SATRIO YANG TERPINGIT ALAM

SATRIO YANG TERPINGIT ALAM
KONTROVERSI BATIN


__ADS_3

Seringkali kita melihat kontroversi di muka bumi ini dan makna kata kontroversi sendiri adalah sebuah pertentangan, kontroversi yang sering kita lihat antar kelompok atau sebuah perilaku yang menentang sebuah ketetapan lalu bagaimana dengan kontroversi batin itu sendiri mari kita ulas di dalam kehidupan Satrio yang harus mengalami nya dan bagaimana peran Ani sebagai seorang istri apakah mampu menenangkan jiwa Satrio yang sedang bergejolak mari kita tilik lebih jauh.


...............


Tanpa terasa waktu berjalan pernikahan Satrio dan Ani sudah satu tahun namun sepanjang pernikahan mereka setiap hari nya hanyalah di isi dengan konflik dan pertengkaran di karena kan perbedaan sudut pandang dan saling mempertahankan ego masing - masing sehingga sangat sulit mempertemukan mereka berdua di satu titik yang sama satu sisi Satrio adalah manusia pilihan Allah yang bertugas menjaga kestabilan bumi ini dan di sisi lain ada Ani yang manusia biasa yang membutuhkan sebuah bukti nyata.


Di situ lah titik permasalahan timbul di tambah lagi dengan keluarga Satrio yang tidak pernah sadar bahwa Satrio bukanlah manusia pada umum nya dan saat ini keluarga Satrio memanfaatkan Ani untuk menghancurkan Satrio lalu apakah sikap yang akan di ambil oleh Satrio untuk menyadarkan istri nya yang menganggap Satrio hanya manusia biasa.


Sore itu Satrio pulang lebih awal yang biasa nya pukul 20.00 baru tiba di rumah namun hari ini pukul 16.00 Satrio sudah tiba di rumah sebab pukul 19.00 Satrio harus sudah tiba di daerah Jawa Timur di sebuah perkebunan milik nya.


" Assalamualaikum Mi."


Kata Satrio sambil senyum kepada istri nya yang sedang duduk di teras belakang.


" Wa'allaikumusallam Bi tumben sudah pulang Bi apa kamu sedang kurang sehat?"


Jawab Ani sambil mencium telapak tangan Satrio.


" Tidak Mi aku baik - baik saja hanya nanti pukul 18.00 aku harus ke bandara maka dari itu aku pulang lebih awal."


Kata Satrio sambil melepas dasi nya dan duduk di samping istri nya.


" Memang kamu mau kemana Bi kok ke bandara segala ... mau aku buatkan kopi kah Bi?"


Tanya Ani sambil memegang tas milik Satrio.


" Boleh Mi ... aku akan ke Jawa Timur ada urusan masalah perkebunan Mi ya sudah aku mandi sebentar kamu buat kan aku kopi ya sayang."


Jawab Satrio sambil senyum dan bangkit dari tempat duduk nya.


Saat itu Satrio pun berjalan menuju kamar nya di ikuti oleh Ani di belakang nya sambil berjalan beribu pertanyaan datang menghampiri pikiran Ani sebab sesungguhnya Ani ingin segera pulang ke kampung halaman nya di sisi lain Ani juga tidak tega setiap detik harus melihat suami nya bekerja banting tulang demi keluarga nya yang tamak.


Sekitar 20 menit kemudian Satrio selesai mandi dan seperti biasa setelah mandi Satrio melaksanakan sholat ashar dan sesudah nya Satrio menyiapkan beberapa berkas yang harus di bawa dan Ani menyiapkan keperluan Satrio.


" Bi kapan kamu berhenti dari semua ini aku benar - benar lelah melihat nya."


Kata Ani sambil menata baju ke dalam koper.


" Maksud nya Mi kamu lelah masalah apa dan aku harus berhenti hal apa?"


Tanya Satrio sambil berdiri di balik meja kerja nya.


" Bi aku sebagai istri mu tidak tega harus melihat mu bekerja banting tulang seperti itu demi keluarga mu yang tidak tau diri itu sedang kan mereka sudah tua harus nya sudah bisa bertanggung jawab atas diri nya sendiri bukan setiap detik bergantung dengan mu Bi."


Jawab Ani sambil pandangan nya tertuju kepada baju yang di pegang nya.


" Mi sedari awal aku sudah menceritakan semua pada mu kan lalu kenapa masih kamu ungkit lagi masalah ini lagi pula aku bekerja mati - matian untuk kamu dan anak - anak juga kok."


Kata Satrio sambil memasukkan beberapa berkas kedalam tas nya.

__ADS_1


" Kamu selalu berkata seperti itu kamu bekerja mati - matian demi aku dan anak - anak tapi bukti nya mana Bi selama ini aku sendiri yang mengurus mereka sedangkan kamu sibuk dengan kehidupan mu sendiri jujur Bi aku lelah dengan semua ini menikah atau tidak menikah sama saja aku sendirian."


Kata Ani mencoba menjelaskan perasaan nya kepada Satrio.


" Stop Mi jangan mulai lagi mengajak ku adu argumen masalah itu lagi aku sudah memberi jawaban nya kenapa aku harus melakukan semua ini jadi tolong kamu bisa pahami posisi ku."


Kata Satrio dengan tatapan tajam dan nada tertahan menahan emosi nya.


" Selalu seperti itu bila di ajak bicara dan selalu aku yang harus mengerti posisi mu Bi lalu kapan kamu bisa mengerti aku yang kamu bilang sebagai istri mu Bi sedang kan kamu selalu sibuk, sibuk dan sibuk dengan dunia mu sendiri."


Kata Ani dengan nada gemetar sebab menahan emosi.


" Sudah cukup Mi kita menikah tidak hanya memikirkan kita berdua tapi keluarga kita juga Mi dan semoga kamu paham dengan kata - kata ku."


Kata Satrio sambil mengenakan sweter nya.


Saat itu Ani hanya mampu menahan sesak di dada nya sebab sampai detik ini suami nya belum mau untuk di ajak pulang kampung ke Mandailing dan Ani pun masih belum paham apa sebenar nya tujuan Satrio sehingga mempertahankan semua harta warisan dari Nenek nya sedangkan harta itulah yang menimbulkan perkelahian antara keluarga Satrio.


Kemudian Satrio pun dengan menahan emosi keluar dari kamar nya sambil membawa koper dan tas yang berisi berkas - berkas perkebunan tanpa berpamitan kepada istri dan anak - anak nya Satrio pergi meninggal kan rumah menuju bandara sepanjang perjalanan hati Satrio terasa perih mengenang pernikahan nya.


Ya Allah mengapa Engkau berikan cobaan begitu berat pada ku satu sisi istri ku orang yang aku sayang dan cinta dia adalah rumah bagi ku untuk melepas lelah dan penat ku dan tempat ku berbagi suka mau pun duka namun kini bagaikan musuh dalam hidup ku dengan semua ke egoisan nya di sisi lain ada amanah dari Nenek ku yang harus ku jaga dengan separuh jiwa dan raga ku Ya Allah mampukah aku menjaga ke dua amanah yang Engkau percayakan padaku?


Tanpa terasa sampailah Satrio di Jawa Timur lalu segeralah diri nya menuju rumah peninggalan milik Nenek nya yang letak nya tidak begitu jauh dari perkebunan apel dan jeruk sesampai nya di rumah itu Satrio di sambut oleh dua orang penunggu rumah yang sudah mempersiapkan semua kebutuhan Satrio selama tinggal di rumah tersebut.


" Dhen Satrio mau mandi dulu apa mau makan malam dulu biar saya siapkan?"


Tanya Mbok Ijah dengan senyum ramah.


Jawab Satrio sambil senyum ramah kepada Mbok Ijah.


" Baik Dhen kalau begitu saya bawa tas nya ke kamar Dhen Satrio."


Kata Mbok Ijah sambil membawa tas milik Satrio menuju kamar nya Satrio di lantai dua.


Kemudian Satrio membuka hp nya untuk memberi kabar kepada Ani bahwa diri nya sudah sampai di rumah namun tidak mendapat balasan dari Ani dan Satrio hanya menghela nafas melepas sesak di dada nya kemudian Satrio bangkit dari duduk nya dan berjalan mengambil kunci mobil setelah itu Satrio memacu mobil nya menuju sebuah restoran bernuansa klasik di kota tersebut dengan harapan melepas penat dan ber memori di masa kecil nya bersama Nenek kesayangan nya.


Setiba nya di restoran tersebut Satrio segera masuk dan duduk kemudian datang lah seorang pelayan restoran membawa buku menu menghampiri Satrio yang sedang fokus menikmati musik yang sedang di bawakan oleh grup band di ujung restoran.


" Selamat malam Tio mau pesan apa?"


Tanya seorang wanita yang berparas manis berdiri di samping Satrio.


" Malam maaf siapa anda bagaimana bisa tau nama saya apakah kita pernah berjumpa sebelum nya?"


Jawab Satrio yang berbalik bertanya dengan tatapan bingung.


" Bagaimana aku bisa lupa Tio kita pernah ada hubungan spesial dulu dan kamu telah menolong keluarga ku di masa sulit dan kamu juga yang mengajarkan aku jadi lebih mengenal Allah apakah kamu semudah itu melupakan aku Tio?"


Tanya wanita itu dengan senyum khas nya dan menyodorkan buku menu kepada Satrio.

__ADS_1


" Ya salam iya aku ingat kamu Ita Analisa Sir kan bagaimana kabar Mama mu sehat kan?"


Jawab Satrio sambil tersenyum lebar sebab berjumpa dengan kawan spesial nya di masa lalu.


" Bila kamu tidak keberatan nanti kita bicara sebab saat ini aku sedang bekerja Tio."


Kata Ita yang masih berdiri di samping Satrio.


" Ok Ta aku tunggu di cafe depan dan aku pesan ini."


Jawab Satrio sambil menyerahkan buku menu yang sudah tertulis pesanan makanan di situ.


Saat itu hati dan pikiran Satrio sempat terhibur dengan alunan musik yang sedang mengalun mampu membawa memori nya kembali ke era tahun 80 an di tambah lagi dengan hadir nya sosok Ita seorang wanita yang dulu pernah mengagumi diri nya disaat Satrio mengejar amanah dari Allah serasa hari ini sebuah surprise bagi Satrio.


Sambil menikmati hidangan yang telah tersaji di hadapan nya Satrio sesekali tersenyum mengenang dulu yang pernah terjadi antara diri nya dan Ita dan dalam hati kecil Satrio merasa geli mengingat masa remaja nya yang banyak di gandrungi kaum hawa namun diri nya tidak pernah merespon nya sedikit pun kemudian sekitar 30 menit kemudian Satrio selesai menikmati sajian di hadapan nya dan meninggal kan restoran tersebut untuk menuju cafe yang letak nya tidak begitu jauh dari restoran tersebut dengan tujuan menunggu Ita pulang kerja.


Dan benar saja tepat pukul 22.00 Ita sudah berada di hadapan Satrio yang sedang menikmati kopi hitam dan mendengarkan alunan musik sambil sesekali melihat hp nya siapa tau Ani membalas chat nya dan ternyata itu hanyalah ekspektasi Satrio.


" Boleh aku duduk di sini?"


Sapa Ita dengan senyum manis nya.


" Hay Ta silahkan aku sedari tadi menunggu mu mau pesan apa kamu Ta?"


Jawab Satrio sambil senyum kepada Ita.


" Jus mangga saja Tio."


Kata Ita sambil duduk di hadapan Satrio.


" Ok ... Ta bagaimana kabar mu dan berapa anak mu?"


Tanya Satrio sambil memesan jus mangga untuk Ita.


" Aku belum menikah jadi anak siapa yang harus aku akui sebagai anak ku dan masalah kabar ku semenjak Mama meninggal aku tinggal di kontrakan dan bekerja di restoran seperti yang kamu lihat tadi lalu bagaimana dengan kabar mu sendiri Tio yang menghilang begitu saja tanpa memberi kabar pada ku?"


Jawab Ita sambil mencoba tersenyum kepada Satrio.


" Inalillahi wa'inalilahirojiun maaf ya Ta aku tidak tau kalau Mama mu sudah meninggal, kabar ku sendiri baik dan aku sudah memiliki dua orang putri."


Kata Satrio sambil senyum kemudian menikmati kopi di hadapan nya.


Kemudian mereka pun saling mengulang memori yang pernah terjadi di antara mereka berdua dan seperti nya hingga detik ini Ita masih mengharapkan Satrio meski Ita sudah mengetahui bahwa Satrio telah menikah dan memiliki dua orang putri di sisi lain saat ini rumah tangga Satrio sedang di hadap kan dengan masalah yang sangat kompleks pertengkaran demi pertengkaran selalu menghiasi antara Satrio dan Ani.


....................


Masalah datang tanpa mengenal waktu dan tempat tanpa harus menunggu orang tersebut siap atau tidak sebab masalah itu sendiri untuk mendewasakan pribadi orang tersebut dan ada kala nya kita harus menyelesaikan permasalah itu sendiri tanpa harus ada satu orang yang membantu semua itu untuk kita menjadi lebih bijaksana tidak harus setiap masalah harus ada orang lain yang membantu atau menolong tapi ada kala nya kita harus jalani sendiri dan hadapi sendiri.


Lalu bagaimana dengan masalah yang di hadapi Satrio dan Ani di masa pernikahan mereka yang selalu di hiasi dengan pertengkaran muncullah Ita kawan spesial Satrio yang seperti nya masih menaruh harap kepada Satrio apakah pernikahan Ani dan Satrio akan berakhir dengan hadir nya Ita atau kah Ani dan Satrio mampu mempertahankan pernikahan nya?

__ADS_1


Untuk mengetahui jawaban nya ikuti terus kisah mereka berdua hanya di SATRIO YANG TERPINGIT ALAM dan jangan pernah lupa selalu dukung author agar rajin update nya.



__ADS_2