SATRIO YANG TERPINGIT ALAM

SATRIO YANG TERPINGIT ALAM
PERSIMPANGAN CINTA


__ADS_3

Sering kali kita berdiri di sebuah persimpangan saat di hadap kan pada sebuah pilihan bukan? Kita banyak mempertimbangkan sebelum melangkah mengambil suatu keputusan untuk langkah kita yang terkadang pertimbangan itu sendiri akan menyulitkan langkah kita untuk maju dan mencapai tujuan awal.


Namun apabila kamu fokus pada tujuan awal untuk mencapai sesuatu maka akan ringan lah jalan mu, Di setiap pergulatan atau permainan pasti ada yang kalah dan juga ada yang memenangkan bukan? Maka dari itu bagi yang menang jangan tinggi hati dan yang kalah harus lebih lapang dada menerima kekalahan.


..........


Tanpa terasa waktu terus berjalan hari berganti hari, Minggu berganti minggu, Bulan berganti bulan bahkan Tahun telah berganti tahun, Tanpa terasa sudah 6 tahun berlalu Satrio masih duduk dan memejamkan mata nya sambil berdzikir kepada Allah tanpa henti - henti nya dan malam itu tiba - tiba keluarlah dari dalam sebuah kawah yang pijar sebuah kitab dan masuk ke dalam tubuh Satria beberapa menit kemudian terbukalah mata Satrio.


Sudah jam berapa ini sudah kah adzan, Mengapa begitu banyak rumput di hadapan ku bukan nya tadi waktu aku memejamkan mata disini tidak ada rumput?


Gumam Satrio dalam hati sambil melangkah kan kaki nya untuk membasuh wajah nya dan saat itu Satrio mulai merasa aneh dan terkejut melihat diri nya sendiri yang awal nya Satrio berjambang dan berkumis saat ini tidak ada lagi jambang dan kumis nya, Bulu di tangan nya pun berubah menjadi bulu halus yang panjang - panjang, Saat itu Satrio belum mengetahui saat ini tahun berapa sebab dalam benak Satrio diri nya hanya terpejam beberapa jam saja.


Setelah mengambil air wudu Satrio melaksanakan Sholat setelah sholat Satrio memohon petunjuk kepada Allah apa yang harus dia lakukan kedepan nya, Kemudian terdengar lah sebuah kalimat yang sangat jelas di telinga Satrio saat itu.


Anak Ku kau telah melewati segala ujian dari ujian kekayaan hingga ujian kehilangan sesuatu yang sangat kau sayang dan kau melewati nya dengan baik maka sekarang lah saat nya kau mendapatkan upah mu, Ambil lah upah mu yang berada di barat, Maka jaga, rawat dan sayangi lah pemberian Ku seperti engkau menyayangi diri mu sendiri.


Setelah mendengar kata - kata itu Satrio mulai memutar otak, Berbentuk apakah upah ku itu apakah hewan, tubuhan atau manusia dan ada apa dengan tubuh ku mengapa berubah.


Saat ini kamu bukan lah Satrio yang banyak orang kenal namun orang akan mengenal mu dengan nama Widhi dan wajah mu berbeda dengan usia mu serta watak mu pun juga berubah sesungguhnya dengan seperti itu maka kamu lebih muda mendapat kan upah mu di barat sebab Aku sudah menampung air mata nya selama ini di sepertiga malam nya.


" Ha? Usia ku saat ini 30 tahun lalu apakah wajah ku menjadi lebih tua dari usia ku."


Kata Satrio dengan wajah bingung.


Namun seperti nya tidak ada jawaban sama sekali saat itu lalu Satrio pun memutuskan untuk turun gunung menuju perkampungan yang terletak di lereng gunung itu, memang sudah jadi adat Satrio bila berjalan menunduk seperti orang yang mencari sesuatu yang terjatuh dan benar sepanjang jalan Satrio menemukan uang hingga terkumpul menjadi 150 ribu uang di tangan nya.


Kemudian Satrio masuk ke sebuah warung bubur kacang hijau untuk memesan kopi saat itu Satrio lumayan bingung saat melihat kalender yang tergantung di tembok tertera angka 2016.


Ini mata ku yang soak apa memang bener sekarang tahun 2016 ya? berarti aku di gunung selama 6 tahun dong? kok sudah 6 tahun saja perasaan aku cuma tidur semalam.


Gumam Satrio sambil menggaruk kepala nya sambil menunjuk tanggalan yang menggantung di tembok, Kala itu pedagang kopi nya pun menjawab pertayaan Satrio dan seakan mereka berdua sudah akrab bahkan memanggil Satrio dengan sebutan nama Widhi.


" Hemmm ... maka nya mandi dulu Wid biar nyambung, semalam kan kamu tidur di mushola depan pas tahun baru ya berati itu kamu tidur semalam sama saja tidur setahun ... ini kopi nya panas jangan main minum saja."

__ADS_1


Kata pedang kopi itu sambil menyerahkan kopi kepada Satrio.


" Nah lo kok Babe tau nama saya Widhi memang kita pernah ketemu gitu Be?"


Jawab Satrio yang kini orang mengenal nya nama Widhi.


" Bagaimana tidak kenal pan kamu yang dagang tisu, masker dan bolu bandung di jembatan situ, wah kayak nya kejatuhan pemukul bedug jadi amnesia dah."


Kata pedagang kopi sambil menunjuk ke arah jembatan penyebrangan.


" Emang iya Be? emang ini tanggal berapa dan hari apa Be kok aku lupa ya?"


Jawab Widhi sambil masih bingung dengan yang dihadapi.


" Ini hari selasa tanggal 2 januari Wid, udah apa lagi kamu yang lupa? Sama pacar kamu lupa juga kagak? Kalau sampai lupa juga kebangetan dah."


Kata pedagang kopi sambil geleng - geleng kepala melihat Widhi yang nampak ling lung kala itu.


Tidak begitu lama terdengar lah adzan dhuhur dan segera lah Widhi menuju ke masjid untuk melaksanakan sholat ber jama'ah, saat itu pedagang kopi makin terlihat bingung melihat nya sebab yang di ketahui tukang kopi itu Widhi itu pedagang asongan yang playboy setiap hari gonta - ganti perempuan dan masalah agama itu kurang benar sholat pun hanya isaq dan subuh saja sebab isaq dia mau tidak mau ikut sholat sebab setelah itu dia tidur di masjid itu dan sholat subuh sebab dia baru bangun tidur dan sholat di jam yang lain pasti jawab nya sedang dagang.


" Assalamualaikum nak kenapa dengan mu?"


Kata Syeh Mahdi sambil senyum dan menepuk lutut Widhi yang sedang duduk di depan masjid.


" Eh buset kaget kan ... Wa'alaikumusallam Syeh, maap Syeh saya sedang bingung bahkan saya lupa ini tahun berapa, tanggal berapa dan dulu saya siapa yang saya tau saya turun dari gunung."


Jawab Widhi yang memang sudah berubah sikap nya bahkan bagaikan orang lain bukan lah Satrio.


Satrio yang dulu selalu berbicara serius dan bila tidak penting maka Satrio akan diam tidak pernah menggoda perempuan bahkan saat berpapasan Satrio akan menunduk sebab menjaga pandangan nya sedangkan saat ini Widhi semua di gombalin mulai dari yang berwujud manusia sampai yang tidak berwujud manusia semua terkena rayuan maut nya.


Saat itu Syeh Mahdi menjelaskan semua yang sudah terjadi dan apa tugas Widhi saat ini ya itu mengambil upah dari ketaatan nya kepada Allah dan Widhi harus mencari, Petunjuk yang di dapat hanya kata Barat sejenak Widhi memutar otak bagaimana cara menemukan sedangkan begitu banyak orang di muka bumi ini.


Di sisi lain kita coba melihat kehidupan Ani dan Faizal yang sudah menikah selama 6 tahun sudah bahagia kah kehidupan rumah tangga Ani dan Faizal? Ternyata rumah tangga mereka sedang di dalam prahara di mana Faizal makin semena - mena kepada Ani bahkan Ani hanya di anggap benar - benar budak bagi Faizal dan lebih fatal nya baru saja Ani melahirkan anak kedua nya namun Faizal sudah minta di layani di situ lah titik puncak amarah Ani kepada Faizal.

__ADS_1


" Ani lekas bangun buat kan aku makan serta buat kan aku kopi sudah lapar aku."


Kata Faizal sambil bangun dari tempat tidur nya.


" Kau bisa lihat tidak anak nya masih menyusu lagi pula baru tadi pagi aku melahirkan sekarang aku sudah kau suruh berberes rumah dan masak sebenar nya otak mu di mana?"


Kata Ani sambil masih menyusui bayi nya dengan rasa jengkel.


" Oh ... sudah berani melawan kau sekarang sama aku ya siapa yang mengajari mu melawan ku."


Jawab Faizal sambil memalingkan wajah nya ke Ani.


" Sikap kau yang mengajari ku jadi berani melawan kau, kau selalu menuntut hak kau sama ku sedangkan kau sudah jalan kan belum kewajiban kau sebagai suami selama ini?"


Kata Ani yang sudah tidak mampu menahan sesak di dada nya.


" Sudah bukti nya aku memberi nafkah batin pada mu dan aku juga sudah melindungi kau selama ini."


Jawab Faizal dengan senyum melecehkan di hadapan Ani.


" Memang di otak mu yang ada hanya itu saja Zal sejak dulu, selama kita menikah mana pernah kau memberi uang belanja pada ku bahkan biaya melahirkan itu pakai uang ku sendiri mana yang kata nya kau suami ku?"


Kata Ani sambil memeluk erat bayi nya yang masih merah.


Sore itu terjadi pertengkaran hebat antara Ani dan Faizal dan Ani minta cerai kepada Faizal sebab sudah tidak kuat lagi dengan ulah Faizal yang makin menjadi - jadi, Yang ada dalam hati Ani saat itu hanyalah bagaimana membesarkan kedua anak nya yang masih kecil - kecil.


Tidak ada lagi cinta di hidup ku yang ada bagaimana caraku membesar kan anak - anak ku, Semua laki - laki sama saja yang di dalam otak nya hanya na**u saja.


Gumam Ani dalam hati sambil membasuh air mata nya yang tidak mampu di tahan lagi, Di sisi lain ada widhi yang sudah melupakan Ani dan begitu pun Ani yang sudah melupakan sosok Satrio yang dulu pujaan hati nya dan bagi Ani mungkin Satrio sudah bahagia hidup dengan istri nya dan hanya nasib nya saja yang sedang buruk harus menerima perlakuan Faizal yang super egois.


.........


Hemmm ... saat ini Satrio sudah di rubah oleh Allah menjadi Widhi sebuah sosok yang humoris dan tukang gombal sedang kan Satrio yang dulu bijaksana, tenang, penuh kasih sayang dan suka menolong siapa pun masih di pingit oleh alam di puncak gunung hingga masa nya tiba setelah misi nya Widhi berhasil maka sosok jiwa Satrio itu akan di lepas kan dari pingitan alam.

__ADS_1


Bagaimana reader apakah kalian masih penasaran apakah Widhi mampu menyelesaikan misi nya dan menemukan upah yang terletak di barat dan bagaimana cara nya Widhi mendapat kan upah dari Allah itu?


Ikuti terus setiap bab nya untuk menjawab rasa penasaran para reader dan jangan pernah lupa selalu dukung author dengan like, komentar, rate dan favorit agar saat author update kalian lah pembaca pertama nya.


__ADS_2