
Kata TRANSPLANTASI bisa nya di gunakan di dunia medis yang berarti perpindahan organ tubuh dari satu tubuh ke tubuh lain nya atau bisa juga perpindahan organ tubuh di tubuh itu sendiri lalu bagaimana bila terjadi TRANSPLANTASI jiwa maka yang akan berpindah adalah jiwa satu ke suatu tubuh lalu jiwa satu nya kemana, pernah kah kalian pikirkan hal tersebut kawan?
.............
Malam itu Widhi dan Gunawan pergi menuju vila di mana Aini dan Arik menunggu dengan harapan semua akan baik - baik saja dan semua harapan dan keinginan mereka tercapai namun mereka tidak menyadari siapa yang di hadapi saat ini bila yang di hadapi masih jiwa Satrio yang penyabar dan lemah lembut maka mereka aman dan terkabul semua sebab jiwa Satrio tidak pernah memikirkan semua itu tapi bila yang di hadapi jiwa Widhi yang memang panglima besar Allah maka mereka salah berharap.
Sebab Widhi akan menghabisi mereka sebab telah zolim kepada tubuh Satrio seorang sosok pilihan Allah yang bertugas menjaga kestabilan bumi ini jadi sebenar nya yang di perangi Widhi adalah semua penyakit hati yang bersemayam di dalam hati manusia bukan lah tubuh manusia itu sendiri namun banyak orang yang salah sangka dengan Widhi dan lebih memilih dekat dengan Satrio yang lemah lembut penuh kasih sayang namun sejati nya mereka berdua sama - sama sadis dan bengis.
Sekitar jam 22.30 malam Widhi dan Gunawan sampailah di Vila tersebut dan saat itu Aini dan Arik sedang duduk di ruang tamu menanti kedatangan Gunawan yang membawa surat sertifikat perkebunan tersebut.
" Mbak Aini kemana Dik Gunawan ini mengapa sampai jam segini belum sampai juga atau jangan - jangan dia tidak bisa mendapat kan sertifikat itu di kamar nya Satrio?"
Tanya Arik dengan tatapan cemas memandang ke arah jalan.
" Ya sabar to Ar siapa tau dia terjebak macet lagi pula Satrio kan sedang tidak di rumah jadi Dik Gunawan bisa leluasa mencari surat itu di kamar nya Satrio."
Jawab Aini sambil meletakkan secangkir teh di atas meja di hadapan nya.
Beberapa menit kemudian mobil nya Gunawan pun telah terparkir di depan vila tersebut dan yang keluar dari dalam mobil tersebut bukan lah Gunawan sendirian namun Widhi pun bersama nya sambil memegang sertifikat tanah perkebunan tersebut sambil tersenyum ke arah Aini dan Arik.
" Mbak Aini dan Mbak Arik saya mohon maaf agak terlambat sampai di sini."
Kata Gunawan sambil melirik ke arah Widhi yang saat itu berdiri di samping nya.
" Iya Dik Gun tidak apa - apa lalu ...."
Jawab Arik sambil memandang ke arah Widhi yang memandang ke arah Widhi yang memegang sertifikat.
" Ada apa ... apakah ada masalah bila aku disini atau memang kalian pengecut yang berani nya mencuri bila ada pemilik nya maka kalian berlagak baik ... dasar munafik!"
Kata Widhi sambil senyum menghina kepada Arik dan Aini.
Saat itu seisi ruangan terdiam mematung mendengar kata - kata Widhi namun dengan mereka diam makin memancing emosi Widhi yang paling benci bila bertanya tidak di jawab saat itu Widhi sudah tidak mampu menahan jiwa petarung nya yang semakin membara dan dari tangan nya pun muncullah sebilah parang yang sangat besar dan panjang seakan parang itu sedang haus akan nyawa manusia yang zalim.
" Kenapa diam semua jawab kalian orang - orang yang munafik hanya berani nya di belakang ku kenapa sekarang hanya bisa diam setelah aku disini kata kan apa yang kalian mau?"
Kata Widhi sambil duduk di atas meja dan tangan kanan nya menggenggam parang dan sorot mata yang tajam.
" Tio kami hanya minta bagian tanah perkebunan ini saja itu pun masih kita bagi tiga lagi dan pasti nya itu tidak membuat mu rugi bukan?"
Jawab Aini mencoba menjelaskan apa yang di ingin kan.
__ADS_1
" Aku tidak masalah andai kalian ambil semua harta yang di waris kan Nenek kepada ku sebab saat aku mati tidak membawa itu semua yang aku bawa hanya lah amal ibadah ku saja."
Kata Widhi sambil mengangkat parang nya di letak kan di pundak nya.
" Berarti kamu akan menyerahkan semua harta warisan Ibu kepada kami Tio?"
Kata Arik dengan senyum lega saat mendengar kata - kata Widhi.
" Iya bila kalian bisa amanah namun selama ini aku melihat hati kalian terlalu banyak menyimpan penyakit iri, dengki, congkak, sombong dan kemunafikan jadi ..."
Kata Widhi sambil melihat ke arah Aini, Arik dan Gunawan bergantian.
" Jadi apa Dik Tio?"
Tanya Gunawan yang merasa ngeri dengan sikap Widhi sedari tadi.
" Jadi aku akan mengantar kalian kepada Allah dari pada kalian menu - menuin bumi saja di suruh bersyukur saja susah jadi buat apa kalian hidup sia - sia."
Kata Widhi sambil senyum sinis dan mengarah kan kepada mereka bertiga.
" Dik Tio jangan seperti itu ingat Dik Tio kami adalah keluarga mu jangan gegabah nanti diri mu sendiri yang rugi bisa masuk penjara kamu bila menghabisi kita!"
Kata Gunawan sambil maju selangkah mencoba mendekati Widhi yang semakin kalap.
Tanya Widhi sambil mata nya mulai memerah sebab emosi nya sudah memuncak.
" Tidak seperti itu Tio kamu salah sangka kami semua sayang pada mu."
Jawab Aini yang mencoba menenangkan Widhi.
" BILA AKU YANG SALAH LALU APAKAH KALIAN BENAR DENGAN MENCURI SURAT SERTIFIKAT INI DAN MENGATAKAN AKU MATI KEPADA PENGACARA ... JAWAB!"
Tanya Widhi dengan suara yang menggema di seluruh ruangan.
Setiap Widhi marah maka alam pun bereaksi dengan angin, hujan, petir dan kini di sertai gempa yang sangat kuat dan Widhi pun memutarkan parang di tangan nya di atas kepala nya seakan - akan siap untuk menebas apa pun di hadapan nya namun saat yang bertepatan muncullah sosok jiwa Satrio yang lemah lembut dan penuh kasih sayang.
" Widhi tenang lah tidak semua masalah harus di selesaikan dengan cara kekerasan."
Kata jiwa Satrio sambil memegang trisula di tangan kanan nya.
" TERUS SAJA KAMU MEMBELA MEREKA SATRIO ... MEREKA SUDAH ZALIM KEPADA ALLAH BEGITU BANYAK NIKMAT ALLAH YANG MEREKA DUSTA KAN!"
__ADS_1
Kata Widhi sambil mengacungkan parang nya kepada jiwa Satrio.
" Kamu salah Widhi tugas kita hanya lah membawa mereka ke jalan Allah bukan menghukum nya sebab itu bukan hak kita hanya Allah yang berhak memberi azab kepada mereka."
Jawab Satrio dengan tenang dan senyum yang khas.
Saat itu Aini, Arik dan Gunawan telah pingsan sebab melihat Satrio ada dua di hadapan mereka ada rasa bingung, takut dan khawatir saat itu di hati mereka dan perdebatan antara jiwa Satrio dan Widhi semakin memuncak hingga alam pun ikut bereaksi dengan gunung meletus, gempa bumi, laut bergelora dan angin ****** beliung terjadi di wilayah tersebut hingga terdengar lah suara yang sangat lembut dan tenang menyapa jiwa mereka berdua saat itu.
Wahai anak - anak Ku yang taat pada Ku kalian adalah 1 tubuh untuk memulyakan nama Ku mengapa kalian saling bertentangan tujuan kalian sama hanya cara kalian yang berbeda dan wahai engkau Widhi panglima besar Ku engkau telah gagal melalui ujian kesabaran ini maka saat nya engkau menenangkan hati dan jiwa mu yang keras hingga menjadi lembut sedang kan engkau Satrio putra alam kini masa pingitan mu telah usai kembalilah. kepada raga mu dan bawalah seluruh umat Ku kembali ke jalan Ku dengan cinta dan kasih sayang bukan dengan kekerasan.
Setelah suara itu menghilang Satrio telah kembali ke raga nya dengan membawa kedamaian dan ketegasan untuk seluruh isi alam semesta kemudian Satrio pun membangun kan mereka bertiga yang telah pingsan sedari tadi sebab bagaimana pun juga mereka bertiga hanya lah manusia biasa jadi tidak akan mampu melihat langsung kuasa Allah.
" Bangun lah wahai jiwa - jiwa yang tersesat."
Kata Satrio saat itu dengan nada yang sangat tenang namun mampu membuat mereka bertiga terbangun.
" Satrio ... siapa itu tadi mengapa kamu ada dua?"
Tanya Arik sambil bangkit berdiri.
" Benar Dik Tio kami melihat kamu ada dua."
Tanya Gunawan dengan pandangan ke setiap sudut ruangan.
"Itulah kuasa Allah bisa berbuat apa pun dan semua yang ada pada diri kita sejati nya hanyalah tittipan semata hanyalah amanah yang harus kita jaga bukan untuk di perebut kan."
Jawab Satrio sambil tersenyum damai kepada mereka bertiga.
" Tapi bagaimana pun juga kita manusia masih membutuhkan uang sebagai alat tukar di muka bumi ini Dik Tio."
Kata Gunawan sambil memandang ke arah Satrio.
" Berikhtiar lah maka Allah akan mencukupi sesuai kebutuhan mu bukan keinginan mu dan masalah kebun ini akan tetap saya yang memegang sampai kalian benar - benar bertaubat kepada Allah dan mengikis semua penyakit hati kalian."
Jawab Satrio sambil senyum dan melangkahkan kaki nya keluar dari vila itu sambil memegang sertifikat perkebunan.
Itulah perbedaan Satrio dan Widhi dalam menghadapi masalah bila Widhi menghadapi masalah dengan kekerasan yang mengenai fisik namun bila Satrio yang menghadapi masalah yang dikenai adalah perasaan nya yang pasti itu lebih menyakitkan di banding harus luka tubuh yang masih muda untuk di obati sebab terlihat namun bila luka batin itu sangat susah untuk mengobati nya dan membutuhkan penanganan kusus.
....................
Seperti nya semakin menegangkan saja kisah ini yang lumayan membuat spot jantung lalu bagaimana selanjut nya perjuangan Satrio untuk membawa kedamaian dan mengajak seluruh ciptaan Allah kembali ke jalan Allah sedangkan ke zaliman semakin merajalela di muka bumi mampukah Satrio mengatasi nya di zaman fitnah ini lalu bagaimana dengan Ani dan keluarga nya bila yang di hadapi Satrio orang yang dulu pernah mereka temui dan Abang nya Ani menentang hubungan mereka apakah semua akan berubah saat Satrio yang menghadapi nya?
__ADS_1
Untuk mengetahui jawaban nya ikuti terus kisah perjalanan SATRIO YANG TERPINGIT ALAM agar mengobati rasa penasaran para reader dan jangan pernah lupa selalu dukung author agar rajin update nya.