
"Aarrgghh!! Sakit!!! Lepaskan, Baji ngan!" umpat ayah bella disela segala siksan yang leo berikan padanya.
"Aku hanya ingin mmebantumu, Pak. Setidaknya, nanti kau bisa merasakan bagaimana mudahnya mencari uang dengan tubuhmu yang cacat," ucap leo.
Tatapannya begtiu tajam, auranya begitu tenang seolah biasa menyiksa orang dengan tangannya. Bella sedikit ngeri jika Leo benar-benar kebablasan saat itu, Ia meraih tangan Leo dan dengan kuat menyeretnya keluar untuk segera pergi dari sana.
"Le... Ayo, le. Nanti dilihat orang malah bahaya, kita ngga bisa pergi," mohon bella dengan sekuat tenaga. Tapi leo seolah kerasukan arwah buyutnya yang seorang mafia paling ditakuti dikotanya saat itu, Ia seolah justri mendapat mainan baru yaitu ayah Bella. Bahkan Ia siap untuk mematahkan kaki atau bahkan kepalanya saat Ia ingat tangisan bella semalam.
"Aaaaarrrggghhhh!!!" pekikan Pak Tama semakin kuat, matanya mulai memerah dan amat nyeri. Entah ada hubungannya atau tidak, hidungnya saat ini mengeluarkan darah cukup banyak mengalir ke bibirnya.
"Leo_..." Bella memeluk tubuhnya dari belakang dengan begitu erat. Ia rupanya juga tak tega melihat Ayahnya seperti itu, apalagi ditangan leo. Ia lebih tak ingin jika nanti Leo akan mendapat hukuman dari perbuatannya.
__ADS_1
Dan benar saja, cengkraman Leo melemah saat itu. Tatapan nyalangnya melembut dan sedikit menoleh pada Bella yang memeluknya dengan hangat, meluluhkandarah dingin yang sempat nyaris memakan korban. Kesempatan itu dipergunakan pak tama untuk melepas cengkrakam leo darinya. Ia lalu meringkuk dan mengaduh kesakitan, tapi tetap dengan umpatan kasar dan sumpah serapahnya pada mereka berdua.
Jika bella tak menariknya, mungkin Pak tama sudah menjadi mayat ditangan leo saat itu juga. Untung saja Bella berhasil membawanya keluar dan segera pergi dengan motornya tanpa sepatah katapun, bahkan tak menoleh kebelakang samas sekali untuk melihat sang ayah untuk terakhir kali.
Leo kembali menyetir motornya dengan kencang. Bella memeluknya dengan erat saat itu, sembari sesekali mengusap dada Leo dengan lembut. Bahkan detak jantung leo terasa begitu cepat karena amarahnya yang sempat berkobar akibat ulah sang ayah.
"Mulai sekarang, kamu dalam pengawasanku, Bell."
"Kau tahu mafia?"
"Pernah baca ceritanya di novel online, Le. Serem, kang bunuh orang." jawab bella seadanya. Leo hanya tersenyum saat itu, tangan besarnya meraih tangan bella dan menggenggamnya dengan erat membuat Bella sedikit tersentak dan menjauh dari tubuh leo yang masih Ia peluk. Leo tak bisa membayangkan jika Ia tahu leo sebenarnya, akan seperti apa bella nanti dan bagaimana reaksinya.
__ADS_1
Leo menarik tubuh bella kembali hingga semakin erat. Saat itu dada bella menabrak punggung Leo dan terasa tonjolannya disana. Leo hanya memejamkan mata, menghela napas meresapi setiap sentuhan yang Ia dapat.
"Le_..." panggil bella dari belakang.
"Hmm.... Apa?"
"Cobe berhenti, Le. Bentar aja, please..." mohon bella saat itu. Leo menurutinya segera, lalu bella turun dan langsung memeriksa isi tasnya disetiap sekat yang ada. Wajahnya tampak mulai panik, matanya mulai nanar saat yang Ia cari tak kunjung ditemukan saat itu.
"Hey, bell... kau cari apa? kenapa seperti itu?" Leo ikut cemas pada akhirnya. Apalagi saat bibir Bella bergerak-gerak sendiri tanpa bisa Ia kontrol, sebuah pertanda jika bella akan segera meraung dan mengeluarkan air mata saat itu juga.
"Huaaaaaa!!!!! Kan, bener ketinggalan!!!" pekik bella dengan begitu kuat. Air matanya langsung saja mengalir dengan begitu deras, memeluk tasnya yang hanya berisi pakaian tanpa membawa uang saku tabungan yang mereka hitung barusan. Padahal, itu cukup untuk menyambung hidup setidaknya beberapa sebulan ini hingga mereka gajian lagi nanti
__ADS_1