Scandal With Mr. Mafia

Scandal With Mr. Mafia
Lama-lama aku gendut, Le.


__ADS_3

Bella yang super rajin itu baru saja selesai mencuci pakaian mereka. Sayangnya Leo belum bisa membelikan mesin cuci, toh tenaga Bella masih sangat kuat untuk melakukan itu semua secara manual dan bersih. Leo lebih suka itu.


Bella mengusap dahi dan menyibakkan rambut yang mulai berantakan saat Ia akan menjemur pakaian. Ia keluar ke balkon dan melihat suasana diluar itu cukup ramai dengan penghuni disetiap ruangannya. Kadang bella ingin keluar dan bertegur sapa, tapi Leo melarangnya.


Bella saat ini memang sudah seperti ibu rumah tangga yang baik, menuruti setiap titah suaminya selama ia bekerja. Usai menjemur semua, Bella kembali duduk mentontin tv bersama cemilannya. Ia juga menunggu panggilan Leo yang sejak tadi tak ada kabar sama sekali padanya.


"Rasanya gelisah. Dia lagi ngapain?" gumam Bella yang sesekali melirik hpnya, yang bahkan wallpapernya sudah terpasang foto mereka berdua beradu pipi dengan mesra.


Masih banyak foto yang lain, saat bella Mengabadikan moment indah penuh kasih sayang mereka lewat kamera.


" Le... Kamu sibuk?" tanya Bella yang memberanikan diri mengirim whatsap pada kesayangannya.


Tak dibalas, dan Bella hanya diam sejenak menghela napas. Hingga pada akhirnya beberapa menit kemudian hpnya berdering dan Leo memanggil. Seketika bella merapikan dirinya, karena Leo melakulan Video call padanya.

__ADS_1


"Ya, Le? Kok nelpon?" tanya bella.


"Hanya ingin melihat wajahmu. Takut jika kau sudah terlalu rindu padaku akibat setengah hari tak bertemu." jawab Leo dengan wajah cukup datar karena saat itu Ia tengah menikmati secangkir minuman. Dan sepertinya adalah kopi.


Bella seketika memanyunkan bibirnya dengan ucapan yang Leo berikan. Tapi memang benar sih, Bella memang merasa amat sepi saat leo sama sekali tak menghubunginya setengah harian ini. Bahkan ini sudah mulai sore gara-gara Bella ketiduran setelah membaca novel online dihpnya.


Melihat Bella yang seperti itu, ingin rasanya leo segera pulang untuk memakannya. Pasti rasanya akan begitu nikmat disaat seperti ini, yang ia baru saja lelah bertarung dan bekerja setelahnya.


"Kau sudah makan?" tanya Leo yang menahan dahaganya. Ia tampak beberapa kali menelan saliva dan mengalihkan diri pada cerutu yang Ia pegang saat ini. Menghisapnya dengan kuat dan menghembuskan asapnya ke udara.


Leo hanya tersenyum renyah mendengat kicauan bella dari sana. Ia tahu betapa bella kebosanan jika dikurung didalam rumah seperti itu, apalagi ia terbiasa bekerja dengan keras nyaris sepanjang hidupnya.


" Supaya tubuhmu sedikit berisi, Bell. Kau terlalu kurus," jawab Leo. Tapi Bella justru hanya memberikan senyum smirk padanya yang selalu bisa menggetarkan jiwa.

__ADS_1


Obrolan mereka santai, dipenuhi canda dan tawa seperti biasanya. Apalagi. Jika sudah ada saja bahasan yang keluar dari mulut Bella untuk terus bercerita. Ia bahkan mempertanyakan pekerjaan Leo ditempat barunya.


"Kamu nyaman disana?" tanya Bella yang terus mengunyah cemilannya..


"Betah. Disini enak, karena semua orangnya baik. Meski tak senyaman di resto,"


"Aku juga kangen mereka, Le." sedih bella.


Leo tak mungkin menceritakan semua penyerangan pada gadis itu, karena Ia akan lebih sedih nantinya. Bella amat sensitif dengan semua orang yang pernah dekat dengannya, apalagi yang memang menopang hidupnya selama ini.


" Leo... Loe ngobrol sama siapa?"


Suara gadis mendadak mengejutkannya dari sampingnya. Leo seketika menoleh, dan tepat didepannya adalah Dua buah bongkahan yang cukup besar terpampang dengan bungkusnya yang amat minim.

__ADS_1


Leo yang gugup, seketika menutup mata dan mematikan panggilannya dari Bella. Ia takut bella melihat bagaimana rekan kerjanya disana. Atau, bella sudah terlanjur melihatnya dan gelisah disana


__ADS_2