Scandal With Mr. Mafia

Scandal With Mr. Mafia
Kangen, Leoooo!


__ADS_3

"Kau ingin jalan sore ini?" tanya Roy, yang sejak tadi hanya melihat bella diam termenung dikamarnya.


"Ngga mau," jawab bella yang justru merinkuk diranjangnya memeluk bantal guling dengan bau leo diatasnya.


Leo sudah berpesan pada Roy untuk membawanya keluar sore ini agar Bella tak terlalu bosan menunggunya dirumah, karena  Leo sendiri tak tahu kapan Ia akan pulang kesana untuk bertemu dengannya


Roy akhirnya bingung sendiri saat ini. Ia setidaknya sudah berusaha menjalankan perintah sahabatnya itu, meski Bella sendiri yang sama sekali tak mau keluar meski sebentar bersamanya.


"Kak Roy kalau mau pergi atau kerja lagi ngga papa, pergi aja. Bella bisa dirumah sendiri," ujar Bella yang kini berbaring dengan segala kerinduannya. Lebay memang, tapi itulah Bella yang nyaris tak pernah ditinggal leo lebih dari Dua belas jam selama mereka bersama.


"Baiklah, aku akan pergi. Hubungi aku jika ada sesuatu," balas Roy padanya. Padahal sudah berusaha meluangkan waktu, namun Bella masih juga tak menghiraukannya. 


Roy kemudia pergi setelah memastikan semua aman terkendali termasuk stok makanan untuk bella didalam rumah itu. Ia tak lupa menghubungi Leo, meminta agar Ia kesana meski sebentar untuk menjenguk Bellanya dan menceritakan bagaimana Bella hari ini padanya. Tak perlu dibayangkan bagaimana ekspresi leo ketika mendengarnya.


Sudah lebih dari Dua hari seperti ini, Leo tak pulang dan bahkan jarang memberi kabar.


"Bentar aja, setidaknya Loe datang meski hanya beberapa menit disana." pinta Roy padanya.


"Aku akan berusaha menyelesaikan semuanya." jawab Leo, lalu mematikan panggilannya.


Satu pertemuan lagi untuk Leo, dan itu sebuah transaksi senjata yang dikirim oleh ayahya ke beberapa perwakilan yang ada disana. Mereka datang dari berbagai kota, hingga harus benar-benar disambut baik karena juga adalah pelaggan lama.

__ADS_1


Pak hadi amat tahu bagaimana Leo saat ini. Kasihan, tapi juga ia memiliki begitu banyak beban. Leo harus terbiasa dengan semua pembagian tanggung jawab yang ada, toh itu sudah begitu sering Ia lakukan dan harusnya sudah amat terbiasa. Hanya bedanya, yang saat ini lebih terarah dengan pengawasan dimana-mana dan Ia tak dapat bergerak bebas seperti biasanya.


"Puass," lirik leo dari depan pada tangan kanan ayahnya itu. Pak hadi hanya bisa menghela napasnya dengan panjang, dan diam dengan semua prasangka yang ada padanya. Sepertinya Leo sudah terlanjur berfikiran buruk padanya usai berhasil membawanya pulang ke istana mereka.


Pertemuan itu dengan mantap telah mereka lakukan. Pertukaran itu menandakan semua rencana mereka berjalan dengan sempurna, tanpa membuang waktu sia-sia. Koper penuh uang juga sudah ditangan, mengisyaratkan jika sudah waktunya mereka kembali ke markas untuk menyimpannya kembali disana dengan aman.


Leo istirahat sejenak, tidur disebuah kursi panjang dengan mata ia tutup dengan lengan. Meski tak lelap, setidaknya cukup untuk sekedar membantu tenaganya agar segera pulih dan menghadapi tantangan apa lagi yang akan ia terima setelah ini. Bukan tak mampu memilih, namun memang Ia tahu harus disana sementara waktu.


Bella terbangun dari tidurnya, mencari makanan untuk mengisi perut kosongnya. Meski tak selahap seperti biasa, tapi cukup untuk menambah asupan tenaganya yang hari ini full tak kemana-mana.


"Jam Sembilan malam," lirihnya menatap jam dilayar Hp, bahkan tak ada tanda tanda Leo menghubungi sejak terakhir mereka bicara.


"Leee, kangen! Kenapa jadi begini sih? Aku ngga suka," sedih bella meratapi nasibnya. Ia takut, bagaimana jika pada akhirnya ia kembali ditinggalkan dengan keadaan yang mengenaskan. Takut, jika bagaimana nanti jika hidup sendiri tanpa leo disampingnya jika Leo pergi. Membayangkan saja sudah sesakit ini, apalagi jika semuanya menjadi kenyataan nanti, pasti akan beribu kali lebih menyakitkan nanti.


Ia akhirnya merebahkan diri di sofa mungil itu berharap nanti Leo akan memindahkan tubuhnya dari sana menuju kamar mereka. Meski matanya sulit terpejam, pada akhirnya ia terlelap juga dengan begitu tenang memeluk bantal kecilnya.


Kreekk!


Pintu terbuka dengan perlahan. Siapa lagi kalau bukan Leo yang akhirnya bisa pulang entah bagaimana caranya. Ia bahkan tak sempat mengganti pakaiannya, masih mengenakan setelan kemeja dan celana bahannya saat ini.


Ia menatap gadisnya yang tidur pulas disana, Ia tahu pasti Bella tengah menunggunya. Celana itu ia naikkan sedikit, lalu berjongkok untuk menghampiri dan membelai wajahnya dengan mesra. Bella sama sekali tak terbangun karenanya..

__ADS_1


"Muka bantal," senyum Leo melihatnya. Ia kemudian memasang kuda-kuda, meraih tubuh Bella untuk Ia pindah kekamarnya.


Bruugghh!! Tubuh mungil itu kini telah berpindah tempat, dan ia belum sadar  jika sang kekasih tengah mendekapnya erat. Ia seakan mengigau, meracau sendiri dan memeluk tubuh kekar yang sebenarnya nyata didepan mata.


Leo hanga tersenyum melihatnya, memainkan bibir dan wajah yang seolah cemberut padanya. Ingin rasa segera mengecupnya, tapi Ia tak ingin mengganggu tidur lelapnya saat ini.


Huaaammzzzz! Bella meregangnya tubuhnya. Ia menghirup udara segar yang masuk melaui ventilasi rumahnya, kemudian turun menuju kamar mandi. Ia menggosok gigi dan membasuh mukanya agar segar kembali menyambut hari.


Deggg! Bella seperti merasakan sesuatu yang mengganjal dalam hati. Tapi apa? Apakah ada sesuatu yang Bella lupakan?


Bella berusaha mengingat kembali semuanya secara runut sejak ia mulai membuka mata hingga sekarang didepan kaca. Sikat gigi, cuci muka semuanya sudah. Hingga ia menepuk pipi berusaha mencari apa yang ia lupakan saat ini.


Kakinya ia mundurkan beberapa langkah kebelakang. Ia melihat sosok yang saat ini tidur diranjangnya. Terkejut, dan bahkan fikirannya melayang kemana-mana.


"Leo? Ah, masa iya?" Seakan tak percaya, dan Bella perlahan mendekatinya.


Dan benar saja, yang disana adalah Leo kekasinya. Betapa bahagia bella saat ini hingga tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Ia menyelinap masuk keselimut yang leo pakai, merayap dan kini ada diatas tubuh Leo dan tepat didekat wajahnya.


Tubuhnya telungkup, mengusap wajah leo yang ada didepan mata. Diusapnya dengan lembut dan sesekali mengecup bibirnya dengan mesra. Bella seperti seorang anak kecil yang bahagia dengan kepulangan ayahnya.


Leo sadar akan hal itu. Tapi ia hanya diam dan tetap memejamkan matanya. Batinnya tertawa dengan tingkah Bella padanya yang begitu manja.

__ADS_1


Sesekali Leo mengerjainya. Saat Bella ingin mengecupnya, wajah itu ia geser dari Bella hingga kesulitan menjangkaunya. Sampai bella merayap lagi, dan berusaha mencapai wajah itu dengan sekuat tenaga.


"Aaaaaa... Jangan gitu!" Bella yang gemas meraih wajah Leo dan membawa keduanya saling tatap satu sama lain. Leo kembali tertawa terbahak-bahak, lalu memeluk kekasihnya erat seakan tak pernah ingin lagi terlepas darinya


__ADS_2