
Setiap manusia memiliki pola pikir yang berbeda - beda belum tentu apa yang kita pikir benar orang lain juga berpikir itu juga benar malah yang sering terjadi kebalikan nya apa yang baik bagi kita orang lain berpikir salah untuk kita, di saat kita gagal banyak orang berkata bahwa kita pemalas tapi di saat kita sukses dan membelanjakan hasil kerja kita mereka akan mengatakan bahwa kita boros itu lah pola pikir manusia yang sering berubah.
Jadi lakukan lah yang terbaik bagi hidup mu sebab hanya diri mu yang akan mengetahui baik dan buruk nya setiap keputusan yang akan kamu ambil bukan orang lain biar saja mereka akan menilai apa tentang diri mu atau bahkan mengatakan bahwa diri mu egois sebab diri mu memiliki tujuan tertentu yang orang lain tidak akan mengetahui hasil nya.
lalu bagaimana dengan keadaan Ani dan Satrio menjalani bahtera rumah tangga nya yang penuh dengan orang - orang yang ingin menjatuhkan Satrio dan bagaimana peran Ani sebagai istri apakah Ani akan mendukung di setiap keputusan Satrio atau malah bertolak belakang mari kita tilik kehidupan mereka.
......................
Tanpa terasa pernikahan Ani dan Satrio kini sudah tiga bulan dan selama tiga bulan ini pula Ani harus berusaha keras untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan keluarga baru nya bukan lain keluarga Satrio yang tidak pernah puas dengan apa yang di miliki sebelum keinginan nya tercapai bukan lain menguasai seluruh aset warisan yang saat ini di kelola oleh Satrio hingga pagi itu terjadi pertengkaran yang hebat antara Ani dan Satrio.
" Bi nanti pulang kerja jam berapa apakah mau lembur lagi?"
Tanya Ani sambil memasangkan dasi ke Satrio.
" Tidak tau Mi sebab kan terkadang semua itu tiba - tiba ada masalah dan harus aku selesai kan memang ada apa Mi kamu tanya begitu?"
Jawab Satrio yang balik bertanya kepada Ani.
"Ada yang akan aku bicarakan dengan mu Bi sebab sudah beberapa minggu ini aku memendam nya dan aku merasa tidak nyaman Bi."
Kata Ani dengan raut wajah murung.
" Ya sudah bicara saja sekarang Mi kenapa harus nunggu nanti."
Kata Satrio sambil mengenakan jas nya.
" Tidak nanti saja kan kamu mau pergi kerja yang ada nanti malah gagal fokus kamu Bi."
Kata Ani sambil merapikan selimut.
" Ok lah kalau itu mau mu Mi."
Jawab Satrio sambil melangkah kan kaki nya keluar dari kamar nya menuju meja makan.
Di sisi lain Ani masih berkutat dengan pikiran nya sendiri sebab selama ini Elli selalu mendekati Ani dan menyarankan kepada Ani agar hidup di kampung nya bersama Satrio sedang kan waktu itu Elli mengajak Ani untuk tinggal di kota hal itu lah yang membuat Ani bingung harus bersikap bagaimana di hadapan keluarga Satrio yang berubah sikap nya akhir - akhir ini.
Saat di meja makan Satrio seperti biasa sarapan bersama ke dua putri kecil nya dan kebetulan sekali saat itu Arik dan Gustafito berada di meja makan itu juga sebab pagi itu akan ada meeting di kantor jadi mereka berdua harus pergi lebih awal.
" Ayo kalau makan jangan berisik ya."
Kata Arik dengan lirikan sinis.
" Iya Nek."
Jawab Aisyah sambil senyum.
Saat itu Satrio hanya senyum melihat ulah putri kecil nya dengan tingkah polos nya namun tidak bagi Arik dan Gustafito yang terlihat geram melihat ulah anak - anak yang bercanda sambil sarapan pagi.
" Tio kamu apa tidak bisa mendidik anak - anak ini agar tau sopan santun?"
Tanya Arik dengan pandangan sebal.
" Benar Tio berisik sekali mereka selalu berteriak mengganggu saja."
Imbuh Gustafito dengan nada sebal.
" Nama nya juga anak - anak ya wajar lah mereka berteriak bercanda dulu waktu kalian masih kecil juga pasti begitu kan?"
Jawab Satrio dengan santai nya.
" Iya aku tau semua anak kecil pasti berisik tapi minimal mereka tau tempat di mana mereka harus teriak dan di mana mereka harus diam Tio dan itu tugas kamu sebagai orang tua yang harus mengarah kan."
__ADS_1
Kata Arik mencoba menjelaskan kepada Satrio.
Saat itu Satrio hanya senyum sambil mengelus kepala Aisyah kemudian mencium kening kedua putri kecil nya dan berlalu pergi menuju mobil nya dan sesaat setelah Satrio pergi ke kantor Ani keluar dari kamar nya untuk meletakkan seprei yang baru saja di ganti nya dan saat di ruang keluarga Ani berjumpa dengan Elli yang sedang menonton acara tv dengan bersama Aini.
" El bagaimana kamu sudah bicara dengan Ani agar Satrio mau di ajak pulang ke kampung nya Ani?"
Tanya Aini sambil menikmati kue bolu.
" Sudah Mbak tapi kalau masalah Ani sudah bicara atau belum kepada Satrio aku tidak tau Mbak ... nah itu Ani."
Jawab Elli sambil menoleh ke arah Ani yang baru saja turun dari tangga.
" An sini sebentar Bude mau tanya."
Kata Aini sambil senyum kepada Ani.
" Iya Bude ada apa?"
Jawab Ani sambil senyum menghampiri Aini.
" An apa kamu sudah berbicara kepada suami mu agar semua aset nya kita saja yang mengurus nya dan Satrio agar bisa fokus kepada kamu dan anak - anak mu An?"
Tanya Aini sambil memegang tangan Ani.
" Benar An kita sering kasihan melihat mu harus urus anak - anak mu sendiri sedang kan Satrio sering keluar kota kadang pulang nya pun sampai larut malam."
Kata Elli dengan nada pelan.
" Iya Bude dan Tante niat saya nanti malam akan membicarakan hal itu kepada Abi nya anak - anak sebab bagaimana pun juga anak - anak juga butuh sosok seorang Ayah sedang kan Mas Satrio selalu sibuk dan sibuk."
Jawab Ani dengan menunduk kan wajah nya.
" Maka dari itu An kalau Satrio tetap di Jakarta pasti seperti itu lebih mendahulukan pekerjaan nya di banding dengan keluarga nya tapi kalau dia di kampung mu sana kan dia bisa penuh memberi perhatian An?"
" Sudah tidak perlu khawatir masalah bisnis keluarga kan masih ada Om Gunawan, Mbak Arik dan Gustafito kita semua pasti bantu An."
Kata Elli mencoba meyakinkan Ani.
" Iya Tante saya percaya lagi pula bagaimana pun juga kan kalian semua keluarga nya Mas Satrio tidak mungkin lah akan mencelakakan Mas Satrio."
Jawab Ani sambil senyum kepada Elli.
" Nah itu kamu tau An kami semua itu sayang dengan rumah tangga mu yang baru seumur jagung masak harus bubar hanya karena ke egoisan Satrio lebih mementingkan bisnis keluarga An?"
Kata Aini yang kesan nya perhatian.
Saat itu Ani hanya bisa diam dan menunduk sambil berfikir bagaimana cara berbicara dengan Satrio yang pola pikir nya beda dengan orang umum nya mungkin baik bagi orang lain namun belum tentu baik bagi diri Satrio setelah beberapa saat kemudian Ani pun mohon izin untuk meletakkan cucian kotor sambil melangkah kan kaki nya menuju dapur pikiran dan hati Ani masih saja berkutat dengan beribu pertanyaan.
Tepat pukul 20.00 Satrio tiba di rumah nya dan seperti biasa sesampai nya di rumah Satrio segera mandi setelah itu menjalankan sholat isaq sedangkan Ani menemani kedua putri nya dan menidur kan nya, saat itu Satrio duduk di balkon depan kamar nya sambil menikmati secangkir kopi dan pandangan nya lurus ke depan menatap rembulan.
Ya Allah saat ini istri ku sudah terprovokasi dengan keluarga ku dan pasti nya istri ku berfikir keluarga ku miliki niat baik namun keluarga ku berkata demikian demi kepentingan pribadi ya Allah berilah jiwa bijaksana pada hamba.
Bergumam lah dalam hati Satrio saat itu tiba - tiba Ani menghampiri Satrio yang sedang berdiri di balkon dan memeluk nya dari belakang sambil menyandarkan kepala nya ke punggung Satrio sambil berkata.
" Bi aku lelah aku juga bingung apa keinginan keluarga mu sebenar nya."
Kata Ani sambil memeluk tubuh Satrio dari belakang.
" Apa yang kamu bingung kan Mi bukan nya kamu sudah paham seperti apa keluarga ku."
Kata Satrio sambil senyum melirik ke arah istri nya.
__ADS_1
" Bukan begitu Bi mereka dulu yang menyuruh aku ke sini lalu sekarang mereka juga yang menyuruh aku untuk berbicara dengan mu."
Kata Ani masih memeluk tubuh Satrio.
" Berbicara masalah apa Mi apakah ada masalah penting Mi?"
Tanya Satrio sambil membalik kan badan nya memeluk Ani.
" Jadi begini Bi bagaimana kalau kita pulang ke mandailing saja lalu kita buka usaha apa lah dan tinggal kan semua itu bisnis kamu sebab aku merasa semakin kesini kamu tidak ada waktu untuk aku dan anak - anak kamu selalu saja sibuk dengan bisnis mu."
Jawab Ani sambil menyandarkan kepala nya ke dada Satrio.
" Mi aku hidup itu hanya untuk menjalankan amanah dari Allah dan dari almarhum Nenek jadi kalau kamu mengajak aku pulang ke Mandailing dan tinggal di sana berati timpang dong Mi?"
Tanya Satrio sambil senyum mencium kening istri nya.
" Kalau begitu apakah aku dan anak - anak bukan amanah bagi mu Bi atau jangan - jangan kamu tidak pernah menganggap kami ada selama ini jadi yang ada dalam pikiran mu hanya harta dan harta saja Bi?"
Kata Ani yang balik bertanya kepada Satrio.
" Bukan begitu Mi semua itu kan harus imbang antara kehidupan pribadi dan kehidupan sosial kita kalau kita hanya memikirkan kehidupan pribadi saja berati kita egois dong Mi."
Kata Satrio mencoba menjelaskan kepada Ani.
" Lalu dengan sikap mu seperti itu kamu berfikir tidak egois begitu Bi kamu yang selalu mementingkan mendahulukan orang lain bahkan keluarga mu sedangkan anak dan istri mu terabaikan selama ini apa kamu tau hal itu Bi?"
Kata Ani yang mulai tersulut emosi nya.
" Aku tau Mi tapi setidak nya aku masih bisa membagi waktu antara pekerjaan di kantor dan untuk kalian kalau pun itu masih kurang apa yang kamu inginkan Mi?"
Tanya Satrio yang masih mencoba sabar.
" Aku mau kita pulang ke Mandailing buat usaha dan tinggal kan semua itu harta mu atau apalah itu kita buka lembaran baru Bi aku sudah tidak kuat harus kumpul dengan mereka."
Jawab Ani sambil menatap wajah Satrio.
" Maaf Mi aku tidak bisa mengabulkan keinginan mu yang satu ini sebab aku harus menjaga amanah dari Allah dan dari almarhum Nenek."
Kata Satrio sambil melepaskan pelukan Ani.
" Kalau begitu kamu lebih memilih keluarga mu dari pada anak dan istri mu Bi lalu untuk apa kamu dulu menikahi ku kalau ternyata aku harus tersiksa batin ku."
Kata Ani sambil menarik lengan Satrio.
" Tolong mengerti posisi ku Mi dan aku pun sudah menjelaskan bahwa kamu dan anak - anak adalah amanah dari Allah jangan berfikir yang tidak - tidak."
Kata Satrio yang mulai kehabisan kata.
" Semua laki - laki sama saja egois ingin menang sendiri tanpa memikirkan perasaan pasangan nya."
Kata Ani sambil berlalu pergi dari hadapan Satrio.
Saat itu Satrio hanya bisa diam melihat istri nya berlalu pergi dari hadapan nya sebab sudut pandang yang berbeda dan pola pikir Ani sangat simpel dan hanya berfikir sesaat beda dengan pola pikir Satrio yang pola pikir nya sampai akhirat sebab semua tingkah laku kita di bumi pasti akan di pertanggung jawab kan di hadapan Allah.
.....................
Di saat kita memutuskan untuk menikah dan saat itu kita seyogyanya kita juga sudah siap dengan konsekuensi nya ya itu perbedaan pendapat dan sudut pandang sebab setiap manusia pasti memiliki pola pikir yang berbeda - beda juga dan sering kali banyak orang saat mendengar kalimat orang ke tiga pasti langsung tertuju kepada pelakor atau pembinor padahal yang paling bahaya orang ke tiga itu adalah keluarga terdekat itu sendiri yang jadi orang ke tiga dalam pernikahan.
Lalu bagaimana kah Satrio menghadapi dan mendidik istri dan anak - anak nya agar tidak terbawa arus perkataan dari keluarga nya yang memang ingin menjatuhkan Satrio dan bagaimanakah Ani menyikapi semua sikap keluarga Satrio yang tamak tersebut?
Ikuti terus kisah mereka berdua hanya di SATRIO YANG TERPINGIT ALAM dan semoga dapat di petik nilai positif di setiap bab nya dan jangan pernah lupa selalu dukung author agar rajin update nya.
__ADS_1