Scandal With Mr. Mafia

Scandal With Mr. Mafia
Will You Marrie Me? (end)


__ADS_3

Axe membawa Bella dan Ane ke istana megah ayah Respati. Kedua wanita itu hanya bisa tercengang disana melihat semua yang ada didepan mata. Terutama Bella, yang seakan tak percaya jika itu adalah milik kekasihnya.


"Bella, masuk." pinta axe padanya.


"Tapi Kak, Leo?"


"Dia ditangan yang tepat disana. Semua spesialis, pasti bisa mengatasinya." Axe berusaha menyakinkan Bella. Meski masih begitu ragu, tapi bella menurutinya dan masuk kedalam.


Para maid menyambutnya, mereka membawa Bella dan ane kekamar mereka masing-masing. Bahkan melayani Bella bak seorang putri didalam sana, memandikan hingga harum, memberi dan memakaikannya gaun yang begitu indah. Bahkan memasak makanan istimewa untuknya.


"Apa nona tak suka?" tanya sang maid ketika Bella belum juga menjamah makanannya.


"Bukan... Hanya saja,"


"Pasti Tuan muda. Makan dulu, nanti Axe akan membawa anda kesana."


"Benar?" tanya bella dengan penuh harap, dan maid itu menganggukkan kepalanya. Bella lantas dengan cepat menghabiskan semua makanan yang ada.


Sementara itu di Rumah sakit, mereka semua tengah cemas saat ini. Terutama ayah yang meski tampak tenang numun hatinya bergemuruh tak karuan rasanya. Biar bagaimanapun dan senakal apapun Leo baginya, nyatanya leo adalah putra kesayangannya. Ia sama sekali tak ingin jika leo pergi mendahului dirinya sebelum benar-benar bahagia.


"Dia sudah melakukan yang terbaik untuk dirinya, Tuan." ucap Pak Hadi yang berusaha menangkan sang tuan.


"Ya... Dia sudah menjadi yang terbaik menurut versinya," Ayah tertunduk lemah, didengarnya semua alat dari ruanganya saat ini. Ia tak dapat membayangkan apa yang Leo alami disana dengan segala rasa sakitnya.


"Dia kuat. Hanya peluru seperti itu, tak akan membuatnya jatuh. Hadi, siapkan pernikahan." titah ayah padanya.


Meski terdengar tergesa-gesa, apalagi Leo bahkan belum membuka mata. Pak hadi segera bersiap menjalankan semua perintah yang ada.


Belum selesai pak hadi dengan tab ditangannya, suara brankar keluar dari ruang operasi. Mereka membawa Leo dengan segala balutan ditubuhnya itu, dan seorang dokter menjelaskan pasal luka yang ia derita pada mereka.

__ADS_1


"Untung saja tak tembus ke jantung, jadi aman meski begitu sulit mengeluarkannya dalam posisi itu."


"Terimakasih atas usahamu." ucap Ayah pada dokter yang tak lain sahabat lamanya itu.


Leo dibawa keruangannya, dan ia masih belum bisa membuka mata efek obat bius ditubuhnya. Ayah menduga, pasti ketika bangun Bella lah yang paling pertama dicari olehnya.


Namun rupanya setelah sekian lama, Ayahlah yang terucap dari bibir Leo saat mulai akan membuka mata.


"Kau panggil siapa?" tanya ayah seakan tak percaya saat leo memanggilnya dikata pertama.


"Ayahhh," lirih Leo dengan segenap tenaga yang ada. Tampak disana ayah menitikan air mata, dan Ia segera menggenggam tangan putranya.


"Aku kira, selama ini kau tak pernah mengingatku dalam hal apapun. Terutama ketika kau mengenal gadis itu. Tapi, biar bagaimanapun kau adalah putra kesayanganku." Pak hadi bahkan ikut larut dalam kesedihan itu.


Setelah sekian lama, akhirnya ia melihat kemesraan mereka kembali meski harus melalui semua moment menyakitkan ini.


Kreeek! Pintu dibuka. Bella melihat moment itu langsung sungkan, dan Ia membalik badan hendak keluar. Tapi Leo memanggilnya.


"Leo," panggil Bella, yang langsung berurai air mata. Ia membalik badan lalu melangkah dengan gemoy nya menuju sang kekasih disana. Ia megulurkan tangan, dan langsung memeluk tubuh kekasihnya.


"Aaargghh... Bellla, ini sakit!" pekik Leo. Bella segera melepasnya lalu meminta maaf, dan tentunya langsung tertunduk malu dengan hadirnya sang ayah mertua disana.


Tatapan ayah langsung tajam dan fokus pada keduanya secara bergantian. Disana Leo dengan tenaga seadanya langsung menggenggam tangan Bella meski hanya sebisanya.


"Kami sudah tak bisa dipisahkan lagi," ucap leo. Dan memang sejak awal Leo tak pernah menutup bagaimana hubungan mereka didepan ayahnya.


Rahang ayah seketika menegang saat itu. Tangannya mengepal diatas paha, dengan tarikan napas dalam dan amat panjang terlihat hingga menarik urat lehernya.


"Menikahlah, dan seger beri aku cucu." ucap Ayah pada mereka. Padahal baru saja ayah terharu padanya, tapi Leo masih saja bisa membuat ulah lagi dengan tingkahnya.

__ADS_1


Leo baru saja sadar, ia harusnya istirahat dengan ketat. Tapi Ia tetap saja memperjuangkan bellanya disaat seperti itu. Sudah tak dapat tertolong lagi bagaimana bucin Leo pada pada kekasihnya.


Ayah lalu keluar. Ia tak menoleh lagi bahkan hingga pintunya tertutup kembali. Disana ayah baru bisa menghelakan napasnya dengan lega setelah sekian lama tertahan dibawah sana.


"Le?" panggil bella padanya. Tapi Leo hanya tersenyum, ia menatap bella yang semakin cantik dengan gaunnya.


"Aku ingin segera sembuh agar bisa merobek gaun itu dengan segera," godanya.


Plaaak! Bella melotot dan tanpa sadar memukul bahu Leo disana. Sontak pria itu lagsung berteriak kembali dengan segala nyeri yang ia rasa. Ia bahkan menitikan air mata tanpa sengaja.


" Lukanya baru dijahit, Bella." erang Leo. Bella yang langsung panik lantas dengan sigap menghembus lukanya. Berharap akan segera mereda. Tapi tatapan Leo justru mengarah pada benda lain ditubuh Bella.


"Hussst... Pssss!" desis Leo memberi kode padanya.


"Apaan? Masih sakit juga. Bisa-bisanya," ketus Bella, tapi bukan Leo namanya jika tak bisa memaksa Bella untuk memberikannya.


"Dibagian mana dia menyentuhmu. Aku ingin menghilangkan bekasnya,"


Bella lantas melirik kesana kemari, ia memastikan semuanya aman dan terkendali. Satu kakinya langsung naik keatas brankar untuk menyeimbangkan tubuhnya disana. Ia lantas menurunkan satu lengan gaun itu lalu menunduk, persis seperti ia tengah memberi makan untuk Leo saat ini.


"Kau tak pernah merasakan itu sakit? Bahkan lukamu separah itu," ucap Bella yang mengusap lembut rambut Leo dan sedikit menekan kepalanya.


"Kesakitan terbesarku adalah ketika kau pergi dariku." jawab Leo yang masih bergerilya dibwah sana. Toh ia tak melakukan apa-apa, ia masih tetap diam dibrankar dan itu tak akan menyakiti lukanya.


"Sudah," pinta Bella. Ia tak ingin justru memancing yang lain nantinya. Ia segera berdiri dan merapikan gaunnya kembali.


"Will you marrie me?"


"Apakah aku harus menjawabya? Kau bahkan sudah tahu, kenapa harus tanya," Bella memanyunkan bibir, membuat leo seketika gemas dan serasa ingin segera menyambarnya.

__ADS_1


Tapi Bella tahu arti ekpresi itu, dan Bella yang mengecup bibisnya lebih dulu. Rasanya semua luka sembuh seketika dari rasa sakitnya, tapi leo masih sadar jika itu hanya mimpi belaka.


"Rasanya... Eerrrrghhh!"


__ADS_2