
Semua hal pasti ada batasan nya dan sesungguhnya tidak ada yang benar - benar bebas di muka bumi ini bila ada yang bebas itu hanya sebuah anggapan pola pikir kita sendiri namun sesungguhnya masih dalam sebuah batasan begitu juga dengan sikap yang diambil oleh Satrio dalam menghadapi segala hal bentuk ke zalim an bila Satrio sampai lepas dari sebuah batasan pasti lebih banyak lagi korban sebab bila diri nya marah maka alam pun turut bergejolak gunung tunduk laut bergelora mendengar nama nya.
Siang ini sebenar nya Satrio benar - benar geram melihat keluarga nya yang susah sekali berubah menjadi baik dan bersyukur atas nikmat dan karunia pemberian Allah namun mereka begitu serakah dan tamak, meski Satrio terlihat tenang dan selalu tersenyum namun sesungguhnya jiwa Satrio sedang mendidih bagaikan lava gunung merapi, setiba nya di kantor Satrio menghubungi Ani dengan harapan bisa meredam gejolak panas jiwa nya.
" Assalamualaikum Dik Ani apa sedang sibuk?"
Tanya Satrio melalui telepon .
" Wa'allaikumusallam Mas ini lagi duduk saja menemanu anak nya mainan ada apa Mas kok tumben telepon siang - siang apa tidak ke kantor?"
Kata Ani sambil senyum ramah.
Di saat itu sebenar nya terbersit sebuah pertanyaan di dalam hati Satrio apakah Ani sudah menyadari siapa diri nya sebenar nya sebab selama ini Ani masih dengan sebutan Aa tapi siang ini diri nya memanggil Mas seperti dulu saat pertama kali berjumpa.
" Mas kamu baik - baik saja kan kok diam?"
Tanya Ani sambil sesekali melihat hp nya takut nya karena sinyal.
" Iya Dik aku baik - baik saja hanya aku bingung dengan keluarga ku Dik mereka mau sampai kapan zalim dan serakah seperti itu?"
Jawab Satrio sambil menghela nafas sebab terasa sesak dada nya.
" Maaf ya Mas bukan aku mau ikut campur dengan keluarga mu Mas tapi bagaimana pun juga sudah 3 tahun kita bersama dan aku tau betul bagaimana watak mu kalau sudah lepas kendali."
Kata Ani sambil berdiri di teras rumah nya.
" Iya Dik aku harus bagaimana dengan mereka aku terikat dengan kata balas budi sedangkan sampai kapan mereka seperti itu?"
Tanya Satrio dengan nada sedih.
" Mas semua itu ada batasan nya tidak bisa kamu terus seperti itu kepada mereka kamu harus tegas Mas aku tau bagaimana pun juga mereka saudara mu tapi kamu juga berhak bahagia menikmati semua nya bukan terus di perbudak mereka Mas."
Kata Ani memberi penekanan kepada Satrio yang sedang bimbang.
" Iya Dik terimakasih sudah mengingat kan aku dan masih mau sabar selama ini."
Jawab Satrio sambil menahan sesak di dada nya.
" Mas aku tidak pernah berubah dan aku sampai detik ini masih menyayangi mu juga aku selalu menunggu kedatangan mu untuk menjemput ku dan anak - anak Mas agar kita bisa hidup bersama."
Kata Ani yang tanpa terasa menetes air mata nya.
" Iya Dik akan aku usahakan secepat nya datang untuk meminang mu dan membawa mu pergi untuk tinggal bersama."
Jawab Satrio dengan senyum menghiasi wajah nya.
Sekitar 30 menit mereka telepon lalu di akhiri sebab sudah masuk waktu adzan ashar kemudian Satrio pun bergegas menjalan kan sholat begitu pun dengan Ani setelah sholat Satrio dikejutkan ketukan di pintu kantor nya.
TOK ... TOK ... TOK ....
" Masuk."
Kata Satrio sambil melipat sajada nya.
__ADS_1
" Selamat sore Pak saya mau memberi tau bahwa wanita yang berada di kamar hotel no 234 telah sadar apakah di bawa ke kantor polisi sekarang Pak?"
Kata seorang satpam kepada Satrio.
" Jangan biar saya temui apa sebenar nya mau nya dan mengapa dia melakukan hal itu pada saya."
Jawab Satrio sambil memasang jam tangan nya.
Kemudian Satrio dan seorang satpam meluncur ke hotel di mana Rani tertidur sebab obat tidur yang entah dari mana asal nya sedangkan jelas - jelas yang di bubuhkan obat tidur di minuman Satrio namun fakta nya mereka lah yang tertidur lelap, sekitar 20 menit kemudian sampailah di kamar hotel di mana Rani tertidur.
" Assalamualaikum Bu Rani bagaimana nyenyak tidur nya?"
Tanya Satrio sambil duduk di sebuah sofa.
" Satrio apa yang kamu laku kan kepada ku bukan kah tadi kita berada di ruang meeting tapi mengapa sekarang aku dan kamu di kamar hotel pasti kamu bertindak macam - macam pada ku."
Kata Rani sambil menarik selimut untuk menutupi bagian bawah nya.
" Bu Rani kamar ini ada cctv nya bila saya bertindak yang tidak pantas pasti terekam bukan?"
Jawab Satrio sambil tetap tenang dan senyum namun tatapan nya bagaikan busur panah yang mampu menghujam jantung lawan nya.
" Lalu apa yang kamu ingin kan dari ku ... lepas kan aku sebab aku tidak tau menau dengan urusan kalian berdua."
Kata Rani dengan tatapan yang mencurigakan bagi Satrio.
" Kalian berdua ... siapa yang anda maksud Bu Rani bisa anda share dengan saya siapa yang anda maksud dan saya berjanji akan melepaskan anda asal anda bicara jujur."
Kata Satrio sambil senyum memandang kepada Rani.
Jawab Rani dengan wajah ketakutan.
" Lalu mengapa anda menyetujui prihal tersebut apakah anda tidak tau hal yang anda laku kan tersebut bisa saya laporkan kepada pihak yang berwajib?"
Tanya Satrio dengan tenang namun mampu membuat lawan nya bergetar ketakutan.
" Apa pun aku lakukan demi keselamatan Ibu ku kalau pun aku harus mendekam di dalam penjara asal kan Ibu ku tetap hidup aku ikhlas."
Jawab Rani sambil membasuh air mata nya yang berderai di pipi nya.
" Ibu ada apa dengan Ibu anda?"
Tanya Satrio sambil mengerlingkan mata nya.
" Aku membutuhkan biaya yang lumayan besar untuk biaya Ibu ku transplantasi ginjal Ibu ku maka dari itu aku akan melakukan apa pun demi Ibu ku."
Jawab Rani dengan nada pasrah.
" Baik bila begitu mari kita ke rumah sakit dan kita urus semua masalah transplantasi Ibu anda."
Kata Satrio sambil bangkit dari duduk nya.
" Tapi Tio ..."
__ADS_1
Kata Rani yang bingung dengan sikap Satrio.
Namun saat itu Satrio hanya senyum dan berjalan membuka pintu dan berkata menunggu Rani di depan pintu kemudian 15 menit kemudian mereka berdua pun menuju ke rumah sakit dan selama perjalanan begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikiran Rani mengenai Satrio.
Seumur hidup baru kali ini aku menemui mahkluk seperti Satrio ini bahkan aku yang sudah jahat kepada nya pun dia masih mau menolong ku sungguh mulia hati nya lalu mengapa Gustavito ingin menyingkirkan Satrio apa yang salah dengan Satrio andaikan saja dia mengajak ku menikah maka aku tidak akan mampu menolak nya.
Gumam Rani dalam hati sambil sesekali melirik ke arah Satrio yang fokus mengemudi menuju rumah sakit di mana Ibu nya Rani di rawat dan setiba nya di rumah sakit Satrio mengurus semua biaya operasi transplantasi ginjal bahkan biaya pengobatan nya pun sudah di bayar lunas oleh Satrio saat itu Rani tidak bisa berkata - kata melihat kebaikan dan ketulusan Satrio menolong diri nya.
" Tio aku tidak bisa berkata - kata lagi dengan semua yang sudah kamu laku kan kepada Ibu ku dan sekarang aku siap membalas kan sakit hati mu kepada Gustavito."
Kata Rani sambil duduk di samping Satrio di ruang tunggu.
" Astagfirullahalazim ya Allah tidak seperti itu cara membalas dendam yang baik dan saya hanya mau anda bertaubat kembali ke jalan Allah serta tutup aurat."
Jawab Satrio sambil menutup kan saputangan nya ke paha Rani.
" Terimakasih Tio kamu sudah menyadarkan ku dan mulai detik ini aku akan berubah."
Kata Rani sambil senyum merasa malu kepada Satrio.
Sekitar jam 9 malam baru sampailah Satrio di rumah dengan raut wajah yang berseri dan selalu menebar senyuman kepada para pekerja yang berada di rumah nya saat itu Satrio menemui Arik, Elli dan Gunawan yang sedang berada di ruang tv untuk menyampaikan niat nya untuk menikah dengan Ani wanita yang dia sayangi.
" Kebetulan kalian ada di sini sebab ada yang akan aku bicarakan dengan kalian."
Kata Satrio sambil tersenyum kepada mereka bertiga.
" Ada apa Dik Tio seperti nya ada sesuatu yang penting?"
Tanya Gunawan dengan wajah penuh tanya.
" Lusa aku akan melamar seorang wanita yang akan ku jadikan teman hidup di sisa hidup ku dan sekarang aku hanya meminta restu dari kalian."
Kata Satrio sambil menyilangkan kaki dan menatap tajam kearah Arik.
" Siapa wanita yang akan kamu nikahi tersebut apakah dari keluarga yang sederajat dengan kita atau hanya wanita biasa tanpa kasta?"
Tanya Arik dengan tatapan menyepelekan pilihan Satrio.
" Tidak penting bagi ku masalah kasta atau apa pun yang utama dia wanita sholeha yang takut akan Allah dari pada wanita berkasta tapi sikap nya laknatulloh."
Jawab Satrio sambil senyum menatap Arik.
" Baik lah bila itu pilihan mu tapi yang pasti kita semua tidak akan pernah merestui pernikahan mu bila wanita itu tidak sederajat dengan kita!"
Kata Arik sambil bangkit dari duduk nya kemudian di ikuti dengan Elli dan Gunawan.
Ya Allah mengapa niatan baik ku di tanggapi seperti ini dengan keluarga ku lalu bagaimana nanti bila aku memaksakan kehendak ku untuk menikahi Dik Ani dan aku bawa pulang kemari apakah Dik Ani sanggup menghadapi keluarga ku yang gila harta dan kedudukan ini di sisi lain aku juga tidak tega membiarkan Dik Ani tanpa kepastian sedangkan hubungan kita sudah lumayan lama secara jarak jauh.
Gumam Satrio sambil memijat kening nya yang terasa sangat penat menjalani satu hari ini sedangkan di sisi lain Arik di dalam kamar nya sambil memutar otak agar Satrio menggagalkan niatan Satrio untuk menikah sebab Arik sangat takut bila Satrio menikah maka istri nya Satrio akan mengatur Satrio dan menyuruh Satrio untuk mengusir mereka semua.
Lalu apakah yang akan di lakukan Satrio selanjutnya apakah Satrio akan membatalkan niat nya untuk menikahi Ani dan tanpa memberi kepastian kepada Ani demi keluarga nya dan apakah Ani diam saja melihat sikap Satrio yang tanpa memberi kepastian tentang hubungan mereka dan apakah Arik akan sukses menggagalkan niat Satrio untuk menikahi Ani?
Untuk mengetahui jawaban nya ikuti terus kisah nya hanya di SATRIO YANG TERPINGIT ALAM dan jangan pernah lupa selalu dukung author agar rajin update nya.
__ADS_1