Scandal With Mr. Mafia

Scandal With Mr. Mafia
Terus, Kita gimana?


__ADS_3

"Semoga rencana kita ini berhasil, Tuan Respati. Nanti, kedua anak kita ini akan menjalankan bisnis bersama." ucap Pak Jay pada Ayah Leo, dan hanya dibalas senyumnya saja.


"Hanya bisnis," lirih Leo memotong ucapan itu.


"Kalau lebih boleh, Leo?" tatap Rena padanya, namun hanya dijawab tatapan datar oleh Leo yang ada dalam gandengannya. Rena tahu maksud dan artinya, tapi masa bodo karena sekarang Leo bersamanya.


"Aku berharap kau tak terlalu banyak berharap dengan yang terjadi, Re." ujar Leo, membuat gadis itu seketika menundukkan kepalanya. Untung saja Tuan Jay tak mendengar, tapi Ayah tahu ucapan itu keluar dari bibir putranya.


"Biarkan mereka menjalani, Tuan. Kita tak akan bisa memaksa dalam hal ini," ucap Ayah Leo. Sempat lega mendengarnya, tapi leo harus tetap berjaga-jaga.


Mereka semua keluar dari hotel itu, tangan Rena tak lepas dari lengan leo sepanjang jalan yang ada meski Leo beberapa kali berusaha melepasnya.


" Bisa kau lepas? "


" Kenapa? Ada yang cemburu?"


"Ya," jawab Leo tanpa basa basi. Rena seketika berubah, Ia diam tapi memasang wajah kesal. Ia tak juga melepaskan genggaman tangannya.


"Siap yang bisa merebut hatinya? Aku cantik, kaya, pintar dan berkuasa. Hhhh..." cebiknya, membanggakan diri sendiri yang terhebat dimata keluarganya.


Tiba dipintu depan, mereka sama-sama berpamitan. Barulah tangan Rena perlahan mengendurkan genggaman dari Leo. Rasanya berat, bahkan ia ingin ikut Leo saja jika bisa.


" Atas dasar apa?"


"Kakak tahu, Rena suka kakak sejak kecil."


"Itu masa lalu, sudahlah." Leo menyingkirkan tangan itu darinya hingga benar-benar terlepas dan lega. Tap justru yang lain mengganggu indranya, ketika suara gadis yang amat ia kenal memanggilnya dari arah yang tak terduga.


"Leo?" ucap Bella yang berdiri disana.


"Bella?" lirih Leo, pak Hadi juga melihatnya dari sana. Ia melirik leo agar berusaha mengabaikan gadisnya demi kenyamanan bersama.


Roy mengejarnya, seketika menghentikan langkah dan menggandeng Bella untuk segera Pergi dari sana secepatnya. "Bell... Ayo pulang, Bell." ajak Roy padanya. Apalagi melihat Pak hadi dengan segala kode untuknya.


Sedangkan Leo masih diam disana, Ia mematung menatap bella tanpa berkedip. Ingin rasanya segera meraih dan membawanya pergi dari sana, ia tak ingin bella terlihat oleh mereka semua.

__ADS_1


"Bell," bujuk leo lalu menyeret Bella pergi dari sana. Bella tak melawan sama sekali, karena Leo juga mengisyaratkan Ia untuk segera pergi darinya.


"Kak, itu Leo kenapa? Kok disana?" Bella masih penasaran dan akan terus bertanya hingga mendapat jawabannya. Tapi Roy diam, Ia memasangkan hel  pada bella kemudian memasang helm itu untuk dirinya sendiri.


"Kak Roy?"


"Nanti leo akan menjelaskan sendiri sama kamu, Bell. Ayo pulang," ajak roy yang menggenggam tangan bella agar naik  ke motornya. Tapi bella diam, tubuhnya membatu disana tanpa mau mendekat sama sekali dengannya. Wajahya tertunduk, tangannya mengepal hingga tampak urat tipisnya.


"Leo... Anak orang kaya ya?" celetuk bella saat itu juga. Roy hanya menghela napasnya panjang atas pertanyaan Bella, Ia bingung harus menjelaskannya dari mana. Begitu panjang jika Ia harus menjelaskan dari awal hukuman leo padanya.


"Bell_..."


"Kak, Leo anak orang kaya kan? Lantas kenapa pura-pura miskin, Kak?"


"Ada alasannya, Bella. Nanti leo akan jelaskan semua sama kamu dirumah, aku ngga bisa kalau_..." 


Ucapan Roy terhenti, leo ada dibelakang Bella saat ini. Roy membiarkan Leo mendekat pada bella dari belakangnya hingga tangan mereka kini saling bergandengan. Barulah bella mengangkat kepala dan menoleh padanya.


Bella menatapnya sedikit takut kali ini, bukan lagi tatapan penuh cinta seperti biasanya. Ia takut Leo benar-benar anak orang kaya dan akan meninggalkannya setelah mendapat yang lebih baik darinya. Apalagi ketika melihat gadis yang menggandeng leo disana, berkali lipas cantik dan pintar dari bella.


"Roy_..."


"Ya, Le?" Roy langsung turun dari motor dan memberikan helmnya pada Leo. Begitupun Leo yang memberikan kunci motornya pada Roy untuk membawanya.


"Ngga mau... Pulangnya sama kak roy aja," tolak Bella padanya  dan membatu ketika Leo menarik naik ke motornya.


"Naik, Bell. Kita perlu bicara," 


"Engga!"


"Bella!!!" 


Baru kali ini Leo membentak, dan itu amat terasa sakit dan sesak di dada bella. Ia langsung tertunduk dan mengeluarkan air mata, membuat leo merasa bersalah padanya. Leo membalik badan menatap bella dan mengangkat wajahnya, mengusap air mata yang terlanjur mengalir disana.


"Bell... maafkan aku. Kita pulang, aku akan jelaskan semuanya. Okey?" bujuknya dengan begitu lembut kali ini. Leo meraih pinggang bella dan membantunya naik keatas motor disusul dengannya sendiri, kemudian mereka berjalan pulang kerumah mungil mereka yang nyaman.

__ADS_1


Sepanjang jalan Bella sama sekali tak memeluk Leo, bahkan duduknya saja menjauh beberapa centi dari kekasihnya. Leo meraih tangan Bella untuk memeluk pinnggang, tapi Bella melepasnya seketika. Begitu terus beberapa kali hingga leo mengerem motor mendadak dan tubuh Bella maju menabraknya. Tapi bella sama sekali tak bicara, hanya terdengar sedikit rinti han dibibirnya.


Gas motor itu Leo putar dengan kuat hingga lajunya semakin kencang. Bella akhirnya kalah dan memeluknya dengan erat saat ini, hingga mereka berdua benar-benar tiba dirumah. Keduanya masuk, dan Bella langsung menuju kekamar tanpa menutup pintunya. Masker dan semuanya telah ia lepas, duduk diatas ranjang dengan diam tanpa menatap leo meski didepan matanya.


Leo melepas jas dan dasinya, Ia melonggarkan sedikit kemeja yang ia pakai dan mengankat celana duduk disamping Bella. Dekat, tapi Bella seketika menjauh darinya. Bahkan ketika Leo ingin menggenggam tangan, Bella seketika menyingkirkannya.


"Kau takut padaku?"


"Kamu siapa sebenanrya, Le? kenapa kamu bersama mereka?"


"Apalagi yang mau kamu tanyakan, aku akan jawab semuanya."


"Apa kamu orang kaya?


"Ya... Ayahku kaya raya, Bell. Bahkan kau tahu? Aku adalah anak seorang mafia," jawab leo apa adanya. "Dari awal aku jujur padamu, jika aku bukan orang baik. Benar?"


Bella semakin menjauh dari Leo, bergeser bahkan sudah beda arah dengannnya. Leo tahu ketakutan bella kali ini padanya, meski Bella sebenarnya masih amat merindukannya.


Leo kemudian menceritakan semuanya, mengenai apa saja hal yang membuatnya bertemu dengan bella sebagai orang biasa. Bella mendengarkannya, sesekali dengan isak tangis yang terdengar ditelinga kekasihnya itu.


"Terus kita gimana? Aku tahu aku yang bodoh. Aku sejak awal ngga begitu berharap akan hubungan kita. Tapi kamu begitu memberi harapan. Aku gimana?" tangis Bella sejadi jadinya.


Ia memang tak pernah berharap banyak selama ini, namun rupanya sakit juga rasanya jika sudah begini disaat hidupnya sudah bergantung pada leo seutuhnya. Jangankan berpisah, pergi sebentar saja bella sudah amat sedih karenanya.


"Seperti yang sudah aku katakan, Kamu milikku... Bella fortuna." Leo meyakinkan atas hubungan keduanya. Bella seketika berdiri dan menatapnya dengan buliran air mata yang makin deras disana.


"Kamu iya, keluargamu? Aku siapa? Aku ngga ada apa-apanya jika... Jika ... Gadis itu," 


"Dia hanya teman kecilku,"


"Teman kecil apa kau sampai begitu? Dia gandeng tangan kamu Leo!! Dia gandeng kamu didepan mata aku!!" Bella dengan segala rasa cemburunya yang membabi buta, bahkan sulit untuk mengontrol dirinya.


Leo berdiri berusaha memeluknya, tapi berkali-kali bella tepis lagi dan lagi. Hingga akhirnya Leo memaksa menarik dan mendekapnya dengan erat dari belakang.


"Lepasin, Leo!"

__ADS_1


__ADS_2