
Di saat kita berfikir hal yang positif maka tindakan kita pasti positif namun di saat kita berfikir hal yang negatif maka tindakan kita pun akan negatif lalu mengapa demikian jawab nya iya memang seperti itu sebab pikiran lah yang mengatur seluruh tindakan kita setiap hari.
Contoh di saat malam hari akan tidur dalam pikiran kita memikirkan besok adalah hari yang paling menyebalkan sebab harus masuk kerja lagi dan pasti banyak email yang harus di balas belum lagi harus bertemu dengan bos yang super bawel di antero jagad raya ini maka saat bangun tidur kaki kita merasa lemas, hidup tidak semangat dan menatap hari menjadi lesu tanpa semangat.
Tapi beda dengan kita saat akan tidur penuh dengan optimis melihat hari esok menjadi gerbang kesuksesan dengan berbagai aktivitas yang akan di lalui menuju sukses dan keberhasilan maka saat bangun pagi kaki kita menjadi ringan, badan yang bugar untuk menghadapi kesuksesan meski harus melalui jalan yang terjal sekali pun jadi bisa di ambil kesimpulan bahwa pikiran kita adalah hasil nyata dari tindakan kita dalam menjalani hidup lalu bagaimana dengan pikiran mu hari ini?
........................
Saat ini Ani sungguh bingung apa yang harus di perbuat sebab satu sisi anak nya dan di sisi lain suami nya dan yang pasti Ani tidak mungkin menghancurkan orang yang di sayangi nya namun bila Ani menolak bekerja sama dengan Arik dan Gustafito maka nyawa kedua putri nya akan melayang naluri sebagai Ibu tidak mungkin melepas anak kandung nya begitu saja sedangkan saat ini Ani merasa benar - benar terpuruk di antara kedua pilihan yang sama berat nya.
Di sisi lain Satrio semakin merasa gelisah hati nya saat itu yang seharusnya diri nya pulang ke rumah nya namun memutar arah menuju bandara untuk segera kembali ke Ibu Kota sebab perasaan Satrio yang semakin tidak menentu namun Satrio tetap bertahan tidak mau menghubungi istri nya terlebih dahulu hanya menahan sesak di dada nya yang semakin membuat nya susah bernafas saat itu.
Di saat seperti itu Ita segera menghubungi Gustafito sebab saat ini gagal untuk merayu Satrio namun Ita mengajukan satu kesempatan lagi dengan penuh keyakinan bahwa Satrio bisa di miliki nya dan bisa di kendalikan oleh Ita.
" Hallo Fit kali ini aku gagal sebab tiba - tiba Satrio marah - marah di villa lalu dia pergi entah kemana."
Kata Ita melalui telepon kepada Gustafito.
" Kan sudah aku kata kan pada mu Ta bahwa kamu perlu berhati - hati dalam bertindak sebab Tio orang aneh dan seperti nya aku sudah tidak membutuhkan kamu lagi Ta."
Jawab Gustafito dengan senyum sinis.
" Fit tolong beri kesempatan sekali saja ijin kan aku ke Ibu Kota agar aku bisa menyelesaikan tugas ku kali ini saja Fit bila nanti aku sampai gagal aku siap menjadi budak mu seumur hidup ku."
Kata Ita dengan nada memohon.
" Hemmm ok kalau begitu aku beri satu kali kesempatan dan bila masih gagal juga ingat janji mu Ta."
Kata Gustafito lalu mematikan telepon nya.
Di sisi lain ada Ani yang bagaikan gosokan mondar mandir harus menghubungi dan minta bantuan kepada siapa sebab tidak mungkin berbicara kepada Satrio yang kondisi nya di luar kota di tambah lagi miskomunikasi di antara mereka berdua semakin membuat sesak dada Ani saat itu kemudian Ani keluar dari kamar nya untuk mengambil air minimal bisa menenangkan hati nya sejenak meski kegelisahan masih saja berkecambuk dalam hati dan pikiran nya.
Seharusnya aku katakan saja semua nya kepada Mas Satrio agar menandatangani berkas itu lalu segera kita keluar dari rumah bak neraka ini tidak ada kedamaian sedetik pun di dalam rumah ini yang ada hanya selalu berfikir harta, harta dan harta apakah kesuksesan mereka di ukur dengan harta sedangkan buat apa banyak harta bila tidak bermanfaat untuk orang lain.
Bergumam lah dalam hati Ani sambil menuangkan air kedalam gelas saat itu Satrio sudah sampai di rumah nya dan berjalan menuju kamar nya namun sesampai nya di kamar diri nya tidak menemukan Ani sebab Ani sedang mengambil air minum di meja makan saat itu Satrio melihat amplop coklat yang tergeletak di atas meja kemudian Satrio mengambil amplop tersebut dan mengelur kan isi amplop dan membaca nya.
Benar - benar mereka tidak ada puas nya selalu saja merasa kurang sampai kapan mereka susah untuk bersyukur sudah bagus mereka tidak aku usir dari rumah ini seperti yang mereka lakukan dahulu pada ku tapi bagaimana bisa dokumen ini ada di kamar ku bukan kah semua dokumen ini di pegang oleh pengacara?
Bergumam lah dalam hati Satrio sambil pandangan nya tertuju pada beberapa lembar kertas di tangan nya saat itu Ani masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju nya dan berniat untuk mencari kedua putri nya tanpa memberi tau kepada Satrio itu niat awal nya Ani sebab diri nya tidak mengetahui bahwa Satrio sudah sampai di rumah saat ini.
__ADS_1
" Bi kapan kamu sampai nya kok tau - tau sudah di kamar?"
Tanya Ani sambil menutup pintu kamar.
" Tadi Mi."
Jawab Satrio singkat sambil membalikkan badan nya ke arah Ani.
" Oh begitu memang sudah beres urusan mu di sana Bi atau kamu pulang hanya untuk mengambil berkas lalu pergi lagi?"
Tanya Ani dengan nada sebal.
" Bicara apa si kamu ini Mi baru saja aku sampai rumah bukan nya di ambil kan air malah di ajak adu argumen lagi."
Jawab Satrio dengan nada emosi.
" Lo aku bicara benarkan Bi biasa nya hal itu yang kamu laku kan setelah itu pergi lagi entah kemana hingga larut malam baru pulang saat aku dan anak - anak sudah tertidur sebab kamu tidak suka anak - anak berisik sedangkan aku tetap sendiri hanya status yang sudah menikah."
Kata Ani sambil tidak mampu menahan air mata nya yang meleleh di pipi nya.
" Mi kamu tau kan sebagai manusia kita di wajib kan berusaha tidak hanya berdoa saja lalu kalau aku hanya berpangku tangan dapat penghasilan dari mana Mi?"
" Aku tau hal itu Bi tapi minimal bisa kan kamu membagi waktu antara pekerjaan mu dan kami sebagai keluarga mu dan aku sangat yakin detik ini pun kamu tidak akan tau di mana ke dua putri mu berada."
Jawab Ani sambil menyeka air mata nya.
" Bagaimana aku tau sedang kan aku baru saja sampai rumah dan pasti nya aku berfikir dengan mu lah anak - anak dan tidak mungkin kan anak - anak bersama Ibu ku?"
Kata Satrio dengan nada emosi.
" Benar sekali saat ini anak - anak mu sedang bersama Ibu mu yang tidak pernah menganggap kamu sebagai anak nya dan asal kamu tau mereka hanya mengincar harta mu Bi sampai anak ku di bawa kedalam ego mereka."
Kata Ani sambil berjalan mendekati suami nya yang berdiri di depan meja kerja nya.
" Maksud mu apa Mi kenapa anak - anak bersama mereka lalu kemana saja kamu sampai tidak menjaga anak - anak dengan baik."
Kata Satrio dengan pandangan penuh emosi.
Kemudian Ani menceritakan semua kepada Satrio apa yang sebenar nya terjadi bahkan Ani juga menceritakan tentang apa hubungan nya Ita dengan Gustafito saat itu Satrio hanya mampu diam dan menahan sakit hati nya mengenang semua perbuatan Arik dan Gustafito yang tidak pernah bosan untuk menghancurkan nya bahkan saat ini kedua putri nya pun di seret ke dalam segala ke egoisan mereka.
__ADS_1
" Hemmm jadi begitu cerita nya baik kalau begitu kamu di rumah saja Mi biar aku yang mengambil anak - anak sekalian aku selesaikan masalah dengan mereka."
Kata Satrio sambil melangkah kan kaki nya menuju pintu kamar.
" Bi hati - hati dan kamu harus selamat aku tidak mau jadi janda untuk ke dua kali ingat itu."
Kata Ani sambil memberikan jaket kepada Satrio.
" Trimakasih Mi doa kan saja aku selamat dan bisa membawa anak - anak pulang emuach."
Kata Satrio sambil senyum lalu mencium kening istri nya kemudian pergi dari hadapan istri nya.
Pasti nya aku tidak bisa hanya berdiam diri sedangkan anak ku dalam bahaya apa yang harus aku lakukan saat ini ya Allah berikan petunjuk kepada ku.
Bergumam lah dalam hati Ani sambil pandangan nya tertuju kepada pintu lemari yang berjajar di hadapannya di sisi lain Ita sampai juga di Ibu kota dan sedang bersama dengan Gustafito di sebuah apartemen di mana kedua putri Ani berada saat ini.
" Fit apa tugas ku sekarang apakah aku harus menjaga ke dua anak ini atau bagaimana?"
Tanya Ita sambil duduk menyilangkan kaki nya di hadapan Gustafito.
" Apakah kamu datang kemari hanya jadi baby sister Ta tidak kan pasti nya."
Jawab Gustafito sambil memainakan gelas berisi wine di tangan nya.
" Lalu apa yang akan aku laku kan Fit?"
Tanya Ita dengan senyum sinis.
Kemudian Gustafito pun mulai menjelaskan apa yang harus di lakukan Ita saat ini bukan lain untuk menemui Ani dan memberikan amplop yang berisi beberapa foto edit an Satrio yang sedang tidur bersama Ita dan hal itu pasti dapat menyulut emosi Ani yang sedang merasa kacau pola pikir nya dan kemudian Gustafito memberikan no telepon Ani kepada Ita agar bisa menghubungi nya.
....................
Begitulah watak manusia yang susah bersyukur isi di dan pikiran nya selalu saja hal yang negatif sehingga yang terjadi setiap kata - kata dan tindakan nya adalah hal yang negatif juga selalu merugikan orang lain dan bila sudah seperti itu maka bukan lagi tindakan nya yang harus di rubah tapi pola pikir nya lah yang harus di rubah menjadi positif agar tingkah laku nya juga menjadi positif.
Lalu bagaimana kah sikap Ani saat berjumpa dengan Ita dengan membawa bukti foto yang sudah di edit oleh Gustafito apakah Ani akan semudah itu mempercayai nya semua foto yang di bawa Ita dan bagaimana dengan Satrio mampukah membawa pulang kembali ke dua putri nya dengan selamat tanpa kurang satu pun?
Untuk mengetahui jawaban nya ikuti terus kisah perjalanan mereka hanya di SATRIO YANG TERPINGIT ALAM dan jangan pernah lupa selalu dukung author agar lebih rajin update nya.
__ADS_1