
"Sorry, saya supir disini." ucap Leo yang tahu dirinya akan digoda.
Gadis yang mendengar hal itu langsung melepas rabaannya dibahu Leo. Wajah yang awalnya penuh harap dan penuh goda itu berubah sedikit sinis, meski masih Ia akui jika leo itu amat tampan dan menggoda iman.
" Loe baru? Gue Ane." ucapnya memperkenalkan diri.
"Gue leo. Ya, baru beberapa jam masuk." jawab Leo menyesuaikan diri dengan bahasa gadis itu yang kemungkinan akan frontal dan tak tahu aturan. Leo paham itu semua, dan tak kaget lagi dengan segala keadaan.
"Oh iya... Gue punya banyak langganan disini. Jadi, nanti gue pake jasa Loe ya, buat antar jemput. Kadang suka ada booking diluar club," ucap ane sembari berbisik pada leo.
Pura-pura tak mengerti, tapi Leo mengangguk pada tawarannya saat itu. Bahkan Ia memberikan nomornya pada ane agar dengan mudah meenghubunginya nanti. Ane pergi meninggalkan Leo dengan tangan yang masih sempat jahil mengusap dada bidangnya. Leo hanya menatapnya dengan datar, karena itu tak berarti apa-apa untuknya saat ini.
__ADS_1
Leo berbalik badan untuk istirahat sejenak. Namun belum sempat Ia menyimpan Hp, Bella menghubunginya. Leo segera mengangkatnya tanpa ingat jika masih berada dalam club saat ini.
"Ya, Bell?" panggil Leo dengan menutup satu telinganya, berusaha mencari tempat yang sedikit sunyi.
"Le... Kamu dimana?" tanya Bella yang samar-samar mendengar dentuman musik keras itu. Ia memang tak pernah kesana, tapi Ia sempat tahu tempat seperti itu dari para sahabatnya.
"Le... Kamu ke Diskotik ya? Kamu ngapain disana?" Bella mulai mencecarnya dengan berbagai pertanyaan yang seketika muncul didalam benaknya saat itu. Tapi Leo tetap diam karena tengah mencari posisi aman untuk bicara dengan bella.
"Hallo... Ya, Bell. Kenapa?"
"Aku kerja, Bella. Ngapain lagi? Sayanglah duit aku buat kesini, mending aku kasih kamu buat beli baju." jujur Leo, tapi masig saja membuat Bella cemas disana.
__ADS_1
"Tapi kenapa disana? Di diskotik? Ngga ada tempat lain apa? Aku ngga mau kamu disana, Le. Ngga mau!" rengek tangis Bella yang akhirnya pecah. Seperti anak kecil memang, tapi ia benar-benar tak ingin jika leo terkontaminasi dengan tempat barunua bekerja.
Bella amat tahu, bagaimana isi mereka disana dengan dunia bebasnya. Jika dikata cemburu, mungkin iya karena Bella tahu disana banyak wanita yang berpakaian minim. Pasti Ia akan takut jika leo tergoda atau bahkan melakukan hal lain disana.
Apalagi dengan sesama mereka, yang kadang bisa bersama kapan saja diranjang dan melakukan sesuatu seperti dalam bayangan liarnya saat ini.
"Aku ngga ngapa-ngapain disini, Bell. Pwecaya sama aku. Ngga mungkin aku macem-macem, apalagi ada kamu dirumah."Leo terus berusaha menjelaskan. Tapi ia tahu akan begitu sulit jika gadisnya sudah termakan oleh api cemburu dan curiga yang begitu kuat. Akan terus berputar seolah tak akan pernah ada ujungnya.
"Kalau ngga ada aku?" Bella bertanya dan masih menangis disana. Leo langsung memijat dahinya karena tak tega, sekaligus rasa bersalah karena tak jujur sejak awal.
"Bell... Sebentar lagi aku pulang, Okey? Meski sebentar, tapi setidaknya kita bisa bicara empat mata. Jangan nangis, tunggu aku dirumah." bujuk Leo.
__ADS_1
Bella mengangguk dan terus mengusap air matanya saat itu. Ia duduk disofa kecilnya dan menunggu Leo dengan berusaha tenang disana. Gelisah, ketika kembali terbayang saat Ia pernah menjemput ayahnya disebuah club ketika mabuk berat. Dan disana banyak penari tanpa busana yang dengan liar menjanjakan tubuhnya.
"Aaaaa... Leooooo!" kesal bella seorang diri, tapi bingung akan Ia lampiaskan pada siapa.