidak bisa di ganti kipas angin saja itu ac?"
Tanya Widhi sambil meletakkan gelas kopi nya di meja.
" Baik lah nanti kita beli kipas angin yang kamu mau dan sekarang segera lah mandi setelah itu kita sarapan dan baru lah kita akan mengajak mu ke kantor tempat mu bekerja."
Kata Elli sambil senyum dan berjalan menuju pintu.
Saat itu di hati Widhi mulai merasa ada yang tidak betul dengan keluarga di situ mengapa Arik dan Gustavito sungguh membenci diri nya sedangkan Gunawan dan Elli sungguh baik dan perhatian dengan nya dan satu lagi wanita paruh baya yang bernama Aini dengan wajah datar nya mengapa tidak pernah berbicara dengan nya.
Di suruh mandi tapi gak ada gayung sama ember bagaimana mau mandi nya, sabun nya juga gak ada hemmm orang kaya kalau mandi apa cuma pakai tisu basah ya?
Gumam Widhi sambil tangan nya memencet apa saja yang ada di hadapan nya dan tentu saja diri nya merasa bingung sebab terbiasa mandi di kontrakan nya yang menggunakan ember dan gayung sedang kan di rumah tersebut menggunakan shower pantas saja Widhi bingung, akhir nya tangan Widhi pun menyentuh tombol untuk menyalakan air dan keluar lah air dari shower saat itu Widhi berteriak histeris sambil berlari keluar hanya menggunakan handuk yang menutup bagian bawah saja.
" Aaaaaaa ... Om Tante itu kran nya bocor dari atas tolong!"
Teriak Widhi sambil berlari menuju ruang di mana Elli dan Gunawan duduk.
" Bocor? kok bisa bocor?"
Kata Gunawan sambil memandang ke arah Widhi yang sedang histeris.
Kemudian segeralah Gunawan menghampiri Widhi dan menanyakan apa yang terjadi dan di situlah Widhi menceritakan apa yang terjadi sebenar nya dan saat itu itu juga Gunawan dan Elli tertawa lepas melihat ulah Widhi yang bagi mereka berdua lumayan konyol, kemudian segera lah Gunawan dan Widhi menuju kamar Widhi dan memberi tau satu persatu apa saja yang ada di dalam kamar mandi itu dan fungsi nya untuk apa.
.........
Memang ulah Widhi selalu ada saja hingga membuat orang yang melihat nya jadi tersenyum dan saat ini Gunawan dan Elli mulai mengarahkan dan mendidik Widhi untuk menjadi seperti dahulu lagi seperti Satrio yang seperti mereka kenal seorang Satrio yang pendiam, penurut, suka mengalah dan tidak suka adu argumentasi agar bisa di kendalikan oleh Gunawan dan Elli dan pasti nya untuk kepentingan pribadi.
Lalu apakah Widhi bisa di kendalikan seseorang dan apakah mereka berfikir bahwa Satrio amnesia lupa ingat saja dan merubah nama nya menjadi Widhi lalu apakah berhasil niat Gunawan dan Elli saat ini?
Untuk mengetahui jawaban nya ikuti terus perjalanan Widhi untuk mengungkap rahasia kehidupan hanya di SATRIO YANG TERPINGIT ALAM dan jangan pernah lupa selalu dukung author agar rajin update nya.
__ADS_1