
Leo kembali ketempatnya bekerja. Ia mulai membersihkan dan merawat mobil yang Ia pegang saat ini agar semakin nyaman ketika membawa kliennya.
"Jam segini udah datang, Le?" tanya Ane yang menghampirinya.
"Loe tidur disini?" Leo justru balik bertanya.
"Semalem full boking. Mayan, Gue bisa bayar tunggakan sekolah Adek gue." jawabnya santai dengan segelas kopi ditangan.
Leo hanya memicingkan mata mencerna semua ucapan Ane padanya. Ane bekerja seperti ini demi adiknya sekolah?
"Adek gue satu-satunya, pengen jadi Dokter. Gue ajak dia lari dari paman gue yang mau jual kita kala itu. Gue umpetin dia, dan gue malah beneran jual diri demi dia. Gilak!" tawanya dalam segala kepedihan yang ada.
"Ngga bisa kerja lain?"
"Susah, Le. Yang penting gue jadiin dulu adek Gue, baru setelah ini gimana caranya lagi gue ngga tahu." ucapnya mengusap rambut dengan kasar, bahkan menjambak rambutnya sendii hingga sedikit tertarik dibagian matanya.
__ADS_1
Meski terkesan tanpa ekspresi, Leo paham bagaimana Ane saat ini denga. Segala kesulitan. Ia tak membenarkan apa yang ia pilih, tapi memang terkadang orang lain bahkan tak punya sama sekali pilihan dalam hidupnya. Hingga apapun yang ada harus mereka terima meski dengan terpaksa.
"Loe udah sarapan? Gue traktir yok," ajak Ane. Tapi Leo menolak denan alasan sudah sarapan dari rumah bersama calon istrinya.
"Calon istri Loe, baik dan beruntung banget ya, Le? Pasti dia bahagia."
Leo hanya tersenyum datar menanggapi apa yang Ane ucapkan padanya. Ia menyelesaikan semua pekerjaan lalu masuk duduk menunggu panggilan menyupir atau pekerjaan lainnya.
Banyak wanita seperti Ane yang melirik Leo dan bahkan tak segan menggodanya. Tapi Leo memang sama sekali tak menggubris mereka, meski Ane juga sudah memperingatkan agar jangan mendekati Leo yang telah memiliki calon istri.
"Yang udah nikah lama aja masih bisa selingkuh sama kita, apalagi yang belum jadi. Bisa gampang kali, digodain." tawa mereka tatkala tengah berkumpul bersama membahas hal yang sama juga. Apalagi jika bukan pesona Leo yang membahana.
"Baru dateng?" tanya Leo.
"Ya, baru dateng. Loe mau gorengan ngga? Nih, ada dikit buat cemilan." tawar Adi saat itu.
__ADS_1
Leo sebenarnya tak terlalu suka. Tapi demi menghormati rekannya, ia meraih salah satu gorengan yang ada. Namun berhenti, tatapannya fokus pada selembar kertas yang menjadi alas plastik gorengan itu.
Leo segera menariknya hingga gorengan nyaris berceceran dimeja.
"Sory, Di. Gue mau lihat ini sebentar." ujar Leo, yang kemudian memperhatikan foto dikertas penuh minyak itu.
"Astaga... Benar dugaanku. Dia nekat mencari sampai seperti ini," gumam Leo. Bahwa foto bella ada disana, dengan caption dibawahnya adalah gadis yang hilang dan korban penculikan.
Bahaya jika orang Rusun dan yang lain melihat selebaran ini disekitar mereka. Apalagi ada jumlah uang untuk imbalan.
Leo segera berdiri pamit dan pergi tergesa-gesa dari sana. Ia segera naik motor dan berjalan dengan cepat tanpa tujuan, hingga saat tiba disebuah persimpangan Ia berhenti meraih hp untuk menghubungi para sahabatnya.
"Cari, dan lepas dimanapun selebaran itu kalian temukan." titahnya, dan dijawab anggukan mereka.
Leo kemudian mencabut sendiri beberapa yang ada didepan mata, ditempel pada tiang dan tembok rumah warga.
__ADS_1
"Gilak... Seorang Ayah bahkan tak memiliki foto anaknya sendiri, hingga foto kecil yang ia pakai untuk mencari," sinis Leo pada kertas yang Ia lihat.
Pasalnya foto itu memang foto lama milik bella semasa sekolah dengan seragamnya. Mungkin ia ambil di ijazah SMA dan Ia foto ulang. Tapi meski sedikit berbeda, Leo harus tetap waspada dengan semuanya.