SATRIO YANG TERPINGIT ALAM

SATRIO YANG TERPINGIT ALAM
BAHAGIA ITU BONUS


__ADS_3

Kita tidak bisa berharap kepada orang lain agar membahagiakan kita sebab belum tentu dia sendiri bahagia dan akar dari kekecewaan adalah terlalu berharap kepada sesuatu yang belum tentu bisa di berikan oleh orang lain, kebahagiaan tidak ada di orang lain tapi ke kebahagiaan ada di dalam hati masing - masing individu jangan terlalu menggenggam, mengikat dan memeluk akan nama baik, berharap di hargai, berharap di bahagia kan dan berharap di anggap sebab semua itu akan mendatangkan kekecewaan.


Setiap manusia memiliki keterbatasan tidak mungkin sepanjang hidup nya bahagia ada masa - masa juga butuh di bahagia kan nama nya juga mahkluk sosial lalu diri mu akan berharap kepada orang yang juga membutuhkan kebahagiaan apa yang di dapat bila bukan kekecewaan, saya share hal ini sebab saya sudah merasakan bagaimana rasa nya tidak di anggap, di abaikan, di buang, di fitnah habis - habisan dari sejak awal.


Maka dari itu petik lah hikmah dari setiap bab ambil hal positif nya bila ada hal yang kurang berkenan anggap saja itu improvisasi kehidupan mari kita tilik bagaimana perjalanan Satrio yang pernikahan nya semakin memanas belum juga ada titik temu antara kedua nya.


................


Sore ini Satrio baru saja tiba di rumah saat itu aroma tanah yang basah oleh guyuran air hujan masih tercium oleh indra penciuman bahkan sepanjang jalan pun begitu banyak pohon yang roboh karena angin yang begitu dahsyat mampu memporak porandakan apa pun juga begitulah alam bereaksi saat jiwa Satrio benar - benar marah di karena kan melihat ke zalim an.


Saat itu Satrio segera menuju kamar nya untuk mandi namun di dengar hp nya berdering kemudian diri nya pun menghampiri sebuah meja kerja di kamar nya untuk meraih telepon yang sedang berdering dan ternyata istri nya lah yang sedang menghubungi nya.


Istri ku ternyata yang menghubungi aku pikir dari Rahma untuk membicarakan pembebasan lahan perkebunan, kalau aku terima telepon nya kira - kira dia ngajak adu argumen lagi tidak ya sebab aku benar - benar lelah dengan semua argumen selama ini yang tidak ada titik penyelesaian nya.


Bergumam lah dalam hati Satrio sambil memandang hp nya yang sedang berbunyi dengan berbagai asumsi di benak nya sebab sudah kondisi psikis Satrio sedang tidak stabil takut nya Satrio melontarkan kata - kata yang tidak pantas kepada istri nya hingga hp itu berbunyi ke 3 kali nya baru lah di terima telepon dari istri nya sambil menahan nafas sesaat.


" Assalamualaikum Mi."


Kata Satrio sambil membuka satu persatu kancing kemeja nya.


" Wa'allaikumusallam Bi apa masih di jalan kamu Bi kok lama angkat telepon ku atau masih di kantor?"


Tanya Ani sambil berdiri di balkon rumah nya.


" Ini baru sampai rumah aku Mi memang ada apa Mi tumben telepon jam segini memang ada yang penting ya?"


Jawab Satrio yang balik bertanya kepada istri nya.


" Memang nya aku kalau mau telepon suami ku sendiri ada jadwal nya apa atau memang kamu sudah tidak mau aku hubungi lagi Bi sampai seperti itu bicara mu?"


Kata Ani dengan nada emosi kepada suami nya.


" Tidak juga Mi."


Jawab Satrio singkat sambil membuka kemeja nya.


" Aku menelpon mu sebab aku mau tanya kapan kamu pulang Bi sebab besok aku dan anak - anak di ajak Leni ke kolam renang."


Kata Ani dengan mencoba menahan emosi nya.


" Oh begitu ya sudah pergi saja dan aku masih lama di sini mengurus pembebasan lahan."


Jawab Satrio sambil melepas celana panjang nya.


" Apa tidak seperduli itu kamu dengan kami hingga jawab mu seperti itu Bi atau kami memang sudah tidak penting lagi bagi mu Bi?"


Kata Ani sambil menahan sesak di dada nya melihat perubahan suami nya.


" Tidak juga Mi kan aku memberi kebebasan ke kamu Mi apa kamu mau aku protes terus ngomel terus dengan semua yang kamu lakukan tidak juga kan?"


Jawab Satrio sambil melangkah kan kaki nya menuju kamar mandi.


" Bi aku itu istri mu bukan orang lain kalau sikap mu seperti itu lalu kepada siapa aku meminta perhatian apakah aku harus meminta perhatian kepada suami orang begitu?"

__ADS_1


Kata Ani mencoba menjelaskan kepada suami nya.


" Lalu kapan kamu memperhatikan aku Mi sedangkan kamu juga sibuk dengan dunia mu sendiri waktu mu habis dengan rutinitas mu sendiri lalu apakah aku juga harus mencari wanita lain untuk bisa membahagiakan aku sedang kan kamu lah istri ku."


Jawab Satrio yang mencoba mengingat kan istri nya.


" Selalu saja seperti itu kata - kata mu Bi selalu menyudutkan aku sedang kan jelas - jelas kamu tau seperti apa aku."


Kata Ani sambil menghapus air mata nya yang meleleh di pipi.


" Selama kamu belum paham maka hal ini akan berjalan terus dan pasti nya tidak akan ada kedamaian antara kita Mi ... assalamualaikum."


Jawab Satrio sambil mematikan hp nya.


Hingga detik ini belum di temukan titik agar mereka berdua tidak adu argumen masalah inti nya hanyalah belum saling menyadari bahwa sesungguhnya mereka berdua saling membutuhkan dan egoisme yang sangat tinggi nya sehingga menimbulkan kurang nya komunikasi di antara mereka berdua dan berakhir saling suudzon satu dengan yang lain di saat seperti itu akan terbentuk jurang pemisah yang begitu dalam antara mereka berdua.


Kurang lebih 30 menit kemudian selesai sudah Satrio mandi dan Satrio berniat untuk melaksanakan sholat magrib namun tidak lama setelah Satrio mengenakan baju hp nya berdering kembali dan ternyata sahabat Satrio yang menghubungi nya.


" Assalamualaikum siapa ini?"


Tanya Satrio dengan tegas.


" Wa'allaikumusallam Tio ini aku Willy seperti nya kamu sudah melupakan aku mentang - mentang sudah jadi presiden direktur perkebunan."


Jawab Willy sambil senyum.


" Ya Allah ini nomor kamu ya Will sorry aku tidak save habis nya kamu suka ganti - ganti nomor telepon si jadi aku bingung mana yang harus aku save."


Kata Satrio dengan senyum renyah.


Tanya Willy sambil senyum.


" Ok jam 7 kita kumpul dan jangan lupa kabari kawan yang lain ya Will biar makin seru."


Jawab Satrio sambil berjalan mendekati ranjang nya.


" Ok siap laksanakan bos jam 7 assalamualaikum Tio."


Kata Willy penuh semangat.


" Wa'allaikumusallam Will."


Balas Satrio sambil senyum.


Sesaat setelah Satrio mematikan telepon dari Willy di lihat ada beberapa chat yang masuk ke nomor whatsaap nya bukan lain dari Ita yang ternyata juga mengajak nya kumpul di cafe bersama kawan lama nya dan saat itu Satrio membalas dengan singkat mengiyakan sebab Satrio berfikir kapan lagi bisa berkumpul dengan kawan lama nya sedang kan sebentar lagi Satrio harus kembali ke Ibu Kota melanjutkan rutinitas nya.


Setelah menjalan kan sholat Satrio duduk termenung di balkon kamar nya sambil menatap langit yang luas dan matahari yang akan terbenam saat itu rasa hati Satrio sangat perih dan sesak dada nya mengenang pernikahan nya yang baru seumur jagung harus di isi dengan adu argumen yang tanpa berujung.


Ya Allah aku benar - benar lelah menghadapi semua ini entah sampai kapan aku harus menghadapi nya dan dengan cara apa aku membimbing nya dia yang menjadi istri ku selalu di sibuk kan dengan berbagai aktivitas nya sedangkan aku sebagai suami juga membutuhkan perhatian nya tapi bila aku katakan hal itu kepada nya yang ada adu argumen lagi aku lelah ya Allah.


Bergumam lah Satrio dalam hati kecil nya yang tanpa terasa air mata nya pun menetes di pipi nya saat itu tiba - tiba datang lah angin yang begitu kencang dan muncul lah sosok Widhi duduk di pagar balkon kamar Satrio sambil memegang apel di tangan nya lalu di lemparkan kepada Satrio yang sedang duduk.


" Astagfirullahalazim apaan si main lempar saja."

__ADS_1


Kata Satrio sambil menangkap apel yang di lemparkan Widhi.


" Sudah sukur bukan kamu yang aku lemparkan dari balkon ini ke bawah Tio."


Jawab Widhi sambil senyum ke arah Satrio.


" Ada apa kamu datang menemui ku Wid apakah ada hal penting?"


Tanya Satrio sambil mengelap apel ke lengan baju nya."


" Tidak penting bagi ku tapi penting bagi rumah tangga mu Tio."


Jawab Widhi sambil menikmati apel di tangan nya.


" Maksud mu Wid?"


Tanya Satrio dengan sedikit mengernyit kan dahi.


" Tio nama nya cinta itu butuh pengorbanan contoh seorang Ibu melahirkan anak nya dengan penuh pengorbanan sakit yang dia rasakan demi anak yang dia cintai terlahir di muka bumi ini begitu juga dengan seorang Ayah yang bekerja dari pagi hari hingga petang pasti nya itu melelahkan tapi itu lah pengorbanan nya demi cinta nya kepada keluarga nya lalu mana pengorbanan mu demi anak dan istri mu Tio apakah kamu sudah berkorban selama ini untuk mereka?"


Jawab Widhi yang mencoba menjelaskan kepada Satrio.


" Sudah aku sudah banyak berkorban demi mereka hanya saja pengorbanan ku tidak pernah terlihat oleh istri dan anak ku mungkin mereka menganggap itu tidak berarti sama sekali."


Kata Satrio sambil sesekali menggigit apel di tangan nya.


" Selama ini yang kalian berdua laku kan bukan lah sebuah pengorbanan melainkan ke egoisan masing - masing dalam hati dan pikiran kalian berdua masih ada balas dendam satu dengan yang lain nya dengan kata lain kalau kamu bisa melakukan kenapa aku tidak."


Kata Widhi sambil senyum bengis.


" Tidak aku tidak seperti itu."


Jawab Satrio dengan raut wajah menyangkal.


" Bila tidak seperti itu lalu mengapa harus ada argumen di antara kalian sedangkan kamu tau Tio di saat jiwa mu marah gunung akan tunduk atas perintah mu dan laut bergelora akan menenggelamkan apa pun bahkan petir pun akan menyambar bumi apakah kamu tidak melihat berapa korban jiwa karena ke egoisan kalian berdua?"


Tanya Widhi dengan nada yang sedikit tinggi.


" Lalu apakah aku tidak berhak marah saat jiwa lelakian ku tidak di anggap dan di remeh kan apakah aku hanya berhak memikirkan mereka tanpa harus memikirkan perasaan ku sendiri, ingat Wid aku juga manusia punya batasan."


Jawab Satrio yang wajah nya mulai memerah sebab emosi.


" Aku tau kamu manusia tapi kamu juga harus ingat bahwa kamu manusia pilihan Allah dan pasti nya Allah tidak pernah salah memilih dan Allah pasti tau bahwa kamu mampu menjalankan semua yang sudah di amanah kan kepada mu, kuasai hati dan pikiran mu Tio jangan sampai emosi yang menguasai hati dan pikiran mu."


Kata Widhi sambil menepuk pundak Satrio.


Saat itu Satrio hanya mampu menunduk dan tidak mampu menahan perih dan sesak di dada nya dan mengakui kesalahan dan ke egoisan nya selama ini hingga begitu banyak nya korban jiwa di saat amarah Satrio memuncak saat itu bersamaan dengan adzan magrib berkumandang pergilah sosok Widhi bersama dengan hembusan angin yang lumayan kencang.


.....................


Tidak mudah menjadi Satrio sebagai manusia pilihan Allah sebab setiap tindakan nya akan berpengaruh dengan alam itu sendiri dan bila alam sudah bergerak maka akan begitu banyak korban jiwa yang tidak tau menau permasalahan nya yang akan jadi korban dari kemarahan Satrio.


Lalu apakah Ani sebagai pasangan hidup Satrio memahami hal tersebut dan apakah orang di sekitar Satrio juga memahami hal tersebut ataukah mereka hanya menganggap itu suatu hal kebetulan saja atau mereka hanya berfikir memang sudah waktu nya saja sehingga datang lah bencana alam di muka bumi ini dengan bertubi - tubi?

__ADS_1


Jangan pernah bosan selalu dukung SATRIO YANG TERPINGIT ALAM dan temukan hikmah di setiap bab nya petik hikmah di setiap perjalanan Satrio agar menjadi manfaat bagi para pembaca nya dan selalu dukung author agar makin rajin update.



__ADS_2