
Karena asyiknya semua kegiatan itu, Bella sampai tak sadar jika telah polos saat ini. Sedangkan Leo masih memakai segitiga yang masih menutupi miliknya saat itu. Bella melihatnya sudah begitu sesak disana, seperti yang ditunjukkan oleh Om itu tapi tampak lebih besar.
"Ku bilang apa, Le. Itu kekecilan masih kamu pakai, sesek."
"Sudah begini masih bisa meledek. Dalam mode normal tak seperti ini, Bell. Ini karena kau, dia tertekan didalam sana." omel Leo saat itu.
Bella hanya melotot ngeri, mencerna apa yang leo maksud saat itu.
"Kau sempat melihatnya?" tanya Leo yang masih menikmati tiap jengkal tubuh Bella dengan bibir dan lidahnya.
"Cuma-ditunjukin aja, Le. Tapi... Ngga segitu," jawab Bella dengan polosnya. Sembari terus bergerak liar menikmati setiap sentuhan yang Leo berikan padanya.
__ADS_1
Seperti itu rasanya sebuah penyatuan antara dua insan. Memang nikmat dan memabukkan, pantas saja semua orang bagai candu dan tergila-gila dengan semua itu. Mereka bahkan melakukan berbagai cara untuk dapat menikmati dengan cara apapun yang mereka mau. Meski masih terbesit tanda dikepala Bella saat itu.
"Apa bedanya perawan dan tidak perawan, Le?" tanya Bella dengan segala keingintahuannya saat itu.
Leo hanya tersenyum, menambah rasa penasaran Bella saat ini dengan terus me nge cupi tubuh polos Bella yang ada dibawahnya. Semakin lama semakin kebawah hingga keperut Bella, dan kini Ia telah berada didepan lembah indah itu. Bella tersipu malu dan berusaha menutup dengan mengapit kedua pa hanya, tapi Leo kembali membukanya dengan sedikit kasar. Lalu membenamkan wajahnya diantara kedua pAha dengan lembar surgawinya.
"Aaaahhh! Leo!" Bella memekik kuat saat Leo mulai memainkan lidahnya disana. Ia sama sekali tak tahu apa yang Leo lakukan dan apa fungsinya. Tapi semua itu terasa seperti Leo memberi sebuah sentruman listrik yang kuat menyebar keseluruh tubuhnya saat ini.
Mulai terdengar rengekan demi rengekan manja dibibir cerewet itu, dengan tubuhnya yang mulai sudah tak karuan kesana kemari mere masi bantal yang ada dikepalanya saat itu. Membu sungkan da da hingga Leo semakin bebas menyentuhnya untuk mempermainkannya menambah segala gelenyar yang ada.
Semakin kuat de sahan Bella saat itu, makin kuat pula hisapaan Leo dibawah sana. Bahkan hisapaan kuat itu terdengar ditelinga Bella dan membuatnya kembali mempertanyakan apa yang sebenarnya tengah Leo lakukan hingga tampak begitu nikmaat baginya.
__ADS_1
"Le... Stop, Le. A-ku i-ngin.... Ke kamar mandi," lirih Bella memohon, berusaha mendorong kepala Leo yang masih terbenam dipangkal pa hanya saat itu.
Le nguhan Bella semakin kuat, makin lama makin menegang hingga jari jemarinya mengunci dengan apa yang tengah Ia genggam, tubuhnya melenting dan pinggulngya spontan naik saat Ia merasakan pelepasan untuk yang pertama kali. Bukan hanya selama permainan, tapi selama hidupnya yang tak pernah tahu apa itu sebuah pelepasan.
Napas Bella terengah-engah. Dadanya naik turun dengan teratur dan berusaha mengembalikan iramanya seperti semula. Leo bangun dan merangkak keatas tubuh Bella dan mengecupinya beberapa kali setelah itu. Dengan tangan yang kembali bermain dipuncak merah mudanya yang masih mengeras ingin dijamah pemiliknya.
"Bagaimana?" tanya Leo.
"Itu tadi apa? Kau tak jijik?" tanya Bella mengusap bibir Leo yang basah dengan ibu jarinya.
"Aku hanya membantu membuka jalan penyatun kita. Apa kau siap untuk_..."
__ADS_1
"Apa, Le? Siap untuk apa? Aaaaakkkkhh!"