
"Leo mau pergi lagi?" tanya Bella yang berbaring diranjang usai permainan panas keduanya.
Bella sampai terkulai lemas kehabisan tenaga, padahal Ia lah yang selalu memancing Leo. Tapi kenyataannya Ialah yang dibuat KO berkali-kali oleh kekasihnya itu.
Leo baru saja mandi saat ini, tengah memilih pakaian ganti dan memperlihatkan bahu lebarnya yang seluas samudera. Disana juga banyak bekas gigitan Bella sangkin larutnya dalam permainan mereka. Bahkan tak hanya itu, di dada Leo juga bakas karya cinta hasil Bella padanya.
"Aku ada undangan pesta dari kolega kerjaku. Aku sebenarnya bingung, akan datang atau justru menghabiskan waktu denganmu disini," jawab leo yang telah menemukan beberapa pakaian untuk Ia pakai.
Sebenarnya Ia masih menunggu telepon dari Pak hadi dan keputusan dari ayahnya. Tapi bella justru menyuruhnya datang kepesta.
" Itu kan undangan kolega. Meski aku sendiri ngga tahu itu apa, tapi menurutku sebaiknya dateng." ujar Bella padanya yang masih bergulung selimut ditubuhnya.
"Ngga papa ditinggal?"
"He'emh... Udah biasa juga. Mau gimana lagi?" balas Bella dengan anggukan imutnya. Itu yang selalu saja bisa membuat Leo gemas dan kembali menghampirinya dengan tatapan yang begitu mengerikan.
Bella menelan kuat salivanya, menarik selimut hingga mentup seluruh tubuhnya.
"Bwaaaaa!" Leo membuat Bella tersentak, nyaris saja selimut itu lepas dari genggamannya. Leo terus menggoda dengan menggelitik tubuhnya. Bella terkekeh, menjerit meminta ampun pada sang kekasih atas tingkahnya itu.
"Ampuuuun... Badanku kaku rasanya!" gelak bella tak tertahan.
Untung saja panggilan Pak hadi datang, hingga menghentikan kejahilan Leo saat itu juga meski Leo masih belum ingin melepas dekapannya dari bella.
"Kau datang... Itu pesta anak muda, tak mungkin ayah ada disana."
"Kau juga masih muda, datanglah."
"Leo Respati!" geram pak Hadi padanya. Ia bukan muda, tapi Ia hanya terlalu lama membujang karena fokusnya pada semua pekerjaan yang ada.
"Nanti aku datang, tenang saja." balas Leo, dan pak hadi segera menutup panggilannya.
Leo kembali mencumbu Bella untuk beberapa saat, menge cupi bibirnya yang manis dan memainkan beberapa miliknya yang sensitif. Jika dituruti, maka Leo mungkin tak akan pernah berhenti malam ini.
__ADS_1
*
Suara dentuman musik menggama. Leo datang sendiri dalam pesta itu, pesta yang merupakan sebuah jamuan kebebasan untuk semua tamunya. Yang bahkan mereka sudah memboking beberapa wanita untuk memanjakan tamunya.
"Gila!" umpat Leo pada semua pemandangan yang ada. Para gadis dengan bikininya, atau bahkan tanpa mengenakan apa-apa sama sekali terpampang menari-nari didepan mata.
Leo menikmatinya sebagai hiburan, tapi Leo sama sekali tak tergoda dengan apa yang Ia lihat. Ya, bagi Leo mending Bella kemana-mana, yang memang masih gress dan eksklusif hanya untuk dirinya seorang.
"Kau datang juga akhirnya. Kau suka dengan pestanya?" sapa Om Jay padanya dengan segelas minuman ditangan yang Ia berikan pada tamu spesialnya itu.
"Aku pria normal, aku suka hiburan ini." balas Leo padanya.
"Dan berarti kau akan suka dengan hiburan ekskulusifnya,"
Leo memicingkan mata mendengarnya, tapi Om Jay hanya tertawa menyembunyikan apa maksudnya.
Semua rangkaian acara dimulai. Tak ada inti dari acara itu karena mereka semua hanya akan bersenang-senang semata. Minuman, tarian, dan semua kesenangan itu mewarnai malam ini.
"Pantas saja Ayah tak mau datang. Mana kuat," gumam Leo dalam hati yang duduk santai dengan segelas vodka ditangannya. Ia amat menikmati minuman itu, yang meski berapa banyak tapi belum pernah bisa membuatnya mabuk sama sekali.
Mendadak seorang gadis datang dengan pakaian minimnya. Ia berlenggak lenggok menembus kerumunan dan berajalan tepat lurus pada Leo seorang. Dan ia menari dengan indahnya ketika leo tepat ada didepan mata.
"Kenapa kau menari?" tanya leo padanya.
"Aku hanya ingin menunjukkan bakatku, sekaligus menyenangkanmu." jawab Rena yang terus meliukkan tubuhnya secara ero tis didepan leo, bahkan tak segan menari diatas pangkuannya.
Mungkin jika tak ada orang, Rena bisa membuka pakaiannya disana dan menari dengan polosnya. Dan ia berharap jika Leo akan memanjakannya malam ini dengan segala servis yang ia beri. Ia terlalu percaya diri dan memukul rata isi kepala setiap pria.
" Aku ingin memberi pertunjukkan eksklusif, kau mau?" tanya Rena, yang menarik dasi lalu membawanya kesebuah ruangan sepi.
Bagi Leo itu hanya pertunjukan, hingga Ia tak perlu merasa aneh dengan ajakan Rena padanya meski masuk kedalam kamar.
Tapi siapa sangka, justru rena semakin berani didalam sana. Ia terus mencoba mencing dahaga leo dengan tarian yang Ia suguhnkan bahkan dengan tubuhnya yang nyaris polos saat ini.
__ADS_1
"Kau suka?" tanya Rena yang menggeliat ditubuh kekar itu, yang kini mereka begitu dekat seakan tanpa jarak.
Rena meraih dagu Leo dan ingin meraih bibirnya, namun Leo dengan sigap menghindarinya. Rena tak menyerah, terus meliukkan tubuh dan membuka beberapa kancing kemeja Leo dengan tangannya.
Merasa tak ditentang, rena dengan semangat terus membuka satu persatu kancing kemeja dan membuka semuanya. Ia amat bahagia melihat semua cetakan otot yang terpampang didepan mata.
Namun rasa bahagia itu hanya sesaat, seketika Ia diam melihat apa yang ada disekujur tubuh Leo saat ini.
Tubuh itu penuh dengan tanda cinta. Bahu, leher, tulang selangkanya memiliki beberapa luka bekas gigitan, dan Rena amat paham jika itu adalah tanda yang baru dibuat.
"Kenapa? Siapa yang membuatnya?" tanya Rena dengan suara seraknya..
"Yang jelas bukan kau," jawab Leo dengan suara datarnya.
Rena amat syok dengan penemuannya disekujur tubuh Leo saat ini. Awalnya Ia fikir, ialah yang akan membuatnya malam ini dengan segala cinta yang ia miliki.
"Tidak... Tidak! Siapa dia? Beraninya melakukan ini padamu? Siapa?!" pekik Rena sejadi-jadinya. Bahkan Ia mengepalkan tangan, menghampiri Leo dan memukuli dadanya sekuat tenaga.
"Kau hanya milikku! Kau tak boleh dimiliki orang lain!"
"Lantas kau mau apa? Bahkan sejak awal aku tak pernah menanggapimu. Kau sendiri yang selalu datang padaku. Aku bahkan tak pernah ingin menyentuhmu," Leo begitu santai menanggapi rena, bahkan Ia mengusap bekas gigitan itu lalu mengecup tangannya.
Ia perlahan menutup kembali kemeja itu dengan rapi, tak perduli jika kemarahan Rena semakin menjadi.
Bahkan dengan segala rasa frustasi yang ada, Rena berlari menghampiri Leo dan mengecupinya sekuat tenaga. Mungkin ia ingin menggantikan titik merah itu dengan buatannya, tapi itu sama sekali tak berguna.
Bruuuggh! Leo justru mendorongnya hingga terpental kembali ke ranjang yang telah ia persiapkan, bagai ranjang pertama untuk sepasang pengantin baru.
"Begitu ingin kau denganku, hingga kau berbuat seperti ini?"
"Apa? Kau mau anggap aku murahan? Lalu apa bedanya dengan dia, yang selalu memberikan pelayanan untukmu tanpa ikatan pernikahan?"
Greeep! Leo mencengkram rahangnya dengan kuat, lalu memberikan tatapan tajam dan begitu membunuh pada gadis yang ada dihadapannya itu.
__ADS_1
" Apa kau ingin tahu, bagaimana kejamnya seorang Leo respati pada orang yang ia berani mengusik hidupnya? "