SATRIO YANG TERPINGIT ALAM

SATRIO YANG TERPINGIT ALAM
PENGORBANAN DEMI RESTU


__ADS_3

Seringkali kita mendengar bahwa cinta membutuhkan pengorbanan dan memang benar cinta tanpa pengorbanan itu bukan lah sebuah cinta tapi hanyalah rasa kagum semata sedangkan pengorbanan seperti apa yang akan terjadi antara Satrio dan Ani apakah pengorbanan hingga mempertaruhkan nyawa dan harga diri atau kah hanya berkorban perasaan saja, mari kita ikuti ikatan cinta mereka yang berlandaskan hukum Allah.


Sore itu setelah sholat magrib Satrio berniat menghubungi Ani untuk menceritakan semua yang sudah di katakan keluarga nya prihal diri nya akan menikahi Ani dengan harapan Ani memiliki solusi untuk masalah itu.


" Assalamualaikum Dik Ani."


Kata Satrio melalu telepon dengan nada cemas.


" Wa'allaikumusallam Mas ... maaf Mas tadi aku sholat jadi tidak bisa terima telepon dari mu Mas."


Jawab Ani sambil melepas mukena nya.


" Iya tidak apa - apa Dik aku hanya akan menyampaikan sesuatu masalah keluarga ku masalah niat ku untuk meminang mu Dik Ani."


Kata Satrio dengan tatapan menerawang langit.


" Jadi Mas sudah bicarakan hal itu dengan keluarga lalu apakah Mas Satrio juga sudah bercerita masalah kondisi ku kepada keluarga mu Mas?"


Tanya Ani dengan sedikit menahan nafas untuk mendengar jawaban Satrio.


" Belum Dik aku hanya menyampaikan niat ku saja untuk meminang mu dan mereka ...."


Kata Satrio yang sebenar nya tidak tega mengatakan sebenar nya kepada Ani.


" Dan mereka apa Mas ... apa mereka menolak ku atau mereka menghina ku dan melarang kamu berhubungan lagi dengan ku apakah begitu Mas?"


Tanya Ani yang seperti nya mengetahui jawaban nya.


" Iya Dik mereka meminta ku untuk menikah dengan wanita yang sederajat dan mereka membahas masalah kasta sedangkan semua itu tidak ada sebab di hadapan Allah semua sama hanya amal ibadah nya yang membedakan Dik."


Jawab Satrio sambil menahan sesak di dada nya.


" Sudah aku duga Mas keluarga mu seperti itu jawab nya sebab aku tau diri siapa aku dan siapa kamu orang kaya dan berpendidikan sedangkan aku hanya ...."


Kata Ani yang tidak sanggup melanjutkan kata - kata nya sebab air mata nya sudah mengucur.


" Dik Ani itu kan sudut pandang mereka tapi aku beda Dik yang akan kamu nikahi aku Dik bukan mereka jadi aku mohon beri kesempatan meluruskan semua nya."


Jawab Satrio yang mencoba meyakinkan Ani.


" Sedangkan sejak awal kita kenal aku sudah mengatakan bila kita menikah tanpa mendapat kan restu dari kedua keluarga kita aku tidak akan pernah mau Mas."


Kata Ani sambil menghapus air mata nya.


" Iya Dik aku akan berusaha mendapatkan restu itu dari keluarga ku dan keluarga mu apa pun akan aku lakukan demi mendapat kan restu."


Jawab Satrio sambil memutar otak apa yang harus di lakukan kepada keluarga nya.


Sekitar satu jam mereka berdua telepon lalu di akhiri lah telepon mereka berdua untuk menjalankan sholat isaq dan setelah sholat isaq Satrio berniat berbicara kepada Aini kakak dari Arik orang yang di tua kan di keluarga itu dengan harapan Aini memberi restu dan membantu nya berbicara kepada Arik sebagai Ibu kandung Satrio namun seperti nya niat Satrio terhalang dengan Gustavito yang memperkenalkan Nia kepada keluarga.


" Bunda kenalin ini Nia calon istri ku."


Kata Gustavito sambil senyum kepada Arik.


" Cantik kamu nak dimana rumah mu dan pendidikan mu apa nak?"


Tanya Arik sambil senyum dan mengajak nya duduk di sofa ruang keluarga.


" Terimakasih pujian nya Tante ... rumah saya di Bintaro dan saya baru pulang dari Moskow Tante."


Jawab Nia sambil senyum dan memegang tangan Arik sambil sesekali melirik ke arah Gustavito.


" Benar - benar menantu idaman Bunda dan Bunda bangga pada mu Vito bisa membahagiakan Bunda tidak seperti dia mau nikah dengan wanita yang tidak jelas kasta dan status nya."


Kata Arik sambil melirik Satrio yang sedang melewati ruang tamu untuk menuju rumah Aini.

__ADS_1


Astagfirullahalazim ya Allah kuatkan hati hamba ya Allah mampukan aku menghadapi semua ini jangan sampai terselut emosi ku.


Gumam Satrio yang melanjutkan jalan menuju rumah Aini namun seperti nya langkah nya lagi dan lagi di hentikan oleh Gustavito.


" Tio pergi kemana kamu perkenalkan dulu ini calon istri ku dan pasti nya lebih semua nya dari pilihan mu yang tidak jelas."


Kata Gustavito sambil mendekati Satrio dengan senyum menghina.


" Lebih baik tidak jelas di mata kalian tapi kesayangan Allah bukan?"


Jawab Satrio sambil senyum dan menepuk pundak Gustavito kemudian melanjutkan langkah nya menuju rumah Aini.


" Sayang siapa si dia sombong sekali memang nya bidadari apa calon istri nya?"


Kata Nia sambil berdiri di samping Gustavito yang merasa geram kepada Satrio.


Kemudian tidak begitu lama sampailah Satrio di rumah Aini dan masuk lah Satrio kedalam rumah Aini untuk mencari Aini dan ternyata Aini sedang berada di ruang keluarga sedang menyaksikan berita.


" Assalamualaikum Bude Aini apa kita bisa berbicara sebentar dan maaf bila mengganggu waktu nya Bude."


Kata Satrio sambil senyum lalu duduk di hadapan Aini.


" Ada apa Tio tumben sekali kamu menemui ku malam - malam?"


Tanya Aini sambil mematikan tv.


" Begini Bude Aini saya ada niat untuk menikah jadi saya berniat untuk memohon restu kepada Bude Aini."


Jawab Satrio sambil senyum kepada Aini.


" Siapa wanita yang akan kamu nikahi lalu dari keluarga seperti apa apakah setara dengan keluarga kita Tio ingat kita dari keturunan priyayi jangan mencoreng nama besar keluarga hanya demi kebahagiaan mu sendiri."


Kata Aini sambil melirik ke arah Satrio.


Jawab Satrio sambil bersimpu di hadapan Aini.


" Maaf Tio aku tidak bisa memberi restu itu kepada mu dan wanita yang akan kamu nikahi tapi bila kamu masih memaksakan kehendak mu maka bicarakan niat mu itu kepada pinisepuh adat."


Kata Aini sambil menepis tangan Satrio dari kaki nya.


" Baik Bude terimakasih atas saran nya dan saya akan menemui pinisepuh adat."


Jawab Satrio sambil memegang kaki Aini demi mendapat kan sebuah restu.


Setelah itu Satrio pun segera kembali pulang dan bergegas menuju kamar nya untuk mengambil jaket dan kunci mobil dengan tujuan akan mendatangi rumah pinisepuh adat agar segera mendapat kan titik terang masalah nya dan segera terselesaikan dan saat akan melanjutkan langkah kaki nya tiba - tiba ada telepon masuk dari Ani dan Satrio menerima nya terlebih dahulu.


" Assalamualaikum Mas kamu dari mana kenapa dari tadi aku telepon tidak kamu terima Mas?"


Tanya Ani dengan nada khawatir.


" Wa'allaikumusallam Dik Ani maaf Dik aku baru saja pulang dari rumah nya Bude Aini untuk memohon restu dari nya Dik."


Jawab Satrio sambil menutup pintu kamar nya.


" Lalu bagaimana respon Bude Aini Mas apakah sama saja seperti keluarga mu yang lain Mas?"


Tanya Ani dengan nada penasaran.


" Sama saja Dik cuma Bude Aini menyarankan aku membicarakan hal ini dengan pinisepuh adat dan aku ini tadi akan ke rumah pinisepuh adat lalu kamu telepon Dik."


Jawab Satrio sambil duduk di sofa dan memijat pelipis nya yang terasa penat.


" Oh begitu Mas ... ini tadi juga Mama ku dari sini dengan Abang ku lalu Mama membicarakan masalah anak dari teman Mama dan aku tau niat Mama ku ingin mengenalkan aku dengan laki - laki itu Mas."


Kata Ani dengan nada lesu dan bingung.

__ADS_1


" Lalu apa tanggapan mu Dik apa kamu mengiyakan tawaran Mama mu?"


Tanya Satrio dengan membelalak kan mata nya.


" Aku tidak menanggapi nya Mas aku alihkan pembicaraan dan aku pura - pura tidak dengar Mama berbicara apa."


Jawab Ani dengan nada sedih.


" Alhamdulillah kalau begitu Dik percayalah aku pasti bisa lalui semua ini bantu aku dengan doa dan dzikir ya Dik?"


Kata Satrio mencoba senyum meski pikiran nya tidak menentu.


" Mas tapi aku tidak bisa terus seperti ini Mas aku juga butuh kepastian dan kejelasan dari kamu Mas apa kita akan selama nya seperti ini Mas yang pasti aku butuh kamu Mas?"


Kata Ani sambil menangis merasa sesak dada nya menghadapi masalah.


" Iya Dik Ani aku juga tidak bisa terus menerus jauh dari kamu Dik kita harus sepakat berdoa kepada Allah agar kita mendapatkan solusi dari masalah yang kita hadapi."


Jawab Satrio sesekali menyeka air mata di pipi nya.


Di sela - sela mereka sedang telepon terdengar pintu kamar Satrio ada yang mengetuk kemudian Satrio pun bangkit dari tempat duduk nya dan membuka pintu dan ternyata pegawai di rumah Satrio memberi tau bahwa Satrio sedang di tunggu pinisepuh adat di ruang keluarga kemudian segeralah Satrio mematikan telepon nya dan menemui para pinisepuh adat untuk menyampaikan niat nya meminang Ani menjadi teman hidup nya.


" Salam ... maaf Datuk jadi menunggu lama."


Kata Satrio sambil mengatup kan telapak tangan nya.


" Salam ... duduk lah Tio ada yang akan kita bicarakan dengan mu."


Jawab seorang lelaki paru baya dengan pandangan sinis.


" Baik Datuk."


Kata Satrio kemudian duduk di sofa sambil mencoba tenang di hadapan mereka.


" Begini Tio kedatangan kami kemari malam ini untuk memperjelas apakah yang dikatakan oleh Ibu dan Bude mu itu benar bahwa kamu akan menikah dengan wanita yang beda kasta?"


Tanya lelaki itu dengan tatapan sinis.


" Benar Datuk dan saya harap Datuk dan keluarga besar memberi restu untuk pernikahan saya."


Jawab Satrio dengan tegas.


" Kalau bisa tinggal kan wanita itu dan carilah yang setara dengan keluarga besar kita Tio."


Kata Lelaki itu kepada Satrio dengan tegas.


" Maaf Datuk saya tidak bisa meninggal kan wanita yang saya cintai dan sayangi apa pun akan saya lakukan demi dia."


Jawab Satrio dengan tatapan penuh amarah.


" Baik bila itu pilihan mu Tio berati kamu siap menjalani hukum adat dan nama mu di hapus dari nama silsilah apa kamu siap Tio?"


Tanya pinisepuh adat dengan tatapan sinis.


" Baik akan saya terima dengan semua yang kalian ajukan asal setelah saya menjalani hukuman adat itu kalian memberikan restu kepada ku."


Jawab Satrio dengan penuh keyakinan tanpa rasa ragu.


Sungguh pengorbanan yang tidak main - main yang di lakukan Satrio demi mendapatkan kalimat restu sesuai permintaan Ani bahkan Satrio siap nama nya di hapus dari keluarga saat itu seisi ruangan memandang ke Satrio yang siap di hapus nama nya dari keluarga besar hanya demi seorang wanita di situlah mereka berpikir seperti apa wanita itu hingga Satrio melepas semua nya sedangkan selama ini Satrio tidak pernah bergeming saat di suguhkan wanita di hadapan nya.


Lalu bagaimana dengan Ani yang juga berjuang demi mendapat kan restu dari keluarga nya yang sampai detik ini belum bisa menerima pilihan Ani bahkan Abang nya Ani yang paling menentang keras hubungan mereka lalu bisakah mereka melalui semua ini dan mereka bisa bersama dan menikmati ridho Allah.


Untuk mengetahui jawaban nya ikuti terus kisah mereka berdua hanya di SATRIO YANG TERPINGIT ALAM dan jangan pernah lupa untuk selalu dukung author agar rajin update nya.


__ADS_1


__ADS_2