
Kedua anak manusia itu keluar tanpa hambatan dari Resto. Hanya pelukan hangat dan doa terbaik dari para sahabat untuk mereka berdua ditempat barunya. Keduanya pun begitu gembira berjalan bersama menggunakan motor baru menuju rumah kecil yang sudah dipersiapkan Leo untuk Bella.
"Ini gede, Le. Segede rumahku sama Ayah,"
"Lah, kamu maunya yang ada dapurnya, Bell. Kamar juga Dua, kan?" omel balik leo padanya. Ia segera meminta bella membuka pintu rumah susun lantai Tiga itu, lalu masuk bersama melihat rumah baru mereka yang memang cukup besar saat ini.
"Ini mahal?"
"Urusanku yang cari duit. Yang penting kamu nyaman," tukas Leo padanya.
Bella hanya menatap sengit. Padahal, Ia hanya ingin membantu Leo masalah keuangan mereka nantinya, tapi justru leo bertindak seolah sudah menjadi kepala keluarga untuknya. Padahal belum jelas, pekerjaan bagaimana yang akan leo dapat untuk menafkahinya nanti.
Bella menaruh tas di sofa, ada sofabed yang cukup besar disana untuk mereka berdua. Lalu bella berjalan menuju dapur, bahkan disana sudah ada peralatan yang cukup lengkap meski sedikit usang. Tangan Bella gatal membersihkannya dengan segera.
__ADS_1
Apalagi rumah sepeerti begitu lama ditinggal hingga semuanya tampak berdebu tebal saat bella mengusapnya dengan jari.
"Wuaduuuh!" tatap Bella dengan tangannya yang penuh noda.
"Bell, mau makan apa? Aku cari makan siang dulu."
"Ngga belanja sekalian? Kita butuh stok setidaknya mi instan, sama beberapa bahan makanan intik persediaan." pinta Bella. Tapi Leo memintanya untuk bersabar karena mereka perlu membersihkan rumah terlebih dulu siang ini.
Ia ingin mengajak Leo jalan sore ini untuk menikmati suasana kota baru mereka, yang agaknya cukup indah dan ramai dari kota sebelumnya. Apalagi, belma memang belum pernah keluar sama sekali dari kota kecil itu seumur hidupnya.
Leo pergi, Bella mengganti pakaiannta dengan kaos oblong yang lebih longgar dan mengenakan hotpants yang ia punya agar lebih nyaman. Karena disana lebih panas, dan Bella tak menyalakan kipas angin demi kelancaran tugas bersih-bersihnya hari ini.
Semuanya harus selesai, hingga Ia bisa istirahat dengan nyaman dikasur barunya yang empuk didalam kamar itu. Leo memang menuruti semua kemauan bella dengan baik, hingga membuatnya merasa amat berbunga-bunga saat ini dengan apa yang leo berikan padanya.
__ADS_1
Usai menyapu, Bella mengepel seluruh ruangan. Leo baru pulang setelah sekian lama Ia pergi, dan ia menyiapkan makan siang dengan apa yang Ia beli barusan.
Namun, seolah ada saja yang bisa menganggu konsentrasinya. Kaos oblong yang dipakai bella itu adalah miliknya, yang jelas kebesaran seperti daster ditubuh kecil bella. Saat ia menunduk, bagian atasnya terbuka kebawah dan memperlihatkan sebuah pemandangan yang indah didepan mata.
Yang mana Leo selalu gemas memainkan dan menikmatinya nyaris setiap hari, tapi Ia seolah tak pernah puas dengan itu semua.
Apalagi saat Bella beberapa kali mengibaskan kaos itu karena udara panas yang ada, memperlihatkan pundaknya yang menggoda dengen leher jenjang berkeringat danĀ bisa membuat Leo menelengkan kepala demi melihat apa yang ada dan meneguk saliva dalam-dalam.
Leo ternganga menahan segala gejolak yang ada, seakan membangunkan sesuatu yang akan menyakitkan dirinya dibawah sana jika tak segera diberi makan. Ia berusaha sekuat tenaga menghindarkan matanya dari apa yang ada, tapi bahasa tubuhnya begitu jujur untuk terus meperhatikan bahkan mendekat padanya.
"Kalau laper, makan dulu aja. Aku nyusul, tanggung nih." ucap Bella, yang membungkuk mengepel bagian bawah meja, semakin memperlihatkan bagian pahanya yang mulus penuh pesona luar biasa.
Greepp! Akhirnya Leo menghampiri Bella dan memeluknya dengan erat dari belakang. Bella langsung tersentak, namun Ia tak sama sekali melawan karena Leo yang mendekapnya. Apalagi Ia mendengar suara Leo yang terasa begitu berat dan tertahan, mulai mengecupi kepala dan rambutnya dengan begitu hangat.
__ADS_1