Scandal With Mr. Mafia

Scandal With Mr. Mafia
Mereka masih mencari bella


__ADS_3

"Coba katakan, yang tadi itu apa?" tanya Leo pada Bella. Tatapannya pun amat penuh harap agar gadis itu mengulangi ucapannya kembali padanya kali ini.


"Yang mana? Perhatian? Tanggal darurat? Mana sih?" tanya Bella yang seakan lupa dengan yang barusah ia ucapkan. Pasalnya, memang semua itu spontan terucap dari bibirnya yang kadang sulit untuk dikontrol.


"Sebelumnya."


"Yang mana sih?" Bella justru bingung dengan tuntutan yang Leo berikan. Hingga akhirnya Leo lelah sendiri dan melepas bahu bella dari tangannya.


"Udahlah, terserah. Capek," balas Leo yang tampak kesal..


"Sayaaaaang..." panggil Bella dengan begitu gemasnya. Leo hanya bisa memejamkan mata, mengepalkan tangan lalu berbalik menghadap kesayangannya itu.


Sebuah morning kiss kembali mendarat di bibir indah Bella, dengan intensitas yang kuat hingga mebuatnya sulit bernapas. Kakinya yang pendek pada akhirnya kembali berjinjit untuk menyesuaikan diri pada Leo, hingga tubuhnya melengkung menjaga keseimbangan agar tak tersungkur kebelakang.


"Leo_hhhhh!" lenguh Bella dengan suaranya yang penuh desah itu. Ia mendorong sedikit tubuh Leo untuk menjauh darinya.


"Kamu nolak aku?" tatap leo menyipitkan matanya.


"Kapan aku bisa nolak kamu, Le? Sarapan dulu yuk, masakan udah siap." ajak Bella padanya.


Tapi Leo tak perduli, Ia justru mengangkat tubuh Bella dan membawanya kekamar dengan segera. Ia hanya ingin Bella lagi dan lagi seolah rasa lapar itu tak pernah membuatnya kenyang jika berhubungan dengan Bella.


Bella yang sudah menyerahkan dirinya juga tak perduli. Ia sudah begitu menikmati semua momentnya bersama Leo_calon suaminya. Ia tak perduli, jika tubuhnya sendiri akan lelah hanya karena segala hujaman yang diberikan Leo padanya.


Setiap hari, jam, menit dan detik dari dirinya adalah milik Leo. Ia tak akan pernah bisa lagi jauh dari lelakinya itu meski hanya sejenak.


Permainan panas itu kembali terjadi. Sudah berapa kali ledakan dari tubuh yang dirasakan bella saat itu. Kadang ia hanya bisa membuka mulutnya membuang semua ******* yang keluar akibat semua perlakuan lembur bahkan kasar yang diberikan Leo padanya.


Bella kini hanya bisa terbaring, lemah menatap tubuh leo yang masih terus memberikan kenikmatan berulang itu padanya. Hingga akhirnya Leo juga ikut ambruk diatas tubuh bella dan memeluknya dengan amat erat.


"Capek?" tanya Bella. Apalagi Ia juga tak tahu jam berapa leo pulang semalam.


"Lelahku tak seberapa, Bell. Terimakasih sudah menjadi pelipur dari segala lelah ini."

__ADS_1


"Sarapan dulu, Yuk? Nanti tidur lagi," ajak Bella dengan lembut mengusap pipinya.


Leo hanya mengangguk, Ia menggeser tubuhnya sedikit menjauh agar Bella bisa mandi terlebih dulu baru Ia akan menyusul. Ditatapnya Bella saat berjalan menuju kamar mandi, Ia hanya tersenyum gemas melihat gadisnya itu yang sudah semakin pandai dan mahir menggoda dirinya.


"Tapi, akan tetap seperti ini jika kau tahu aku siapa? Apa kau akan takut padaku?" lirih Leo yang ingat akan statusnya. Bahwa Bella pernah berpendapat akan geliat sekumpulan mafia yang amat mengerikan menurut versinya.


Leo melirik hpnya sejenak. Ia melihat sebuah pesan dari Roy yang masuk sejak semalam, memberitahu jika Resto sempat diserang oleh beberapa orang yang mencari Bella disana.


"Lalu bagaimana?" tanya Leo yang segera menggubungi sahabatnya itu.


"Kami bisa menghajarnya bersama yang lain. Untung saja mereka segera datang ketika ku pangil," jawab Roy dari sebrang sana.


Leo hanya berterimakasih atas bantuan mereka semua untuk melindungi Resto yang telah mereka tinggalkan beberapa hari ini. Leo memang sudah menggambarkan bagaimana keadaan setelah Ia pergi, Karena Ia tahu bahwa mereka semua tak akan menyerah untuk mencari Bella apalagi telah memberikan uang pada tua bangka itu.


"Terus awasi hingga yakin benar-benar aman." titahnya pada roy.


Roy yang menyanggupi semuanya langsung mematikan panggilannya pada Leo, lalu kembali pada fokusnya menjaga semua perintah dari Leo. Bahkan rumah tua bangka itu mereka awasi dengan baik, agar segera mendapat info jika pak tua itu akan segera menjualnya tanpa persetujuan bella.


***


"Le?"


"Ya, Bell?"


"Aku boleh ikut kerja ngga?" tanya Bella sembari memakai pakaiannya didepan Leo.


Leo hanya memberi tatapan datar padanya, hingga dalam waktu beberapa menit tak mengucap sepatah katapun pada gadis itu.


Bella akhinya berjalan lagi menuju pada Leo dan merangkak naik ketubuh kekar yang masih polos tertutup selimut dibagian bawahnya itu.


"Ngga boleh, ya?" tanya lembut Bella yang paham arti tatapan mata Leo.


"Kamu sempat melarang aku kesana, Bell. Tapi kamu sendiri ingin ikut kesana. Bekerja, atau mengawasiku?" tanya Leo dengan suaranya yang cukup dalam.

__ADS_1


"Dua-duanya sih, kalau boleh." jawab Bella dengan penuh rayu.


"Tidak..." Bella hanya bisa mengatupkan bibirnya saat Leo menjawab itu semua dengan lantang. Maka akan ia turuti meski ia sendiri bosan dirumah untuk menunggu kesayangannya itu pulang.


"Yaudah," jawab Bella pasrah. Ia mengangkat tubuhnya dari pangkuan Leo lalu mengikat rambutnya yang basah. Ia segera berjalan menuju dapur untuk mempersiapkan kembali sarapan mereka yang sempat tertunda.


Sebenarnya tak enak hati saat Leo mulai tegas pada Bella begini. Namun, kabar barusan membuatnya harus ekstra kembali menjaga Bella. Bahwa tak mengurangi kemungkinn jika mereka akan mencari gadisnya hingga ketempat sekarang.


Leo bergegas membersihkan dirinya, bergegas rapi dan menyusul kesayanganya didapur. Mereka tak memiliki meja makan, hingga menyantap hidangannya berdua duduk disofa sembari menonton kartun kesukaan Bella.


"Kek bocil aja kartun mulu."


"Bocil, tapi suka kan? Buktinya nagih," tatap Bella padanya.


Sontak ucapan itu membuat Leo tersedak hingga terbatuk kali ini. Bella yang panik segera memberinya minum agar tak semakin parah dan membuat suaranya serak.


"Perih? Maaf, cuma bercanda." sesal Bella yang telah membuat Leo seperti itu.


"Ya, memang nagih. Kan sudah ku bilang, jika sudah memulai maka aku akan sulit berhenti. Dan terbukti kan, sekarang. Jadi, siap-siap saja."


Kali ini ucapan itu yang membuat Bella ngeri hingga menelan salivanya sendiri. Apalagi dengan tatapan Leo padanya, dan Ia ingat jika sekujur tubuhnya memang terdapat banyak bekas tanda Leo disana. Entah kapan itu akan hilang, karena baru kali ini Leo memberikan tanda itu ditubuhnya.


"Aku kira ini gatel-gatel penyakit, tapi ngga gatel." gumamnya menatap beberapa tanda itu dikaca besar dikamarnya.


Bella melihat Leo telah kembali rapi. Saat ditanya, maka Leo bilang akan kembali bekerja dihotel itu lagi.


"Kamu ngga capek?" tanya Bella, yang sebenarnya kasihan melihat Leo ngoyo seperti ini. Tapi Sekali lagi, ini demi masa depan mereka nantinya.


Leo pergi lagi setelah mengecup kening Bella. Mereka tampak bagai pasangan serasi saat ini, yang tamapak amat bahagia.


Bella kemudian membereskan rumah setelah Leo pergi, dan ketika lelah Ia akan berbaring atau sekedar menonton tv kembali.


Bagi Bella yang terbiasa kerja keras, itu semua terasa amatf membosankan. Tapi Ia juga harus menuruti titah kesayangannya agar semua aman dan terkendali. Sesekali Ia membayangkan apalabila mereka menikah nanti, dan bersanding mengenakan gaun yang indah bersama sang pujaan hati dengan kemeja hitamnya.

__ADS_1


"Aaaaa... Pasti ganteng banget," rengek Bella sendirian, yang salah tingkah hanya karena membayangkan Leo memakai jas serba hitam dengan hiasan bunga mawar disakunya.


__ADS_2