
Dikotomi adalah istilah yang menunjukkan partisi atau pembagian dari suatu keseluruhan menjadi dua bagian dengan kata lain dari beberapa bagian ini harus saling bebas setiap anggota nya, contoh dari kalimat Dikotomi adalah sering kali manusia membuat dikotomi atau pemisah antara urusan ke duniawian dan urusan kehidupan akhirat nya mereka memisahkan antara urusan kesuksesan dalam pekerjaan dan bisnis nya dengan kesuksesan kerohanian nya untuk urusan akhirat nya sedang kan semua itu saling berkesinambungan satu dengan yang lain nya, bukan kah begitu kawan?
............
Pagi itu setelah sholat subuh Satrio keluar dari kamar nya dengan raut wajah yang bersinar dengan senyuman selalu menghiasi wajah nya dengan langkah kaki yang pasti Satrio menuruni setiap anak tangga menuju meja makan kemudian menarik kursi dan mulai mengambil roti di hadapan nya sambil mengenang masa kecil nya bersama Nenek nya dan Mbak Elli yang dulu sangat menyayangi nya.
Namun saat ini Mbak Elli sudah berubah 180° sebab terkena hasutan dari Bude Aini dan Mbak Arik bukan lain seorang wanita yang melahirkan Satrio di tengah Satrio mengenang semua itu datang lah Gustafito anak angkat Arik yang juga sangat membenci Satrio.
" Tumben makan roti biasa nya juga pisang goreng punya satpam yang kamu makan Tio?"
Kata Gustafito sambil senyum menghina Satrio.
" Hidup itu penuh perubahan dan semua itu memiliki ritme nya sendiri begitu juga dengan selera bukan kah begitu Fito?"
Jawab Satrio dengan tenang dan sesekali melirik ke arah Gustafito yang duduk di samping nya.
" Ya memang tapi setahu ku orang kampung seperti mu memang selera nya tidak pernah berkelas apa lagi yang bergizi mana kenal kalian?"
Kata Gustafito sambil mengambil segelas susu di samping nya.
" Bila begitu apakah malam harus berkenalan dengan siang agar mengatahui fungsi apa itu matahari dan apakah kesombongan bisa di kikis dengan kebijakan agar mengetahui imbas sebuah hukuman bagi orang zalim Fito?"
Jawab Satrio dengan tatapan tajam dan senyum yang mampu menjatuhkan lawan nya.
Saat itu Gustafito merasa geram sebab semua kata - kata Satrio tidak bisa di balas dengan hinaan namun yang terjadi kata - kata Satrio bagaikan sebilah silet yang secara perlahan menyayat perasaan Gustafito pagi itu.
Sial anak kampung ini semakin pandai berbicara dan pagi ini sudah menyinggung perasaan ku lihat saja kamu akan aku hempas kan dari rumah ini anak gembel!
Gumam Gustafito dengan tatapan tidak suka kepada Satrio yang saat itu menikmati susu segar di hadapan nya, dengan tenang Satrio bangkit dari tempat duduk nya dan senyuman yang khas menoleh ke arah Gustafito yang masih gusar dengan kata - kata Satrio.
" Fito maukah kamu menemani ku bersepeda pagi ini agar bugar badan mu dan sehat jiwa mu yang sudah lama sakit?"
Tanya Satrio sambil senyum kearah Gustafito yang sedang menikmati roti bakar.
" Memang nya kamu pikir aku gila sampai - sampai kamu kata kan sakit jiwa ku Tio dan bukan kah kamu sendiri yang terganggu kejiwaan nya?"
Jawab Gustafito tanpa melihat ke Satrio.
" Benar sekali jiwa ku sangat terganggu saat melihat semua ke zaliman, ke munafikan, ke sombongan dan ke dengkian maka dari itu aku mengajak mu ber sepedah keliling kampung agar aku sembuh dari gangguan jiwa ku Fito?"
Jawab Satrio sambil mulai melangkah kan kaki berdiri di belakang Gustafito dan kedua tangan nya memegang pundak Gustafito.
Kata - kata Satrio begitu halus dan sangat lembut kepada Gustafito namun bila di pahami kata - kata tersebut memutar balik kan keadaan dan judge kepada Gustafito bahwa sikap angkuh, congkak, sombong dan munafik nya Gustafito lah yang sesungguhnya mengganggu jiwa Satrio saat ini, kemudian Satrio pun pergi meninggalkan Gustafito di meja makan dengan rasa penuh dendam dan berusaha membalas semua hinaan dari Satrio kepada nya.
__ADS_1
" Kang Salim kenapa wajah nya pucat begitu apakah sedang sakit atau belum sarapan?"
Tanya Satrio sambil menuntun sepeda gunung nya.
" Sejak semalam saya demam Tuan."
Jawab Salim sambil duduk di pos satpam dekat pagar.
" Sudah tau sakit kenapa memaksakan masuk kerja Kang?"
Kata Satrio sambil berjalan mendekati Salim.
" Saya takut di pecat Tuan Gustafito kalau saya di pecat lalu anak istri saya makan apa Tuan Satrio?"
Jawab Salim sambil menggigil menahan demam dibadan nya.
" Ya sudah sekarang Kang Salim ikut dengan saya ya dan jangan takut di pecat."
Kata Satrio sambil membopong Salim masuk ke mobil milik Satrio.
Saat itu Satrio segera membawa Salim menuju rumah sakit terdekat dan saat di periksa dokter ternyata asam lambung Salim sudah sangat parah dan harus rawat inap saat ini bila tidak nyawa nya akan terancam kemudian Satrio pun mengurus semua administrasi rumah sakit untuk Salim agar segera mendapat kan perawatan secara intensif.
Setelah dari rumah sakit segera Satrio menuju rumah nya Salim untuk mengetahui mengapa bisa Salim mengalami sakit asam lambung akut apakah dari pola makan yang salah atau kah ada hal lain yang membuat nya hingga asam lambung nya naik dan sekitar 30 menit kemudian sampailah Satrio di depan rumah Salim yang terletak di sebuah perkampungan yang kurang sehat dan di situ pun Salim dan keluarga nya hanya lah mengontrak sebuah rumah yang sangat sempit.
Kata Satrio memberi salam kepada seorang wanita yang di yakini istri nya Salim.
" Wa'allaikumusallam Tuan Satrio ... kok tumben kemari apakah suami saya membuat masalah di rumah Tuan?"
Jawab wanita itu dengan wajah dan nada sangat khawatir.
" Tidak Mbak ... apakah saya boleh duduk?"
Kata Satrio sambil tersenyum menenangkan.
Setelah Satrio di persilakan duduk mulai lah Satrio bertanya banyak hal dari berapa anak nya Salim sampai berapa gaji Salim selama bekerja di rumah nya Satrio di situ Satrio baru mengerti bahwa selama ini laporan pengeluaran di rumah nya selama ini bohong dan Gustafito sudah begitu banyak mencuri gaji para pekerja.
" Astagfirullahalazim jadi seperti itu ya Mbak ... kalau begitu sekarang Mbak ikut saya ya jangan takut Mbak saya tidak membawa Mbak ke polisi kok."
Kata Satrio sambil senyum memandang istri Salim yang ketakutan.
" Tapi suami saya tidak di pecat kan Tuan?"
Tanya istri Salim dengan wajah takut.
__ADS_1
" Tidak Mbak ... tidak ada yang akan memecat Kang Salim."
Jawab Satrio mencoba menenangkan istri Salim.
Kemudian mereka berdua pun masuk kedalam mobil dan menuju ke sebuah pasar tradisional terdekat saat itu Satrio membelanjakan semua bahan pokok untuk keluarga Salim saat di rasa Satrio itu sudah cukup kemudian Satrio memerintah seseorang untuk mengantar ke rumah Salim sedangkan istri nya Salim di bawa oleh Satrio ke rumah sakit untuk menemui Salim yang sedang di rawat saat itu air mata Salim dan istri nya tidak mampu terbendung melihat kebaikan dan perhatian Satrio kepada diri nya dan keluarga nya.
" Tuan saya tidak tau harus dengan apa membalas kebaikan dan perhatian Tuan kepada saya dan keluarga saya."
Kata Salim sambil menyeka air mata di pipi nya.
" Aku hanya meminta kalian bersyukur kepada Allah sebab semua yang kalian terima itu kebaikan Allah di hidup mu bukan karena aku dan aku hanya lah penyambung tangan Allah untuk menolong mu dan keluarga mu Kang Salim."
Jawab Satrio sambil senyum dan memegang telapak tangan Salim yang terkulai lemas di bad rumah sakit.
" Subhanallah sungguh mulia hati mu Tuan sungguh berbeda dengan Tuang - Tuan dan Nyonya - Nyonya di rumah Tuan."
Kata istri Salim sambil masih menangis.
" Mereka juga baik kok Mbak hanya saja saat ini mereka sedang tersesat dan belum menemukan jalan untuk kembali ke jalan Allah saja Mbak."
Jawab Satrio sambil masih senyum memandang ke arah istri nya Salim.
" Tuan saya mengucap kan banyak terimakasih sebab sudah membawa saya berobat serta sudah membelikan sembako untuk keluarga saya."
Kata Salim sambil masih berderai air mata.
" Iya Kang Salim kita di bumi ini bertugas menabur kebaikan saling menolong dan membantu sesama lalu nantilah di akhirat kita akan menuai semua yang sudah kita tabur, ya sudah aku mohon pamit ya Kang Salim assalamualaikum."
Kata Satrio sambil senyum dan memohon pamit kepada isteri nya Salim dan Salim.
" Baik Tuan Wa'allaikumusallam."
Jawab Salim beserta istri nya dengan kompak.
Begitulah sifat Satrio dalam menyikapi sebuah masalah yang di hadapi nya sebab segala sesuatu di muka bumi ini pasti ada sebab nya jadi tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa sebab maka saat Satrio menemui masalah maka akan di cari sebab musabab nya terlebih dahulu saat sudah di ketahui sebab musabab nya maka Satrio akan bergerak untuk menyelesaikan sesuai bimbingan Allah.
................
Seperti nya saat ini seisi rumah nya Satrio sedang putar otak lebih keras lagi sebab yang dihadapi saat ini adalah Satrio bukan Widhi yang sikap nya keras dan frontal setiap menghadapi permasalah namun kini yang mereka hadapi sosok Satrio yang pembawaan nya tenang, lembut, penuh kasih sayang sehingga di saat Satrio menjatuhkan para lawan nya saat itu lawan nya tidak merasa di jatuhkan atau di rendah kan.
Lalu bagaimana dengan Ani yang masih setia menunggu first love nya bukan lain adalah Satrio yang saat ini sedang mendapat tentangan dari keluarga nya Ani apakah Satrio akan mampu mahkluk kan hati Mama dan Abang nya Ani sehingga restu tersebut bisa di dapatkan mereka berdua ataukah mereka akan terus selama nya terpisah dengan memendam rasa cinta yang pernah ada?
Untuk mengetahui jawaban nya ikuti terus perjalanan Satrio hanya di SATRIO YANG TERPINGIT ALAM dan jangan pernah lupa untuk selalu dukung author agar rajin update nya.
__ADS_1