
"Gantikan ayah dalam pertemuan kali ini," titah sang ayah pada leo yang masih diam duduk dihadapannya. Tak bisa menentang, leo hanya mengangguk dan pergi menemui Pak hadi yang ada diluar ruangan.
Ketika Leo keluar pak hadi langsung menyambutnya, memintanya langsung menuju kamar karena para maid sudah mempersiapkan semua pakaian dan keperluan yang lainnya. Sebuah jawa dan celana bahan serba hitam telah leo pakai, begitu rapi dan tampan dengan dasi yang rapi melekat dilehernya.
Sayangnya maid yang melakukannya dan bukan sang kesayangan. Andai itu Bella, pasti akan sangat indah ketika Leo bisa dengan jahil sesekali mengecup bibirnya.
"Kau ingin menghubunginya? Pertemuan kali ini akan cukup lama, hingga kau entah jam berapa kembali kesana."
"Sengaja menghalangiku pulang?"
"Rumahmu disini, Tuan..."
"Tapi hatiku disana," balas Leo dengan lantang. Pak hadi hanya bisa menggelengkan kepalanya, Ia lalu membantu Leo memakaikan sepatunya seperti biasa. Meski leo menurut, tapi serasa ada yang tertinggal dalam hatinya.
Pak Hadi kemudian keluar, Ia memberi kesempatan pada Leo untuk menghubungi gadisnya. Begtiu banyak tugas yang harus mereka selesaikan disana, apalagi membawa leo mengunjungi beberapa markas mereka.
Bella saat itu tengah membereskan kamarnya yang berantakan, mengganti sepray dengan yang lebih wangi untuk menyambut Leo pulang. Padahal, biasanya jam seperti ini Leo sudah kembali meski sebentar harus pergi lagi karena semua tugasnya. Tak hanya Bella, tapi Ane juga mempertanyakan keberadaan pria itu saat ini yang tak bisa menjemputnya.
Hp bella berdering, dan Ia dengan sigap segera mengangkatnya. Ia paham betul jika itu panggilan dari Leo, dan siapa lagi kalau bukan Leo. Setiap hari hanya ada Leo didalam hidupnya dan tak ada yang lain, mungkin Roy yang saat ini menemani dan mengawasinya.
"Leo, kok tumben nelpon?" tanya Bella, yang biasanya mendapat video call dari kekasihnya itu. Ia amat rindu menatap wajah kesayangannya.
"Aku masih ada urusan, Bell. Maaf, aku belum bisa pulang hari ini."
"Sibuk ya, Le? Yaudah, ngga papa. Kak Roy biar disini lagi nanti," jawab Bella dengan pasrah, namun Leo mendengar suaranya yang serak, menggambarkan kesedihan didalam hatinya.
__ADS_1
"Hey, Sayang... Jangan seperti itu, aku tak tega mendengarnya." rayu Leo yang tak enak hati. Pasalnya mereka tak pernah terpisah selama ini setelah bersama.
Bella menghella napas dan berusaha mengembalikan cerianya. Leo amat sensitif dengan apa yang Ia dengar, dan akan tahu semua yang bella rasakan atau bella sembunyikan. Sedikit tenang dalam hati Leo mendengarnya, hingga meyakinkan diri jika Bella aman disana bersama sahabatnya.
"Kau boleh keluar jika mau, tapi harus bersama Roy."
"Serius, boleh? Wuaaaah..." pekik Bella dengan cerianya. Meski sedikit sungkan, tapi tak apa jika bersama Roy karena memang mereka sudah saling dekat. Pesan Leo hanya tak terlalu jauh, atau ketempat yang terlalu ramai karena Roy akan kesulitan mengawasinya.
"Tapi kurang semangat kalau ngga sama kamu," rengek Bella, membuat Leo mengulurkan senyumnya.
Leo tahu jika pak hadi sudah menunggu, dan Leo segera menghentikan panggilannya pada Bella. Saat itu bella memberikan kecupan mesra yang cukup membulatkan matanya.
Bella seolah merayu, Bella tengah memperlihatkan semua rasa rindu itu padanya. Tapi Leo harus bisa menahan diri saat ini, itu semua juga demi bella. Ia harua membuktikan kembali pada ayahnya jika Ia bisa, dalam artinya mengerjakan smeua tugas dan tanggung jawab yang diberikan padanya.
Ia keluar dari kamarnya, kembali pada pak hadinya untuk segera berangkat bersama. Tak perlu pamit dengan ayah, karena beliau sudah tidur pulas setelah meminum obat rutinnya. Dengan sebuah mobil mewah, leo naik dan duduk dibelakang sembari mendengarkan semua jadwal yang harus ia jalani hari ini
Dooorr!! Dorr!! Suara lengkingan senjata itu terdengar ditelinga mereka. Dan bahkan beberapa orang keluar hanya untuk menyaksikannya, menembak dengan keahlian yang cukup diacungi jempol.
"Kau tak kehilangan keahlianmu," ucap Pak Hadi padanya. Meski memuji, tapi Leo sama sekali tak merasa tinggi dengan apa yang keluar dari bibirnya.
Tak hanya satu pistol, tapi beberapa senjata lain yang ada segera ia pergunakan sesukanya.
"Aku mau ini, untuk pegangan." pinta Leo yang langsung meraih sebuah pistol kecil ditangan dan ia masukkan ke sakunya.
Seseorang ingin menghalangi, tapi pak Hadi melerai dengan tangannya. "Cari yang lain sebagai gantinya," titah pak hadi padanya.
__ADS_1
Keduanya keluar dari markas, menuju tempat lain yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Pertemuan demi pertemuan itu Leo lakukan, dan ia menjalaninya dengan santai tanpa tekanan. Ia sadar memang harus bisa memegang semuanya yang bahkan sudah tergaris untuk hidupnya sebelum lahir kedunia.
Lantas bella apa? Sebuah goresan terindah diantara garis lurus lain yang harus ia jalani. Yang bahkan mungkin Ia akan menentang garis yang tercipta hanya demi goresan yang ada.
Tanpa banyak protes Leo mengikuti semua ararah dari pak hadi. Tapi bukan berarti leo takut atau tengah menjadi seekor kerbau dengan tindikan dihidungnya. Apalagi saat pertemuan ini, Ia akan bertamu dengan seseorang yang penting dalam karier ayahnya
"Selamat siang, Tuan Jay." sapa leo dengan ramah padanya.
"Hey, Leo... Rupanya kamu sudah pulang. Cukup lama sejak kamu pergi, dan kini bertemu lagi. Apa kabar? Mana Ayahmu?"
"Kabaar baik, Tuan. Ayah sedang istirahat dirumah, hingga menyerahkan semua tugas hari ini dengan saya." jawab Leo menundukkan kepala.
"Andai saja Rena tahu, pasti dia akan ikut untuk bisa bertemu denganmu hari ini."
Leo hanya mengangguk mendengarnya, mengingat sosok Rena yang memang sempat mendekatinya kala itu. Tapi Ia sama sekali tak mempertanyakan gadis itu, karena ia kembali fokus dengan materi pertemuan yang akan mereka bahas selanjutnya.
**
"Bell, Leo ada nelpon?" tanya Roy yan baru datang lagi lagi kerumahnya.
"Ada tadi, Kak. Tapi sebentar, katanya lagi sibuk banget. Kadang penasaran, sesibuk apa diluar sana." ucap Bella dengan segela coklat hangatnya.
Ia hanya belum terbiasa, dan Ia hanya harus belajar menahan rasa. Bahwa Leo mungkin akan bisa lebih sibuk atau mungkin lebih lama meninggalkannya.
"Ngga papa, Bell. Leo bekerja sekeras itu demi kamu, dan demi kalian berdua. Ngga usah terlalu berfikiran jauh hingga akan membuat muncul banyak pertanyaan di dalam kepala," ucap roy padanya.
__ADS_1
"Ngga ada, Kak. Bella percaya sama leo. Asal kalian juga jangan pernah ada menyembunyikan sesuatu dari bella," jawabnya. Meski santai dan tanpa wajah curiga, tapi cukup membuat degup jantung roy sedikit kencang dibuatnya.
"Eng- engga ada, Belll. Ngga ada kok, sesuatu yang kita sembunyikan dari kamu. Ngga ada," jawab Roy yang tengah berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.