Scandal With Mr. Mafia

Scandal With Mr. Mafia
Dasar Bucin


__ADS_3

Leo masih dengan motornya. Ia lebih nyaman seperti itu karena merasa lebih bebas menjadi dirinya sendiri, apalagi motor itu memenuhi kenangannya bersama bella selama ini. Ia kini telah sampai dirumah besarnya, dan saat itu ayah dan pak Hadi sudah menunggu diruang tamu mereka. Tatapan yang diberikan seperti akan mengadili saat ini, tapi Leo sudah amat siap dengan segala konsekuensi yang ada.


"Leo akan memilih bella jika jika ayah tetap menentangnya," ucapnya dengan lantang, bahkan  ketika ayahnya belum sempat bicara apa-apa.


 "Bucin..." cibir sang ayah, yang rupanya tahu istilah anak muda jaman sekarang. Tapi Leo tak perduli, Ia memang bucin pada Bella saat ini hingga tak ada yang boleh menyentuhnya sama sekali.


Ayah hanya diam disana menunggu Pak Hadi mengecek semua data yang ia dapatkan tentang Bella. Ia menunjukkan sebuah foto mengenai gadis itu yang bahkan sempat ada diselebaran pencarian orang hilang.


"Leo menghajarnya saat itu, dan mereka berhenti mengejar bella."


"Kau yakin? Ayah tahu mereka bukan orang yang mudah menyerah begitu  saja," ujar sang ayah yang kebetulan sempat mengenal komplotan penjuan gadis itu.


Leo mempertajam tatapannya, dan meraih tab yang ayahnya pegang saat ini. Ia memperhatikan semuanya dan memang ada beberapa foto orang yang sempat ia hajar waktu itu. Dan Ia menemukan foto ayah bella disana. Leo mengtakan dengan jujur siapa yang ada disana.


"Tama?"


"Ayah kenal?"


"Hanya tahu, dan bahkan Ia sempat mmeinjam uang dengan jaminan putrinya. Tak ku sangka, putrinya sekarang menjadi milik putraku." jawab ayah dengan ekspresi datarnya. Leo juga hanya datar, tak bertanya lagi apa permasalahan mereka yang lainnya.


"Leo akan menikahi Bella," celetuknya, dan seketia itu tab yang ada ditangan ayah terlempar mengenai dahinya. Tepat diujungnya hingga berdarah, karena memang ayahnya tahu cara melempar benda dengan baik dan benar hingga tepat sasaran. Itu karena Leo memang tak mau menghindar, dan semua itu terjadi.


"Ayah sendiri bilang jika tak akan ada perjodohan! Haisshh!!" rintihnya dengan segala kesal dihati.


"Tapi tak secepat ini. Kau mau ada perang ketika pernikahan itu terjadi? Kau lihat Rena, Dia saja sangat terobsesi padamu. Kau harus membuatnya tenang dan melupakanmu,"

__ADS_1


"Menikah, maka Ia akan melupakan_..."


Takkk!!! Sebuah asbak kaca lagi-lagi mengenai dahinya. Saat ini ayah tak bicara dan hanya menatapnya, sementara Pak hadi memanggil salah seorang maid untuk segera mengobatinya.


"Kau merasa jika itu semua mudah. Bereskan dulu urusan kita, baru kau fikir pernikahan. Dan... Jangan buat Bella hamil sementara waktu. Itu akan sangat berbahaya," titah sang ayah, yang kemudian berdiri meninggakannya.


Saat itu pak Hadi hanya menggelengkan kepala. Posisinya yang tersulit saat ini karena berada diantara ayah dan anak yang sulit akur itu, meski sebenarnya mereka adalah keluarga yang kompak diluar sana bagai sebuah kesatuan yang amat bisa diandalkan.


Pak Hadi meraih tabnya, lalu mengusap untuk memeriksa bagian yang rusak disana. Kacanya ratak, tapi masih bisa menyala dengan sempurna. Itu tab mahal, yang mungkin seharga motor Leo jika diuangkan.


"Tinggal beli yang baru, apa susahnya?"


"Kepalamu, beli yang baru. Kau fikir mudah? Semua data ada disini, jangan gampang menganggap sepele pada semuanya." omel pak hadi padanya. Leo seketika diam, membiarkan Maid mengobati luka yang menganga didahinya.


"Andai bella yang melakukannya," khayal Leo saat ini, untung saja mengkhayalnya tak kebablasan hingga tak terjadi sesuatu yang fatal disana. Bisa mati jika ia melakukannya apa dengan seorang maid meski usianya masih muda.


"Arrrghhh!!" Leo memekik. Lukanya tesenggol dan begitu sakit, bahkan ia mencekal tangan Maid itu dengan sekuat tenaga hingga maid itu mengeluarkan air mata. Apalagi ditambah tatapan dingin Leo padanya seakan bisa membunuhnya kapan saja.


"Tuan... Maaf," ucapnya dengan suara bergetar ketakutan. Leo seperti muncul sifat aslinya, yang amat berbeda ketika bersama Bella. Dan hanya Bella lah pawangnya saat ini yang bisa meluluhkan seluruh jiwa dan raganya, Apalagi dengan sesuatu yang sering bergejolak dibawah sana.


Leo melepaskan cekalannya, dan maid itu kembali bertugas dengan membalut lukanya. Pak Hadi kemudian mulai membacakan jadwak sesuai dengan tatanan yang ada meski sulit karena layar tabnya yang retak. Bahkan harus melihatnya dengan begitu dekat agar semua jelas terbaca dengan kaca mata tebalnya.


Usai dengan luka itu, Leo naik keatas untuk berbenah diri. Jadwaknya begitu padat hari ini dengan segala kegiatan yang ada. Ia turun lagi dan siap menjalani harinya kali ini. 


**

__ADS_1


"Kak Roy, mana bajunya biar Bella cuciin?" panggil Bella padanya. Roy yang tengah santai dengan game nya lalu berjalan memberikan baju kotor pada kekasih sahabatnya itu. Bahkan Ia menawarkan diri untuk membantu pekerjaan yang ada, tapi Bella menolaknya.


"Kalau ada jadwal kerja ngga papa, pergi aja." ujar bella yang mulai sibuk dengan rendamannya.


"Belum ada, Bell. Nanti aja kalau memang udah ada panggilan, temenin kamu aja dulu." jawab Roy yang duduk didekat bella saat itu. Yang ia bahkan sempat meledek dan mengajak bella untuk membeli mesin cuci baru untuknya, apalagi uang yang diberikan Leo itu tak ada serinya. Bahkan mungkin meski belum habis, Leo akan terus menambah saldonya dari sana.


"Bella masih kuat kok cuci manual," kilahnya.  Ia hanya terlalu sayang untuk menghamburkan uang, apalagi pemberian Leo. Entah kenapa masih amat sungkan.


"Kalau kamu kerja terus begini, nanti tangan kamu kasar. Kamu mudah capek, dan kasihan ketika Leo butuh sama kamu tapi kamu kelelahan,"


"Butuh buat apa Kak?" tanya bella yang lemotnya kumat. Entah hari ini ia amat sulit untuk memahami kata-kata yang terucap dari lawan bicaranya. Roy saja memberikan ekspresi seperti yang Leo berikan tadi kemarin malam. 


Bella terus menggosok pakaian yang ada ditangannya secara manual. Ia meraih celana bahan leo, dan saat itu Roy menegur agar tak menggosoknya dengan kasar. Itu benda mahal, dan pesanan khusus dari penjahit keluarga mereka hingga tak bisa asal mengerjakannya.


"Kalau cuma direndem aja, gimana mau bersih?" omel Bella seakan tak percaya.


"Nurutlah, Bel. Kau ini, tahu lah aku dengan kelaurga mereka. Kalau kau tengok rumahnya, beuuuuh...."


"Segede apa?" tanya Bella dengan sinis, meski juga penasaran dengan potongan ucapannya.


"Segera rusun ini," jawab Roy.


"Rusun? Seluruh bangunan? Ah, Bella ngga percaya." eyel Bella padanya. 


"Terserahlah, aku hanya memberi gambaran. Agar nanti jika kau jadi masuk kesana, kau tak lagi tercengang karenanya." balas Roy yang kembali fokus pada layar hp dan gamenya.

__ADS_1


Seakan tak percaya, tapi Roy tak mungkin bohong padanya. Atas dasar apa juga ia bohong, tak ada fungsinya memberi harapan pada bella, yang sebenarnya memang tak berharap apa-apa dengan kekuasaan yang ada. Yang terpenting, hanya Leo yang akan tetap jadi miliknya.


__ADS_2