
Terkadang kita menyamakan makna kata berserah dan menyerah padahal sesungguhnya sangat berbeda jauh makna nya bila berserah bermakna kita berserah dan menerima sebuah peraturan yang sudah di buat serta kita meyakini semua itu akan berdampak baik dalam diri kita namun bila menyerah bermakna kita sudah tidak mampu menjalani atau menghadapi suatu tekanan yang kita alami jadi kita menyerah kepada sesuatu yang lebih kuat atau berkuasa di suatu tempat.
Lalu sikap mana yang akan di ambil Satrio dan Ani untuk menghadapi kezaliman dan ketamakan keluarga Satrio apakah mereka berdua akan berserah kepada Allah dan berjalan sesuai petunjuk Allah untuk menghadapi mereka hingga mereka menyadari bahwa harta dan tahta itu hanyalah titipan Allah semata atau kah mereka berdua akan menyerah kepada keluarga Satrio dan mereka berdua menyerahkan semua harta amanah dari Nenek nya Satrio yang akan membawa mereka semakin congkak dan sombong?
Mari kita tilik sikap mereka berdua dalam menghadapi masalah keluarga yang sangat pelik dan di hadap kan dalam dua pilihan yang saling bersangkutan dan semoga bisa mendapat hikmah nya bagi para pembaca.
....................
Siang ini Ani baru saja selesai menjalan kan sholat dhuhur sambil memohon petunjuk kepada Allah sebab Ani benar - benar bingung harus mengambil sikap seperti apa sebab satu sisi anak - anak nya dan di sisi lain ada suami nya yang selama ini selalu mendukung dan menemani diri nya dalam suka dan duka namun keluarga suami nya sungguh tamak sehingga memanfaatkan siapa pun agar tercapai keinginannya untuk menyingkir kan Satrio.
Ya Allah berikan aku petunjuk kemana kaki ku harus melangkah sebab saat ini aku benar - benar bingung mana yang harus aku pilih antara suami dan anak ku sebab yang pasti aku sangat menyayangi mereka berdua dan bila aku harus memilih salah satu maka aku lah yang akan hancur ya Allah.
Bergumam lah dalam hati Ani yang masih duduk di atas sajadah dan masih menggunakan mukena dalam diam nya tiba - tiba mendengar bunyi dari hp nya yang di cas dekat tv saat itu Ani berfikir bahwa suami nya lah yang menelpon namun ternyata dugaan Ani salah sebab ternyata Ita lah yang menelpon Ani.
" Hallo dengan siapa ini dan tau dari mana no telepon saya?"
Tanya Ani dengan nada tegas.
" Tidak perlu tau kamu siapa aku dan mendapat no telepon mu dari siapa yang perlu kamu tau temui aku di jalan Jendral A. Yani no 23 nanti kamu akan tau sebuah kebenaran."
Jawab Ita dengan nada meremehkan.
" Baik jam berapa aku bisa kesana?"
Tanya Ani sambil mengernyitkan dahi.
" Jam 2 jangan sampai terlambat kecuali kamu ingin kehilangan kedua anak mu."
Jawab Ita dengan senyum licik.
" Di mana anak ku hallo ... hallo ....!"
Tanya Ani dengan nada khawatir namun telepon sudah di mati kan sepihak.
Sial di matikan apa maksud wanita itu apakah anak - anak ku bersama dengan dia atau bagaimana lalu siapa wanita itu dan apa tujuan nya yang pasti saat ini bukan waktu nya untuk aku berfikir tapi aku harus segera bertindak.
Bergumam lah lagi dalam hati Ani sambil melepas mukena nya kemudian mengganti baju nya menjadi lebih sporty mengenakan celana jins hitam, kaos putih stret, hijab abu - abu, jaket serta menggunakan sepatu dan kaos tangan sebab saat ini Ani akan menggunakan motor sport milik suami nya jadi Ani mengutamakan keselamatan nya dalam berkendara.
Tidak waktu lama Ani telah sampai di garasi di mana motor sport milik Satrio terparkir lalu Ani segera mengenakan helm dan segera memacu motor sport nya menuju jalan yang di katakan tadi dengan harapan segera menemukan kedua anak nya sedangkan di sisi lain ada Satrio yang menemui pengacara keluarga untuk menanyakan mengapa surat wasiat dari Nenek nya bisa ada di tangan Mbak Arik dan akhir nya bisa di ganti semua nama nya.
" Selamat siang Pak Darman saya ingin bertanya mengenai surat kuasa ini apakah Bapak bisa menjelaskan kepada saya apa maksud dari semua ini?"
__ADS_1
Tanya Satrio dengan tegas.
" Itu saya emmm itu bukan niat saya Pak itu emmm ...."
Jawab Pak Darman dengan nada gugup dan wajah mulai pucat serta keringat dingin mulai mengucur.
" APA MAKSUD NYA BICARA YANG JELAS DI HADAPAN SAYA!"
Teriak Satrio dengan wajah memerah dan menggebrak meja di hadapan nya.
Dalam kondisi seperti itu tiba - tiba masuk lah segerombolan lelaki berbadan tegap memukul tengkuk Satrio menggunakan kayu yang lumayan besar hingga Satrio jatuh tersungkur di lantai kemudian mereka membawa tubuh Satrio yang tengah pingsan ke sebuah gudang barang yang sudah tidak terpakai.
Tepat jam 2 Ani telah sampai di alamat yang sudah di janjikan saat itu Ani bingung lagi siapa yang akan di temui di cafe tersebut sebab begitu banyak pengunjung di situ sedangkan Ani lupa menanyakan kepada penelfon mengenakan baju apa orang yang akan di temui di cafe tersebut namun tidak begitu lama Ani berdiri di depan cafe hp Ani berbunyi kembali ternyata sebuah chat menyuruh Ani untuk masuk ke dalam cafe dan menuju ke meja no 47 tepat nya di samping cafe tersebut meja itu berada.
" Mbak maaf meja no 47 di sebelah mana ya?"
Tanya Ani kepada pelayan cafe yang kebetulan melintas di hadapan Ani.
" Mari Bu saya antar ke meja yang Ibu maksud."
Jawab pelayan tersebut dengan senyum ramah.
" Hay ... Ani datang juga kamu aku pikir kamu tidak akan memenuhi undangan ku."
Kata Ita yang sok akrab dan senyum sinis.
" Tidak perlu banyak basa basi di mana anak ku dan apa mau mu mengundang ku kemari."
Ucap Ani dengan nada tegas memandang ke arah Ita.
" Aku suka gaya mu yang lugas dan to the poin Ani kalau begitu ok kita langsung saja pada inti masalah nya."
Kata Ita dengan senyum sinis dan menyerahkan amplop coklat di hadapan nya kepada Ani.
" Apa ini?"
Tanya Ani sambil menerima amplop coklat dari Ita.
" Buka lah lalu lihat dan baca setelah itu silahkan tanda tangani berkas itu maka anak mu akan segera kembali dalam pelukan mu simpel kan."
Jawab Ita dengan senyum sinis.
__ADS_1
Kemudian Ani pun membuka amplop tersebut dan mengeluarkan foto serta berkas pengajuan tuntutan cerai kepada Satrio saat melihat semua foto itu amarah Ani mulai memuncak dan lumayan terkejut melihat kelakuan suami nya yang ternyata main gila di belakang nya dengan wanita lain saat itu hancur rasa hati Ani sebab lelaki yang sangat di puja dan di sayangi nya tega melakukan hal itu dengan wanita lain.
Ya Allah apa lagi ini mengapa Mas Satrio begitu tega kepada ku sampai hati dia melakukan hal ini kurang apa aku sebenar nya selama ini dengan nya hingga dia begitu tega kepada ku pantas saja berapa bulan terakhir ini sikap nya begitu dingin dengan ku bahkan dia selalu pulang larut malam ternyata ini yang dia laku kan di belakang ku sungguh tega kamu Mas.
Bergumam lah dalam hati Ani sambil melihat foto satu persatu dan tanpa sadar meleleh lah air mata Ani di pipi merasakan perih dan sesak di dada nya serasa petir menyambar diri nya saat melihat semua itu namun di sisi hati kecil Ani berkata tidak mungkin suami nya melakukan hal se hina itu.
" Bagaimana itu bukti bahwa Satrio lebih mencintai aku di banding dengan mu meski kamu adalah istri sah nya tapi mana bukti nya toh selama ini Satrio tidur nya dengan ku jadi sudahi saja hubungan kalian agar Satrio bisa hidup bahagia dengan ku."
Kata Ita sambil menikmati jus jeruk di gelas.
" Aku lebih mengenal suami ku di banding kau jadi jangan pernah menghasut ku dengan guyonan receh tidak bermutu seperti ini dan aku akan bertindak lebih pada kau cam kan hal itu."
Jawab Ani dengan penuh emosi.
Dengan waktu yang bertepatan ada beberapa polisi yang sedang menuju cafe tersebut dan seperti nya Ita tersugesti kata - kata Ani sehingga berfikir bahwa Ani memanggil pihak kepolisian untuk menangkap nya padahal sesungguhnya Ani juga tidak tau menau masalah polisi yang berjalan ke arah mereka berdua ternyata para polisi tersebut akan duduk di meja seberang tempat mereka berdua duduk namun Ita sudah merasa ketakutan.
" Sekarang kata kan di mana anak - anak ku atau kamu yang akan mendekam dalam penjara seumur hidup mu!"
Tanya Ani dengan nada penuh emosi.
" Nanti kita bicarakan hal ini lain waktu."
Jawab Ita dengan nada gugup dan terburu - buru pergi meninggal kan Ani.
" Hey ... tunggu jawab pertanyaan ku!"
Teriak Ani sambil melihat Ita pergi dengan tergesa - gesa.
Tidak bisa di biarkan wanita ular bludak ini mau kabur kemana pun akan ku kejar kamu berani - berani nya mempermainkan aku belum tau saja kamu siapa aku sebenar nya.
Bergumam lah dalam hati Ani sambil bangkit dari duduk nya dengan sigap segera menuju di mana motor sport nya terpakir kemudian Ani segera menyalakan motor nya dan segera mengejar mobil Ita kemana pun melaju demi jawaban di mana kedua anak nya berada sedangkan Satrio dan kedua anak nya terikat di sebuah kursi dengan mulut yang di lakban tidak bisa bergerak sedikit pun.
.................
Itu lah manusia yang di penuhi dengan penyakit hati iri, dengki, ke congka kan, kesombong an dan kemunafikan maka mata nya akan di tutup dan akan gelap jalan nya tidak akan pernah melihat setitik cahaya kebenaran meski ke benaran itu sudah ada di depan mata.
Lalu bagaimana selanjut nya apakah Ani akan berjuang sendiri demi anak - anak nya dan keutuhan rumah tangga nya atau kah Allah akan memberikan mukjizat kepada Ani dan Satrio yang sedang menghadapi masalah yang begitu pelik lalu bagaimana dengan Ita dan Gustafito apakah akan menyerah sampai disini usaha nya untuk menghancurkan hidup Satrio?
Ikuti kisah mereka hanya di SATRIO YANG TERPINGIT ALAM agar mengetahui apa sikap yang akan di ambil oleh Ani dan Satrio dalam menyikapi masalah yang tengah di hadapi mereka berdua dan jangan pernah lupa selalu dukung author agar selalu update.
__ADS_1