
Hiperbolis adalah suatu ungkapan atau kata yang di lebih - lebih kan tentang sesuatu terkadang sikap pun bisa berlebihan dan hal ini bisa saja terjadi kepada semua orang yang tertutup maka akan mengakibatkan sensitivitas yang berlebihan, terkadang kita sering memendam rasa marah, di larang menangis atau bahkan di larang berekspresi akhir nya saat semua itu menumpuk akan meledak tidak pada tempat nya, marah nya pada siapa dan di luap kan kepada siapa dengan cara yang berlebihan, pernahkah mengalami hal itu kawan?
...................
Selama perjalanan menuju Jakarta Widhi selalu emosi sebab selalu melihat Ani menangis karena di pojok kan oleh keluarga nya bahkan sejak kejadian itu orang tua Ani sering mengenal kan Ani kepada anak teman Mama nya dengan harapan Ani bisa meninggal kan Widhi dan menikah dengan pria lain yang di anggap cocok untuk Ani namun hati dan pikiran Ani hanya tertuju kepada Widhi seorang hingga suatu malam Ani bercerita ke pada Widhi bagaimana perlakuan keluarga nya saat itu.
" Aa sudah sampai rumah kah atau masih di jalan kok tidak ada kabar nya sedari malam?"
Tanya Ani melalui chat di Whatsaap.
" Iya maaf Neng hp low bet ini sambil di cas di pool bis."
Jawab Widhi sambil menikmati kopi hangat di hadapan nya.
" Alhamdulillah kalau sudah sampai pool bus Jakarta Aa, kalau begitu nanti saja aku cerita nya kalau Aa sudah sampai rumah ya dan ini juga aku baru sampai rumah Aa."
Kata Ani sambil menyertakan stiker senyum.
" Memang baru dari mana Neng kok baru sampai rumah?"
Tanya Widhi lagi sebab Widhi lupa hari dan tanggal sejak dulu.
" Pulang kerja lah Aa, memang aku dari mana lagi dan kalau pun aku pergi kan pasti ijin Aa terlebih dahulu, ya sudah aku mau mandi lalu sholat ashar."
Jawab Ani yang sudah memaklumi bila Widhi lupa hari dan tanggal.
" Oh ya sudah kalau begitu Neng nanti setelah aku sampai rumah aku telepon."
Kata Widhi sambil mematikan rokok nya.
Sekitar 30 menit kemudian datang lah sopir pribadi Widhi untuk menjemput nya kemudian Widhi pun masuk kedalam mobil nya dan memerintah kan sopir nya untuk menuju rumah sebab badan nya merasa lengket dan gerah ingin segera mandi dan merebahkan badan nya sambil menonton film doremon kesayangan nya, sekitar 45 menit kemudian sampailah Widhi di rumah nya yang mewah dan megah bak hotel bintang lima.
Kemudian Widhi pun segera menuju kamar nya tanpa menyapa siapa pun kecuali burung beo yang bisa menyebut nama nya dengan benar namun seperti nya emosi Widhi masih membara di hati dan pikirannya sebab mengetahui atlas yang terpampang di tembok kamar nya berpindah tempat dan kipas angin nya pun sudah tidak ada di dalam kamar nya.
" HARAM JADAH ... SIAPA YANG BERANI MASUK KAMAR KU DAN MEMINDAH BARANG - BARANG KU!"
Teriak Widhi di depan pintu kamar nya sambil bertolak pinggang dan pandangan nya bagaikan banteng yang lepas dari kandang.
" Tio ada apa sih datang - datang kok marah tidak jelas tanya yang baik tidak usah teriak - teriak."
Kata Elli sambil berjalan mendekati Widhi.
" Bagaimana aku mau tanya dengan baik - baik semua orang di rumah mengeram di kamar masing - masing seperti ayam mau bertelor!"
Jawab Widhi yang masih emosi sebab barang - barang nya di pindah kan.
" Sudah - sudah nanti aku suruh orang untuk memasang lagi barang - barang mu begitu saja kok repot."
__ADS_1
Kata Elli sambil berjalan menuruni tangga mencari asisten rumah tangga.
Saat itu Widhi benar - benar sebal sehingga lemari kayu beserta isi nya di dorong sampai ke balkon lalu di angkat di jatuhkan ke bawah hingga terdengar dentuman yang sangat keras saat itu seisi rumah merasa kaget suara dentuman apa sekeras itu, setelah melemparkan lemari ke bawah lalu Widhi melemparkan tv 79 inci kebawah hingga terdengar ledakan yang lumayan keras juga saat itu seisi rumah menuju asal suara dan di lihat nya lemari baju dan tv yang sudah berserak di teras rumah.
" Tio kenapa kamu melempar semua nya ada masalah apa kamu!"
Teriak Gustavito ke arah Widhi yang sedang berdiri di atas balkon dengan mata yang memerah.
Tidak lama kemudian Widhi turun dari kamar nya lalu menuju orang yang berkerumun melihat kejadian itu dengan bingung berfikir ada apa dengan diri nya.
" Perhatikan semua ini aku bakar sekarang depan kalian semua bila tidak ada yang menjawab siapa yang masuk kamar ku maka nasib orang itu akan sama dengan barang - barang ini."
Kata Widhi sambil menyalakan korek untuk membakar semua barang - barang itu.
" Stop Dek Tio aku yang masuk kamar mu dan aku yang memindah kan peta itu serta memindahkan kipas angin sebab akan di ganti wallpaper."
Kata Gunawan sambil mencoba menenangkan Widhi yang sedang kalap.
" BOHONG BICARA YANG JUJUR DARI PADA NYAWA MU AKU PINDAH KAN KE ALAM LAIN!"
Teriak Widhi sambil menunjuk Gunawan dengan pentungan satpam.
" Ok ... aku masuk kamar mu untuk mencari surat kepemilikan perkebunan dan aku akan membalik nama di surat itu menjadi nama ku."
Kata Gunawan sambil gemetaran dan berwajah pucat sebab Widhi ternyata mengetahui semua niatan nya.
" Kamu takut mati nya Om kenapa harus aku ancam dulu baru kamu jujur mengapa kamu tidak meminta dengan baik - baik pada ku kenapa harus mencuri ... JAWAB JANGAN DIAM SAJA!"
Saat itu semua orang yang berada di depan Widhi hanya diam dan menunduk sambil sibuk dengan pikiran nya masing - masing sedangkan Widhi masih emosi melihat kejadian tersebut kemudian Widhi merangkul Gunawan dan di bawa ke kolam renang dan kolam renang itu di isi es batu balok dan Gunawan di rendam di kolam tersebut sampai mau berkata siapa yang menyuruh nya mencuri.
Sambil menunggu Gunawan berkata jujur Widhi duduk di kursi malas di samping kolam renang sambil menelpon Ani untuk memberi tau bahwa diri nya sudah sampai di rumah agar Ani tidak merasa khawatir dan juga Widhi ingin tau apa yang akan di katakan Ani tadi di saat di pool bus.
" Assalamualaikum Neng ini Aa sudah sampai rumah."
Kata Widhi sambil pandangan nya tertuju kepada Gunawan yang sedang berendam di air es.
" Wa'allaikumusallam Aa alhamdulillah kalau sudah sampai rumah apa tadi macet di jalan kok baru telepon aku?"
Tanya Ani sambil mengayun anak nya yang kecil.
" Tidak macet Neng cuma ada masalah sedikit di rumah maka nya aku baru bisa telepon kamu."
Jawab Widhi sambil mengambil sebatang rokok di meja samping nya.
" Masalah apa Aa apa kah Aa berantem lagi?"
Tanya Ani yang sedikit khawatir.
__ADS_1
" Tidak kok Neng cuma masalah kipas angin di kamar ku saja di pindah tempat jadi aku kecarian itu tadi, oh iya tadi kamu mau cerita apa Neng?"
Jawab Widhi mencoba tenang berbicara kepada Ani namun sebelum Ani menjawab Gunawan berteriak dari dalam kolam es.
" IJIN KAN AKU KELUAR AKAN AKU KATAKAN SEMUA NYA KEPADA MU!"
Teriak Gunawan yang sudah tidak kuat menahan dingin di dalam kolam es.
" Siapa itu yang berteriak dan sedang di mana orang itu kenapa berkata begitu Aa?"
Tanya Ani yang mendengar teriakan Gunawan.
" Nanti aku telepon lagi Neng ada orang gila kambuh gila nya aku urus dulu dia ya Neng assalamualaikum."
Kata Widhi sambil mematikan telepon nya.
Ya Allah apa lagi yang dia perbuat bisa - bisa aku mati berdiri melihat ulah dia yang benar - benar anarkis entah dengan cara apa aku bisa merubah nya agar tidak seperti itu setiap ada masalah selalu di hadapi dengan kekerasan.
Gumam Ani sambil mengayun putri kecil nya yang sedang menangis sedari tadi seakan tau bila Widhi sedang marah bahkan putri kecil nya Ani seakan memiliki ikatan batin dengan Widhi sebab setiap terjadi sesuatu kepada Widhi maka putri kecil nya Ani akan menangis histeris dan akan diam bila sudah video call dengan Widhi hal itu lah yang membuat Ani terkadang berfikir keras.
Saat itu Widhi bangkit dari tempat duduk nya lalu berjalan mendatangi Gunawan yang masih berendam di dalam kolam es kemudian Widhi menarik Gunawan keluar dari kolam es itu dan memberikan handuk kepada Gunawan sambil merangkul nya menuntun nya duduk di bangku sisi kolam renang.
" Kata kan Om siapa yang menyuruh mu mencuri dan apa alasan mu melakukan hal itu?"
Tanya Widhi sambil mengeringkan rambut Gunawan dengan handuk.
" Mbak Aini yang menyuruh ku bila aku tidak mau maka aku akan di usir dari rumah ini dan juga harus menceraikan Dik Elli."
Jawab Gunawan sambil gemetar kedinginan.
" Lalu kemana sekarang orang itu pergi nya mengapa sedari tadi aku tidak melihat nya Om?"
Tanya Widhi sambil memijat pundak Gunawan dengan lembut.
" Dia menunggu aku membawa surat - surat itu ke vila dekat perkebunan malam ini."
Jawab Gunawan dengan rasa takut dan ngeri kepada Widhi.
" Baik Om malam ini aku dan Om akan mengantar surat - surat itu kepada nya maka bersiap lah dan ingat jangan coba - coba kabur bila masih sayang dengan nyawa mu."
Kata Widhi sambil berbisik di telinga Gunawan yang menggigil kedinginan.
Begitulah sikap Widhi untuk menghukum orang yang bersalah siapa pun itu diri nya tidak akan pandang bulu sebab bagi nya kebenaran harus di tegak kan dan memang di butuh kan ketegasan dalam menegakkan kebenaran yang semakin semu saat ini dan malam itu juga Widhi dan Gunawan pergi menuju vila dimana Aini dan Arik sedang menunggu kedatangan surat - surat tersebut.
................
Memang sikap Widhi berlebihan dalam menghadapi masalah tersebut namun bila tidak seperti itu maka Widhi di anggap remeh oleh keluarga nya yang bagaikan singa kelaparan dan siap menerkam Widhi kapan saja lalu bagaimana nanti bila ternyata Gunawan datang dengan Widhi apakah yang akan di lakukan Widhi kepada Aini dan Arik, apakah Widhi akan menyerah kan surat kepemilikan perkebunan itu begitu saja kepada mereka atau kah Widhi juga akan memberi pelajaran kepada mereka berdua?
__ADS_1
Untuk mengetahui jawaban nya ikuti terus perjalanan Widhi hanya di SATRIO YANG TERPINGIT ALAM dan jangan pernah lupa selalu dukung author agar rajin update nya.