
Mari kita menilik apa sih makna di balik kata REALISTIS itu sendiri agar kita bisa memahami dan mengamalkan di kehidupan ini, realistis adalah memiliki prinsip untuk rencana hidup kedepan nya, hal ini tentu berbeda dengan orang yang idealis, bagi orang realistis tidak akan memaksakan sesuatu kehendak atau keinginan suatu keadaan menjadi yang idealis nya standar melainkan memilih untuk mengetahui batasan dan kemampuan yang di miliki untuk mencapai suatu tujuan.
Sering kali kita mendengar motivasi yang mengatakan bahwa harus sukses di usia muda, dia bisa masak kamu tidak bisa, dia saja berhasil kok kamu gagal? nah itu yang berbicara tidak mengerti ilmu kejiwaan dan ilmu agama dan akibat nya yang mendengar kan merasa terbeban dan bila terjadi kegagalan trauma nya berkepanjangan.
Yang saya maksud ilmu kejiwaan adalah suatu ilmu yang bisa memahami kondisi dan ilmu agama adalah kita harus sadar bahwa tidak semua jadi CEO dan tidak semua juga menjadi cleaning servis, semua sudah Allah atur jadi nikmati saja yang sudah di berikan selama memang minat dan bakat kita memang di situ jangan adopsi minat bakat sahat atau teman sebab kita akan menikmati keberhasilan yang semu.
PR untuk kita semua di awal tahun baru ini cari apa sebenar nya minat dan bakat kita agar kita menjalani satu tahun kedepan tidak salah pilih lagi yang mengakibatkan luka batin.
............
Siang itu Widhi, Gunawan dan Elli menaiki sebuah mobil yang lumayan mewah untuk mengatakan bahwa rumah itu dan beberapa aset milik Satrio yang kini banyak orang mengenal nya bernama Widhi Wirakarna, sepanjang perjalanan Widhi hanya diam mendengarkan Gunawan dan Elli yang sedang berbicara mencoba menjelaskan dan bertanya beberapa hal kepada Widhi yang jawaban nya bagi orang umum sedikit menggelikan dan tidak nyambung.
" Tio mengapa kamu tidak pulang ke rumah lalu kemana saja kamu selama 10 tahun ini?"
Tanya Elli sambil sesekali melihat ke arah Widhi.
" Bicara sama aku ya kirain sedang telepon, bagaimana aku mau pulang sedang kan aku tidak punya peta menuju pulang?"
Jawab Widhi sambil berlagak serius meski tetap saja wajah nya menyiratkan kelucuan dengan ekspresi nya.
" Kenapa harus butuh peta sedang kan kamu tau rumah Nenek di mana Tio?"
Imbuh Elli yang mencoba tetap sabar menghadapi sikap Widhi yang asal berbicara.
Sekitar 2 jam kemudian sampai lah mereka bertiga di sebuah rumah yang sangat mewah dengan model bangunan perancis dan ada penjaga di gerbang masuk nya saat itu Widhi berfikir bahwa bangunan tersebut adalah sebuah hotel atau perkantoran, ya maklum saja selama ini Widhi hanya seorang anak jalanan yang berdagang di penyeberangan jalan bila ada pol pp kabur sebelum di tangkap.
Kemudian mereka bertiga pun turun dari mobil kemudian masuk kedalam rumah yang megah itu di saat itu Widhi mulai bersiap - siap dan waspada andai saja diri nya terjadi sesuatu di dalam akan kabur lewat mana, sambil melangkah berjalan menaiki sebuah anak tangga menuju pintu masuk Widhi melihat kekiri dan kekanan kemudian tepat di depan pintu masuk Widhi melepas sendal nya dan membawa sendal nya masuk.
" Maaf sendal nya kotor jadi di lepas saja gak apa - apa saya bawa masuk kan sebab belum lunas bayar nya ke Neng Leha."
Kata Widhi tersenyum sambil membawa sendal nya masuk.
Saat itu Gunawan dan Elli hanya mampu mengernyit kan dahi sambil menggelengkan kepala melihat ulah Widhi yang lumayan konyol, kemudian mereka bertiga pun berjalan menuju ke sebuah ruangan yang di depan pintu nya ada penjaga lagi namun sebelum sampai di ruangan itu langkah kaki Widhi terhenti di sebab kan diri nya melihat air mancur dan di sekitar nya ada tumbuhan.
" Tio ada apa lagi kok berhenti?"
Tanya Elli dengan tatapan sedikit bingung melihat ulah Widhi.
__ADS_1
" Ini tanaman hidup apa plastik ya lalu itu air lari nya kemana kok gak ada selokan di sini?"
Kata Widhi sambil memegang daun dan sesekali pandangan nya ke sekeliling air mancur buatan.
" Sudah ya Dik Tio nanti itu saya jelas kan yang terpenting kita masuk dulu ok?"
Jawab Gunawan yang seperti nya mencoba sabar menghadapi sikap Widhi yang eksentrik.
" Kan aku cuma jawab apa salah kalau aku tanya."
Kata Widhi sambil berjalan mengikuti Gunawan sebab lengan Widhi di gandeng Gunawan agar tidak berhenti lagi.
Saat akan masuk ke ruangan Widhi melihat beberapa Polisi yang berdiri di sisi pintu dan memberi hormat kepada Gunawan dan Elli saat itu refleks Widhi pun mengangkat tangan nya dan memberi hormat kepada Polisi tersebut sambil tersenyum.
" Dik Tio tidak usah hormat juga ya sudah diam saja ayo kita masuk."
Kata Gunawan sambil senyum kepada beberapa Polisi.
" Kasian amat itu Pak Polisi hormat kagak di tanggepin nanti pikir mereka kita tiang bendera pula."
Ternyata di ruangan tersebut sudah ada beberapa pengacara, Aini kakak tertua dari Elli dan Arik, Gustavito anak angkat Arik serta beberapa orang yang seperti nya pengawal pribadi mereka, saat itu semua memandang ke arah pintu masuk sebab di situ berdirilah Gunawan, Widhi dan Elli, kemudian mereka bertiga menjalan mendekat dan bergabung dengan yang lain nya namun saat itu Widhi memilih duduk di lantai samping meja kecil sambil pandangan nya tertuju kepada toples yang berisi kue kering.
" Tio duduk lah atas jangan duduk di situ dingin."
Kata Elli sambil tersenyum kearah Widhi.
" Gak apa - apa teh di sini saja enak dingin apalagi saya kan cuma remahan peyek tidak sepantas nya duduk di atas ... boleh minta kue sama aqua gak aku haus dan lapar."
Jawab Widhi sambil tersenyum kepada Elli dan Elli pun mengangguk menandakan boleh.
" Masih hidup rupa nya dia, aku pikir sudah mati di telan bumi?"
Kata Arik sambil melirik ke arah Widhi.
" Bunda memang siapa gembel itu lalu buat apa di bawa masuk ke ruangan ini mengganggu pandangan mata saja."
Tanya Gustavito kepada Arik yang duduk di samping nya.
__ADS_1
" Vito jaga bicara mu jangan melampaui batasan."
Kata Aini dengan pandangan tajam kepada Gustavito.
Saat itu Widhi tidak menggubris semua kata - kata yang terlontar tertuju kepada nya sebab yang ada di dalam benak Widhi saat ini bagaimana cara nya agar perut nya tidak lapar dan jangan sampai maag akut nya kambuh lagi, Widhi masih fokus dengan makanan di toples dan air mineral di hadapan nya sedangkan saat itu pengacara mulai membacakan surat wasiat dari Nenek nya Satrio.
Yang tertera dalam surat wasiat tersebut menyatakan bahwa beberapa aset milik Nenek nya Satrio yang berupa pabrik batik, pabrik sepatu dan beberapa pabrik lain serta beberapa kebun dan rumah menjadi milik cucu nya bukan lain adalah Satrio sedang kan untuk ke tiga putri nya di wariskan beberapa bidang tanah yang sudah di sertakan alamat nya, di sela - sela pengacara membaca kan hal tersebut suara terap Widhi yang keras membuat semua mata memandang ke arah Widhi yang seperti nya telah menghabiskan setoples kue kering dan satu botol air mineral.
" Dasar kampungan tidak punya etika dan tata krama."
Kata Gustavito sambil melihat ke arah Widhi.
Kemudian Arik memegang lengan Gustavito agar tidak pergi menghampiri Widhi yang dengan cuek nya mengacuhkan semua orang yang memandang nya saat itu namun di dalam hati Widhi berkata lain dan ternyata saat ini Widhi sedang mempelajari orang - orang di sekitar nya dan menyiapkan siasat apa yang harus di gunakan saat situasi seperti ini.
Wah ternyata Satrio itu kaya juga ya dia yang memiliki rumah yang mewah dan megah ini belum lagi dia juga memiliki beberapa perusahaan dan perkebunan, mimpi apa aku semalam bisa hari ini mendapat kan semua ini dan untung nya lagi selama beberapa tahun ini aku sudah belajar perdagangan jadi kalau menjalan kan itu semua minimal aku tau lah mana yang bisa menguntungkan dan mana yang merugikan.
Gumam Widhi dalam hati yang tiba - tiba di kejut kan oleh pengacara yang meminta Widhi untuk menandatangani beberapa lembar surat yang terletak di atas meja dan kemudian Widhi pun menghampiri meja ter sebut dan segera menandatangani beberapa lembar kertas tersebut, di saat itu Gustavito merasa tidak puas dengan apa yang di katakan oleh pengacara tersebut.
" Bunda ini tidak care dong masak dia yang gembel di suruh memegang perusahaan sedang kan selama ini aku yang mengurus nya apa kalian semua mau jatuh miskin karena satu orang?"
Kata Gustavito dengan tatapan kebencian kepada Widhi.
" Hay anak Bunda dengar ya aku tidak butuh dengan semua harta yang kalian kata kan dan bukan keinginan ku datang kesini bahkan aku juga tidak mengenal kalian, jadi aku ingat kan jangan buat aku benar - benar marah kecuali kamu memiliki nyawa serep ... cam kan hal itu anak bunja hemmm manja!"
Jawab Widhi sambil menepuk pipi Gustavito dan berlalau keluar dari ruangan itu.
Seketika seluruh ruangan an terdiam seperti nya kata - kata Widhi lumayan untuk membuat spot jantung seisi ruangan dan Widhi hanya tersenyum melihat gelagat mereka setelah Widhi mengatakan hal tersebut dan menepuk pipi kiri Gustavito.
............
Seperti nya di mana pun Widhi berada selalu saja ada masalah yang terkadang masalah tersebut datang nya bersamaan dengan kebahagiaan sehingga Widhi menjadi bingung harus bahagia kah atau harus sedih, sungguh pila pikir Widhi sangat realistis dalam menyikapi permasalahan, lalu bagaimana nanti bila Widhi yang memegang kendali semua bisnis tersebut lalu apa yang akan di perbuat oleh Arik dan Gustavito kepada Widhi selanjut nya, apakah Widhi mampu mengerjakan tugas yang saat ini menjadi tanggung jawab nya?
Wah Widhi seperti nya jadi CEO saat ini lalu bagaimana dengan Ani apakah Widhi tetap mencintai Ani setelah diri nya sudah menjadi seorang CEO atau Widhi akan mengabaikan tugas dari Allah demi kenikmatan harta dunia yang fana?
Untuk menjawab rasa penasaran reader maka ikuti setiap bab nya dan jangan pernah lupa selalu dukung author agar rajin update nya.
__ADS_1