
Leo menatap bagian seprainya yang terdapat bercak merah cukup banyak, begitu juga pada miliknya saat itu. Ia yang tak pernah tega melihat bella terluka, seolah merasakan penyesalan begitu dalam dengan apa yang Ia lakukan saat ini.
"Kau lihat ini?" tanya Leo menunjukkan noda itu pada bella.
"Le... Aku ber da rah Le! Aku kenapa?" panik Bella saat itu juga.
"Ini keistimewaan yang mereka inginkan darimu, Bell. Bahwa bagi sebagaian orang yang memang mengejarnya, ini begitu istimewa dengan bayaran cukup mahal. Dan kau justru memberikannya padaku cuma-cuma." kecupnya pada bella, sembari kembali menyusuri setiap jengkal tubuh indahnya.
"Boleh aku mulai lagi? Aku belum selesai," Izinnya, tapi Ia sudah bergerak kembali sebelum Bella sempat menjawab semuanya.
Bella hanya diam, matanya terpejam dengan apa yang Leo lakukan. Bahkan leo masih dengan gayanya yang biasa karena takut Bella masih sakit jika harus dengan berbagai gaya yang ia ketahui. Tapi kesempatannya masih banyak, Bella tak akan pernah Ia lepas setelah ini terutama untuk pria lain yang ingin menyentuhnya dengan berbagai cara.
"Kau masih begitu sempit, Bella. Itu nilai plus lain yang mereka incar karena kenikmataan yang lebih dibanding dengan yang lainnya. Kau masih begitu muda dan tubuhhmu indah, nilai plus plus lain yang mereka inginkan pada gadis yang belum terjamah." Leo berusaha menjelaskan semuanya dengan terus bergerak menghujam inti Bella dibawah sana, disebuah celah yang baru saja Ia dobrak dengan keikhlasan hati pemiliknya.
__ADS_1
Jujur, bella mulai menikmati semuanya saat ini. De sahan itu lolos dengan begitu nikmat darinya hinga Ia tak bisa menggambarkanya dengan kata-kata, membuatnya melayang terbang entah hingga langit keberapa. Bahkan rasanya begitu frustasi saat leo menghujamnya terus-terusan dengan begitu kuat, dan Leo yang seperti itu memang begitu mempesona baginya saat ini.
Tubuh leo berkeringat, mengalir disela-sela ototnya yang berurat. Bella mengurkan tangannya saat itu dan langsung diraih Leo untuk menautkan jari jemari keduanya. Kini Leo menunduk lagi, menyejajarkan mulutnya dengan mainan kenyal yang begitu Ia sukai saat ini.
"Le... Aku merasakannya lagi. Ini apa sebenarnya? Jawab aku!" racau Bella saat akan mendapat lagi puncaknya untuk yang kesekian kali. Tapi kali ini Leo tak menjawab, hanya tersenyum devil dan mengangkat kembali tubuhnya untuk bergerak lebih cepat dari tempo sebelumnya.
Bella semakin terdesak, frustasi semakin menghampiri dan membuat tubuhnya kembali mengunci. Tapi tak hanya Bella, bahkan leo juga juga merasakan hal yang sama dengannya saat ini.
Mereka memekik bersahutan, begitu kuat seolah dunia itu hanya ada mereka berdua disana. Saat Bella mulai mengejang, Leo mencabut miliknya dan mengeluarkannya diatas perut Bella saat itu juga dengan napas yang putus-putus tak beraturan. Tapi tampak begitu puas.
"Itu apa?" tanya Bela saat Leo mengelap perutnya dengan tisu dan membuangnya ke tong sampah.
"Kau sama sekali tak tahu?" Bella menggeleng dengan pertanyaan Leo padanya.
__ADS_1
"Kau tahu, Bell. Jika yang itu tadi ku tumpahkan di dalam rahimmu, maka bisa jadi kau akan mengandung anakku nantinya."
"Le... Jadi itu yang namanya_..."
"Ya, kau tahu bukan? Pasti kau pernah mendengarnya saat pelajaran biologi."
"Emang yang begitu bisa jadi anak, Le?"
"Masih bertanya? Mau coba? Kau siap mengandung anakku, Bella?"
"Eng... Engga, Le. Aku belum siap. Memang boleh?" tanya Bella tersipu malu.
"Ingat apa yang ku katakan padamu tadi, Bell. Bahwa setelah ini, Kau adalah milikku." ucap Leo dengan tatapannya yang amat tajam, memainkan jarinya diwajah dan turun lagi keda da Bella saat itu.
__ADS_1
Gadis itu hanya bisa meneguk salivanya dengan kasar, membayangkan jika Leo melakukan itu lagi padanya saat ini juga. Padahal, sakit itu masih terasa meski sempat berganti nikmat yang luar biasa mendera tubuhnya.