
"Le, mau kemana?" tanya Bella yang terbangun dari tidurnya. Badannya terasa sakit semua seperti baru saja di pukuli, tapi satu titik ternyeri itu ada dipangkal pahanya saat ini.
"Akh..." Bella meringis kesakitan saat ini bergerak dan berdiri.
"Aku mau kerja, Bell. Tapi kamu tahu sendiri, jika berangkat siang berarti aku akan pulang malam nanti." jawab Leo yang tengah merapikan dirinya. Memakai kemeja dan celana jeans yang barusan dan Ia pakai lagi. Toh tak kotor dan Ia sudah membersihkan diri lagi sebelumnya.
" Haisssh... Sssttt!" pekik Leo saat merasa lengannya perih. Itu semua karena Bella sempat menancapkan kukunya yang tajam dilengan Leo tadi hingga sedikit terluka.
Bella langsung tertunduk saat paham jika itu adalah ulahnya. Tak enak hati hingga melukai sahabatnya sampai seperti itu.
"Maaf, Le. Aku ngga sengaja, soalnya_..."
"Ngga papa. Bahkan aku tahu kalau kamu lebih sakit tadi. Ngga bisa gerak kan?" tanya Leo. Bella semakin tersipu malu sembari menggelengkan kepalanya saat itu. Lantas membayangkan adengan yang baru beberapa jam lalu mereka lakukan.
__ADS_1
Adegan yang dilakukan oleh pria dan wanita dewasa. Dan apaakah berarti Bella sudah jadi dewasa sekarang? Bahkan dihati kecil Bella mengakui jika itu semua terasa amat nikmat meski awalnya begitu menyakitkan dan membuatnya menangis dan menjerit.
"Ikut," rengek Bella saat itu. Rasanya Ia begitu takut jika harus dirumah, takut sendirian dan takut jika ayahnya tiba-tiba datang. Padahal sang ayah bahkan tak pernah tahu mengenai Leo dalam hidupnya. Dan bahkan jika Ia datang lagi ke Restaurant untuk menariknya, Leo akan ada di garda depan untuk melindunginya.
"Tak usah, kau masih sakit."
"Engga, Le. Ngga sakit kok, aku masih bisa_... Aaaahhh! Ternyata beneran sakit," lirihnya menatap area bawahnya yang masih tertutup selimut itu. Bahkan Ia belum memakai pakaiannya saat ini dan masih polos didalam selimutnya.
Leo hanya menelengkan kepala menatap kengeyelan Bella saat itu.
"Aaahh!" Bella memekik kembali. Mungkin lukanya perih lagi saat itu, tapi Leo hanya diam dan memijat dahinya duduk di lantai sembari bersila. Hingga Ia melihat Bella keluar berjalan sambil mengapit kedua kakinya.
"Sakit kan? Terus, gimana?" tegas Leo saat itu.
__ADS_1
"Bisaaa, tunggu dulu." Bella berusahan meyakinkan Leo. Ia mengganti pakaiannya hingga rapi dan menarik Leo segera berdiri untuk berangkat.
Masalah kembali muncul, saat Bella teringat Ia harus naik motor besar dan tak mungkin naik dengan anggun saat itu.
"Ngeyel lagi?" tukas Leo.
"Bisa kok," Bella mendorong leo untuk naik duluan, lalu Ia menyusul naik dibelakang dengan amat perlahan. Rintihannya terdengar jelas ditelinga Leo meski Ia telah mamakai helmnya. Hanya menggelengkan kepala untuk yang kesekian kalinya.
Perjalanan Leo buat secepat mungkin. Jiwa pembalapnya keluar agar Ia sampai disana. Selain memikirkan waktu, Ia juga memikirkan kondisi bella saat itu. Hingga mereka sampai, turun dan masuk dengan sambutan para sahabat untuk Bella.
"Kenapa dateng? Kamu masih sakit?" tanya Nita yang disambung oleh Flo dibelakangnya. Mereka amat cemas, terutama Pak Brandon yang juga ikut keluar dari ruangannya menghampiri Bella.
"Kau tak apa, Bell?"
__ADS_1
"Bapak? Saya ngga papa, Pak. Memang ada beberapa luka dibagian tertentu, tapi udah diobatin sama Leo." jawab Bella dengan jujur.
Pak Brandon pria dewasa, yang pasti langsung paham bagian tertentu yang dikatakan oleh Bella. Apalagi dari Tomo berkata jika kemungkinan Bella nyaris di per kosa oleh orang itu. Tatapan Pak Brandon beralih pada Leo yang baru masuk usai memarkirkan motornya. Ia ingin menghindari fikiran negatif, tapi entah kenapa begitu sulit saat ini seolah Ia membaca apa yang tengah terjadi.